Pos

Puisi-Puisi Afrizal Malna

museum bayangan kipas angin (aku ingin kita juga tahu seperti kipas angin di atas peta berjalan sendiri — malam di luar kamera mengganti nama-nama) terkadang kita tinggal bersama om dan tante makan malam dikelilingi hantu bank tagihan hutang gunung salak meletus — kaos kaki banjir ciliwung suara keroncong, jangkrik dan kodok jongos dan babu menari […]

Drawing Performatif: “Mau kemana hari ini?”

Oleh Afrizal Malna Satu-persatu orang mulai berdatangan lalu menjelma menjadi kerumunan kecil. Mereka sedang menyaksikan peristiwa yang tidak umum. Seorang pelukis dengan rambut agak gondrong, bertelanjang dada dan memakai celana kolor, sedang melukis di pinggir jalan. Tangannya yang belepotan cat bergerak cepat mendistribusi cat ke berbagai titik pada permukaan kanvas, wajahnya berkeringat. Dia melukis seperti […]

Kerja Penghadiran dalam Medan Pasca-Sentuh Undisclosed Territory 13

Oleh Afrizal Malna I Made Yogi Sugiartha memunculkan istilah “pasca-sentuh” pada karyanya “Ice See You”. Berlangsung dalam program Undisclosed Territory 13. Istilah ini digagas Sugiartha untuk memantulkan tema program, yaitu “Jarak” (Performing Distance), dengan konteks pandemi Covid-19. Untuk saya, istilah ini membuat bentangan antara “jarak” dan “gerak” sebagai hukum dasar fisika: “Sebuah benda akan diam […]

Seni dan Negara (Modernisme di Halaman Belakang) (Bagian 2)

Oleh Afrizal Malna Batas-batas sejarah sebagai fiksi politik Batas-batas sejarah merupakan sebuah titik yang kita buat untuk membangun tubuh sejarah yang berbeda pada babakan-babakannya. Kita tidak pernah melihat batas ini sebagai sebuah fiksi. Kadang ia menjadi batas ideologis yang membeku, tempat bersemayamnya hantu-hantu. Batas-batas itu selalu menarik ketika terjadi penafsiran baru, munculnya perspektif baru, atau […]

Seni dan Negara (Modernisme di Halaman Belakang) (Bagian 1)

Oleh Afrizal Malna Apa yang menarik mengikuti tulisan Aminudin TH. Siregar: “Takjub Ajoeb: Kepada Bung Hendro Wiyanto” dan tanggapan Hendro Wiyanto: “Jurus Gerhana Aminudin TH. Siregar”, adalah bagaimana sejarah bekerja dalam wilayah rasionalisme dan keyakinan. (Mungkin ini juga tidak tepat). Ia seperti hantu yang bersemayam pada batas sejarah sebelum dan setelah Tragedi 1965. Bermain dalam […]

Jalan Setapak Umat Ibrahim (Sebuah Esai Menyambut Hari Puisi)

Oleh Arip Senjaya karena aku ingin merdeka dan menemukan diri. (Subagio Sastrowardoyo, “Kampung”1) Kapak penyair Puisi adalah tentang sejarah kesulian pengucapan yang bersifat individualistik. Ada kesulitan pada setiap penyair untuk mengatakan sesuatu dan akhirnya masing-masing mencari jalan ucap sendiri-sendiri, dan dengan demikian sejarah puisi selalu sebagai sejarah kesulitan per individu penyair, bukan sejarah mereka secara […]

Puisi-Puisi Afrizal Malna

  *Afrizal Malna, penyair dan esais. Kini anggota Akademi Jakarta.

Tjeritakan Padakoe Tentang Meisjesweeshuis Boeboetan

Oleh Afrizal Malna (Hari menjelang siang. Jam 9 pagi di sebuah warung kopi. Ia sedang membuka internet dengan laptopnya. Satu cangkir kopi robusta, hitam dan pahit. Awalnya ia hanya ingin membalas beberapa email. Tapi ia terpaku pada sebuah laman javapost.nl, yang memaparkan foto-foto Hindia Belanda masa lalu, anak-anak, foto keluarga, foto murid-murid sekolah dan sebuah […]