Paradise in Tano Niha
Oleh: Jonnie Kirman*
Pulau Nias dengan jumlah penduduk saat ini sekitar 900.000 ribuan jiwa, dengan mayoritas penduduknya beragama Kristen, dan sebagian masyarakatnya dalah petani, buruh, dan peternak babi yang dilepas di kebun yang kadang berseliweran di jalan-jalan. Paska tsunami Aceh 2004 dan sebagian Thailand, saya sempat berkunjung kesana sebagai salah satu tenaga konsultan bangunan anti gempa yang terbuat dari konstruksi Baja Ringan untuk merehabilitas bangunan yang rusak dari bantuan dana Internaional untuk masyarakat setempat.
Dari bandara Kota Medan Sumatera Utara naik pesawat udara menuju bandara Gunung Sitoli yang hanya dapat didarati oleh pesawat perintis atau sejenis pesawat baling2 Susi Air, setelah itu naik angkutan umum mobil Elf menempuh perjalanan yang berkelok-kelok, serta kondisi jalan rusak yang hanya berlapis makadam memerlukan waktu tempuh sekitar sembilan jam lebih, baru sampai di Teluk dalam.
Sampai dilokasi melihat hamparan pasir putih yang berkilauan seperti kerlip mutiara yang membentang sejauh mata kita memandang, perjalan yang melelahkan itu tergantikan oleh ke-indah-an pantai Teluk dalam tersebut, dan disana juga terdapat salah satu budaya Lompat Batu yang terkenal di atas sebuah bukit, dengan undakan batu-batu anak tangga yang sedikit terjal untuk menuju ke atas komplek rumah warisan panglima perang yang sejaman dengan era Kerajaan Mojopahit. Dengan tonggak kayu bulat raksasa berdiameter sekitar dua meter yang dipasang secara asimetris pada pondasi rumah panggung terbentang luas sekitar seratus meter lebih, berdiri dengan kokoh, dan menakjubkan.
Sebelum tsunami Aceh, Teluk dalam merupakan sebuah pantai yang eksotik untuk para Selancar Dunia yang datang kesana setelah pantai yang berada di Hawaii, dan hamparan pasir putih yang masih terlihat begitu indah setelah dilanda tsunami. Pada sisi lain tersimpan sebuah ruang gelap prostitusi bagi sebagian orang-orang yang memilih jalan pintas, dari kebanyakan masyarakat yang secara ekonomi masih termarjinalkan di Pulau Nias tersebut, serta hidup dalam keadaan yang serba terbatas (miskin).

Lukisan yang berjudul “Paradise in Tano Niha” menggunakan media di atas kanvas, merupakan sebuah manifestasi dari keindahan pantai di Pulau Nias yang menyimpan sebuah misteri paradoks iman Kristen, dan judul tersebut dipilihkan oleh Amadeus anak saya. Dan saya juga sedang merancang lukisan serie ke-dua yang sedang dalam proses pengerjaan, serta dapat dipararelkan dari lukisan yang sudah tercipta secara authentic tersebut di atas.
*Jonnie Kirman, adalah seorang seniman yang berdomisili di Junrejo, Kota Batu.
Salam Spirit Seni Jonnie Kirman.




