Akar Budaya Masa Lalu Sebagai Identitas Komunitas ASEAN

Oleh Hari Suroto

Asia Tenggara secara geografis terdiri atas wilayah daratan dan kepulauan. Wilayah daratan meliputi Myanmar, Thailand, Laos, Kamboja dan Vietnam, sedangkan untuk daerah kepulauan yaitu Indonesia, Malaysia, Singapura, Timor Leste dan Filipina. Berdasarkan literatur yang ada, terdapat beberapa istilah dalam penyebutan wilayah Asia Tenggara. Cina dan Jepang menganggap kawasan Asia Tenggara sebagai daerah selatan (Nanyang atau Lands below the Winds). Orang India, Persia, Arab, dan Melayu menamakan kawasan ini “tanah di bawah angin” karena musimlah yang membawa perahu-perahu layar melintasi Lautan Hindia. Wallacea (2009:xxx) menyebutnya Indo-Melayu, Bellwood (2000) mengistilahkan dengan Kepulauan Indo-Malaysia. Umbgrove (1949) menyebut Asia Tenggara sebagai “pajangan mengagumkan yang mengelilingi khatulistiwa di Hindia Timur”.

Bellwood (2000) berpendapat pada masa prasejarah Asia Tenggara, manusia penghuni kawasan ini menunjukkan saling berkaitan hal ini terlihat dalam bukti kultural Homo erctus di Asia Tenggara; Manusia Indo-Malaya pada 40.000 tahun terakhir; Hoabinh dan budaya yang sejaman; tinggalan arkeologis penutur Austronesia; budaya Sa Huynh di Vietnam Selatan; dan budaya Dong Son dari Vietnam Utara.

Sejarah Asia Tenggara dapat dibagi menjadi tiga periode panjang. Pertama era klasik yang menghasilkan candi besar seperti Borobudur, Prambanan, dan Angkor. Kedua, zaman modern yang ditandai dengan kolonialisme dan pascakolonialisme. Terjepit di tengah adalah masa tradisional, dari abad ke-13 sampai ke-18. Periode ini cenderung tampil statis, kontras dengan masa pembangunan monumen pada negara klasik dan dinamika perdagangan dari kolonialis modern (Adam, 1999:xv).

Hingga abad ke-17 hubungan pelayaran tetap menghubungkan bangsa-bangsa Asia Tenggara secara lebih erat satu sama lain dibandingkan dengan hubungan mereka dengan bangsa-bangsa dari bagian-bagian dunia lainnya. Sebagaimana dikemukakan oleh seorang pengamat yang berbicara tentang Asia Tenggara sekitar tahun 1600, “bangsa ini senantiasa memperhatikan hubungan tetap mereka satu sama lain, dan saling memenuhi kebutuhan satu sama lain” (Pyrard, 1619:169).

Keberagaman budaya masa lalu yang bernilai sebagai identitas bangsa Asia Tenggara

diantaranya:

Budaya Hoabinh (Hoabinhian)

Peralatan batu yang ditemukan di Situs Hoabinh Vietnam tersebar luas di kawasan Asia Tenggara pada masa Mesolitik. Alat batu ini dikenal dengan budaya Hoabinh (Hoabinhian), dicirikan penyerpihan pada satu atau dua sisi permukaan kerakal sungai yang lebih kurang berukuran satu kepalan, seringkali seluruh tepiannya menjadi bagian tajamannya. Sebagian besar situs-situs Hoabinhian ditemukan dalam ceruk peneduh dan bukit sampah kerang (shellmidden), di Sumatera, Myanmar, Thailand, Malaysia, Laos, Kamboja dan Vietnam.

– Budaya Dong Son

Budaya Dong Son bermula Situs Dong Son di Thanh-hoa Vietnam bagian utara yang berkembang secara luar biasa antara abad ke-5 dan ke-2 SM. Budaya ini dicirikan dengan artefak-artefak kehidupan sehari-hari ataupun peralatan keagamaan berbahan perunggu. Situs-situs arkeologi yang ditemukan artefak Dong Son terutama di Phnom Penh Kamboja, Thailand, Pahang, Selangor, Sumatera, Jawa, Madura, Bali, Selayar, Kei, Alor, Sumbawa, Kota Waringin, kawasan Danau Ayamaru Papua Barat, dan Kawasan Danau Sentani Jayapura.

