Bencana California, Bara Hollywood, dan Api MARILYN

Oleh Agus Dermawan T.

Kebakaran di Los Angeles mengingatkan kita kepada pesona bintang film Hollywood Marilyn Monroe. Ia adalah ikon sepanjang masa “Negeri Para Penghibur Dunia” itu.

————————

LOS ANGELES, atau “Negeri Para Malaikat”, kebakaran! Pacific Palisades, Eaton, San Gabriel, Hurst, Lembah San Fernando, Kenneth hingga Ventura County diterjang badai api luar biasa. Menurut laporan per 17 Januari, sebanyak 12.300 bangunan menjadi abu. Ribuan rumah mewah, di antaranya milik para pesohor – perancang mode, penyanyi, model, penulis, pemeran panggung, presenter, pengusaha, senator, mantan wakil presiden – jadi abu.

Lalu, lantaran Los Angeles identik dengan kerajaan film Hollywood, maka rumah para seniman perfilman juga hangus. Rumah-istana Miller Teller, John Goodman, Adam Brody-Herdi Montag, Jeff Bridges, Billy Chrystal, Ben Affleck umpamanya. Termasuk rumah penyanyi dan tokoh media Paris Hilton, cicit raja hotel sedunia Conrad Hilton. Bangunan-bangunan yang alamak estetik dan anggun itu bernilai antara US$3 juta sampai US$35 juta. 

Kebakaran di Los Angeles. (Foto: AFP/Apu Gomes)

Belasan ribu bangunan hancur dalam kebakaran di Los Angeles. Termasuk banyak rumah mewah para selebritas film Amerika. (Foto: AFP/Josh Ebelson).

Rumah megah pemain film legendaris Anthony Hopkins (Silence of Lambs, Meet Joe Black, Red Dragon) juga menjadi korban. Diketahui, di dalam rumah itu ada puluhan benda seni amat berharga, seperti lukisan ciptaan Francis Bacon yang berharga US$8 juta. Bersamaan dengan itu sejumlah lukisan karyanya sendiri juga musnah.

Maka kebakaran dahsyat di Los Angeles ini dianggap sebagai kebakaran Hollywood, pusat perfilman Amerika, yang selama satu abad jadi kaisar dalam perfilman dunia. Kebakaran itu pun dipastikan melumpuhkan industri film, yang pada akhir-akhir ini mulai produktif, setelah tiga tahun terpuruk lantaran pandemi Covid. Kompas edisi 14 Januari 2025 lantas menaikkan artikel ihwal itu dalam headline berjudul Hollywood Babak Belur akibat Kebakaran. Di situ tertulis: “Kehidupan industri perfilman Hollywood untuk sementara mandek. Aktor, kru, penulis, produser, dan siapa saja yang bekerja di industri Hollywood kehilangan rumah.”

Sebuah realitas sangat menyedihkan. Terutama bagi publik yang memahami, betapa Hollywood adalah “Negeri Para Penghibur Dunia”. (Tentu sambil mengecam cacat Hollywood, seperti skandal besar rapper dan produser Hollywood P. Diddy si pemerkosa dan pedagang manusia, serta tingkah sekular dan hedonis keterlaluan sejumlah selebritasnya). Dengan kecakapan sangat tinggi Hollywood telah menggabungkan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni untuk melahirkan film yang menggoda di mana-mana. Sehingga tidak ada satu pun negeri di bumi ini yang tidak disapa layar film Amerika. Bahkan Tibet dan Korea Utara.

Menatap Hollywood, dengan serta merta kita diajak mengingat nama ikon sepanjang masa negeri itu, Marilyn Monroe – atau MM. Pemeran jelita kelahiran Los Angeles 1 Juni 1926, dan wafat secara tragis dan menggemparkan pada 4 Agustus 1962. 

Tidak terbetik berita, apakah rumah MM – yang sudah menjadi destinasi wisata – ikut terbakar atau tidak. Bekas kediamannya yang berdiri di taman (hanya) 900 meter persegi itu terletak di 12305 Fifth Helena Drive, Brentwood, Los Angeles, yang juga dikurung api. Namun, apa pun yang melanda, legenda MM tidak akan menguap bersama bencana. Keyakinan itu setidaknya bisa berdiri di atas sepetik kisah di bawah ini.

Rumah Marilyn Monroe alias MM di Brentwood, Los Angeles. (Foto: Agus Dermawan T.)

