Avatar, Alam dan Kita yang Membacanya

Oleh: Purnawan Andra*

Ketika Avatar pertama kali hadir pada 2009, banyak orang mungkin lebih mengingat Pandora sebagai dunia yang menakjubkan. Hutan yang bercahaya, gunung-gunung yang melayang, makhluk asing, dan teknologi tiga dimensi membuat film James Cameron itu terasa seperti sebuah perjalanan ke dunia yang sama sekali berbeda dari bumi.

Sumber: pastposter.com

Sumber: imdb.com

Kini, ketika film itu kita ingat kembali, Pandora terasa sedikit berbeda. Bukan karena hutannya berubah, tapi karena dunia tempat kita menontonnya telah berubah. Kebakaran hutan, deforestasi, kerusakan lingkungan, konflik ruang, dan eksploitasi sumber daya membuat beberapa adegan dalam Avatar terasa lebih dekat dengan kenyataan.

Apa yang dahulu tampak sebagai konflik fiksi antara manusia dari bumi dan bangsa Na’vi kini dapat dibaca sebagai gambaran tentang sesuatu yang terus terjadi: manusia datang ke suatu wilayah, melihat apa yang bisa diambil darinya, lalu berhadapan dengan masyarakat yang menganggap wilayah itu sebagai bagian dari kehidupannya.

Di sinilah menariknya sebuah film. Film tidak hanya berbicara melalui cerita yang dibuatnya. Ia juga dapat berubah makna ketika dibaca dari zaman yang berbeda. Film yang sama dapat memperlihatkan persoalan yang berbeda kepada penonton yang berbeda, karena penonton selalu membawa pengalaman dan kegelisahan zamannya sendiri.

Maka persoalannya bukan hanya apa yang ingin dikatakan Avatar tentang alam. Persoalannya juga adalah apa yang sekarang kita lihat ketika membaca Avatar. Pada 2009, Pandora adalah masa depan yang imajinatif. Hari ini, ia terasa seperti cermin.

Sumber: imdb.com

Adegan penghancuran Hometree menjadi salah satu gambaran paling kuat tentang ekspansi kekuasaan manusia terhadap alam tersebut. Pohon itu bukan sekadar batang dan daun berukuran raksasa. Ia merupakan pusat kehidupan komunitas Omaticaya. Maka ketika pohon itu dihancurkan, yang terusir bukan hanya manusia dari sebuah tempat, tapi sebuah komunitas dari dunia yang selama ini membentuk kehidupan mereka.

Film Kebudayaan

Di sinilah Avatar menarik dibaca sebagai film kebudayaan.Film karya James Cameron itu sebenarnya tidak hanya bercerita tentang alien, perang atau lingkungan. Ia mempertemukan dua cara berbeda dalam memahami dunia.

Manusia dari bumi datang dengan cara pandang yang melihat Pandora terutama sebagai ruang yang dapat dimanfaatkan. Nilai suatu wilayah ditentukan oleh apa yang dapat diambil darinya. Hutan memiliki kayu, tanah menyimpan mineral, dan ruang hidup dapat dipindahkan apabila kepentingan ekonomi menghendakinya.

Na’vi memiliki cara pandang yang berbeda. Hutan bukan sesuatu yang berada di luar kehidupan mereka. Hutan adalah bagian dari kehidupan sosial, spiritual, pengetahuan, dan ingatan komunal.

Sumber: imdb.com

Perbedaan itu penting karena kebudayaan pada dasarnya bukan hanya soal pakaian, bahasa, upacara atau kesenian. Kebudayaan juga menentukan bagaimana manusia memahami tempat di mana ia hidup. Dalam pengertian itu, Avatarmemperlihatkan bahwa konflik ekologis pada dasarnya juga dapat menjadi konflik kebudayaan.

Kita sering membicarakan kerusakan lingkungan dengan bahasa yang sangat teknis seperti luas hutan yang hilang, jumlah emisi, titik panas, produksi, investasi, atau nilai kerugian ekonomi. Semua itu penting. Tapi, ada sesuatu yang kerap luput dihitung yaitu apa yang terjadi pada kebudayaan ketika ruang hidup berubah?

Ketika hutan hilang, yang hilang bukan hanya pepohonan. Juga ikut hilang pengetahuan tentang tumbuhan, tempat-tempat yang memiliki cerita, jalur yang dikenal lintas generasi, sumber penghidupan, hingga cara sebuah komunitas memahami hubungan manusia dengan alam.

Karena itu, Hometree dalam Avatar dapat dibaca sebagai simbol yang lebih luas. Ia adalah pengingat bahwa sebuah tempat kadang memiliki nilai yang tidak bisa seluruhnya diterjemahkan menjadi angka komoditi. Dan menariknya, Avatar menyampaikan gagasan tersebut melalui teknologi yang sangat maju.

