Bertumbuh dalam Sunyi, Pulang dalam Syukur: Membaca Perpuisian Tania Rahayu
Oleh: Abdul Wachid B.S.*
- Lahirnya Sebuah Dunia Kepenyairan
Ada penyair yang mula-mula menemukan puisinya dari kata-kata besar: sejarah, politik, filsafat, atau kegelisahan zaman. Ada pula yang menemukan jalan kepenyairannya dari hal-hal yang dekat dengan tubuh dan kehidupan sehari-hari: rumah, ibu, bapak, kebun, tanah, musim, luka, dan penantian. Tania Rahayu tampaknya termasuk yang kedua. Dalam sejumlah puisinya, dunia yang dekat itu tidak berhenti sebagai bahan cerita. Perlahan, dunia tersebut berubah menjadi bahasa untuk memahami kehidupan.
Tania Rahayu lahir di Purbalingga, 30 Juni 2001. Dia menyelesaikan pendidikan pada Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto. Di Purwokerto, dia aktif di Rumah Kreatif Wadas Kelir dan menjadi peneliti pada Lembaga Kajian Nusantara Raya UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto. Latar pendidikan dan aktivitas tersebut tidak perlu dibaca sebagai penjelasan langsung tentang lahirnya puisi-puisinya. Namun, kedekatannya dengan dunia pendidikan, kreativitas, kebudayaan, dan penelitian memberi konteks bagi tumbuhnya kepekaan yang tampak dalam karya-karyanya. Dia menulis dari lingkungan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, tetapi pengalaman itu perlahan dibawanya menuju pertanyaan yang lebih luas tentang manusia, alam, dan Tuhan.
Salah satu puisi yang dapat menjadi pintu masuk untuk mengenali dunia puitik Tania adalah “Musim Bertumbuh”.
Musim Bertumbuh
Musim bertumbuh tidak datang tiba-tiba
Ia datang
didahului hujan
yang dingin mengguyur dada,
Diiringi matahari
yang membakar tanpa iba
Tanah raga tumbuh dibajak hancur
Ilalang penghibur dibabat hingga sulur
Benih jiwa pecah
dari rahim tanah
yang sunyi dan basah
Akar menjalar
Menelusur tanah, menembus batu
Demi air menghentikan kematian pilu
Tunas tak lahir begitu saja
Ia menjumpa hama dan gulma
Mengejar cahaya
Mengharap pupuk petani tiba
Mengais dan berdoa
Purwokerto, 7 Mei 2025
Puisi tersebut memperlihatkan salah satu kecenderungan yang kemudian berulang dalam perpuisian Tania: pengalaman hidup dibaca melalui proses pertumbuhan alam. Hujan, matahari, tanah, benih, akar, batu, tunas, hama, gulma, dan cahaya bukan sekadar benda yang menghiasi puisi. Semuanya menjadi bagian dari cara penyair memahami berlangsungnya kehidupan. Pertumbuhan tidak datang dengan sendirinya. Ada tanah yang harus dibajak, benih yang harus pecah, akar yang harus menembus batu, dan tunas yang harus berhadapan dengan hama serta gulma.
Yang menarik, Tania tidak memulai pertumbuhan dari keadaan yang nyaman. “Musim bertumbuh tidak datang tiba-tiba” segera disusul oleh hujan yang dingin dan matahari yang membakar. Pertumbuhan justru lahir dari keadaan yang menguji. Bahkan, “Benih jiwa pecah” memperlihatkan paradoks penting: pecah dapat berarti rusak, tetapi pada saat yang sama merupakan syarat bagi kehidupan baru. Alam tidak sekadar dipandang; alam menjadi cara untuk memahami kehidupan.
Kecenderungan tersebut tampak pula ketika pengalaman keluarga masuk ke dalam puisinya. Dalam “Kebun Pertama Ibu”, ibu hadir bukan sekadar sebagai tokoh keluarga, tetapi sebagai seseorang yang memasuki kehidupan dengan sebuah “kebun” yang asing, penuh ilalang, reranting, dan rahasia. Dalam “Gubug Bapak”, rumah sederhana menjadi tempat perlindungan sekaligus ruang bagi kecemasan tentang waktu dan kehilangan. Dalam “Daster Ibu Robek Sana-Sini”, pakaian yang koyak menjadi jejak pengorbanan seorang ibu yang terus merawat anak-anaknya. Sementara, dalam “Duri, Aku, dan Ibu”, luka yang mula-mula disembunyikan menjadi pengalaman tentang pentingnya menghadapi sesuatu yang dibiarkan bersarang.
Pengalaman keluarga, dengan demikian, bukan sekadar latar emosional. Wilayah domestik menjadi salah satu sumber utama pembentukan imajinasi puitiknya. Dari rumah dan keluarga, Tania menemukan bahan-bahan yang kemudian bergerak ke wilayah yang lebih luas: kebun, tanah, benih, musim, matahari, bunga, dan cahaya menjadi kosakata yang berulang dalam upaya memahami kehidupan.
Kecenderungan itu mencapai bentuk yang lebih kompleks dalam “Bunga Lotus”. Bunga tersebut tidak langsung tampil sebagai lambang keindahan. Bunga lotus justru mengadu tentang lumpur, rawa, keterasingan, perpindahan tempat, bahkan kehilangan rumah asal. Ketika dipindahkan ke ruang yang dianggap lebih indah, lotus malah sekarat karena tempat itu bukan rumah sejatinya. Ketika kembali, rumah asalnya sudah tidak ada. Pertanyaan yang semula sederhana (mengapa aku dilahirkan?) berkembang menjadi pertanyaan tentang tempat, keberadaan, dan kepulangan. Benda alam dalam puisi Tania dapat membawa persoalan yang jauh melampaui dirinya sendiri.
