Pos

Menggali Makna Serat Nitisruti: Arsitektur Jiwa dan Estetika Ketentraman

Oleh: Gus Nas Jogja* Menyelami samudera pemikiran Pangeran Karanggayam dalam Serat Nitisruti bukan sekadar membaca naskah kuno dari tahun 1612, melainkan sebuah ziarah batin menuju hulu peradaban Jawa yang adiluhung. Pangeran Karanggayam, sang pujangga dari Pajang yang juga leluhur Raden Ngabehi Ronggowarsito, menyusun untaian kata ini bukan sebagai doktrin kekuasaan yang kaku, melainkan sebagai komposisi […]

Natural Born Killers, Masyarakat Tontonan dan Kebudayaan sebagai Dekorasi 

Oleh Purnawan Andra* Beberapa waktu lalu, saya menonton (lagi) film Natural Born Killers ketika diputar di acara Bioskop Trans TV hari Selasa tanggal 20 Januari 2026 sesi malam. Sebelumnya, saya menonton film ini di acara “Sepekan Film Quentin Tarantino” yang diadakan di Gedung Kampus Sekip oleh Unit Kegiatan Mahasiswa Pecinta Film Kine Klub Jurusan Komunikasi […]

Politik Tubuh (Pasca Penutupan) Gang Dolly: Sebuah Utopia Menghapus Pelacuran?

Oleh  Afiyanti*   “Upaya meniadakan pelacuran sering dibingkai sebagai kemenangan moral, sebuah utopia yang dibangun atas keyakinan bahwa regulasi dapat membersihkan ruang sosial dari praktik yang dianggap ‘menyimpang’. Pelacuran diperlakukan sebagai masalah moral yang bisa dihapus melalui larangan, bukan sebagai konsekuensi dari sistem ekonomi politik yang tidak menyediakan alternatif hidup yang layak bagi pekerjanya.” Dokumenter […]

Berpuisi Sebagai Liturgi

Sebuah Simfoni Kosmik Eksistensi Oleh: Gus Nas Jogja* Puisi bukanlah sekadar deretan kata yang dipaksa berima, melainkan sebuah tindakan sakramental. Ia adalah jembatan antara yang fana dan yang baka, sebuah ruang di mana bahasa menanggalkan jubah fungsionalnya dan mengenakan jubah cahaya. Menulis dan membaca puisi adalah sebuah liturgi—sebuah perayaan atas keberadaan yang melibatkan seluruh dimensi […]

Estetika Perpuisian Warih Wisatsana: Ziarah Kesadaran, Etika Diam, dan Orisinalitas yang Mengendap

Oleh Abdul Wachid B.S.*   Pendahuluan Di tengah lanskap perpuisian Indonesia kontemporer yang semakin plural, eksperimental, dan terkadang fragmentaris, puisi-puisi Warih Wisatsana hadir sebagai oase kesabaran dan ketenangan. Larik-lariknya panjang, ritmenya melambat, dan gerak puisinya menyerupai perjalanan kesadaran, bukan ledakan emosional yang memusat pada “aku”. Warih tidak terburu-buru menutup makna; pertanyaan kerap dibiarkan menggantung, seakan […]

Telaga Narcissus di “Your Curious Journey” Olafur Eliasson

Oleh Razan* Karya Olafur Eliasson “The Weather Project” saya sematkan pada catatan saya sebagai salah satu referensi ketika karya “ Fajar Di Ufuk Barat” sedang saya kerjakan pada tahun 2021. Referensi ini saya dapatkan dari mbak Melati Suryodarmo, guru yang selalu bermurah hati membagikan tajuk karya dan nama seniman yang menurutnya penting untuk diketahui dan […]

Seekor Bajingan, Subyek yang Teralienasi dalam Kebisingan

Oleh Indro Suprobo*   “Poverty means death. This death, however, is not only physical but mental and cultural as well. It refers to the destruction of individual persons, peoples, cultures, and traditions.” (Gustavo Gutiérrez, We Drink from Our Own Wells: The Spiritual Journey of a People)   Gustavo Gutierrez-Merino Diaz adalah seorang filsuf cum teolog […]

Menghidupkan Kembali Bahasa Ibu: Urgensi Kultural untuk Generasi NU Milenial

Oleh Abdul Wachid B.S.* Di tengah gempuran budaya global dan arus digital yang tak terbendung, bahasa ibu (seperti Jawa, Sunda, Madura, Banjar, Sasak, Bugis, hingga bahasa Osing) mengalami peluruhan yang nyata di tengah keluarga-keluarga Nahdliyin. Banyak anak-anak muda NU kini lebih fasih berbicara dalam bahasa Indonesia baku atau bahkan dalam logat media sosial ketimbang dalam […]

Meneropong Seni Rupa Antariksa

Oleh Agus Dermawan T.* Memasuki tahun 2026 beberapa negara berlomba menguasai Bulan. Pada 17 Januari roket dan wahana Orion milik Amerika Serikat siap luncur untuk membawa misi Artemis. Tiongkok, Jepang, bahkan India, segera mengikuti. Daratan Bulan akan dijadikan stasiun menuju ke planit Mars! Di balik semua itu,“ternyata” ada seni rupa luar angkasa. Maka, menarik menyimak […]

Dari Davos Menuju Demokrasi Ekonomi Yang Bermartabat

Memulihkan Retakan Kemanusiaan dan Peradaban Oleh: Gus Nas Jogja* Di bawah langit Alpen yang biru beku, di mana salju Davos berbisik tentang sejarah bumi yang kian menipis, sebuah liturgi sekuler sedang dirayakan. Di sana, di ketinggian 1.500 meter, para “Gembala Zaman”—para Davos Man yang mengenakan jas sutra dan membawa statistik sebagai tongkat gembalanya—berkumpul di dalam […]