Sutardji, Puisi, dan Sepotong Roti
Oleh: Mahwi Air Tawar* Bang Tardji—Sutardji Calzoum Bachri—saya menulis catatan ini bukan untuk mengulang legenda “pembebasan kata” yang telah lama kausiramkan ke tubuh sastra Indonesia. Bukan pula untuk menegaskan kembali julukan Presiden Penyair, sosok yang memukul-mukul bahasa sampai menyerah. Esai ini lahir dari sesuatu yang lebih sederhana sekaligus lebih menusuk: sepotong roti, selembar puisi, […]

