Sajak-Sajak Dato Wira Teja Alhabd

ISTRIKU

kau
adalah sumbu api kerinduan
yang tak pernah padam,
memetik kuntum pada desah nafas.
bermalam bismillah dihati kalimah
maka untuk itulah aku mengambil sumpah

kitalah puisi
menjadi hujan dalam rindu, peluklah!”
biar jadi bunga pada laut, jadi karang pada ombak
untuk mengubur rindu pada selat kehidupan
dan air mata

kitalah puisi
larik bait rindu
menari dalam hempasan buih-buih dan terjalnya karang
menggenggam tasbih syair rindu setia,
karena engkau permaisuri
yang berumah di syurga hatiku!

10 des 94/19

 

KELEMBAK RINDU

dikaukah?
kerena rindu hujan mencibir senja

dikaukah?
embun yang membulir
karena malam menepi pagi
mengantarkan rinduku sembunyikan gelap dipenghujung
hati, sungguh engkau penuh pesona.

dik,
jangan kau bisikkan dukamu,
sebab kita adalah rindu yang terkoma dan bertitik putik dari kuntum puisi yang dulu lupa kau siram tapi ketika mulai layu, tertunduk seakan-akan menyesal atas kealpaan ini.

jika aku katakan ini adalah malam yang panjang dengan aroma yang sangat aku kenal betul, dari tubuhmu, maka tak akan biarkan sekalipun kau berkunjung dalam
mimpiku.

maret 90/20

 

LELAKI BERJUBAH RINDU

jika malam adalah musik,
maka aku blueskan denting piano jadi puisi,
dan secangkir kentalnya kopi sekanak adalah rasa.

jika pagi adalah puisi,
maka aku dondang sayangkan blues denting piano
jadi rindu dan bercerita tentang negeri kehilangan rasa hormat dan harga diri.

jika penyair datang bicara cinta, maka kesedihan tak pernah basah, nyeripun hanya berupa kata-kata, menyayat tapi terasah.

jika aku berkayuh bismillah,
jangan datang dengan kebencian, datanglah dengan kasih, akan kusambut dengan cinta, akarnya menghujam ke bumi, daunnya melesak ke langit, buahnya keheningan hati.

akulah lelaki berjubah rindu,
bertasbih hujan disetiap rintik deras, menjadi puisi, tegakkan lidah ke langit dalam sujud.

tpi, 2020

 

SECANGKIR KOPI SEKANAK
[ untuk Awkarin “Karin” Novilda]

hiruplah!
bulan melintas rimbunan cahaya 
matahari, aroma rempah kerinduan, wanginya syair para penyair, pembaca degup rindu.

sesaplah!
akan aku ceritakan
malam panjang tentang hujan dimusim
kemarau, tentang wewangian secangkir kopi sekanak atau tentang apa saja tentang rindu dilentik bulu-bulu matamu yang selalu
aku kenang.

tpi, 26 des 2019

 

TAUBAT



aku adalah air mata
menjadi kelopak
dalam syahadat firdausMu

aku panggil bumi,
bumi tak menjawab, duka menikam kata
dikalikan pada angin, pada tanah, pada air
dan pada api

aku panggil langit, langit menangis
karena dosa memamah dari segala penjuru
ketika dusta-dusta pernah
ditasbihkan

ruhku bersulang pada dinding kiblat membasuh sesal
hinggakan mabuk jadi khusyuk
hingga sepi berparut
air mata!

sept 15/20

 

*Dato Wira Teja Alhabd, lahir di kota trubuk  9 september 1965. Presiden Penyair Tarung ini adalah 5 dari Orator dan deklamator puisi terbaik  ini  adalah Ketua Dewan Kesenian Tanjungpinang 2013-2018, Pemegang Rekor MURI pemandu  berbalas pantuntTerlama 6 jam 5 menit 18 detik tahun 2008 di Jakarta, Pencipta lagu Zapin Sri Gading (Pak Ngah Balik) , Pelaksana Harian Komunitas Penyair dan Musisi Pelasah Tanjungpinang, Master Off Ceremony ( MC), Penerima Anugerah Tokoh Budayawan dari KNPI 2012, The Best Humanist BatamNews Award 2019, Peraih 9 terbaik Nasional GKM Produk  Dapoer Melayoe 2010 di Lombok, Pengurus Lembaga Adat Melayu Kepulauan Riau dan Pengurus NU Tanjungpinang. Pengurus MUI Prov. Kepri.  Pendiri Forum Diskusi “Sudut Kampung” Kepri. Nominasi penerima Anugerah Jembia Emas, Pendiri Istana Hinggap “KOPI SEKANAK” Dapoer Melayoe,  dll.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *