Hypatia dari Aleksandria: Korban Kekuasaan dan Fanatisme Agama

Oleh Tony Doludea

Film Agora (2009) yang disutradarai Alejandro Amenabar menceritakan keadaan masyarakat di Aleksandria, Mesir pada 391. Tokoh utama film ini adalah Hypatia, anak Theon Aleksandria kepala museum dan perpustakaan Aleksandria. 

Hypatia banyak mendalami pikiran Plato dan Plotinus, yang membuatnya didatangi oleh banyak orang, bahkan dari tempat yang jauh untuk mendapatkan pengajaran darinya. Aleksandria pada masa itu merupakan pusat pengajaran Neoplatonisme.

Hypatia saat itu juga menekuni ilmu pengetahuan dengan menyelidiki teori Geosentris Cladius Ptolemeus (90-160), bahwa bumi adalah pusat tata surya sehingga seluruh planet dan matahari mengelilingi bumi. Hypatia akhirnya berhasil menemukan kurva elips dan semakin yakin bahwa Matahari adalah pusat tata surya, bukan Bumi.

Hypatia tidak pernah canggung jika berhadapan dengan kumpulan kaum lelaki. Malah mereka mengakui dan memuji keutamaan moral dan martabatnya, yang menurut mereka sangat luar biasa. Ia adalah pemimpin sejati yang berani menegakkan keadilan sosial dan toleransi. Ia mendapat julukan “Perempuan yang mendahului zamannya, legenda dan berjuang untuk menyatukan kaum lelaki.”

Di abad IV itu Kekaisaran Roma sedang berada di ambang kehancuran. Kota Aleksandria memperlihatkan perjuangan ilmu pengetahuan di tengah konflik agama. Konflik terjadi antara Kekristenan dan Paganisme (penyembah berhala dewa-dewa kuno), serta antara Kristen dan Yahudi. Agora menggambarkan bahwa penyebaran agama tidak hanya sekedar soal kepercayaan, namun juga terkait politik, yaitu upaya melanggengkan kekuasaan.

Hypatia tahu adanya perpecahan politik antara Orestes, penguasa (Prefect) kota Alelsandria dan Cyril, Uskup Aleksandria. Hal itu terkait kekerasan yang dilakukan oleh gerombolan Kristen Novatians terhadap komunitas Yahudi di kota itu. Di mana Orestes membela orang Yahudi yang menentang Uskup Cyril, sedangkan Hypatia mendukung Orestes, bekas muridnya itu.

Sementara itu Hypatia pernah menolak untuk dibaptis menjadi Kristen, karena baginya Tuhan Yesus Kristus belum dapat membuktikan bahwa diri-Nya itu lebih adil atau lebih bermurah hati dari pada para pendahulunya. Hypatia mengatakan bahwa ia “percaya filsafat”, maka orang yang memaksanya untuk dibaptis itu seketika terdiam.

Filsafat yang dimaksudnya adalah pandangan Plato (427-347 SM) sebagaimana yang diajarkan oleh Plotinus (203-270). Plotinus telah memperjelas dengan mengembangkan pemikiran Plato, khususnya tentang Metafisika.

********

Plotinus lahir di Lycopolis, Mesir pada 204, ketika menginjak usia ke 28, ia mulai tertarik kepada filsafat dan belajar pada Ammonius Saccas di Aleksandria. Setelah sepuluh tahun, Plotinus menggabungkan diri dengan tentara Kaisar Gordian III untuk pergi ke Persia pada 243. Tujuannya adalah untuk mempelajari filsafat Persia dan India.

Namun pada 245 Plotinus memutuskan pergi ke Roma karena Gordian telah terbunuh. Ia mendirikan sekolah filsafat, mengajar dan tinggal di Roma sampai meninggal pada 271.

Ajaran Plotinus dimulai dengan suatu “Trinitas Suci” sebagai arkhe, yaitu awal-mula, asal-usul atau dasar segala sesuatu: Yang Esa (to Hen), Pikiran (Nous) dan Jiwa (Psykhe). Yang tertinggi adalah Yang Esa atau Allah yang mengatasi segalanya. Yang Esa secara niscaya beremanasi, mengalir keluar atau memancar menjadi Nous, yaitu citra dan kehadiran Yang Esa. Nous lalu beremanasi menjadi Jiwa. Jiwa adalah bayangan Nous, yang kemudian beremanasi membentuk segala mahluk yang hidup, matahari, bulan dan bintang-bintang, serta seluruh dunia kasatmata.