– Budaya Sa Huynh

Budaya Sa Huynh dicirikan dengan situs-situs kubur tempayan (jenasah dimasukkan dalam tempayan besar) berlangsung sekitar 600 SM. Budaya ini bermula di Sa Huynh Vietnam bagian selatan kemudian menyebar ke situs-situs di kawasan pantai mulai dari Vietnam tengah ke selatan sampai ke Delta Mekong, Filipina, Kalimantan bagian utara, dan kawasan Laut Sulawesi bagian utara.

– Budaya Austronesia

Penutur Austronesia meninggalkan Taiwan 5000 tahun yang lalu dan menyebar ke arah selatan. Mereka mengadakan perjalanan laut menggunakan perahu sampan maupun perahu layar, pertama-tama mencapai Filipina bagian utara. Mereka kemudian mengadakan perjalanan ke arah selatan. Dari selatan Filipina mereka memisahkan diri dalam dua kelompok: kelompok pertama berlayar ke arah barat daya, sedangkan kelompok kedua berlayar ke arah tenggara. Kelompok pertama kemudian mencapai Kalimantan, Malaysia, Sumatra, dan Jawa. Bisa dikatakan kelompok pertama inilah yang menjadi nenek moyang orang Malaysia dan Indonesia modern. Kelompok kedua yang bergerak ke arah tenggara akhirnya mencapai Halmahera dan Kepulauan Bismarck, Vanatu, New Kaledonia dan Fiji di Pasifik. Sebagian bahasa di Asia Tenggara memiliki leluhur yang sama yaitu bahasa Austronesia, bahasa-bahasa ini meliputi Filipina, Malaysia, Indonesia, termasuk Vietnam sebelah tenggara (kelompok Champ).

– Dinasti Sailendra

Mulai perempat abad ke-8 M di Jawa Tengah berkembang dinasti Sailendra yang kuat, yakni pembangun Candi Borobudur yang merupakan kreasi agama Budha tercantik di seluruh Asia. Dinasti Sailendra mendapat julukan ‘Raja gunung” dan menggunakan gelar Maharaja Shailendravamca, karena menganggap diri sebagai penakluk dunia. Dinasti Sailendra sepanjang abad ke-8 M mereka menguasai seluruh bagian selatan wilayah Laut Cina, Champa, termasuk Semenanjung Malaysia khususnya wilayah Ligor. Bahkan Groslier (2007:123) menyebut perkembangan dinasti Sailendra merupakan salah satu peristiwa politik yang paling penting dalam sejarah Asia Tenggara. Vlekke (2008:30) berpendapat bahwa dinasti Sailendra merupakan dinasti paling berkuasa di Asia Tenggara.

Pengaruh dinasti Sailendra secara langsung dialami oleh Jayavarman II di Kamboja menjelang tahun 790 M. Bangunan-bangunan yang dibuat Jayavarman II jumlahnya cukup banyak dan betebaran di hampir semua tempat kediamannya. Di Kulen terdapat sebuah candi yang terdiri dari tiga menara yang berdiri di atas satu teras, candi Prasat Damrei Krap, arsitektur asli Champa yang dipengaruhi Jawa, hal ini terlihat pada ambang pintu atas candi Prasat Damrei Krap, dihiasi dengan kepala kala, dan di kedua ujung lengkungan, ada makara yang memuntahkan sebuah hiasan emas (Groslier, 2007:127).

