Gadis Dayak di Tanah yang Luka: Tale of Land

Oleh Bambang Supriadi*

Ilustrasi 1: Ritual darah ayam cemani. Sumber: Grab shot dari Bioskop Online

Malam hari di kamar, kedua telapak kaki May dibalur darah ayam cemani. Lumuran darah merah pekat itu bukan sekadar cairan, melainkan bisikan yang menautkan May pada napas leluhur. Sore sebelumnya, hidung May mimisan, lalu ia jatuh pingsan. Hal itu terjadi berulang kali setiap kali kakinya menjejak tanah, seolah bumi menolak tubuhnya. Darah yang mengalir dari hidung May membawa pesan leluhur: tak semua tanah mau menerima raga yang terpisah dan tak berpijak.

Dalam adegan-adegan film Tale of Land terbuka konflik ekologis spiritual pertentangan halus antara manusia dan alam yang sakral. Yang diungkap bukan sekadar kehilangan lahan, melainkan luka yang ditinggalkannya: krisis makna, keterputusan batin, dan hilangnya rasa hormat terhadap alam yang hidup dan bernyawa. Secara spiritual, May turut menanggung dampak-dampak itu.

Tanah Warisan Leluhur: Ketegangan Modernitas dan Tradisi

Konflik tanah masih sering terjadi di Indonesia, terutama di wilayah kaya sumber daya alam seperti Kalimantan. Kehadiran industri besar, termasuk pertambangan, kerap memicu perebutan lahan yang sebelumnya dimiliki masyarakat adat. Dampaknya tidak hanya ekologis karena merusak lanskap dan keseimbangan alam, tetapi juga sosial dan budaya, karena masyarakat kehilangan akses ke tanah yang menjadi identitas, warisan leluhur, dan mata pencaharian. Konflik ini sering juga menimbulkan perselisihan antar warga, bahkan dalam keluarga sedarah. Memunculkan ketegangan antara modernitas industri dengan keterikatan manusia pada tanah serta hubungan spiritual dengan leluhur.

Bagi masyarakat Dayak, tanah bukan sekadar aset ekonomi. Tanah merupakan warisan leluhur, identitas, dan bagian dari sistem spiritual yang menjaga keseimbangan antara manusia dan alam. Dalam pandangan budaya Dayak, tanah menjadi jalur hubungan dengan para leluhur sekaligus sumber keberlanjutan budaya. Ketidakmampuan May berpijak di darat menjadi manifestasi visual dari keterasingan dan hilangnya identitas budaya akibat modernisasi industri yang mengeksploitasi alam, sehingga menimbulkan kekerasan struktural dan merampas ruang hidup.

Secara naratif, film Tale of Land cerita panjang perdana besutan sutradara muda Loeloe Hendra, mengikuti perjalanan May dari trauma menuju penerimaan. Setelah kehilangan orang tuanya akibat konflik lahan, kakeknya, Tuah, membawa May tinggal di rumah terapung di tengah danau. Tuah menjauhkan cucunya dari daratan yang dianggapnya sumber segala masalah. Ia percaya, hanya di rumah terapung itu leluhur akan melindungi mereka. Karena itu, Tuah melarang May menginjak tanah.

Suatu malam, May bermimpi sesuatu yang membangkitkan tekadnya untuk pergi ke darat. Mimpi itu datang setelah Tuah bercerita bahwa dahulu, ketika orang tuanya masih hidup, mereka memelihara seekor kerbau di darat. Dalam mimpinya, May melihat kerbau itu berada di dalam rumahnya. Dorongan dari mimpi tersebut begitu kuat hingga ia berlayar dengan sampan motor, menelusuri perairan dan daratan untuk mencari kerbau yang pernah dilihatnya. Ia akhirnya menemukannya—seekor kerbau terikat pada batang pohon di samping papan perusahaan. Namun, begitu kakinya menginjak tanah, tubuhnya terasa berat, napasnya tersengal, hidungnya mengeluarkan darah, lalu dia pun jatuh pingsan.

