Kaba-Bakaba

Oleh Epi Martison

Kehidupan manusia tidak pernah lepas dari kesenian. Kesenian hadir pada upacara-upacara dan hiburan, baik hiburan secara pribadi ataupun berkelompok. Kesenian merupakan bentuk kegiatan universal  berfungsi sebagai penyeimbang otak kanan dan otak kiri. Dapat dikatakan bahwa di manapun kita hidup senantiasa membutuhkan kesenian, baik secara aktif maupun secara pasif. Bagaimanapun sibuknya, manusia akan tetap menyisihkan waktunya untuk menikmati kesenian, terutama dalam seremoni yang tak ditolaknya.

Ungkapan rasa melalui kesenian itu  akan berhubungan dengan nilai keindahan dan nilai budaya, gagasan dan pandangan hidup dari masyarakat pendukungnya. Maka karya-karya para seniman sering merepresentasikan suara hati atau fantasi sosial masyarakat kelompok , walaupun idenya kadang-kadang bermula dari hal-hal yang pribadi sifatnya. Mengutip Royce (1980:3), seni itu akan tetap hidup sejauh kesenian itu selaras dengan sistem kehidupan masyarakatnya, baik  masyarakat kota maupun masyarakat desa.

Minangkabau mempunyai seni tari tradisional seperti: Tari Rantak Kudo, Tari Mulo Pado, Tari Sado, dan lain sebagainya. Semua tari tradisional ini tidak saja berguna untuk hiburan masyarakat tetapi juga mengemban tugas untuk mewariskan nila-nilai budaya kepada masyarakat atau generasi penerusnya. Tari menjadi media pendidikan masyarakat, karena dalam tari Minang selalu diungkapkan rasa hormat kepada masyarakat melalui gerak persembahan, dan sekaligus mohon maaf atas kesalahan yang terjadi. Selain dari itu tari Minang juga menggambarkan sketsa kehidupan masyarakat yang bersumber dari cerita-cerita rakyat yang pada umumnya berhubungan dengan adat dan agama yang bersifat etis di dalam masyarakat.

Salah satu kesenian Minang adalah Bakaba. Bakaba merupakan suatu jenis kesenian bertutur yang mana teksnya bersumber dari cerita (kaba). Bakaba adalah cerita secara lisan. Teks nya berisikan tentang sejarah, nilai-nilai adat, tentang ajaran-ajaran agama, dan lain sebagainya. Hal ini tentu berguna sekali bagi masyarakat Minangkabau. Nilai-nilai yang terkandung dalam kaba selalu ditampilkan pada berbagai konteksnya agar tetap hidup di tengah-tengah masyarakat pendukungnya. Inilah yang menyebabkan banyaknya bentuk dan ragam cara penyampaian kaba tersebut. Kadang kala kaba disampaikan dalam kesenian Randai, kesenian Rebab dan Dendang, kesenian Saluang dan Dendang, kesenian Sijobang, Tari Tupai Janjang, dan lain sebagainya.

Minangkabau merupakan daerah yang cukup banyak memiliki seni tutur yang membawakan cerita- cerita rakyat, seperti cerita Malin Kundang anak durhaka, cerita Sabai Nan Aluih, cerita Umbuik Mudo, dan lain sebagainya. Kesemua cerita-cerita ini adalah sebagai pedoman dan pandangan hidup bagi masyarakat Minangkabau, di mana cerita ini dapat didengar dan dilihat melalui kesenian Bakaba. Karena kaba biasanya selalu disampaikan melalui kesenian Bakaba. Kesenian Bakaba di Minangkabau  adalah bentuk kesenian mempunyai peran ganda yaitu sebagai media pendidikan, sebagai hiburan, dan juga sebagai media pernyataan masyarakat Minangkabau.

Masyarakat Minangkabau mengenal klasifikasi sosial dengan istilah kaum adat dan kaum agama. Dilihat dari keberadaan kaum adat dan kaum agama di tengah-tengah kelompok masyarakat Minangkabau, mereka sama-sama berlandaskan kepada filosofi kehidupan “Adat bersendi syarak, syarak bersendi Kitabullah”. Kaum adat adalah pemangku adat sedangkan kaum agama adalah kaum yang menjalankan ajaran-ajaran agama Islam. Memang antara kaum adat dan kaum agama memiliki cara pemikiran yang cukup berbeda. Kaum adat lebih berpikir sekuler, sedangkan kaum agama lebih berpikir religius .

Cara seperti ini membawa dampak kepada apresiasinya terhadap kesenian Bakaba. Bila kesenian Bakaba yang tidak berunsurkan ajaran agama atau tidak mencerminkan perilaku yang baik, akan ditentang secara sinis oleh kaum agama, bahkan secara ekstrim dihubungkan dengan masalah halal dan haram. Tetapi kaum adat memandang netral terhadap berbagai macam kesenian Bakaba, serta tidak pernah melarang suatu kesenian yang berunsurkan ajaran agama islam, karena mereka sadar bahwa adat Minangkabau adalah adat yang bersendikan syarak, dan syarak bersendikan Kitabullah.

