Bambu bagi Etnis Minahasa Sulawesi Utara
Oleh: Hari Suroto*
Bambu bagi etnis Minahasa memiliki nilai budaya, ekonomi, dan ekologis. Terdapat enam jenis bambu yang tergolong dalam 4 marga di hutan Minahasa yaitu Dendrocalamus (Dendrocalamus asper (Schult.) Backer), Bambusa (Bambusa blumeana Schult.f. dan Bambusa vulgaris var. vulgaris Schard.), Schizostachyum (Schizostachyum brachycladum Kurz dan Schizostachyum lima (Blanco) Merr), dan Gigantochloa (Gigantochloa atter (Hassk) Kurz).
Tanaman bambu di Minahasa banyak tumbuh di tepi sungai atau pinggir sungai. Bambu mempunyai potensi untuk dikembangkan dalam mitigasi perubahan iklim. Bambu dalam peran ekologisnya mampu menghadapi ancaman lingkungan dan dampak buruk perubahan iklim. Akar bambu mampu menyimpan cadangan air, serta bambu yang tumbuh di tepi sungai, mampu menahan abrasi sungai atau tanah longsor.
Bambu oleh etnis minahasa juga dijadikan sebagai alat musik tradisional yang dikenal dengan musik bambu. Alat musik ini berupa seruling atau disebut juga bangsing, dimainkan dengan cara ditiup.
Pertunjukan atau atraksi kelompok musik bambu biasanya ditampilkan pada acara-acara atau hajatan masyarakat seperti pada pesta perkawinan, upacara kematian (pemakaman jenazah), penjemputan tamu (para pejabat pemerintah dan lainnya) dan pada peringatan hari-hari raya nasional juga dalam kegiatan masyarakat yaitu perayaan hari ulang tahun, syukuran baptisan dan lainnya. Teristimewa pada pertunjukan yang paling bergengsi yaitu dalam perlombaan antar kelompok musik itu sendiri, baik di tingkat kecamatan maupun di tingkat kabupaten dan provinsi.
Bambu oleh etnis Minahasa juga dijadikan sebagai bahan kerajinan. Kerajinan ini berupa anyaman bambu yang merupakan warisan turun temurun dari nenek moyang etnis minahasa, dengan memanfaatkan bambu yang tumbuh subur di Minahasa. Selain perabotan rumah dari anyaman bambu, pengrajin anyaman bambu memproduksi lampion dan tolu (topi tradisional Minahasa).
Bambu atau biasa disebut buluh oleh orang Minahasa biasa digunakan untuk memasak nasi dan lauk-pauknya seperti ayam, daging, dan sayuran. Memasak menggunakan buluh ini merupakan kekhasan tradisi Minahasa.
Hutan bagi orang Minahasa bagaikan supermarket yang menyediakan kebutuhan pangan. Salah satu kekayaan alamnya berupa melimpahnya tanaman bambu yang dimanfaatkan menjadi alat masak. Bambu atau biasa disebut buluh oleh orang Minahasa biasa digunakan untuk memasak nasi dan lauk-pauknya seperti ayam, daging, dan sayuran.
Etnis Minahasa menggunakan bambu untuk memasak menu nasi jaha, pangi, leilem, dan ayam buluh.
Salah satu kuliner Minahasa yang menggunakan bambu untuk memasaknya yaitu winongos. Hidangan ini biasanya terbuat dari daun-daun seperti daun gedi dan daun pepaya muda, yang diolah bersama bumbu rempah-rempah.

Proses memasak winongos bisa dilakukan dengan cara dimasak dalam bambu yang memberikan aroma khas. Bumbu yang digunakan dalam winongos meliputi bawang merah, bawang putih, jahe, kunyit, cabai, dan terkadang kemiri. Semua bumbu ini dihaluskan dan dicampur dengan rempah-rempah daun sebelum dimasak, menghasilkan hidangan dengan rasa yang kaya dan kompleks. Winongos juga memiliki tekstur lembut berkat daun gedi yang dimasak hingga empuk.

