Puisi-puisi Warih Wisatsana

PUISI BAHAGIA

Tulislah sebuah puisi bahagia
siapa saja ketika membacanya
seketika sukacita tak terlupa

Seorang ibu memadamkan lampu
menyalakan lilin sendirian, terharu
ucapan ulang tahun dari si bungsu
tiba kala senja dari seberang benua
dibaca dengan linang mata berkaca
doa syukur panjang umur senantiasa

Tulislah tingkah kucing mungil yang lucu
setiap petang menunggu kedatanganmu
matanya berkedip iba mengharap sapa
mencuri perhatian menggigit tali sepatu

Lupakan batu tersedu di kedalaman malam piatu
Kiasan mawar pelipur bagi penyair nanar waktu
tak kunjung jemu meraba wajah sedihnya di cermin
terkenang kecupan pilu kekasih pertama tak terlupa

Bayangkan baris paling gerimis; dua bocah girang
berlarian mengejar topi melayang diterbangkan angin
derai tawa mengiringi mereka terjun ke sungai bersama

Maka temukan foto keluarga kita pada album lama
Ayah masih muda ibu sungguh jelita berbagi keling mata
Kakek bertopi serdadu terlihat lugu mengundang haru

Pita rambut dan baju bibi selalu lucu tak serasi
tapi bening pandang dan senyumnya tulus sekali

Lalu seumpama kertas putih ini angkasa
bayangkan kata-kata riang puisi
adalah kawanan burung bebas merdeka
terbang bahagia melintasi lima samudra

Tulis, tulislah tepi jagat raya entah di mana
namun jangan abaikan semut-semut jenaka
siang malam tekun membangun sarangnya

2025

 

KATEDRAL CHOONGHYUN

Sebab menahan dingin
kumasuki katedral

Lengang petang menjelang
bangku-bangku kosong
hanya beberapa orang tua tafakur
perlahan membuka kitab lama
menunggu doa bersama dilantunkan

Kebaktian tak kunjung dimulai
satu dua orang datang
ruang megah ini kian lengang

Entah berapa waktu aku tertidur
tersentak terbangun
mendengar seruan amin
bergaung begitu nyaring

Seketika nanar pandangku
menyaksikan ruang dipenuhi orang

Sepasang kekasih bergenggaman tangan
mungkin saja pengantin baru
tengah bersyukur atas karunia bahagia

Orang-orang tua
memenuhi bangku-bangku
begitu sabar meresapi
tutur pendeta di mimbar
mengingatkan hidup kekal
dalam naungan sang kudus
jalan lurus mereka yang tulus

Mereka haru berseru amin
seakan sungguh yakin
bahwa kasih langit memberkati
janji sorgawi akan digenapi

Dalam kumandang kidung
terpandang remang olehku
anak tuhan terkasih tersalib nasib
pualam hiasan di leher nan jenjang

Kutinggal katedral dengan ragu
tanya diri berkali
kapan aku bisa kembali lagi
bersama orang-orang tua tafakur
bersama mereka bersyukur
menyerukan amin
dengan kedalaman batin

Gangnam, 2020

 

SEBUAH KAP MOBIL TERBUKA
ANJING CIHUAHUA
MELOMPAT TAK TERDUGA

seorang lelaki paruh baya terpana
kopinya tumpah menggenangi meja
empat dara riang gembira
memekik serentak seketika

kacamata penjaga toilet terlepas dari bingkai
berdenting nyaring berderai di lantai
wajah seorang ibu muram durja
tiba-tiba senyum bahagia entah kenapa

semut-semut menikung di lekuk dinding
kumbang berdengung membentur cermin
nyaring pengumuman sekian kali
pesawat ke praha tertunda kembali

di lorong menuju ruang tunggu
para pramugari menghibur diri
memberi perona di ranum pipi

anjing mungil riang berlarian
mobil melaju tak menyadari

burung di pucuk pohon tertegun
mesin detektor berdenging sekali
lalu senyap tak memberi tanda lagi

petugas pemeriksa paspor melupakan
wajah buronan di layar berpendaran

henti sejenak memandang bayangnya di dinding
ia melenggang masuk ke pintu keberangkatan

pukul 17:44:45: belum selesai bersulang
tertayang pandang pesawat menghilang

2022

Warih Wisatsana

 

