Ketika Lukisan Keluar dari Kanvas
Oleh: Abad Akbar*
Melihat Intermedialitas dalam Seni melalui Praktik Living Canvas
Berawal dari karya seni rupa yang digunakan sebagai media pendukung film Siapa Dia karya Garin Nugroho, sebuah pertanyaan muncul dalam benak saya: bagaimana sebuah karya statis dua dimensi dapat memaksimalkan fungsinya selain sekadar menjadi pajangan di ruang pamer? Dari film ini saya melihat bahwa sebuah karya seni dapat menjadi saksi bisu sebuah perjuangan. Hal tersebut terlihat melalui karya Boeng Ajo Boeng karya Affandi yang dilukis oleh tokoh utama dalam salah satu adegan yang menggambarkan perjuangan kemerdekaan pada masa pendudukan Jepang. Selain itu, karya seperti pamflet, latar studio foto, hingga sampul komik juga muncul dalam beberapa adegan film tersebut.

karya Affandi Boeng Ajo Boeng dalam klip film Siapa Dia (2025) (Sumber: Instagram @dictiartlab)
Perkembangan seni rupa hari ini menuntut para seniman untuk berkreasi melampaui pendahulunya. Perkembangan gaya, perubahan medium, hingga penambahan elemen dalam reproduksi karya lama memperluas pembicaraan mengenai wacana seni hari ini. Selain apa yang ditampilkan dalam film Siapa Dia, terdapat pula karya-karya seni rupa lama yang direproduksi dengan membawa kritik terhadap wacana maupun konteks yang melekat pada karya tersebut. Pembahasan lebih lengkap mengenai topik ini pernah diulas oleh Dr. Mikke Susanto melalui konten Instagram @dictiartlab pada 26 Agustus 2025.

Para model Living Canvas Competition berfoto bersama Philippe Augier (Founder Museum Pasifika) dan Arya Wedakarna Mahendradatta (anggota DPD Bali sekaligus inisiator Bali International fashion Week BIFW) (sumber:Museum Pasifika)
Hal yang hampir sama saya temukan dalam rangkaian acara Bali International Fashion Week (BIFW) 2026. Acara yang dilaksanakan di Museum Pasifika, Nusa Dua, Bali, memberikan sajian yang cukup menarik perhatian. Sebanyak 15 lukisan koleksi Museum Pasifika direka ulang melalui para model yang mengenakan busana dan menampilkan gestur menyerupai figur dalam lukisan. Praktik ini menarik untuk dibahas karena menghadirkan wacana baru mengenai perkembangan fungsi karya seni di museum. Lukisan tidak lagi hanya menjadi objek yang diamati, tetapi menjadi sumber inspirasi yang diwujudkan kembali melalui tubuh manusia.
Di antara karya yang dialihmediakan adalah Kan Keo with a Balinese Offering (1981) karya Theo Meier, Javanese Dancer / Raden Djodjana (1934) karya W.O.J. Nieuwenkamp, Dancer with Blue Fan (1974) karya Emilio Ambron, Portrait Adipati Majalengka (1852) karya Raden Saleh, Srietje Reading Book (1966) karya S. Sudjojono, Balinese Women karya Hendra Gunawan, Legong Dance (1939) karya R.F. Locatelli yang sempat dipamerkan dalam Venice Biennale 2024, serta beberapa karya lainnya.