Hal serupa tampak dalam “Matahari”. Matahari bukan hanya unsur yang hadir di atas kebun, tetapi sesuatu yang memungkinkan proses pertumbuhan berlangsung. Dengan cara yang sederhana, puisi ini mempertemukan kerja petani dengan batas kuasa manusia: seseorang dapat merencanakan dan mengusahakan banyak hal, tetapi pertumbuhan tetap membutuhkan sesuatu yang berada di luar dirinya.
Dari pengalaman yang dekat itu pula Tania mulai membuka puisinya kepada wilayah yang lebih luas. “Alamku” membawa perhatian kepada kerusakan lingkungan dan menjadikan alam sebagai “rumah” yang paling setia. “Cahaya Dari Tanah Perdikan” menghubungkan tanah, petani, iman, makam, masjid, tradisi, dan adab dalam satu lanskap kebudayaan. Sementara, “Kepada Nyai Rubiah Sekar” memperluas pencarian tersebut ke dalam ingatan tentang wali, tanah, pertanian, zikir, Islam, dan iman. Dunia puitik Tania perlahan membuka diri kepada persoalan kebudayaan dan kehidupan bersama.
Bahkan, dalam puisi-puisi tentang cinta dan hubungan antarmanusia, kecenderungan yang sama masih terasa. “Tamu”, “Perbincangan Inti”, “Ada Pesta Kembang Api”, “Tentang Hal-Hal yang Tidak Kau Ketahui”, dan “Secangkir Kopi Panas” memperlihatkan pengalaman menunggu, menyukai, mendekati, tetapi juga menyadari bahwa tidak semua perjumpaan berakhir dalam kepastian. Cinta dalam puisi-puisi tersebut sering bergerak di antara kedatangan dan kepulangan, antara harapan dan waktu yang tidak dapat ditahan.
Karena itu, membaca perpuisian Tania hanya sebagai puisi tentang perempuan, keluarga, cinta, atau spiritualitas terasa belum cukup. Di balik berbagai tema itu terdapat gerak yang lebih mendasar: kehidupan dipandang sebagai proses menjadi. Manusia terluka, menunggu, kehilangan, mencari, dan perlahan belajar memahami apa yang dialaminya. Berbagai pengalaman tersebut saling berhubungan melalui jaringan simbol yang terus muncul dari satu puisi ke puisi lainnya.
Gerak tersebut dapat disebut sebagai poetika pertumbuhan. Istilah ini bukan teori yang ditempelkan dari luar kepada puisi-puisi Tania, melainkan nama sementara bagi kecenderungan yang tumbuh dari dalam korpusnya sendiri. Pertumbuhan di sini bukan semata-mata perkembangan biologis atau keberhasilan mencapai keadaan yang lebih baik. Pertumbuhan lebih merupakan cara memandang keberadaan: kehidupan berlangsung melalui proses, perubahan, keterbatasan, kehilangan, dan kemungkinan untuk menjadi.
Di sinilah judul “Bertumbuh dalam Sunyi, Pulang dalam Syukur” mulai menemukan pijakannya. “Sunyi” dalam perpuisian Tania bukan semata-mata kesepian, tetapi ruang batin tempat pengalaman memperoleh kesempatan untuk direnungkan. Sunyi hadir dalam luka yang disembunyikan, penantian, pengalaman kehilangan, dan pertanyaan tentang tempat untuk pulang. Makna sunyi dan syukur itu akan memperoleh pengertian yang lebih lengkap ketika puisi-puisi Tania dibaca melalui tema-tema yang lebih khusus.
Kekhasan perpuisian Tania Rahayu tidak terutama terletak pada kebaruan setiap metafora yang digunakannya. Tanah, bunga, matahari, rumah, dan cahaya telah lama menjadi bagian dari bahasa puisi. Yang menarik ialah cara Tania Rahayu merangkai simbol-simbol tersebut menjadi pengalaman yang saling berhubungan. Pengalaman sehari-hari diolah menjadi simbol; simbol bergerak menjadi perenungan; dan perenungan membuka jalan menuju pertanyaan tentang makna.
Di sepanjang proses itu, seorang penyair muda mulai menemukan dunia kepenyairannya sendiri. Dunia tersebut tentu belum selesai. Justru karena belum selesai, dunia kepenyairan Tania masih terbuka untuk berkembang. Jejak dasarnya mulai terlihat: pengalaman yang dekat menjadi sumber imajinasi, alam menjadi salah satu bahasa utama, dan kehidupan dipahami sebagai proses yang menuntut ketekunan untuk menjalaninya.
Dari pengalaman yang dekat itu, rumah menjadi tempat yang penting untuk diperhatikan lebih jauh. Sebelum menemukan bentuknya dalam tanah, benih, musim, dan cahaya, pertumbuhan terlebih dahulu berakar pada pengalaman paling dekat dengan manusia: keluarga, kasih, perlindungan, luka, dan tempat pertama seseorang belajar tentang kehidupan.