Ketidakmampuan untuk menyentuh tanah menjadi simbol keterasingan spiritual dan pudarnya identitas budaya yang dahulu menyatukan manusia dengan alam. Modernisasi yang dibalut eksploitasi sumber daya dan manipulasi kekuasaan melahirkan luka ekologis sekaligus spiritual. Dalam konteks ini, tanah tidak lagi menjadi ruang hidup yang sakral, melainkan komoditas yang diperebutkan. Tubuh May yang terhempas menjadi metafora generasi yang tercerabut dari akar tradisi. Ia mewakili keguncangan batin dan keterasingan spiritual yang lahir dari ketimpangan hubungan antara manusia, alam, dan budaya.

Dalam Tale of Land, ritual bukan sekadar penawar, melainkan panggilan untuk pulang pada keseimbangan yang terputus. Darah, alam, dan tubuh manusia berpadu dalam satu napas yang mencari arti. Konflik yang tampak hanyalah bayang-bayang dari perang yang lebih dalam: antara penghormatan terhadap budaya leluhur dan keserakahan yang menodai tanah. Pertentangan inilah yang menyeret May terombang-ambing antara warisan spiritual yang memanggilnya untuk kembali dan dunia modern yang semakin asing terhadap makna tanah dan leluhur.

“Segalanya mencari jalan pulang kepada asalnya.” Mungkin begitu pula dengan May. Ia bukan hanya ingin berdiri di atas bumi, tetapi ingin berdamai dengannya—menerima bahwa luka tanah adalah luka dirinya. Hanya ketika tubuh, darah, alam, dan tanah saling mengenal kembali, kehidupan akan menemukan ritmenya yang suci.

Ilustrasi 2 : Upaya menjalin keharmonisan dengan alam. Grab shot dari Bioskop Online

Film ini menampilkan sejumlah kekuatan: isu yang diangkat mendalam, meliputi trauma, identitas masyarakat adat, konflik lahan, serta keterikatan pada tradisi dan alam. Pemilihan lokasi nyata di rumah terapung dan lanskap air menghadirkan atmosfer khas yang menyatu dengan tema. Melalui mitos, sejarah, bahasa Kutai, dan realitas masyarakat yang berhadapan dengan modernitas, film ini menegaskan dimensi lokalitas yang kuat. Secara keseluruhan, Tale of Land memperlihatkan potensi budaya lokal yang memperkaya karakter sinema Indonesia di ranah global.

Namun, di balik kekuatannya, hadir pula sejumlah kelemahan. Dialog dan narasi yang sangat minim membuat film ini lebih bertumpu pada kekuatan visual, sehingga terasa agak berjarak bagi penonton yang terbiasa dengan gaya bertutur arus utama, baik secara audio maupun visual. Di sisi lain, film ini juga menuntut kesediaan penonton untuk menembus lapisan budaya dan konteks spiritual Dayak Kutai agar maknanya sepenuhnya terserap.

Sinematografi menjadi elemen kunci yang tak hanya memperindah visual, tetapi juga memperkuat naratif dan suasana batin film. Penggunaan long take menciptakan kesan lambat, namun kontemplatif serta memberi ruang bagi penonton untuk meresapi kesepian dan keterasingan karakter. Tempo lambat yang konsisten menghadirkan suasana keterasingan yang dalam, mengajak penonton ikut larut dalam perenungan batin May.

Hal ini sejalan dengan yang dituliskan oleh André Bazin dalam What is Cinema, bahwa teknik long take memungkinkan realisme yang lebih alami dan memberi kebebasan bagi penonton menafsirkan adegan. Pemahaman ini juga didukung oleh Bordwell dan Thompson dalm Film Art: An Introduction, pilihan durasi gambar yang tepat memperkuat struktur naratif dan membangun kedalaman emosi film.

Pemanfaatan gambar goyah (shaky shot) pada beberapa adegan dalam film ini bukanlah kesalahan teknis, melainkan strategi sinematik untuk memperkuat realitas. Karena setting rumah berada di tengah danau, kamera yang sedikit tidak stabil menghadirkan sensasi kehadiran langsung bagi penonton. Ketidakstabilan ini sekaligus menegaskan emosi karakter—kegelisahan, ketakutan, dan kebingungan—tanpa bergantung pada dialog berlebihan.