– Sriwijaya

Sriwijaya muncul sebagai kemaharajaan terbesar dan terkuat di Asia Tenggara dengan ibukota Palembang pada abad ke-7. Munoz (2006:232) menyatakan Palembang pernah menjadi ibukota Asia Tenggara pada masa Sriwijaya. Jelas dari laporan dinasti Cina bahwa Sriwijaya berhasil menguasai pelabuhan-pelabuhan penting di Sumatera dan Semenanjung Malaysia. Sriwijaya menjadi kekuatan kelautan yang besar di Selat Malaka dan perairan Cina Selatan. Berkat dominasi politik dan ekonomi yang strategis terhadap kawasan itu, kepercayaan Buddhisme Mahayana yang dianut Sriwijaya menyebar ke banyak bagian Asia Tenggara. Palembang menjadi sebuah pusat keilmuan Buddhis di kawasan ini. Banyak rahib terkemuka Cina menimba ilmu di tempat itu sebelum berangkat ke India.

Pada awal abad ke-8, terdapat bukti hubungan langsung maupun tak langsung antara pesisir Papua dengan Sriwijaya. Berdasarkan sejarah dinasti Tang (Sintangshu), utusan-utusan

Maharaja Sri Indravarman dari Sriwijaya mempersembahkan burung-burung cenderawasih dari Papua kepada kaisar Cina.

– Kertanegara

Kublai Khan pada 1260 diangkat menjadi kaisar pertama dinasti Yuan. Obsesi Kublai Khan adalah menguasai Jepang dan negara-negara Asia Tenggara. Kitab Pararaton menyebutkan upaya Kertanagara (1268-1292) mempersatukan kekuatan-kekuatan Asia Tenggara guna menentang ekspansionis Cina. Langkah Kertanagara dalam menyatukan Asia Tenggara adalah dengan mengirimkan ekspedisi militer ke Sumatra dan ke Bali, selain itu Kertanagara juga mengawini seorang putri Champa (Vietnam bagian selatan), salah satu negeri yang paling terancam oleh serbuan Cina. Catatan Cina menuliskan duta-duta kaisar Cina pergi ke Singasari, Kertanagara menangkap duta-duta itu lalu mengirim pulang mereka dengan membuat cacat wajah mereka.

– Majapahit

Majapahit di Jawa Timur menggantikan kedudukan Sriwijaya sebagai kemaharajaan terkuat di kawasan Asia Tenggara sejak abad ke-13 hingga abad ke-14. Pengaruh politik, ekonomi, dan wilayah Majapahit menyebar dari Kepulauan Indonesia, Singapura, Malaysia, hingga Papua.

Bahwa Papua merupakan bagian dari Majapahit, dinyatakan dalam Nagarakertagama Karya Mpu Prapanca pada tahun 1365. Dalam syair XIV tertulis:

“Muwah tang I Gurun sanusa mangaram ri Lombok Mirah Lawan tikang I Saksakadi nikalun kahaiyan kabeh Muwah tazah I Bantayan pramuka Bantayan len Luwuk Teken Udamakatrayadhi nikanang sanusapupul Ikang sakasanusanusa Makasar Butun Banggawai Kuni Ggaliyao mwang I (ng) Salaya Sumba Solot Muar Muwah tigang I Wandan Ambwan athawa Maloko Ewanin Ri Sran in Timur ning angeka nusatutur”

Diantara sejumlah nama-nama daerah yang terletak di timur Indonesia disebut nama Wwanin, nama lain untuk Onin, sedangkan Sran merupakan Koiwai. Onin dan Koiwai merupakan daerah yang saat ini merupakan bagian dari Provinsi Papua Barat.