- Rumah sebagai Asal Pertumbuhan
Dalam perpuisian Tania Rahayu, rumah hampir tidak pernah hadir sebagai bangunan yang selesai. Rumah lebih sering muncul sebagai sesuatu yang sedang dirawat, ditinggalkan, dirindukan, atau perlahan kehilangan bentuknya. Karena itu, rumah dalam puisi-puisinya bukan terutama soal dinding, atap, pintu, dan halaman, melainkan pengalaman manusia di dalamnya: siapa yang merawat, siapa yang menunggu, siapa yang terluka, dan siapa yang suatu hari ingin pulang. Pandangan semacam ini berdekatan dengan pemikiran Gaston Bachelard dalam The Poetics of Space, yang melihat rumah bukan sebagai benda geometris yang inert, melainkan sebagai ruang yang dialami dan dihayati, tempat ingatan, perlindungan, dan kehidupan batin memperoleh bentuk. Rumah, dalam pengertian Bachelard, menjadi bagian dari dunia intim manusia; karena itu, ketika hadir dalam puisi, yang dibicarakan sering kali bukan bangunannya, melainkan pengalaman yang tersimpan di dalamnya (Bachelard, 1964).
“Kebun Pertama Ibu” memberikan gambaran kuat tentang rumah sebagai awal sebuah perjalanan hidup. Ibu tidak langsung memasuki kehidupan sebagai seseorang yang telah mengetahui segala sesuatu. Dia justru menerima “kebun pertama” sebagai “hutan yang rimbun oleh rahasia”, sebuah tempat asing yang dipenuhi ilalang, reranting, dan dedaunan yang menghalangi jalan. Metafora kebun menarik karena kehidupan berkeluarga tidak digambarkan sebagai ruang yang telah tertata. Kebun itu harus dibuka sedikit demi sedikit, dirawat dengan tenaga, dan dijalani meskipun banyak hal belum diketahui.
Ada kerendahan hati tertentu dalam pengakuan penyair bahwa ibu “tak peduli apa yang ia tau / dan apa yang tidak ia tau”. Yang penting bukan pengetahuan yang sudah lengkap, melainkan kesediaan untuk bergerak. Tangan, kaki, telinga, dan jiwa ibu “tak berhenti bergerak menembus waktu”. Menjadi ibu, dengan demikian, bukan keadaan yang tiba-tiba sempurna setelah seseorang menerima peran, tetapi proses belajar yang berlangsung bersama kehidupan.
Kebun itu juga menjadi tempat cita-cita masa lalu mengalami perubahan. “Panggung dan buku, cita-citanya” yang dahulu menjadi bagian dari impian ibu tidak hilang begitu saja; semuanya diolah menjadi “anugerah musim panen” yang kini selalu ditunggu. Ada sesuatu yang getir sekaligus indah dalam perubahan tersebut. Kehidupan domestik dapat meminta seseorang menggeser sebagian keinginan personal, tetapi pengorbanan itu tidak digambarkan semata-mata sebagai kehilangan. Pengorbanan itu dapat berubah menjadi bentuk lain dari kebermaknaan.
Pandangan tersebut menemukan pasangan simboliknya dalam “Gubug Bapak”. Jika ibu digambarkan sebagai seseorang yang menggarap kebun, bapak hadir melalui sebuah gubug yang dibangunnya di dalam kebun itu. Gubug tersebut sederhana: kayu jati, ranting kayu untuk menghangatkan, dan dinding bambu anyam untuk melindungi ibu. Justru kesederhanaan itulah yang membuat kasih dalam puisi ini terasa konkret. Bapak tidak mengatakan cinta melalui pernyataan panjang; dia membangunnya menjadi tempat berteduh. Dalam teks aslinya, kesederhanaan itu tampak sejak awal:
“Bapak membuat sebuah gubug
di kebun ibu.
gubug itu sengaja dibuat
dengan kayu jati,
tempat kokoh
untuk berlindung dari hujan dan teriknya hari bertani.”
Gubug di sini bukan konsep abstrak tentang perlindungan. Gubug hadir sebagai benda yang dibuat dengan tangan, ditempatkan di kebun, dan disiapkan untuk seseorang yang sedang bekerja. Kasih menemukan bentuknya melalui tindakan membangun tempat berteduh.
Namun, Tania tidak berhenti pada gambaran rumah sebagai perlindungan. Gubug itu sekaligus menyimpan “rahasia / ketakutan”. Kayu jati dapat mengeropos, dinding dapat berlubang, angin dapat mengguncang, dan suatu hari ibu mungkin mulai jarang datang. Dalam teks aslinya, kecemasan itu dirumuskan dengan sangat sederhana:
“tapi gubug bapak
juga menyimpan rahasia
ketakutan
pada hari kayu jati mengeropos
pada hari dinding anyam mulai berlubang”
Dengan memasukkan kemungkinan kerusakan ke dalam gambaran rumah, Tania membuat kasih tidak menjadi sentimental. Gubug itu berharga justru karena waktu terus bekerja atas segala sesuatu yang dibangun manusia. Jika kebun menandai kerja menghidupkan, gubug menandai usaha menjaga kehidupan yang sedang tumbuh. Keduanya bertemu dalam kehidupan domestik yang sederhana, tetapi kaya akan kerja dan kesediaan untuk saling menjaga.