CAMINO DE SANTIAGO
-Putu Suasta-

Antara tidur dan jaga, Takashi perlahan sodorkan cangkir
Teh yang mewangi sudah dingin dari tadi. Gumamnya
semoga tiba akhirnya karunia pencerahan seketika

Gelap belum genap. Namun gigil angin tak tertahan
menggenangi badan menyusup ke batin. Tak peduli
ratusan kilometer telah kami lalui diri ini. Burung,
kawanan burung begitu saja membumbung meninggi
Senyap sayapnya menoreh hampa cahaya angkasa

Antara percaya dan tanya, sebagaimana rahib dahulu kala
Kami tempuh tubuh bersalah. Tersalib nasib memanggul hidup
Meniti ngarai dan lembah, berulang dirundung bimbang
Bagaimana mulanya manusia pertama tergoda pesona dosa

Bercakap dengan derai hujan, bertanya pada batu
engkau tugu waktu, atau kerikil sesal sandungan kalbu
Ini remang pandang atau tipuan bayang biara didamba?

Tercenung rimbun lalang, pohon lengang menjulang
pudar mengabur dalam pendar samar bintang timur
ambang umur di penghujung mata yang kian lamur

Sesampai tepi hari, tafakur di sisi altar megah agung ini
Takashi terpana hilang kata. Haru pandangnya berkaca
Mengerling duga masihkah diri diberkahi karunia usia
Bertemu lagi dalam persaudaraan lintas bangsa
dalam ziarah doa yang tak henti diliputi bahagia

2024

Warih Wisatsana

 

PEREMPUAN DALAM DIRIMU

Perempuan-perempuan dalam dirimu
datang padaku di hari sabtu atau minggu

Yang bergaun biru
menari sendirian di depan cermin
Yang berwajah murung
menanggalkan topeng di panggung

Penuh dengan dongeng riang
dan kisah sedih yang entah
Mereka bicara bergantian
tentang sepatu yang tembus cahaya
Sapu tangan berhias bunga hijau
yang memikat kupu-kupu

Juga serdadu-serdadu
yang bagai boneka lucu
meniru warna salju

Atau tentang musim semi
yang bergegas pergi
Laut dingin
yang menyesatkan seekor camar
ke tugu mati penyair tak berkubur

Siapakah yang tak putus mengirim pesan-pesan
mengingatkan bibir mungil mereka yang gemetar
pada bunga kecil yang gigil sendirian di belukar?

Walau bayangan kiamat tiba tanpa isyarat
Mereka kenakan gaun pengantin akhir pekan
percaya langit tak akan terbelah
dan bumi utuh selamanya
Hanya biola menangis sendirian di angin
mengiringi apel-apel yang jatuh perlahan
melayang-henti di tengah udara yang hampa

Lalu yang bergaun biru tersedu
terkenang kekasih-kekasihnya yang pergi

Yang berwajah murung mengulang isaknya
tentang genangan air dalam cermin
berkali membujuknya bunuh diri

Siapakah yang menelpon mereka setiap malam
selalu membisikan sajak-sajak pilu tak berjudul
yang terhapus sebagian di dinding-dinding kota?

Perempuan-perempuan dalam dirimu
datang dan pergi di hari sabtu atau minggu

Mereka bayangkan laki-laki
serupa gerimis bulan November
yang tertepis payung
Lamunan yang melangkah lirih
mengikuti mereka kemana pun pergi

OBITUARI PELUKIS SALIM

Seandainya sungguh tanganku sebuah batu
akan jadi apa maut yang kusentuh ini

Mungkinkah ia jadi sekedar ranting
atau patung yang sebagian tubuhnya
retak oleh hujan bertahun
Atau mungkinkah ia akan datang mendekat
dan berbisik padaku
bahwa tanganku meski batu
tak akan kekal oleh waktu