Bakaba sebagai salah satu jenis kesenian tradisional Minangkabau yang berdasarkan adat dan agama, dapat ditemukan dalam pembukaan pertunjukannya. Misalnya, memanjatkan puja puji syukur kepada Nabi Muhammad SAW. Tidak hanya itu saja, dari irama syair yang ada juga dapat disimpulkan bahwa iramanya adalah irama dari irama orang mengaji Al Qur’an. Apa lagi dengan isi dari syair-syairnya. Pada umumnya berisikan tentang dakwah-dakwah yang mengarahkan umat beragama pada hal-hal yang baik dan benar. Sesuai dengan norma-norma anjuran adat dan  ajaran agama islam.

***

Di Minangkabau banyak terdapat jenis dan bentuk Bakaba. Melalui Bakaba orang dapat menyampaikan pesan dan kesan.  Pononton merasa dituntut untuk mengamalkan mana yang baik dan meninggalkan mana yang tidak baik. Yang baik merupakan pedoman , yang buruk sebagai ganjaran yang harus ditinggalkan. Ketaatan dan kepatuhan masyarakat Minangkabau terhadap ajaran agama Islam, juga terdapat di dalam syair -syair kesenian yang memiliki teks kaba.  Di antara kesenian yang berisikan dakwah Islam misalnya: kesenian Sijobang, kesenian Randai, Selawat Dulang (talam), tari Tupai Janjang dan lain sebagainya. Semua jenis kesenian di atas ada yang bertutur sambil bernyanyi dan menari. Sekarang ada yang diiringi dengan instrumen musik, seperti rebab, talempong, gendang, canang dan sebagainya.

Bakaba biasa bercerita tentang seorang tokoh, penjahat, binatang, agama, adat istiadat dan lain sebagainya yang mengandung nilai pendidikan. Pada jaman dahulu orang tua memberikan pendidikan pada anaknya dengan bercerita atau mendongeng, seperti cerita binatang, cerita tentang hantu, cerita tentang tabiat buruk manusia yang kadang tidak dapat diterima akal sehat.

Bakaba sebagai salah satu jenis kesenian masyarakat Minangkabau disajikan pada dua suasana yang berbeda:  Pertama, penyajian Bakaba sambil tiduran di tempat tidur, penyajian seperti ini biasanya dilakukan oleh kakek atau nenek kepada cucu-cucunya, atau oleh kedua orang tuanya kepada anak-anaknya. Kadang si anak atau cucu sudah tertidur lebih dulu dari ayah ibunya, maka cerita atau (kaba) itu terputus, dan besoknya diulang kembali. Kedua, penyajian Bakaba sambil duduk yang disajikan rumah, atau di tempat-tempat di mana banyak berkumpul para pemuda, dan bahkan ada di pos-pos ronda. Cara seperti ini sering dilakukan oleh masyarakat, baik antara kakek nenek dan cucunya, bapak dengan anak, guru dengan murid, atau seniman Bakaba dengan penontonnya.

Kemudian kalau dilihat bentuk-bentuk atau teknik penyajian Bakaba, terdapat tiga bentuk penyajian; 1).Penyajian materi/teks kaba yang dituturkan dengan berbicara biasa saja . 2). Penyampaian teks kaba yang dituturkan dalam bentuk nyanyian (dendang). Irama lagu yang dipakai sesuai dengan suasana adegan kaba atau cerita tersebut. 3). Penyampaian teks kaba dalam bentuk gerak dan nyanyian.

Penyampaian teks kaba dengan bentuk gerakan dan nyanyian, ini dilakukan oleh pelaku tunggal. Pelaku ini membuat gerakan dan ekspresi yang berbeda-beda, sesuai dengan jalan ceritanya. Dia sebagai pelaku, dia sebagai rajanya, dan dia juga merangkap sebagai tuan putrinya, pun juga dia menjadi perampok, pembantu dan lain sebagainya. Di dalam golongan ketiga inilah adanya Kaba Tupai Janjang. Masih banyak lagi teks kaba lainnya seperti, Kaba Sabai Nan Alui, Kaba Siumbuik Mudo, Kaba Sidang Baranam, dan lain sebagainya.

Pada awalnya hanya kesenian Bakaba sebagai satu-satunya jenis kesenian yang memakai teks kaba. Namun sesuai dengan perkembangan kesenian di Minangkabau maka terjadilah penyambungan-penyambungan teknik dan sistem penyajian Bakaba yang tetap memakai naskah kaba sebagai teks yang dituturkan, seperti jenis kesenian Sijobang, Saluang Pauah, Rebab Pesisir, Rebab Pariaman, Randai dan lain sebagainya. Masing-masing jenis kesenian ini memiliki konsep yang berbeda dengan Bakaba. Bahkan sekarang teater modern  atau   dance theater pun sudah sering menjadikan kaba sebagai naskah seni pertunjukan. Kaba dan Bakaba yang  baru diharapkan terusmenerus  segera bermunculan agar bisa menjadi tontonan yang menarik, unik, spesifik dan juga bisa sekaligus menjadi tuntunan baru dalam kehidupan berkesenian

*Penulis adalah Komponis.

 

1 reply

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *