Membaca Ulang Pakaian Khas pada Ulang Tahun Kota Malang ke-112

Prolog: Antara Perayaan dan Paradoks

Oleh Yusuf Munthaha*

 

Ada sesuatu yang menggelisahkan ketika sebuah kota merayakan ulang tahunnya dengan mengenakan pakaian yang secara historis merepresentasikan era penindasan kolonial. Pemerintah Kota Malang dalam peringatan hari jadinya yang ke-112 memilih konsep yang mereka sebut “kolonial tradisional” sebagai identitas visual perayaan. Seragam dengan estetika Hindia Belanda itu tampil megah, nostalgik, bahkan diklaim sebagai bentuk penghormatan terhadap warisan arsitektur sejarah dan budaya kota. Namun pertanyaan mendasar segera muncul, warisan siapa yang sesungguhnya sedang dirayakan?.

Malang dan Jejak Kolonial: Membaca Sejarah Secara Jujur

Kota Malang memang menyimpan lapisan sejarah kolonial yang tebal. Sejak penetapan Malang sebagai “gemeente” (kotapraja) oleh pemerintah Hindia Belanda pada 1 April 1914 — inilah yang menjadi basis perhitungan hari jadi kota ini — Malang dirancang sebagai kota peristirahatan elite kolonial. Tata kotanya bergaya Eropa, bangunan-bangunannya megah, dan jalanan besarnya lebar. Malang, dalam banyak literatur, disebut sebagai “De mooiste stad van Java”— kota terindah di Jawa.

Namun di balik keindahan itu ada kenyataan yang sering dilupakan: keindahan Malang kolonial dibangun di atas punggung kerja paksa, perpindahan paksa, dan hierarki rasial yang kejam. Bangunan-bangunan indah itu bukan sekadar produk estetika — ia adalah produk dari sistem yang mendegradasi manusia pribumi menjadi instrumen ekonomi.

Maka ketika hari jadi kota ini dihitung dari penetapan kolonial tahun 1914, dan perayaannya diwarnai estetika kolonial, kita berhadapan dengan ingatan problem yang berlapis.

Membedah Konsep “Kolonial Tradisional”: Sebuah Kontradiksi dalam Istilah

Frasa “kolonial tradisional” sendiri patut dicermati secara linguistik dan konseptual. Ia adalah oxymoron yang nyaman — sebuah cara untuk membuat sesuatu yang problematis terasa organik dan autentik.

“Tradisional” mengimplikasikan sesuatu yang tumbuh dari dalam, dari akar budaya lokal, dari kehidupan masyarakat yang berdaulat. Sementara “kolonial” adalah sesuatu yang datang dari luar, yang dipaksakan, yang menggantikan atau mendominasi tradisi yang ada. Menggabungkan keduanya dalam satu konsep busana adalah strategi estetika yang mengaburkan tegangan politik di antara keduanya.

Dalam bahasa fashion studies, ini bisa disebut sebagai “colonial aestheticization” — proses mengubah tanda-tanda penindasan historis menjadi konsumsi estetika yang menyenangkan. Yang berbahaya dari proses ini adalah ia tidak terasa seperti penghinaan; ia justru terasa seperti apresiasi.

Tiga Pertanyaan Kritis yang Harus Dijawab

1. Siapa Subjek yang Dirayakan?

Seragam kolonial menempatkan pemakainya dalam posisi simbolis tertentu. Ketika pejabat pemerintah kota mengenakan busana ala ambtenaar (pegawai) Belanda atau *noni* Hindia Belanda, mereka secara tidak sadar — atau sadar — mengidentifikasi diri dengan apparatus kekuasaan kolonial, bukan dengan rakyat Malang yang menjadi objek kolonisasi.

Pertanyaannya: di pihak mana Pemerintah Kota Malang memposisikan diri dalam narasi sejarah kota ini?.

2. Apa yang Sesungguhnya Diwarisi?

Ada perbedaan fundamental antara mewarisi dan merayakan. Kita bisa mewarisi bangunan kolonial — dengan kesadaran kritis tentang konteks pembuatannya. Kita bisa mewarisi tata kota kolonial — sambil terus mempertanyakan untuk siapa kota ini dirancang. Tetapi merayakan estetika kolonial tanpa narasi kritis adalah sesuatu yang berbeda: itu adalah amnesia yang diberi kostum.

3. Apa Pesan yang Dikirim kepada Generasi Muda?

Fashion adalah salah satu bahasa paling demokratis dalam kebudayaan. Ia dikonsumsi secara visual oleh semua orang. Ketika anak-anak muda Malang melihat pejabat kota berparade dalam busana kolonial tanpa narasi kritis yang menyertainya, apa yang mereka pelajari tentang sejarah kota mereka? Bahwa era kolonial adalah era yang indah dan layak dikenang? Bahwa identitas kota ini paling tepat direpresentasikan oleh estetika penjajah?

Membela Keputusan Ini: Argumen yang Perlu Didengar

Sebagai pengamat yang adil, saya perlu mencatat argumen di pihak yang mendukung pilihan ini.

Pertama, ada argumen heritage tourism dan identitas kota. Malang memang secara aktif membangun dirinya sebagai kota dengan kekayaan arsitektur kolonial. Kampung Warna-warni, kawasan Kayutangan Heritage, Alun-alun Bunder — semuanya memanfaatkan lapisan historis kota. Dalam konteks ini, busana kolonial bisa dibaca sebagai konsistensi branding kota.

Kedua, ada argumen reappropriation— yakni ketika kelompok yang pernah ditindas mengambil alih simbol penindasan dan mendefinisikannya kembali dengan cara mereka sendiri. Ini adalah strategi budaya yang sah dan telah digunakan banyak komunitas di seluruh dunia.

Ketiga, ada argumen pragmatis bahwa, perayaan bukan selalu ruang untuk analisis sejarah,— dan bahwa estetika bisa diapresiasi terpisah dari konteks politiknya.

Mengapa Argumen-Argumen Itu Tidak Cukup.

Namun ketiga argumen di atas memiliki kelemahan mendasar dalam konteks ini.

Argumen heritage hanya sahih jika disertai narasi yang jujur tentang biaya sosial dari keindahan itu. Kayutangan Heritage yang indah juga harus menceritakan siapa yang tergusur untuk membangunnya. Tanpa narasi itu, heritage menjadi fetish estetika.

Argumen reappropriation hanya bekerja ketika ada kesadaran eksplisit dan deklarasi terbuka, bahwa itulah yang sedang dilakukan. Reappropriation tanpa pernyataan kritis adalah sekadar imitasi.

Dan argumen bahwa perayaan bukan ruang analisis justru paling berbahaya — karena perayaan adalah salah satu ruang paling kuat dalam pembentukan memori kolektif. Apa yang dirayakan, bagaimana dirayakan, dan dengan simbol apa — semuanya membentuk cara masyarakat memahami dirinya sendiri.

Konteks Kekinian: Mengapa Ini Penting Hari Ini

Kita hidup di era ketika kota-kota di seluruh dunia sedang bergulat ulang dengan warisan kolonial mereka. Patung-patung kolonial diturunkan, nama-nama jalan diubah, museum-museum mereview narasi kuratorial mereka. Ini bukan sekadar tren — ini adalah proses kedewasaan kultural yang panjang dan perlu.

Di tengah konteks global itu, pilihan Pemerintah Kota Malang untuk menghidupkan kembali estetika kolonial sebagai identitas perayaan, terasa seperti bergerak ke arah yang berlawanan. Ini bukan soal anti-Belanda atau xenofobia sejarah. Ini soal kejujuran tentang dari mana kota ini berasal dan untuk siapa kota ini ada.

Malang hari ini adalah kota dengan populasi mayoritas kultur Jawa dan Madura. Identitas kulturalnya yang paling kaya justru berakar pada tradisi “Jawa Timuran “ yang tangguh — yang bertahan, yang adaptif dengan perubahan.

Fashion sebagai Rekonsiliasi, Bukan Romantisasi

Keputusan berbusana dalam perayaan kota tidak harus menjadi pilihan biner antara “kolonial” atau “tidak”. Fashion memiliki kapasitas untuk menjadi medium rekonsiliasi historis yang kuat jika digunakan dengan tepat.

Bayangkan sebuah konsep busana yang secara eksplisit menempatkan elemen kolonial dan elemen tradisi lokal dalam dialog yang setara dan sengaja, bukan melebur keduanya menjadi nostalgia yang manis, melainkan membiarkan tegangan di antara keduanya menjadi bagian dari pesan. That would be truly powerful fashion.

Atau lebih jauh, bayangkan jika perayaan kota Malang justru memusatkan eksplorasi “estetika Jawa Timuran atau Malangan“ dengan menggali kekayaan ornamen Malangan, menciptakan corak-corak yang khas dan memiliki silsilah panjang sebelum kolonialisme datang. Itu bukan langkah mundur; itu adalah kedewasaan.

Epilog: Kota yang Belum Selesai Membaca Dirinya

Pilihan fashion dalam perayaan ulang tahun ke-112 Kota Malang adalah cermin dari sebuah kota yang “belum selesai bergulat dengan identitasnya sendiri.” Ia cantik secara visual, tetapi ambigu secara kultural. Ia nostalgik, tetapi menghindari pertanyaan-pertanyaan yang paling penting.

Kritik ini bukan penolakan terhadap perayaan. Malang layak dirayakan — dengan segala kompleksitasnya. Tetapi “merayakan dengan ekspresi kostum kolonial tanpa narasi kritis adalah cara yang mahal untuk merayakan”: mahal secara kultural, mahal secara historis, dan mahal bagi generasi yang akan mewarisi pemahaman tentang kota ini.

Kota yang benar-benar merdeka tidak merayakan dirinya dengan mengenakan pakaian yang menoreh luka sejarah — kecuali ia tahu persis “mengapa” ia melakukannya, dan ia mengatakannya dengan lantang.

*Ditulis sebagai refleksi kritis atas pilihan estetika dalam ruang publik, dengan keyakinan bahwa fashion adalah politik, dan perayaan adalah pedagogi. Dirgahayu Kota Malang ke 112. Rahayu 🙏 –

—–

*Yusuf Munthaha/Yosoft, Praktisi Seni.