Dari perlindungan, rumah bergerak menuju luka. Dalam “Daster Ibu Robek Sana-Sini”, rumah bahkan seperti dapat dibaca melalui pakaian yang dikenakan seorang ibu. Robekan pada daster datang satu demi satu: dari anak yang merantau dan enggan memberi kabar, dari anak yang belum berani melepaskan buaian, dan dari anak perempuan yang belum memahami harga dirinya. Robekan pakaian menjadi metafora sederhana namun efektif tentang bagaimana relasi keluarga meninggalkan bekas pada tubuh dan kehidupan ibu.
Yang menarik bukan hanya bahwa daster itu robek, melainkan bahwa ibu terus menjahitnya. Dia menjahit “dengan benang cahaya”, sementara setiap jahitan membawa jeritan yang tidak terdengar. Penderitaan domestik di sini tidak diumumkan sebagai keluhan. Ibu tetap terjaga, tetap menimang anak-anaknya, dan berusaha agar tidak satu pun dari mereka mengalami robekan yang sama:
“Supaya tidak satupun dari mereka
turut robek juga”
Larik tersebut memperlihatkan ibu bukan sekadar sebagai korban kehidupan keluarga, tetapi sebagai pusat daya tahannya. Namun, Tania juga tidak menyembunyikan harga yang harus dibayar oleh daya tahan itu. Daster yang robek, malam yang tidak nyenyak, dan luka yang “menganga” memperlihatkan bahwa kasih pun memiliki tubuh yang dapat letih. Justru karena bersentuhan dengan penderitaan, kasih memperoleh bobot kemanusiaannya.
Pengalaman luka menjadi lebih personal dalam “Duri, Aku, dan Ibu”. Jika pada “Daster Ibu Robek Sana-Sini” luka berada pada figur ibu dan keluarga, dalam puisi ini luka berpindah ke tubuh “aku”. Duri yang menginjak kaki mula-mula sengaja dibiarkan bersarang karena ada keinginan untuk menyembunyikan penderitaan dari ibu. Ada naluri anak untuk melindungi orang yang dicintainya dari kecemasan. Namun, luka yang disembunyikan tidak hilang, justru menjalar dan mengganggu seluruh gerak tubuh:
“Hari demi hari duri itu menjalar,
sakitnya merayap ke seluruh sendi,
langkahku terhuyung, tertahan nyeri,
namun bibirku tetap terkatup sunyi.”
Ketika ibu akhirnya mengetahui luka tersebut, tindakan yang dilakukan bukan khotbah panjang, melainkan mencabut duri dan memeluk. Baru setelah tindakan itu, hadir sebuah kalimat yang menjadi inti refleksi puisi:
“Jika kau biarkan duri bersarang,
ia akan menanam luka lebih dalam.
Tapi jika kau berani menanggung perih sesaat,
kau akan sembuh, dan melangkah tanpa beban.”
Ibu, dengan demikian, bukan hanya sumber kasih, tetapi juga sumber pengetahuan hidup. Rumah menjadi tempat pertama seseorang belajar bahwa luka tidak selalu sembuh dengan disembunyikan; kadang-kadang ia harus dihadapi agar seseorang dapat kembali berjalan.
Jika tiga puisi terakhir dibaca bersama “Kebun Pertama Ibu”, tampak suatu gerak yang cukup jelas. Dalam “Kebun Pertama Ibu”, kehidupan harus digarap; dalam “Gubug Bapak”, kehidupan dijaga; dalam “Daster Ibu Robek Sana-Sini”, kehidupan dirawat meskipun perawatan itu sendiri menuntut pengorbanan; dan dalam “Duri, Aku, dan Ibu”, luka harus berani dihadapi agar perjalanan dapat dilanjutkan. Rumah bukan ruang yang menghapus persoalan, melainkan ruang pertama tempat manusia belajar menghadapinya.
Dari pengalaman menghadapi luka, rumah kemudian berkembang menjadi persoalan penantian dan kepulangan. Dalam “Tamu”, rumah tidak lagi hadir terutama sebagai tempat tinggal, namun sebagai wilayah batin yang memiliki pintu, kunci, dan pemilik. Aku-lirik mengatakan bahwa dia masih kesulitan membuka pintu; persoalannya bahkan tidak jelas apakah kuncinya hilang atau seseorang memang belum waktunya datang. Cinta di sini tidak cukup hanya dengan kedatangan. Jika seseorang hendak tinggal, persoalannya bukan semata-mata apakah pintu dapat dibuka, namun apakah orang tersebut membawa kunci untuk memasuki rumah itu.
Metafora tersebut memperlihatkan perubahan penting dalam dunia puitik Tania. Rumah mulai bergerak dari wilayah keluarga menuju ruang batin. Penantian tidak lagi semata-mata persoalan romantik, tetapi menyentuh kesiapan seseorang untuk menerima kehadiran orang lain di wilayah terdalam dirinya. Rumah menjadi ruang yang memiliki batas; tidak setiap kedatangan otomatis berarti kepulangan.
Hal serupa tampak dalam “Untuk Rumah Lama”, meskipun puisi ini tidak termasuk dalam korpus terbaru yang paling sering dibicarakan. Keinginan untuk “memulangkan diri” kepada rumah lama berhadapan dengan kenyataan bahwa pintu yang dahulu dikenal telah berubah. Rumah itu telah memiliki penghuni baru. Masa lalu tidak dapat dimasuki kembali hanya dengan keinginan. Waktu telah bekerja dan mengubah ruang. Kita dapat kembali secara fisik, tetapi belum tentu menemukan kembali dunia yang pernah kita tinggali.
