Puisi-puisi Abdul Wachid B.S.

AURORA

Pada usia lima tahun,

seorang anak belum tahu

rumah dapat kehilangan bentuk

tanpa satu pun dinding runtuh.

Dunia masih dikenalnya

dari hal-hal kecil:

 

suara mama

yang dipanggilnya,

 

kedatangan papa

yang ditunggunya,

 

pagi yang membuka pintu,

malam yang memejamkan mata.

 

Lalu mama dan papa berpisah.

 

Orang-orang dewasa

mempunyai kata-kata

untuk menerangkan perpisahan.

 

Seorang anak

hanya mempunyai tubuh kecil

untuk menampungnya.

 

Sejak itu,

tempat tidur berganti

sebelum mimpi selesai.

 

Hari ini di sini.

Esok entah di mana.

 

Enam tahun berlalu.

 

Rumah berpindah-pindah

tanpa melangkahkan kaki.

 

Namanya Aurora.

 

Kelak, nama itu

akan terdengar seperti cahaya

sebelum matahari terbit.

 

Namun, pada usia itu,

ia tak meminta cahaya.

 

Ia hanya ingin tahu

di mana akan tidur malam nanti,

siapa yang menyapanya pagi-pagi,

berapa lama sebuah tempat

bersedia mengenalnya.

 

*

 

Ada kenangan

yang tak pandai bercerita.

 

Mama pernah datang

membawa tomat-tomat kecil

dan telur puyuh

kesukaan Aurora.

 

Begitu kecil

bawaan itu.

 

Begitu jauh

jalan yang ditempuh

untuk sampai ke tangannya.

 

Mama masih ingat.

 

Aurora menerima semuanya.

Barangkali ia belum tahu

cara menyimpan kedatangan.

 

Ia hanya tahu:

mama masih ingat.

 

Papa pun datang

sesudah seharian berdagang.

 

Letih mengikuti langkahnya

sampai ke tempat anaknya.

 

Papa duduk sebentar.

 

Waktu beranjak.

Perpisahan datang lagi.

 

Mama datang.

Papa datang.

**

*Abdul Wachid.B.S. Guru Besar Pendidikan Bahasa & Sastra Indonesia, Ketua Lembaga Kajian Nusantara Raya (LK Nura) Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto.