Puisi-puisi Seno Joko Suyono

Sajak Sajak Korea

 

67 Cheonho-daero 45-gil

Angin musim gugur mendinginkan ginsengku
Kutahu jalan di depan sepi dini hari ini
Entah yang kudengar deram kereta atau
Suara-suara dari lorong yang terbantun luruh menjelang subuh

Jarak dari stasiun Cheongyangni tak begitu jauh
Bunyi sepatu tergesa-gesa turun naik tangga
terbawa sampai kamar kecilku
Tapi kemudian menghilang ketika kuterka mirip derap defile serdadu Joseon

Dua lukisan sungai karya penjaga rumah bernama Soojikim
Masih tampak tenang airnya. Namun aku berusaha
Waspada bila saat aku tidur sewaktu-waktu airnya tumpah
Menimpa mimpi-mimpiku

Izinkan aku membayangkan seorang pengelana
Yang menyeret kopernya dari stasiun-stasiun tak tahu arah tujuannya
Ia mencoba berbagai lines dan arah subway
Dan keluar di pintu exit yang memiliki tangga tertinggi tanpa elevator

Tatkala badannya capek dan menyadari bahwa ia tersesat di labirin kota
Ia memilih duduk di taman, sambil memandang café-café kopi yang tak diizinkan merokok

Bangku batu polos adalah tempat untuk bercakap-cakap dengan gagak
Koper yang berat, ia letakkan .Ia buka mencari sobekan-sobekan kitab suci

Lalu ia mengalihkan perhatian ke sayap-sayap burung itu
Dan pikirannya dibawa terbang jauh ke tempat istirah, di samping sungai
Tempat membaca novel-novel tentang kesunyian dan kegagalan

Angin musim gugur meniup lehernya dan menyibakkan rambutnya
Tatkala pengembara itu ingin mengikat rambut panjangnya, kudengar derum lagi dari jalanan
Aku tak tahu, jamku salah atau benar. Tadi masih jam 2 malam
Kenapa ada suara kereta di kejauhan seperti memintaku bangun
Dan mengisi pulsa kartu kereta. Untuk menuju kuil yang dia bisikkan

 

Bangunkan Aku Dengan Genta Bosingak*

Bangunkan aku dengan gaung genta
Tidurku terlalu lelap. Kaki-kakiku yang capek
Telah membiusku masuk ke ngarai ilusi-ilusi
Aku tersesat dalam ingatan masa kanak yang bercampur
Dengan ketakutan-ketakutan tak mencapai tujuan pengelanaan

Tariklah tali dengan sekuat keimananmu
Dulu pagi hari genta itu dibunyikan sebagai penanda pembukaan gerbang kota
Sinyalnya membangunkan semua makhluk tak hanya manusia
Juga makhluk-makhluk yang membuat peristiwa-peristiwa dalam mimpiku
Tumpuk menumpuk, hablur dan selalu tak ada jalan keluar

Aku bertaruh tanganmu kuat.
Jangan curiga bahwa genta itu kini direnovasi
Bukalah pagar. Masuklah.Polisi tak akan melihat
Percayalah bahwa kau adalah keturunan penjaga kota

Leluhurmu dulu setiap jam 4 pagi akan memukul 33 kali
33 kali itu adalah lambang 33 surga yang dikisahkan Avalokitesvara
Leluhurmu tahu, gaung genta akan menyelamatkan semua warga kota
Termasuk mereka yang terkapar dan seperti aku dalam tidur, disakiti terus menerus
Oleh malaikat-malaikat iseng yang membual soal dharma

Arahkan kumandang genta itu ke arah tempat tinggalku
Aku tengah nyenyak dalam sebuah tempat
Yang tak perlu lagi transfer-transfer dan mengetap kartu di gate

*Genta yang dulu di Seoul zaman kerajaan Joseon digunakan sebagai penanda waktu. Genta itu kini di kawasan Jongno

Seonbawi*

Langkah-langkahku kurasa tak akan mencapai puncak
Aku tak mampu menulis sajak
Tentang sepasang batu karang
Yang bisa mengabulkan doa orang meminta keturunan

Aku sama sekali tak berpapasan dengan rahib bukit
Belum kucapai tangga gunung, masih trotoar apartemen yang menanjak
Penunggu harimau putih gaib mungkin menatapku dari kejauhan
Memindaiku sebagai orang asing yang menginginkan berkah berlebihan