Ilustrasi 3: Komposisi negative space. Grab shot dari Bioskop Online

Komposisi visual berperan penting dalam membangun makna dramatik. Penempatan karakter di ruang luas menegaskan isolasi sekaligus hubungan mereka dengan alam. Dalam adegan

konflik antara Tuah dan May, Tale of Land memanfaatkan negative space berupa bidang kayu yang mendominasi frame. Ruang kosong itu menciptakan tekanan visual yang menggambarkan jarak emosional antara keduanya. Seperti dikatakan Blain Brown, negative space dapat menekankan isolasi dan jarak psikologis antar karakter. Dalam konteks film ini, ruang kosong bukan sekadar latar, melainkan metafora kebisuan, keterasingan, dan perbedaan kehendak antara kakek dan cucu.

Kontras dalam Tale of Land bukan hanya aspek teknis pencahayaan, tetapi juga karakter imaji. Ia menyoroti konflik batin, memperkuat emosi, dan menghadirkan simbol pertentangan— antara tanah adat yang dijaga dan tanah yang dieksploitasi. Dalam satu adegan, saat sampan Tuah terhadang kapal tongkang pengangkut batu bara, tubuh Tuah tampak sangat kecil dibandingkan kapal tersebut. Kontras ini menyoroti perbedaan ukuran fisik sekaligus mencerminkan ketidakberdayaan emosional menghadapi kekuatan industri. Visual ini memperkuat tema pertentangan antara manusia dan kekuatan eksternal yang menjauhkan hubungan spiritual manusia dengan alam.

Ilustrasi 4: Kontras ukuran fisik dan ketidakberdayaan. Grab shot dari Bioskop Online

Penerapan pencahayaan sederhana namun cermat, termasuk penggunaan low-key lighting, membantu memperkuat ketegangan emosional tanpa perlu sarana teknis yang kompleks. Demikian pula dengan palet warna yang bergerak dari coklat ke abu-abu tua tergolong warna analogus—harmonis dan berdekatan secara tonal. Pilihan ini menciptakan kesan alami, kontemplatif, serta menunjukkan keterhubungan manusia dengan lanskapnya.

Neil Oseman dalam buku Colour Schemes menjelaskan bahwa warna analogus menghasilkan kesatuan yang lembut dan harmonis. Namun, dalam konteks Tale of Land, harmoni ini justru

menyiratkan pertentangan antara manusia dan alam, tradisi dan modernitas, serta upaya mempertahankan tanah leluhur di tengah arus eksploitasi industri.

Secara keseluruhan, film Tale of Land menunjukkan bahwa kualitas visual tidak ditentukan oleh kompleksitas alat, melainkan oleh pemahaman terhadap esensi cerita. Setiap elemen visual—komposisi, pencahayaan, kontras, hingga warna—berkontribusi pada kekuatan naratif dan emosional film. Ia bukan sekadar dokumentasi visual, melainkan pengalaman sinematik yang utuh.

Refleksi Ekologis dan Budaya

Film Tale of Land mengingatkan bahwa kehilangan tanah berarti kehilangan identitas dan keseimbangan ekologis. Film ini menjadi suara lembut namun tajam bagi alam yang tersisih, mengajak penonton merenungi hubungan antara manusia, tanah, dan kehidupan.

Dengan kesederhanaan teknis, sinematografinya tetap kuat secara naratif dan estetika, membuktikan bahwa kualitas visual lahir dari kedalaman pemahaman, bukan dari kompleksitas peralatan teknis yang digunakan.

Di kehidupan dunia yang sibuk mengejar materi, keuntungan, bahkan keserakahan, Tale of Land mengajak kita berhenti sejenak, menunduk, dan merasakan tanah—bukan sebagai komoditas, melainkan bagian dari diri kita sendiri. Hanya dengan begitu kita bisa memahami, berdamai dengan luka yang menggores, serta belajar kembali merawat bumi tempat kita berpijak.

***

*Bambang Supriadi, Indonesian Cinematographer Society (ICS).