Di taman ini hanya ada kami berdua
Maut yang menyamar jadi pohonan
aku yang diam-diam jadi pemotong rumput
mengulur-ngulur waktu
Bercakap-cakap tentang apa saja
dari pakaian pengantin yang terlupakan
hingga hari pertama penciptaan

Ia membuka rahasianya padaku
bahwa dirinya jemu mengunjungi pasien
yang terbaring di rumah sakit
atau yang lalai menyeberangi jalanan

Seandainya sungguh tanganku sebuah batu
akan jadi apa maut yang kusentuh ini

Mungkinkah ia akan sengaja mengulur-ulur waktu
dan mengizinkanku untuk pergi sekali lagi
mengunjungi sahabat-sahabat yang kukasihi

2008

 

SIMPANG JALAN KE KONYA

Datanglah padaku, wahai pecinta yang hampa
kekasih-kekasih malam yang kecewa
Datanglah dengan tepuk tangan berulang
dan nyanyian riang anak-anak jalanan

Sebab tak tahu
ke arah manakah jalan pulang
begitulah selalu
aku kunjungi semua kuil dan candi
aku datangi orang-orang suci
Berkali kutanyakan, kenapa semalaman
tak henti menari sendirian di taman?

Mereka malah balik bertanya kepadaku,
apalah arti rumah bagi pejalan jauh
sekadar tempat singgah
atau hanya untuk berteduh?

Alangkah pandir aku, alangkah dungu
tak satu pun tutur luhur mereka
yang sungguh kupahami
Semua serba sekilas, melulu selintas
bahwa tubuh yang indah
hanya selubung ingatan
cuma selilit kenangan
Bahwa anggur yang mencemari kata-kata ini
meski telah tumpah berkali masih kekal mewangi

Datanglah padaku, wahai pecinta yang kecewa
Kunasehati dirimu dan nasehati pulalah diriku
bahwa di kota ini tak ada jalan pintas
di mana orang-orang bergegas
mengharap segala yang ajaib
berulang datang dalam hidup yang sekejap

Sebab tak tahu ke arah manakah jalan pulang
Orang-orang nanar tergoda pendar bayang
melamunkan tangga surga berayun di awan
Dirundung angan terhanyut ingin
mereka saling menawarkan
karcis sirkus gratis
tiket terusan komidi putar
atau undian peruntungan

Tak seorang pun menyadari
seekor lalat putus asa menyeberangi malam
memberi isyarat di sudut taman
ada bayi mati perlahan dilupakan ibunya.

Datanglah padaku, wahai pecinta putus asa
kekasih-kekasih malam yang hampa
Mari menari, melepas bebas segala
leburlah tanya fana ini
apakah kita setetes air yang tiada
atau samudra dalam diri yang bahagia

Datanglah dengan tepuk tangan berulang
dan nyanyian riang anak-anak jalanan

2020

SANGKAN PARAN
-Hariadi Saptono-

Suatu ketika kau perlahan berkata
ayo ke tanah tua Papua atau Sumba

Siapa tahu senyap gelap tersingkap
demikian pula segala rahasia terbuka

Berulang kali mengalami
tak kunjung memahami

Sungguhkah selubung jubah megah
sepenuh seluruh berlimpah kasih

Cahaya mistis sang kudus
atau tempias bias nan kultus

2023

*Warih Wisatsana adalah penyair, esais, editor, kurator seni, dan pegiat kebudayaan. Ia menerima berbagai penghargaan, antara lain Taraju Award, Borobudur Award, Bung Hatta Award, Bali Jani Nugraha, Bali-Dwipantara Nata Kerthi Nugraha, World Peace Artist Award Korea, serta Penghargaan Sastrawan 40 Tahun Berkarya dari Badan Bahasa. Buku puisinya meliputi Ikan Terbang Tak Berkawan, May Fire and Other Poems, Batu Ibu, dan Kota Kita. Puisinya diterjemahkan ke bahasa Belanda, Inggris, Portugis, dan Prancis. Ia aktif mengkurasi pameran, festival sastra, menulis biografi, menyutradarai dramatari, dan kini menjadi redaktur Katarupa.id serta halaman puisi Harian Nusa Bali.