Paradoks

Di sinilah paradoks film ini muncul. Manusia memiliki pesawat, kendaraan tempur, senjata, komputer, dan teknologi avatar yang memungkinkan manusia memasuki tubuh Na’vi. Tetapi kecanggihan teknologi itu tidak otomatis membuat manusia lebih mampu memahami dunia yang didatanginya.Teknologi ternyata dapat memperluas kemampuan manusia sekaligus memperbesar daya rusaknya.

Sumber: imdb.com

Masalahnya, tentu saja, bukan teknologi itu sendiri. Teknologi hanyalah alat. Yang menentukan adalah hubungan antara teknologi, kekuasaan, dan kepentingan manusia yang menggunakannya.

Pesawat yang sama dapat membawa manusia menjelajah dunia atau menghancurkan hutan. Pengetahuan dapat digunakan untuk memahami suatu masyarakat atau justru mencari cara paling efektif untuk menyingkirkannya.

Karena itu, Avatar sebenarnya tidak sedang mempertentangkan teknologi dengan alam. Film ini mempertentangkan dua cara menggunakan pengetahuan dan kekuasaan untuk menghuni dunia.

Tetapi di sinilah kita juga perlu sedikit mempertanyakanfilm ini. Na’vi digambarkan begitu dekat dengan alam sehingga mereka mudah berubah menjadi gambaran romantis tentang masyarakat adat, seperti hidup harmonis, spiritual, dan seolah-olah belum terganggu oleh modernitas.

Di satu sisi, gambaran semacam ini problematis. Masyarakat adat ditempatkan sebagai penjaga alam yang baik, sementara manusia modern tampil sebagai perusak.

Padahal masyarakat adat di dunia nyata bukan penghuni museum. Mereka hidup di tengah perubahan zaman, bernegosiasi dengan pasar, negara, pendidikan, teknologi, dan berbagai kepentingan lain.

Cara yang Berbeda

Karena itu, pelajaran penting dari Avatar bukan bahwa kita harus mencari masyarakat yang “sealami” Na’vi. Yang lebih penting adalah memahami bahwa manusia memiliki banyak cara untuk berhubungan dengan alam.

Film ini memperlihatkan salah satu persoalan besar modernitas. Yaitu ketika alam terlalu lama dipahami sebagai objek, manusia akhirnya lupa bahwa dirinya sendiri merupakan bagian dari dunia yang sedang ia ubah. Barangkali itulah sebabnya Avatar terasa berbeda ketika ditonton hari ini.

Ketika hutan terbakar, ruang hidup masyarakat berubah, dan alam terus diperlakukan sebagai wilayah yang dapat diekstraksi, Pandora tidak lagi terasa terlalu jauh. Kita tidak sedang hidup di planet asing, tetapi menghadapi pertanyaan yang serupa yaitu apa yang terjadi ketika kepentingan ekonomi berhadapan dengan sebuah komunitas yang menganggap tanah bukan sekadar tanah?

Di layar, manusia menghancurkan Hometree untuk memperoleh sumber daya. Di dunia nyata, bentuknya jauh lebih kompleks. Tidak selalu ada pohon raksasa yang menjadi pusat sebuah komunitas, dan tidak selalu ada satu pihak yang sepenuhnya jahat sementara pihak lain sepenuhnya benar.

Tapi, pertanyaannya tetap sama. Ketika sebuah hutan hanya dihitung berdasarkan apa yang dapat diambil darinya, apa yang tidak lagi kita lihat?

Sumber: imdb.com

Mungkin kekuatan Avatar bukan karena film itu berhasil membayangkan sebuah planet jauh di masa depan. Justru sebaliknya. Ia membuat kita melihat bumi sendiri dengan cara yang berbeda.

Pandora adalah fiksi. Hometree adalah fiksi. Na’vi adalah fiksi. Tetapi cara manusia memandang alam sebagai sesuatu yang bisa dimiliki, dipindahkan, dan dieksploitasi bukanlah fiksi.

Sumber: imdb.com

Pertanyaan yang diajukan Avatar menjadi semakin nyata ketika kita melihat karhutla di Indonesia. Di Pandora, kita menyaksikan Hometree dihancurkan karena manusia melihat sesuatu yang bernilai di balik tanahnya. Di Indonesia, bentuknya tidak selalu sama, tetapi pertanyaannya tetap relevan: ketika hutan pertama-tama dilihat sebagai lahan, apa yang kemudian menjadi tidak terlihat?

Avatar terasa semakin dekat bukan karena Pandora menyerupai Indonesia, tapi karena kita mulai mengenali logika yang sama, Bahwa alam dapat kehilangan maknanya sebagai ruang kehidupan ketika ia direduksi menjadi ruang yang bisa dikuasai dan dieksploitasi. Dan ketika asap karhutla kembali memenuhi udara, barangkali yang perlu kita baca ulang bukan hanya Avatar, tetapi juga cara kita membaca hutan dan alam kita sendiri.

*Purnawan Andra, pegiat Diskusi Kajian Kebudayaan (Dikbud) “Tangga Kebon” Jakarta, Pamong Budaya pada Kementerian Kebudayaan.