Potret para model di depan Karya Renato Cristiano, Hendra Gunawan, dan RF. Locatelli (Sumber: Instagram Museum Pasifika)
Bali International Fashion Week (BIFW) sendiri baru akan dilaksanakan pada 24–26 September 2026 mendatang. Sebelumnya, pada 6 September 2026, diselenggarakan Living Canvas Competition sebagai salah satu upaya mentransformasikan keindahan karya seni menjadi sesuatu yang hidup. Setiap peserta menciptakan kembali sebuah lukisan dengan menangkap ekspresi, gaya, warna, hingga konteks melalui interpretasi langsung para model. Kegiatan ini diikuti oleh ISI Bali, SMKN 3 Denpasar, SMKN 4 Denpasar, SMKN 1 Seririt, SMK Marsudirini Negara, Star Model Look, dan Nennys Modeling School.
Dalam perspektif seni, praktik semacam ini dapat dibaca melalui konsep alih media atau intermedialitas. Kubilay (2021) menjelaskan bahwa istilah ini merujuk pada konsep pertukaran atau hubungan antara berbagai bentuk seni dan medium, seperti interpicturality (antar-gambar), intermediality (antar-media), intermusicality (antar-musik), interfilmicity (antar-film), dan interphotography (antar-fotografi). Istilah intermedialitas sendiri masih relatif jarang digunakan dalam pembicaraan seni dalam bahasa Indonesia. Secara historis, konsep ini memiliki keterkaitan dengan perkembangan seni Avant-Garde dan praktik eksperimental sejak akhir abad ke-19 hingga saat ini. Para seniman dengan sengaja memadukan berbagai medium untuk menantang batas-batas tradisional dan menciptakan bentuk karya yang lebih inovatif. Intermedialitas pada akhirnya membuka kemungkinan lahirnya bentuk makna dan pengalaman baru dalam menikmati sebuah karya seni.
Ketika model hidup meniru sebuah lukisan, terjadi peralihan medium secara langsung: dari seni visual yang bersifat statis menuju pertunjukan yang berlangsung secara langsung. Citra dua dimensi dalam lukisan diterjemahkan menjadi peristiwa tiga dimensi yang bersifat temporer dan interaktif. Tubuh manusia kemudian menjadi medium baru untuk menghadirkan kembali apa yang sebelumnya hanya hadir di atas kanvas.
Dalam praktik Living Canvas Competition, proses ketika model menyerupai figur dalam lukisan melibatkan tubuh, kostum, hingga teknologi seperti pencahayaan dan tata panggung. Kehadiran berbagai elemen tersebut semakin mengaburkan batas antara seni visual dan seni pertunjukan. Praktik semacam ini memberikan audiens cara baru untuk mempersepsikan karya seni melalui pengalaman yang tidak biasa. Penonton tidak hanya menggunakan persepsi reflektif ketika melihat karya visual, tetapi juga memperoleh pengalaman partisipatif dan intersubjektif melalui pertunjukan secara langsung.

Potret para model di depan Karya koleksi Museum Pasifika, Bali (Sumber: Museum Pasifika)
Pada titik inilah praktik Living Canvas menjadi menarik. Ia tidak sekadar mereproduksi sebuah lukisan dalam bentuk manusia, tetapi membuka kemungkinan baru dalam membaca karya yang telah ada. Lukisan yang semula diam memperoleh tubuh, ruang, waktu, dan pengalaman baru melalui proses alih media tersebut.
Bagi museum seni rupa, praktik semacam ini juga memberikan kemungkinan baru dalam memperkenalkan koleksi kepada publik. Koleksi tidak harus selalu dipahami sebagai benda yang hanya dilihat dan dijelaskan melalui label, tetapi dapat menjadi sumber pengalaman, interpretasi, dan penciptaan kembali. Dalam konteks Museum Pasifika, praktik ini menunjukkan bahwa koleksi dapat terus hidup melalui berbagai medium dan generasi, tanpa harus kehilangan hubungan dengan karya aslinya.
Pada akhirnya, intermedialitas memperlihatkan bahwa sebuah karya seni tidak selalu berhenti pada medium tempat ia pertama kali dilahirkan. Sebuah lukisan dapat berpindah ke tubuh, panggung, film, fotografi, atau medium lainnya dan menghasilkan pengalaman baru. Ketika lukisan keluar dari kanvas, yang berubah bukan hanya bentuknya, tetapi juga cara kita melihat, memahami, dan mengalami kembali sebuah karya seni.
* Abad Akbar (Peneliti Seni-Budaya, Manager Program Museum Pasifika)