Dengan demikian, rumah dalam perpuisian Tania bergerak dari ruang domestik menuju pengalaman yang lebih luas tentang kehidupan. Ibu dan bapak, gubug dan daster, duri dan pintu, tidak berhenti sebagai bagian dari kisah keluarga. Semuanya menjadi cara untuk memahami bagaimana manusia belajar mencintai, kehilangan, merawat, terluka, menunggu, dan melanjutkan perjalanan. Yang semula tampak sebagai pengalaman domestik perlahan memperoleh daya simbolik yang lebih luas.
Pada gerak inilah kebun menjadi penting. Kebun mula-mula hadir sebagai ruang ibu, tempat cita-cita dan kehidupan keluarga digarap. Namun dari kebun itu kemudian muncul tanah, benih, akar, musim, matahari, bunga, dan berbagai unsur alam yang semakin dominan dalam perpuisian Tania. Alam bukan dunia yang tiba-tiba datang dari luar pengalaman rumah. Alam justru tumbuh dari pengalaman domestik itu sendiri. Kebun menjadi semacam ambang yang menghubungkan rumah dengan dunia yang lebih luas.
Karena itu, kekuatan penting perpuisian Tania terletak pada kemampuannya mengangkat pengalaman domestik tanpa menjadikannya sekadar catatan keluarga. Ibu, bapak, daster, gubug, duri, pintu, kunci, dan rumah berubah menjadi perangkat simbolik untuk berbicara tentang kehidupan. Dari pengalaman yang paling dekat itu, penyair menemukan bentuk-bentuk yang memungkinkan pengalaman pribadi dibaca sebagai pengalaman manusia pada umumnya.
Dari rumah inilah poetika pertumbuhan Tania memperoleh tanah pertamanya. Bukan tanah yang telah siap ditanami, melainkan kebun yang masih penuh ilalang, tempat kehidupan harus dirawat sedikit demi sedikit. Dari kebun itulah bahasa puitiknya bergerak keluar: menuju tanah, musim, benih, akar, bunga, dan alam sebagai ruang pertumbuhan yang lebih luas. Rumah, dengan demikian, bukan akhir perjalanan, melainkan tempat pertama dari mana perjalanan itu dimulai.
- Alam sebagai Bahasa Jiwa
Jika rumah menjadi tempat pertama pengalaman dibentuk, alam menjadi bahasa yang dipakai Tania Rahayu untuk memahami pengalaman itu lebih jauh. Dalam sejumlah puisinya, tanah, kebun, benih, musim, matahari, bunga, lumpur, daun, dan cahaya tidak hadir sekadar sebagai pemandangan. Unsur-unsur tersebut bekerja di dalam kesadaran puitik: pengalaman manusia diterjemahkan menjadi sesuatu yang dapat dilihat, disentuh, ditumbuhkan, layu, gugur, atau kembali bersemi. Alam menjadi ruang tempat pengalaman batin memperoleh bentuk konkret.
Pandangan semacam ini menemukan pijakan dalam pemikiran Gaston Bachelard. Dalam The Poetics of Space, Bachelard menunjukkan bahwa ruang yang dialami manusia tidak berhenti pada bentuk fisiknya. Rumah, sudut, ruang, dan benda-benda yang dekat dengan kehidupan dapat menjadi tempat imajinasi menyimpan pengalaman, ingatan, perlindungan, dan kehidupan batin. Dalam Earth and Reveries of Repose (2011), perhatian Bachelard bergerak lebih jauh kepada unsur bumi dan cara imajinasi manusia berhubungan dengannya. Tanah tidak semata-mata menjadi benda material, tetapi dapat memasuki wilayah rêverie, ingatan, dan pengalaman batin. Karena itu, ketika tanah, kebun, benih, atau bunga muncul dalam puisi Tania, kekonkretan alam justru menjadi bahan yang memungkinkan pengalaman batin memperoleh bentuk puitik.
Pembacaan ini berdekatan pula dengan perkembangan ekokritik modern. Cheryll Glotfelty dalam The Ecocriticism Reader (1996) menempatkan hubungan antara sastra dan lingkungan fisik sebagai salah satu pusat perhatian ekokritik. Dalam kerangka tersebut, alam tidak hanya dilihat dari bagaimana ia direpresentasikan dalam karya sastra, tetapi juga dari bagaimana bahasa, tempat, dan metafora tentang alam membentuk cara manusia memahami hubungannya dengan dunia nonmanusia. Perspektif ini relevan bagi puisi Tania karena perubahan alam di dalamnya berkali-kali menjadi cara untuk membaca perubahan manusia.
Kecenderungan tersebut tampak kuat dalam “Musim Bertumbuh”. Puisi ini sejak awal menolak anggapan bahwa pertumbuhan berlangsung dengan mudah. “Musim bertumbuh tidak datang tiba-tiba” menjadi semacam premis puitik yang dikembangkan melalui hujan, matahari, tanah yang dibajak, benih yang pecah, akar yang menjalar, hama, gulma, dan tunas yang mengejar cahaya. Pertumbuhan tidak digambarkan sebagai keadaan yang langsung indah. Pertumbuhan justru dimulai dari sesuatu yang menyakitkan: hujan yang “dingin mengguyur dada”, matahari yang “membakar tanpa iba”, dan tanah yang harus “dibajak hancur”.