Winongos adalah contoh sempurna dari kuliner tradisional Minahasa yang memanfaatkan bahan-bahan alami dan teknik memasak tradisional untuk menciptakan hidangan yang tidak hanya lezat tetapi juga sehat.
Etnis Minahasa memilih buluh untuk diisi bahan makanan dan dibakar. Penggunaan dan pencarian bulu yang telah tersedia di kebun, sehingga memudahkan masyarakat menghidangkan makanan kebun.
Masyarakat di desa memilih buluh untuk diisi bahan makanan dan dibakar, karena di kebun penggunaan buluh lebih memudahkan masyarakat untuk mematangkan makanan
Bambu yang digunakan untuk memasak harus dipilih dengan teliti.
Di hutan Minahasa terdapat beberapa jenis buluh. Buluh atau bambu yang digunakan untuk memasak biasanya memilih buluh yang lebih muda dan tipis, agar proses pematangannya cepat.
Penggunaan buluh biasanya dilakukan oleh masyarakat Minahasa di daerah pedalaman atau pegunungan.Beberapa jenis kuliner Minahasa yang bahan-bahannya dimasak dengan dibakar pada buluh yaitu tinoransak, sayur pangi, sayur kotoi/sa’ut, posana, sayur lutu, nasi jaha, cucur, sayur daun pepaya dan paku, serta lemet.
Asal Mula penggunaan bambu untuk alat masak
Penggunaan bambu untuk memasak ini sudah ada sejak masa prasejarah di daerah Asia Pasifik dan Asia Tenggara. Bambu digunakan untuk memasak dikenal sejak manusia masa neolitik atau manusia sudah tinggal menetap dalam suatu komunitas pemukiman, mereka juga sudah mengenal berkebun, walaupun praktik berburu dan meramu masih tetap dilakukan. Bambu ini digunakan untuk konstruksi rumah mereka, juga sebagai wadah untuk menyimpan air serta memasak makanan. Bambu ini juga digunakan untuk menyadap nira dari pohon aren. Bambu muda atau rebung juga oleh etnis Minahasa dijadikan sebagai sayuran.
Nasi Sinaworai
Kuliner khas Minahasa Tenggara dinamakan sinaworai, terbuat dari bahan beras, daun pandan, janur kelapa, daun pandan, daun nasi, daun woka dan daun seho (aren). Daun-daun ini berfungsi sebagai pelapis bagian dalam bambu sekaligus sebagai pemberi aroma pada nasi.
Sinaworai dibuat hanya dengan bahan beras, dimasak dalam ruas bambu, dengan air penuh dan ruas bambu dibakar langsung dekat bara api. Bambu berisi beras dibakar sekitar satu jam hingga aroma harum masakan tercium keluar dari buluh. Api dihasilkan dari pembakaran kayu bakar dan sabut kelapa.
Oleh masyarakat Minahasa di Desa Wawali Pasan, Kecamatan Ratahan, sinaworai biasanya dimasak saat beraktivitas di kebun, disajikan bersama sayur pakis yang dimasak dalam bambu.


Kuliner ini sangat praktis, bahan mudah didapat di lingkungan sekitar, hanya garam, beras yang dibawa dari rumah.
Sinaworai yang dimasak dalam bambu, dibungkus dalam daun kelapa muda memiliki aroma khas yang harum dan menggugah selera. Perebusan ini membuat sari pati dan getah daun kelapa muda meresap, sehingga memberikan cita rasa gurih yang unik serta tekstur yang lebih pulen pada nasi.
Memasak dengan bambu bukan sekadar tradisi, tetapi saat dipanaskan di atas bara, bambu menjaga kelembapan, menyebarkan panas secara perlahan, dan melindungi makanan dari api langsung. Hasilnya, makanan matang lebih merata, tetap juicy, dan menghasilkan aroma khas yang sulit ditiru oleh peralatan modern.
Daun kelapa muda mengeluarkan aroma wangi dedaunan segar saat direbus dalam waktu lama. getah dari daun kelapa muda menghasilkan sedikit rasa gurih alami yang menyatu sempurna dengan bahan makanan di dalamnya. Daun kelapa muda memberikan rona kehijauan tipis pada permukaan makanan dan membantu makanan menjadi lebih awet secara alami.
*Hari Suroto, Balai Pelestarian Kebudayaan Sulawesi Utara