Marilyn dewi legenda

Pada 2011 silam film My Week with Marilyn garapan sutradara Simon Curtis beredar di bioskop dunia dan Indonesia. Film ini menceritakan kedekatan MM dengan Colin Clark si “asisten sutradara III penyuguh kopi”. Meski potongan kisah nyata MM ini telah berulang kali di angkat ke film, My Week with Marilyn masih saja menarik. 

Hal pokok yang bikin film itu menghibur dan sekaligus memberi tuntunan adalah: penggambaran MM sebagai perempuan yang menyimpan kehidupan fenomenal. Kemauannya untuk kerja keras mengangkat dirinya ke puncak pencapaian karier. Ia luwes, sehingga menggiring dirinya berlenggang di berbagai lapisan pergaulan, dari pelayan hotel, dramator kenamaan sampai senator Amerika unggulan. Ia antusias, intelek, cerdas dan berpengetahuan luas, di balik ledekan iri yang mengatakan bahwa “MM si pirang berotak pas-pasan”.

Hal setengah pokok yang membuat MM selalu memikat adalah: faktor sex-appeal. Masyarakat modern kelas sosial menengah-atas memang sudah menahbiskan bahwa kecantikan MM adalah oase. Menghangatkan di kala dingin membekukan. Menyejukkan di saat terik membakar jiwa dan badan. MM adalah sahabat pada saat masyarakat modern depresi lantaran guncangan ekonomi, konflik politik dan kekerasan perang. MM juga teman bercakap di masa damai, ketika manusia modern memancing di danau tenang, atau minum cappucino di kafe sosialita. Perhatikan foto raksasa MM tertawa riang bersama Bung Karno di dinding sebuah restoran di Hotel Indonesia. 

Marilyn Monroe, ikon Hollywood sepanjang masa. (Foto: Istimewa).

Pemitosan atas MM ini muncul dari simpulan yang logis-historis: betapa sejak awal manusia memang suka memilih makluk perempuan “teraniaya” sebagai tanda. Semua tahu bahwa MM adalah perempuan yang lahir dari keluarga sangat tidak happy. Perempuan yang jatuh-bangun mencari dirinya sendiri. Bersuka-suka MM menghibur manusia sedunia, namun acap berairmata di belakang panggung gemerlapnya. 

Marilyn Monroe, eh, MM, adalah ikon Hollywood yang sulit dicari tandingannya. Sehingga oleh American Film Institute ia dijunjung sebagai satu dari enam perempuan paling legendaris dari Zaman Keemasan Hollywood.

Beberapa waktu lalu saya berkunjung ke San Diego, kota 195 kilometer tenggara Los Angeles. Di sini terdapat Hotel Coronado, yang posisinya di tepian Pantai Santa Monica. Di taman luas hotel berarsitektur kuno tersebut berdiri Pohon Naga, atau Dragon Tree (Dracaena Draco). Di bawah pohon yang berbentuk mirip gumpalan asap bom atom itu MM pernah beraksi untuk film Some Like it Hot, pada 1959. Akting MM ini dikenang terus sampai abad 21. Maka wisatawan, terutama yang perempuan, matian-matian berakting seperti MM di depan kamera. Ya, bahkan pohon tempat beraksi MM pun dipuja!

Pohon Naga tempat Marilyn Monroe beraksi dalam film Some Like it Hot, 1959. Jadi tujuan wisata. (Foto: Agus Dermawan T).

Gaun nan astaga

Moncernya mitos MM pernah diuji lewat peristiwa mencengangkan di Rockefeller Plaza 20, New York, pada Oktober 1999. Di sana biro Christie’s membikin perhelatan lelang “The Personal Property of Marilyn Monroe”. Acara ini melelang 556 lot yang meliputi sekitar 2.000 potong koleksi. Dari anting-anting mutiara imitasi sampai blus Purple Pucci. Dari lukisan wajah Marilyn karya seniman tak dikenal sampai sepatu jinjit. Buku tipis Frankie and Johnny (1930) yang dihaturkan John Huston (pengarangnya) khusus untuk MM, juga dilego. Kitab ini diimbuh ilustrasi Miguel Covarrubias, pelukis Mexico, penulis buku Island of Bali. 

Ratusan orang dari berbagai negara mengacung-acungkan paddle bid ketika juru lelang merepresentasikan blow up gambar benda-benda yang dilelang. Semua barang terjual dan bahkan hampir seluruh lot melabrak batas harga estimasi. 