Membajak tanah berarti membuka kemungkinan baru dengan terlebih dahulu mengganggu keadaan lama. Benih harus pecah sebelum menjadi tunas. Akar harus menembus tanah dan batu sebelum menemukan air. Tunas harus berhadapan dengan hama dan gulma sebelum mencapai cahaya. Rangkaian tersebut membuat pertumbuhan dalam puisi Tania tidak identik dengan kemajuan yang lurus. Ada kehancuran, ketahanan, penantian, bahkan ancaman kematian di dalamnya. Menjadi manusia, karena itu, berarti bersedia melalui proses yang tidak selalu nyaman.
Yang menarik, Tania tidak menggunakan bahasa alam untuk menghilangkan luka. Luka justru dipertahankan sebagai bagian dari proses menjadi. “Benih jiwa pecah” merupakan salah satu gambaran penting dalam hal ini. Kata “pecah” membawa paradoks: ia menunjuk pada kerusakan sekaligus kelahiran. Benih yang tetap utuh tidak akan tumbuh menjadi tanaman. Alam dengan demikian menyediakan logika simbolik bagi kehidupan: sesuatu yang tampak sebagai kehancuran dari satu sudut pandang dapat menjadi awal kehidupan dari sudut pandang yang lain.
Gerak pemaknaan semacam ini sejalan dengan pemahaman Paul Ricoeur dalam The Rule of Metaphor (1977) bahwa metafora bukan sekadar hiasan bahasa atau penggantian sebuah nama dengan nama lain. Metafora memungkinkan lahirnya makna baru melalui pertemuan antara dua wilayah pengalaman yang sebelumnya tampak berjauhan. Dalam puisi, sesuatu yang konkret dapat membuka pemahaman terhadap sesuatu yang tidak mudah dikatakan secara langsung. Karena itu, ketika “benih”, “akar”, atau “cahaya” dipakai Tania untuk berbicara tentang kehidupan manusia, benda-benda tersebut tidak kehilangan sifat konkretnya. Justru dari kekonkretan itulah kemungkinan makna lain terbuka.
Logika tersebut berlanjut dalam “Kebun Pertama Ibu”. Jika pada “Musim Bertumbuh” tanah menjadi tempat benih menghadapi proses kelahirannya, dalam puisi tentang ibu itu kebun menjadi metafora perjalanan hidup seorang perempuan. “Kebun pertama” pada mulanya bukan taman yang tertata, melainkan “hutan yang rimbun oleh rahasia”. Rumput, ilalang, reranting, dan dedaunan menutupi jalan yang harus dilalui. Ibu masuk ke dalam kehidupan tanpa peta yang lengkap. Belum mengetahui bagaimana menanam, merawat, dan memanen, tetapi ibu tetap harus bergerak.
Di sini alam menjadi cara untuk membaca pengalaman generasional dan pengalaman seorang ibu. Kebun adalah kehidupan yang harus dikerjakan. Ada pekerjaan meranggas, membersihkan, menanam, menunggu, dan merawat. Karena itu, ketika Tania menulis bahwa ibunya “mengubah panggung dan buku, cita-citanya / dari masa lalu, / menjadi anugerah musim panen”, kebun telah bergerak dari benda konkret menjadi arsip perjalanan hidup. Apa yang hilang dari masa lalu tidak sepenuhnya lenyap; pengalaman itu mengalami perubahan bentuk menjadi sesuatu yang dapat dipanen pada masa berikutnya.
Hubungan antara kebun, pertumbuhan, dan waktu kemudian menemukan penyangga simboliknya dalam “Matahari”. Matahari di dalam korpus Tania bukan sekadar benda langit. Ia menjadi kekuatan yang memungkinkan proses pertumbuhan memiliki arah. Manusia dapat merencanakan dan mengusahakan banyak hal, tetapi pertumbuhan pada akhirnya membutuhkan sesuatu yang berada di luar kuasa dirinya. Matahari mulai menggeser bahasa pertumbuhan dari kerja menuju orientasi: kehidupan bukan hanya membutuhkan tanah untuk berakar, tetapi juga sesuatu yang membuatnya bergerak menuju suatu arah.
Dari sini simbol cahaya dalam perpuisian Tania mulai memperlihatkan kesinambungannya. Dalam “Musim Bertumbuh”, tunas bergerak mengejar cahaya. Dalam “Cah Ya Rahayu”, cahaya memperoleh daya penuntun yang lebih jelas:
“Maka Cahaya
Demi Cahaya
Akan menuntunmu
dengan kilauan yang menyorot
Kepada jalan tujuan,
bayangan yang menakutkan,
lara yang ditinggalkan
Permata jati
yang hilang dari diri”
Cahaya di sini tidak lagi berhenti sebagai gejala alam. Cahaya telah memasuki wilayah kesadaran. Yang dicari bukan hanya terang di luar diri, tetapi “Permata jati / yang hilang dari diri”. Pergerakan simbol tersebut memperlihatkan bagaimana Tania mengembangkan satu unsur alam menjadi pengalaman batin tanpa sepenuhnya melepaskan bentuk konkretnya.
Perluasan makna cahaya semakin tampak dalam “Temukanlah Terang”. Di sana cahaya menjadi jalan untuk melihat kedalaman manusia, kasih, doa, rahmat, pengampunan, dan keikhlasan. Simbol tersebut mengalami perkembangan: mula-mula hadir sebagai unsur alam, kemudian menjadi daya pertumbuhan, lalu bergerak menuju kesadaran dan orientasi batin. Cahaya tidak berhenti pada satu arti; maknanya bertambah seiring dengan pengalaman puitik yang mengitarinya.
