Elegi Sang Saka

Oleh Agus Dermawan T.

Berkibarlah benderaku
Lambang suci gagah perwira
Di seluruh pantai Indonesia
Kau tetap pujaan bangsa

Siapa berani menurunkan engkau
Serentak rakyatmu membela
Sang Merah Putih yang perwira
Berkibarlah s’lama-lamanya.

ITULAH lagu yang selalu bergema di bumi dan angkasa Indonesia. Lantaran dalam momen-momen khusus lagu itu selalu dinyanyikan gemuruh oleh anak-anak sampai orang-orang tua, di kelas sekolah, di jalan raya, di stadium sampai di gedung konservatorium. 

Lagu Berkibarlah Benderaku diciptakan oleh Ibu Sud (Saridjah Niung, 1908-1993) pada 1947, menjelang terjadinya Agresi Militer Belanda I. Tujuan penciptaannya adalah untuk menggelorakan semangat juang bangsa Indonesia dalam mengusir penjajah yang kembali mengusik Tanah Air. Membarakan jiwa seluruh rakyat untuk mempertahankan Indonesia yang berdaulat. Dan Sang Saka Merah Putih adalah simbol junjungannya. 

Bendera Merah Putih dikibarkan dengan khidmat oleh anak-anak. (Foto: Arsip)

Ketika perjuangan kedaulatan itu berhasil pada akhir 1949, lagu tetap berkumandang, bahkan sampai kapan saja. Tujuan kumandang itu pada akhirnya adalah agar bangsa Insonesia selalu menjaga kehormatan sang bendera : lambang suci gagah perwira.

Sang Saka Merah Putih memang sudah mengakar dan melekat dengan kehidupan serta kehormatan negara dan rakyat. Karena lambang merah-putih telah difahami sejak 8 abad silam. Setidaknya pada masa kerajaan Singasari dan Majapahit abad 13, seperti tertulis dalam Prasasti Gunung Butak. Perlambang tersebut tidak hanya terpresentasi dalam umbul-umbul atau bendera, tapi juga dalam upacara keseharian. Seperti kala masyarakat kerajaan itu membuat bubur sumsum (yang berbahan beras putih) dengan imbuhan lelehan gula merah, untuk ritual selamatan. 

Perlambangan itu diperdalam lagi dengan perumpamaan “getah-getih”. Getah adalah cairan putih yang keluar dari organ pohon, sebagai lambang dari bumi. Sedangkan getih adalah darah manusia, yang mendiami dan membela bumi yang ditempati. Sementara dalam pemahaman khalayak umum, merah diartikan sebagai keberanian insan Indonesia, sedangkan putih sebagai kesucian atau kebersihan jiwa manusia Nusantara.

Ingatan atas Merah-Putih ini terus merayapi waktu, sampai akhirnya memasuki abad 20. Dan ingatan itu diaksentuasi oleh Sultan Hamengkubuwono VIII kala menghadiri Konferensi Driebergen pada 1920. Kala itu Sultan menggunakan mobil dengan umbul-umbul berwarna merah putih, yang ia sebut sebagai lambang “gula-kelapa”.

Pada Kongres Pemuda 1928 Bendera Merah Putih juga dikibarkan. Namun dunia internasional belum mengakui sebagai bendera resmi. Upaya mencari pengakuan terus dilakukan. Pada tahun 1944 Bung Karno dan Fatmawati menggagas pembuatan Bendera Merah Putih dalam ukuran besar. Dengan harapan bendera itu bisa dikibarkan apabila Indonesia berhasil merebut kemerdekaan. Bendera berukuran 178 x 274 cm itu berbahan katun terbaik bikinan Jepang. Bendera pun dikibarkan pada 17 Agustus 1945, dan disebut Bendera Pusaka.

Namun pada 1947 Belanda kembali ingin menjajah Indonesia. Tentara Belanda memburu Bendera Pusaka itu untuk disita. Atas perintah Presiden Sukarno, sang bendera dibuka jahitannya, sehingga lembar merah dan lembar putihnya terpisah. Lembar bendera terpisah itu lalu disembunyikan dalam kopor berbeda oleh Husein Mutahar, yang kemudian dikenal sebagai pendiri Paskibraka. Lembar bendera itu baru disatukan lagi pada awal 1950. Dan kemudian terus dikibarkan pada setiap upacara Kemerdekaan Republik Indonesia, sampai pada 1968. Bendera Pusaka akhirnya disimpan sebagai benda museum yang sakral, dan hanya disertakan sebagai simbol pada setiap peringatan Kemerdekan Republik Indonesia.

Begitu agungnya Sang Saka Merah Putih! Dengan begitu, alangkah sedihnya apabila kita melihat gambaran kronologis salah satu bendera, bagai terpampang dalam seri foto yang tersajikan ini.

 

Bagian pertama

Bagian kedua

Bagian ketiga

Sang Saka Merah Putih dalam 12 foto seri, terdiri dalam 3 bagian. Foto pertama pada bagian pertama, menggambarkan bendera tinggal dua pertiga, direkam pada 23 Oktober 2021. Bagian kedua menggambarkan bendera yang tak pernah diturunkan itu telah koyak akibat terpaan matahari, hujan dan angin. Pada 23 Oktober 2023 bendera hanya tersisa berupa seutas benang saja, sehingga sulit tertangkap oleh kamera. Foto terakhir bagian ketiga adalah tiang bendera yang sudah kosong, direkam pada 23 Januari 2024. Sang Saka sirna dimakan waktu. (Foto: Agus Dermawan T)


Saya pertama kali melihat bendera itu – yang berkibar di atas blok pertokoan di Kelapa Gading, Jakarta Utara – pada menjelang 17 Agustus 2019. Ia berkibar dengan normal. Namun bendera itu tidak pernah diturunkan, sehingga sang bendera harus melawan matahari, angin dan hujan. Saya pertama kali memotret bendera itu ketika sudah tinggal dua-pertiga, pada 23 Oktober 2021.

Kemudian pada setiap sekitar satu bulan saya memantau dan memotret keadaan bendera itu, sampai terkumpul puluhan foto. Dan jelas, bertambah bulan kondisinya semakin memelas. Tepat 2 tahun kemudian, 23 Oktober 2023, bendera itu hanya tersisa berupa seutas benang tipis saja. Sehingga tak bisa lagi ditangkap kamera. Sampai akhirnya pada 23 Januari 2024 saya menjumpai bendera itu sirna, dan yang tersisa hanya tiangnya! Elegi Sang Saka. **

—-

Agus Dermawan T. Pengamat Budaya dan Seni.