Manusia adalah emanasi Allah, karena itu ia terdiri dari tiga substansi, yaitu tubuh (soma), emanasi Jiwa. Jiwa adalah emanasi Pikiran (Nous), serta Pikiran adalah emanasi Allah (to Hen). Maka tujuan hidup manusia adalah kembali pulang dipersatukan dengan Allah. Karena Allah merupakan arkhe (asal) dan telos (tujuan) manusia. Menurut Plotinos jalan kembali atau remanasi itu ada tiga, sebagaimana emanasi juga terdiri dari tiga tahap. Yaitu melakukan kebajikan moral, berfilsafat dan mistik.

Melakukan kebajikan moral adalah memiliki pengetahuan tentang Yang Baik, memiliki keberanian, mengendalikan diri dan bertindak adil. Namun keempat keutamaan ini hanya merupakan persiapan untuk masuk pada jalan kedua, yaitu berfilsafat, memikirkan segala sesuatu secara mendalam. Dalam hidup, manusia memang memerlukan pengetahuan indrawi, tetapi pengetahuan ini tidak pernah mencapai kepastian. Ini karena segala hal yang dapat dicerap oleh indra manusia bukanlah hakikat sejati dari segala sesuatu.

Maka orang harus segera meninggalkan pengetahuan indrawinya itu, karena pengetahuan seperti ini hanya dapat memberitahukan bahwa hal yang dicerapnya itu ada. Orang harus segera mengarahkan pandangannya ke atas, dengan membebaskan diri dari ikatan bendawi itu. Ia harus mendapatkan pengetahuan tentang idea-idea Nous.

Nous akan memberikan pencerahan kepada Jiwa manusia yang telah siap, untuk dapat memahami idea-idea yang ada di dalam dirinya. Orang yang mau berpikir secara filosofis akan diantar masuk ke dalam kebenaran. Sehingga ia dapat memandang terang yang kekal itu.

Tahap kedua ini akan membawa orang masuk ke dalam pengenalan tentang dirinya sendiri, menyelami yang ilahi, yang ada di dalam dirinya sendiri. Kepada ketakjuban, di mana ia menemukan bahwa dirinya satu dengan Yang Ilahi, Yang Esa. Plotinus menyebutnya kontemplasi (theoria), sebuah cara untuk menyerah dan menyatu dengan Yang Esa. 

Memang tidak semua orang dapat sampai pada tahapan tersebut di dunia saat ini. Juga kepada orang-orang yang terpilih pun pengalaman itu tidak bersifat tetap dan konstan. Tahap ini berupa ekstasis, perjumpaan dengan Allah yang melampaui indra manusia dan turunnya pneuma (Roh) Allah pada manusia, sehingga ia berada dalam kesatuan kasih yang tak terperikan dengan-Nya. Baru setelah kematian, persatuan kasih itu bersifat tetap dan konstan. Yang Esa menjadi segalanya dan dalam segalanya. Menurut Porphyry (234–305) muridnya, Plotinus pernah memasuki keadaan ilahi ini empat kali.

Hypatia sangat menghayati ajaran Plotinus tersebut. Sehingga ia sangat berani dan teguh mempertahankan keyakinan filosofisnya itu, meskipun tengah berada dalam badai kekacauan politik-religius seperti itu.

********

Kaisar Theodosius I pada 388 mengeluarkan maklumat atas “kesesatan orang Yahudi, bidat Kristen dan kebodohan para penyembah berhala”, dengan perintah untuk menghancurkan kuil-kuil mereka yang berada di Siria, Asia Kecil dan Mesir serta menghentikan upacara keagamaan mereka.

Memang sejak Kaisar Constantius (250–306) sampai Kaisar Valens (328–378), para penguasa Roma Kristen itu telah memerintahkan penutupan tempat-tempat ibadah dan merampas benda berharga di dalamnya. Melarang semua upacara keagamaan mereka, bahkan mulai melakukan penganiayaan dan menghukum mati para pemimpin agama, umat dan orang terpelajar termasuk para filsuf.