Bayangkan, buku Frankie and Johnny tadi terbayar US$ 33.350. Bahkan kacamata pecah MM terjual US$ 27.600. Namun yang paling membuat gemes adalah lot 154. Lot itu menawarkan 4 celana-dalam serta 2 beha MM yang masih kelihatan baru. Harga yang semula US$ 2.000 terus naik jadi US$ 48.300. Melompat 24 kali lipat!

Sementara barang lain yang menggemparkan ialah gaun satin hitam “The Happy Birthday Mr. President Dress”. Dalam katalogus gaun ini tidak diberi harga estimasi, atau estimate on request. Namun, para peserta lelang riuh memburunya. Sampai akhirnya gaun itu terbayar US$1.267.500, atau sekitar Rp20 milyar, dengan kurs Rp16.000. Dan…heiiit!, pada November 2016 gaun berhias 2.500 kristal ini dilelang kembali di Madison Square Garden, New York. Dan terjual lagi dengan nominal nan astaga: US$4,8 juta, (baca: Rp78 milyar). 

Marilyn Monroe mengenakan “The Happy Birthday Mr. President Dress” dalam pesta ulang tahun John F.Kennedy. (Foto: Rex).

Marilyn Monroe dengan gaun biru gemerlap menyanyi untuk 10.000 tentara Amerika di Korea, 1954. (Foto: Istimewa).

Busana itu memang punya sejarah istimewa. Gaun dipakai pertama dan terakhir kali dalam pesta ulang tahun Presiden John F. Kennedy bulan Mei 1962 di Madison Square Garden. Dengan gaun itulah Marilyn menyanyi untuk Kennedy, setelah Maria Callas, Jack Benny, Harry Belafonte, Henry Fonda tampil ke atas panggung. Gaun itu dipesan oleh MM bulan Maret tahun itu juga kepada Jean Louis, desainer baju ternama yang pernah memenangkan Oscar untuk kostum. Konon MM merahasiakan untuk acara apa gaun itu akan dipakai. 

Pada ujung acara diketahui bahwa omset lelang memorabilia MM mencapai US$ 13.405.785, atawa Rp 220 miliar. Fantastik!

Ikon lintas abad

Tak bisa disangkal MM adalah bidadari Hollywood abad 20 dan 21. Namun penerima trofi National Movie Poll, Golden Globes sampai The International Press of Hollywood ini sebenarnya penghibur yang menderita batinnya. Sampai ia diketemukan tewas dalam usia 36 tahun.

Kematian MM memunculkan berbagai dugaan. Penyidik Summers menyebut ia dibunuh oleh sindikat yang melibatkan orang-orang “mahatinggi” seperti Menteri Kehakiman Robert Kennedy dan Presiden John F. Kennedy. Donald Spoto meyakini bahwa MM dibunuh lewat suntikan Eunice Murray dan Ralph Greeson, para dokter pribadinya. 

Namun ada yang mengatakan bahwa Marilyn “dibunuh” oleh Hollywood yang memaksanya untuk terus main film, dengan memasukkan obat-obat perangsang tenaga. Dan tragedi itu dimulai ketika ia terlibat dalam film Gentlemen Prefer Blondes, 1953, diakhiri ketika syuting Something Got to Give, pada April 1962. Namun sejumlah detektif menyebut MM bunuh diri akibat depresi berat, karena ia merasa banyak orang tak henti mempermainkannya. 

Saya suka dengan film-film MM. Saya bahagia ketika melihat potongan filmnya, River of No Return, yang disutradari Otto Preminger pada 1954. Di situ MM memakai celana panjang jin (blue jean) Levi’s, yang disebut oleh masyarakat Amerika sebagai revolusi mode, karena sebelumnya jin hanya dipakai oleh para lelaki. Sementara dalam film itu MM menyanyi lagu River of No Return yang sangat melodius dan membius. Itu sebabnya ketika berkunjung ke Los Angeles saya mencari VCD film itu, karena di Indonesia tidak ada. Bahkan tidak diputar di Netflix dan sebagainya. 

Makna lirik lagu itu menyadarkan bahwa hidup mengalir seperti air sungai. Dan air tidak akan berbalik ke hulunya. Mungkin ini pesan Marilyn Monroe kepada warga Los Angeles dan Hollywood saat sekarang. Biarlah jika kotamu kini hangus dimakan bara. Tapi hidupmu harus berjalan terus ke depan. Menuju muara. ***

 

*Agus Dermawan T. Pengamat seni. Penulis buku “Perjalanan Turis Siluman – 51 Cerita dari 61 Tempat di 41 Negara.”