Pertapaan-pertapaan hancur adalah nafasku
Keringatku adalah doa-doa shaman di goa-goa kecil
Langkahku masih sangat jauh . Aku menginjak bayangan hitamku
Aku tak membawa rosario, tapi gelang yang kupakai
Adalah manik-manik kayu candi Kamboja yang telah diberi mantra keselamatan

Buat apa berjalan sampai ketinggian?
Apa gunanya memandang Seoul dari punggung lereng granit?
Dari atas, apakah tunawisma tunawisma sepuh yang tidur
di emperan Stasiun Seoul bakal tak terlihat?
Buat apa lagi bersimpuh dan bersujud?
Di depan sepasang karang yang kata buku ibadah mirip dua biksu berjubah
Aku hanya ingin meminjam doa-doamu untuk kubikin sajak

Lemparkan diriku dalam kesunyian puisi biaramu
Biarkan aku menghirup sisa-sisa Sutra yang kau daras
Ubahlah namaku ke dalam aksara Haegul
Perkenalkanlah aku kepada penyair-penyair monastik
Mintalah mereka mengajariku menangkap rahasia lembah

Di gerbang kuil Inwangsa aku berhenti
Aku merasa ada bayangan lain yang membuntutiku

*Batu yang dianggap sakral di Kuil gunung Inwangsa

Benteng Kota Hwaseong

Lindungi aku dari intaian kesepian
Sebuah meriam ditutupi terpal mengarah ke pertigaan
Musuh-musuh yang datang berkuda
Mudah menjadi target bidikan

Kota ini memiliki pertahanan berlapis-lapis
Penyerbu manapun tak akan pernah sampai ke istana
Anak-anak panah mereka mustahil mengincar permaisuri
Dari jauh pengembara-pengembara akan diawasi
Dan bakal tertahan di bagian terluar benteng ini
Diperiksa kartu pengenal dan surat imigrasi

Kecuali kesepian yang kau senandungkan
Meski tembok-tembok kokoh, kesunyianmu tak mampu dilawan
Serangannya menembus empat gerbang dan meremukkan penjagaan
Angin membawanya 30 kilometer melukai siapapun
Temasuk yang membendung diri dengan baju zirah
Atau yang terlihat bahagia bercengkerama di pendapa

Menara-menara pengawas hanyalah ilusi
Pos pos komando akan runtuh
Kesepianmu tak mengenal undakan-undakan batu
Kesepianmu berasal dari negri yang tak terduga
Ia menyergap tiba-tiba dan membuat semua di kota ini tak bermakna

Di Museum Nam June Paik *

Sebuah UFO yang membawa arwahmu ke Centaurus mendarat di ruangan
Monitor-monitor menayangkan berita bahwa perjalanan kosmismu tak membahagiakan
Di stasiun batas galaksi, kau bertemu dengan berbagai makhluk planet
Tak ada yang ingin berteman dan bersapa dengan makhluk dari bumi

Mengapa demikian?
Aku hanya ingin memeriksa jejak-jejakmu semasa kau tinggal di sini
The Moon is The Oldest TV (1965)
Neptune (1992)
TV Bra for Living Sculpture (1967)

Aku melihat kau menyebar tv-tv tabung di ilalang-ilallang taman rumahmu
Itu adalah pekerjaan rahasiamu. Semua tersembunyi dari penglihatan
Bahkan dari bapak, ibu dan saudara-saudaramu
Dan darinya kau berusaha menangkap sinyal-sinyal masa depan
Entah frekuensi dari bulan atau Mars

Aku tak tahu apakah kau berhasil mengarsipkan jawaban-jawaban mereka
Kucari di seluruh ruangan hanya simbol-simbol diagram
Rumus matematika atau hanya keyakinan mesianistik, susah kuterka

Tapi langkahku terhenti lama di sebuah video art
Sebuah arca Buddha bersila di depan TV kuno berlayar cembung
Di atasnya kamera video yang merekam langsung tubuhnya
Hingga arca itu seolah melihat dirinya di layar televisi

Mungkin itu yang membuatmu tak bahagia
Di perbatasan galaksi, kau mendapatkan jawaban: semuanya hanyalah pantulan maya

  • Nam June Paik adalah seniman Korea yang mempelopori video art. Museumnya di Yongin menampilkan berbagai karyanya dengan medium televisi yang merefleksikan antariksa dan kosmos

*Seno Joko Suyono menulis kumpulan puisi: Di Teater Dionysos serta dua novel: Kuil di Dasar Laut dan Tak Ada Santo dari Sirkus.