Pada 391 Theophilus, Uskup Aleksandria memimpin gerombolan Kristen untuk menghancuran Kuil Serapeum yang sangat terkenal itu. Serapeum memiliki dua perpustakaan yang sangat berharga di dunia. Saat itu Hypatía dan Orestes termasuk mereka yang berusaha mempertahankan Serapeum. Selanjunya pada 529 Kaisar Justinian memerintahkan penutupan sekolah filsafat yang terakhir di Athena. Mulai dari saat itu dunia memasuki masa kegelapan, kebodohan, pandemi dan penuh kepercayaan takhayul. 

Kekristen berhasil memperluas pengaruhnya dan menguasai Aleksandria, namun Orestes masih menjabat sebagai pemimpinan tertinggi. Cyril, Uskup Aleksandria, keponakan Uskup Theophilus itu masih merasa belum puas dan mencoba untuk menjatuhkan Orestes dari tampuk kepemimpinannya. 

Beberapa umat Kristen, pengikut setia Cyril menyusun rencana untuk melawan Orestes. Karena masih menjadi penguasa kota, Orestes dilindungi oleh pasukannya. Maka untuk mengalahkan Orestes mereka mencari kelemahannya terlebih dahulu, yaitu Hypatia, bekas guru dan wanita yang ia cintai. Hypatia memiliki pengaruh besar terhadap Orestes, juga menjadi simbol akademis yang membuat banyak orang cemburu dan iri, terutama Cyril. 

Pada masa itu Filsafat merupakan dasar bagi sebuah sistem yang dirancang untuk membuat orang menjadi bijak. Jika dilakukan dengan benar, Filsafat akan menciptakan jiwa yang tertata secara baik. Ini memungkinkan orang membangun hubungan yang dekat dengan Allah. Seperti inilah kehidupan Alexandria di masa tersebut. Aturan yang berlaku di Alexandria pada saat itu adalah perempuan tidak boleh mengajar dan tampil di depan umum. 

Ketegangan antara Prefect dan Uskup mulai menjalar menjadi kekerasan di jalan-jalan kota. Berita tentang Hypatia sebagai seorang penyihir, tukang nujum dan penipu mulai menyebar. Ia difitnah juga melakukan seks bebas tanpa malu. Niat mereka semata-mata ingin memusnahkan segala yang berkaitan dengan Hypatia.

********

Menurut Suidas (976-1028) Hypatia menulis beberapa buku terkait dengan Aritmatika, Astronomi dan prinsip-prinsip dasar Neoplatonisme. Namun tulisan-tulisan tersebut tidak dapat ditemukan lagi, karena hancurnya perpustakaan Aleksandria dan dimusnahkan oleh orang-orang yang tidak senang dengan kecermelangannya.

Musim panas bulan Maret 415, segerombolan massa yang dipimpin oleh Petrus. Yang terdiri dari para biarawan fanatik, pengikut Cyrill yang berasal dari Yerusalem dan dari biara Nitrian, menangkap Hypatia saat sedang mengajar. Mereka menyeret Hypatia ke sebuah gereja besar, Caesareum. Menelanjangi, memukuli, membunuh dan membakar mayatnya.

Hypatia tidak memiliki pelindung yang kuat, bahkan dari Orestes. Hypatia sempat melawan dan berteriak, tapi tak seorang pun berani menolongnya. Ia menyerah kepada kekuasaan Gereja. Hypatia meninggal bersama kebijaksanaannya. Kematian Hypatia menjadi lambang penindasan logika dan pikiran oleh fanatisme agama yang tidak bernalar. 

—-

*Penulis adalah Peneliti di Abdurrahman Wahid Center for Peace and Humanities Universitas Indonesia.

—-

Kepustakaan

Alic, Margaret.  Hypatia’s Heritage. The Women’s Press, London, 1986.
Bertens, Kees. Ringkasan Sejarah Filsafat. Kanisius, Yogyakarta, 1975.
Emilsson, Eyjólfur K. Plotinus. Routledge, New York, 2017.
Gerson, Loyd P. (Ed.) The Cambridge Companion to Plotinus.
Cambridge University Press, Cambridge, 1996.
Hadiwijono, Harun. Sari Sejarah Filsafat Barat 1. Kanisius, Yogyakarta 1980.
Van der Weij, P. A. Filsfu-Filsuf Besar Tentang Manusia.
Gramedia, Jakarta, 1988.
Watts, Edward J.  Hypatia. Oxford University Press, Oxford, 2017.