– Bahasa Melayu

Periode yang Reid (2011:9) sebut “kurun niaga”, dari abad ke-15 hingga abad ke-17,merupakan periode yang jaringan pelayarannya sangat ramai. Reid berpendapat bahwa kotakota maritim yang saling berhubungan di kawasan Asia Tenggara lebih dominan pada periode ini dibandingkan pada periode sebelum maupun sesudahnya. Lagi pula, selama beberapa waktu pusat niaga (entreport) yang terpenting ialah Sriwijaya, kemudian digantikan oleh Pasai, Malaka, Johor, Patani, Makassar, Aceh dan Brunei. Dengan demikian bahasa Melayu menjadi bahasa niaga utama di seluruh Asia Tenggara. Setidaknya-tidaknya mereka yang berniaga dan berdagang di pelabuhan-pelabuhan utama Asia Tenggara harus menggunakan bahasa Melayu sebagai lingua-franca (Ricklefs, 2005:116). Pusat-pusat niaga utama di Kamboja lantas dikenal dari kosakata Melayu sebagai kompong, dan orang Vietnam menerima kata-kata seperti cu-lao (dari kata Melayu pulau). Stirling (1943:4) berpendapat istilah Papua rupanya berasal dari pua-pua, istilah Melayu yang berarti “keriting’. Numberi (2008:19) menyatakan bahwa orang Papua lebih dulu menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan sejak 5 Februari 1855 (yang pada saat itu disebut Maleise Taalbahasa melayu), kemudian dikokohkan lagi saat dipindahkannya sekolah guru dari Pulau Mansinam ke Pulau Miei, Teluk Wondama pada 26 Oktober 1925 oleh Pendeta I. S. Kijne.

Asia Tenggara walaupun beragam tetapi dengan melihat akar budaya masa lalu, ternyata wilayah ini merupakan suatu kesatuan. Pada masa lalu, di Asia Tenggara terdapat budaya yang berasal dari suatu wilayah yang mampu mempengaruhi satu kawasan. Dalam konteks kekinian, saat ini kawasan Asia Tenggara menjadi rebutan negara besar dalam rangka menancapkan pengaruhnya di kawasan ini baik itu secara militer maupun ekonomi.

Situs-situs arkeologi maupun tinggalan arkeologi lainnya yang terdapat di kawasan Asia Tenggara merupakan identitas dan jatidiri bangsa ASEAN, sehingga perlu dijaga dan dilestarikan. Untuk mewujudkannya diperlukan kerjasama negara anggota ASEAN dalam bentuk pendanaan, penelitian dan pelatihan sumberdaya manusia berkaitan pelestarian cagar budaya.

———————

Daftar Pustaka

Adam, Asvi Warman. 1999. “Merintis Sejarah Total Asia Tenggara” pengantar dalam Anthony Reid, Dari Ekspansi hingga Krisis: Jaringan Perdagangan Global AsiaTenggara 1450-1680. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Hlm. xiv-xxxii.

Bellwood, Peter. 2000. Prasejarah Kepulauan Indo-Malaysia. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Groslier, Bernard Philippe. 2007. Indocina: Persilangan Kebudayaan. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.

Munoz, Paul Michel. 2009. Kerajaan-Kerajaan Awal Kepulauan Indonesia dan Semenanjung Malaysia. Yogyakarta: Mitra Abadi.

Numberi, Freddy. 2008. Keajaiban Pulau Owi Mutiara Terpendam di Wilayah Tanah Papua. Jakarta: Gibon Books.

Pyrard, Francis. 1619. The Voyage of Francis Pyrard of Laval to the East Indies, the Maldives, the Moluccas, and Brazil, terjemahan A Gray, 2 jilid. London, Hakluyt Society, 1887-1889.

Reid, Anthony. 2011. Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450-1680 Jilid 1 Tanah di Bawah Angin. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia.

Ricklefs, M.C. 2005. Sejarah Indonesia Modern 1200-2004. Jakarta: PT Serambi Ilmu Semesta.

Stirling, M. W. 1943. “The Native Peoples of New Guinea”. Smithsonian Institution War Background Studies No. 9.

Umbgrove, J. H. E. 1949. Structural History of the East Indies. Cambridge: Cambridge University Press.

Vlekke, Bernard H. M. 2008. Nusantara: Sejarah Indonesia. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.

Wallace, Alfred Russel. 2009. Kepulauan Nusantara Sebuah Kisah Perjalanan, Kajian Manusia dan Alam. Jakarta: Komunitas Bambu.

*Penulis adalah Arkeolog di Balai Arkeologi Papua