Perluasan itu membuat “Bunga Lotus” menjadi salah satu puisi penting dalam membaca poetika pertumbuhan Tania. Lotus lahir dari tempat yang secara estetis kurang menjanjikan: lumpur, lumut, rawa, dan semak belukar. Bunga tersebut bahkan mempertanyakan alasan kelahirannya sendiri. Pertanyaan “mengapa ia dilahirkan” bukan hanya keluhan bunga terhadap habitatnya. Di dalamnya terdapat pengalaman manusia yang merasa salah tempat, tidak cukup indah dibandingkan yang lain, dan tidak menemukan lagi tempat asal yang dapat menerimanya.
Perjalanan lotus bergerak melalui tiga ruang: rawa, ruang tamu, dan rumah kaca. Ketiganya dapat dibaca sebagai tiga bentuk persoalan tentang tempat dan identitas. Rawa adalah asalnya, tetapi dianggap kotor dan menakutkan. Ruang tamu tampak lebih terhormat, tetapi lotus justru sekarat karena lingkungan itu bukan tempat hidupnya. Rumah kaca menawarkan keindahan yang lebih teratur, tetapi di sana lotus merasa kalah dibandingkan bunga-bunga lain yang “lebih cantik” dan “lebih kaya akan aroma”. Setelah mengalami perpindahan itu, lotus meminta kembali ke rawa. Namun, ketika kembali, tempat asalnya telah berubah menjadi tanah kering.
Di sini metafora alam Tania menjadi lebih kompleks. Masalahnya bukan lagi sekadar bagaimana seseorang bertumbuh, tetapi bagaimana seseorang menemukan tempat bagi dirinya di tengah perubahan. Tempat asal ternyata dapat hilang. Kepulangan tidak selalu berarti menemukan kembali keadaan yang dahulu ditinggalkan. Karena itu, perjalanan lotus bergerak dari persoalan tempat menuju persoalan keberadaan.
Jawaban Tuhan di bagian akhir puisi menggeser pusat persoalan tersebut. Lotus tidak diberi kembali rawa yang ideal. Lotus justru diajak menerima seluruh kemungkinan hidupnya:
“Tidak lain dan tidak bukan
untuk mensyukuri apa yang kau miliki
dan untuk terus meyakini
kuncup, mekar, hidup, membelukar
atau mati, sekarat, hidup sendiri
ada Aku di sini
yang takkan pernah beranjak pergi”
Dengan demikian, pengalaman ekologis dan eksistensial bergerak menuju spiritualitas. Lumpur, rawa, dan tanah kering tidak lagi hanya menunjuk pada keadaan luar, tetapi menjadi bagian dari perjalanan mencari makna yang tidak sepenuhnya bergantung pada keadaan tersebut.
Namun, justru di sini terlihat pula salah satu tantangan estetik puisi Tania. Pada bagian akhir “Bunga Lotus”, simbol yang sebelumnya dibiarkan berkembang melalui perjalanan naratif akhirnya dijelaskan cukup langsung sebagai syukur dan keyakinan kepada Tuhan. Secara komunikatif, cara ini membuat puisi mudah diterima. Namun, secara puitik, sebagian misteri simbol dapat berkurang karena tafsirnya telah diberikan kepada pembaca. Padahal perjalanan lotus dari rawa menuju ruang tamu, rumah kaca, lalu kembali ke tanah yang telah kehilangan bentuk asalnya sebenarnya sudah cukup kuat untuk membuka kemungkinan makna spiritual tanpa harus segera menutupnya.
Catatan ini penting karena salah satu kekuatan poetika Tania justru muncul ketika dia mempercayakan makna kepada benda dan peristiwa sebelum menyimpulkannya. Semakin lama sebuah simbol dibiarkan berkembang di dalam ketegangan, semakin luas kemungkinan tafsirnya. Dalam “Musim Bertumbuh”, misalnya, pembaca tidak segera diberi definisi tentang apa yang dimaksud dengan pertumbuhan. Pembaca memahaminya melalui tanah yang dibajak, benih yang pecah, akar yang menembus batu, dan tunas yang mengejar cahaya. Alam hadir terlebih dahulu; makna menyusul kemudian. Cara semacam ini merupakan salah satu kemungkinan penting bagi perkembangan kepenyairan Tania.
Kecenderungan ekologis yang lebih eksplisit terlihat dalam “Alamku”. Di sana alam bahkan diberi suara. Gedung-gedung menjulang “menginjak akar rimba”, api membakar padang, sementara gunung, laut, dan lembah menerima “warisan luka” berupa plastik dan botol bekas. Namun, kritik terhadap kerusakan alam tidak berhenti pada kecaman. Alam akhirnya berkata:
“Sudahlah –
Cinta memang sering
tak dihargai sejak mula.
Tapi waktu akan ajarkan mereka:
Akulah rumah
yang paling setia”
“Akulah rumah / yang paling setia” memperluas persoalan ekologis menjadi persoalan keberadaan. Alam bukan sesuatu yang sepenuhnya berada di luar manusia. Alam merupakan ruang kehidupan yang menopang manusia sekaligus menerima akibat dari tindakannya. Dalam kerangka ekokritik, hubungan semacam ini penting karena alam dipahami bukan sekadar sebagai objek representasi, tetapi sebagai bagian dari kondisi kehidupan yang membentuk manusia dan kebudayaannya.
Dari sini, jaringan alam Tania bergerak melampaui pengalaman individual menuju pengalaman kebudayaan. Dalam “Cahaya Dari Tanah Perdikan”, tanah tidak hanya menjadi tempat tumbuhnya tanaman, tetapi juga tempat adab dan iman ditanam:
“Dari tanah-tanah Perdikan
Petani-petani gunung
Menanam adab nan
Peradaban”
Tanah dalam puisi ini sekaligus menjadi ruang pertanian, ruang sosial, dan ruang spiritual. Iman “ditanam di ladang”, sementara makam, masjid, jalan, petani, kiai, dan adipati berada dalam satu lanskap yang mempertemukan alam dengan sejarah kebudayaan. Tanah dengan demikian memperoleh lapisan makna yang lebih luas: bukan hanya tempat asal kehidupan biologis, tetapi juga tempat manusia menanam nilai dan membangun peradaban.
Kecenderungan tersebut menemukan pengayaan lain dalam “Kepada Nyai Rubiah Sekar”. Alam menjadi medium komunikasi antara masa lalu dan masa kini. Batu-batu berlumut, pepohonan, akar, hutan, dan dedaunan tidak hanya membangun suasana tempat, tetapi menjadi bagian dari ingatan spiritual. Bahkan, suara Nyai Rubiah Sekar hadir melalui dedaunan. Alam dalam puisi ini tidak diam; alam menjadi medium yang menghubungkan manusia dengan ingatan, tradisi, iman, dan kesadaran tentang tanah.
Jika seluruh puisi tersebut dibaca dalam satu jaringan, tampak perkembangan simbol yang tidak sederhana: tanah membuka kemungkinan, benih menyimpan pertumbuhan, akar menghadapi hambatan, tunas mencari arah, bunga memperlihatkan hasil sekaligus kefanaan, sementara cahaya mulai memberi orientasi. Gerak itu tidak sepenuhnya linear. Di antara satu tahap dan tahap berikutnya selalu ada luka, kehilangan, ketidakpastian, dan kemungkinan gagal. Justru ketegangan tersebut membuat alam mampu membawa pengalaman manusia ke wilayah yang lebih dalam.
Pada tahap ini, poetika pertumbuhan Tania mulai menemukan bentuknya. Pertumbuhan bukan sekadar menjadi lebih besar, lebih kuat, atau lebih berhasil. Pertumbuhan merupakan kemampuan untuk tetap berakar ketika tanah berubah, tetap mencari arah ketika jalan belum jelas, dan tetap menerima proses ketika benih harus pecah. Alam menjadi guru yang tidak berbicara dengan konsep-konsep, tetapi dengan perubahan bentuk.
Karena itu, kekuatan puisi-puisi alam Tania terletak pada kemampuannya menghubungkan yang sederhana dengan yang mendalam. Tanah tetap tanah, kebun tetap kebun, lotus tetap bunga, dan matahari tetap matahari. Namun, melalui pengalaman puitik, benda-benda tersebut memperoleh kehidupan kedua sebagai bahasa untuk memahami manusia. Di situlah alam menjadi bahasa jiwa: pengalaman manusia menemukan pantulannya dalam siklus alam, sementara alam memperoleh kedalaman baru ketika dibaca melalui pengalaman manusia.
Dari tanah, puisi Tania belajar tentang asal; dari benih, tentang kemungkinan; dari luka, tentang harga pertumbuhan; dari akar, tentang ketekunan; dan dari tunas yang mengejar cahaya, tentang arah yang belum sepenuhnya terjangkau. Pada tahap inilah cahaya mulai tampil bukan lagi sekadar salah satu unsur alam, tetapi sebagai horison yang mengundang pengalaman puitik bergerak lebih jauh. Alam telah membuka jalan; cahaya mulai menunjukkan ke mana jalan itu mengarah.
- Cahaya sebagai Horison Makna
Jika tanah, kebun, benih, dan musim dalam puisi-puisi Tania Rahayu menjadi bahasa untuk memahami proses pertumbuhan, cahaya merupakan salah satu titik yang mempertemukan perjalanan itu. Cahaya muncul setelah manusia mengalami gelap, luka, kehilangan, keraguan, dan kesunyian. Cahaya bukan sekadar lawan kegelapan atau hiasan religius yang ditempelkan pada puisi. Dalam perpuisian Tania, cahaya perlahan memperoleh kedudukan sebagai horison: sesuatu yang mengarahkan perjalanan batin, meskipun tidak selalu selesai dicapai.
Kecenderungan tersebut tampak paling jelas dalam “Temukanlah Terang”. Puisi ini dimulai dari pasangan yang sangat sederhana: “Hitam adalah hitam / Putih adalah putih”. Pada mulanya, dunia tampak terbagi secara tegas. Namun, segera setelah itu, Tania memasukkan persoalan bayangan: “Jika Putih mencerminkan bayang hitam”. Batas yang semula tegas mulai menjadi tidak sederhana. Putih dapat membawa bayangan hitam; sesuatu yang tampak terang ternyata tidak sepenuhnya bebas dari gelap.
Gerak kecil tersebut penting bagi keseluruhan bangunan puisi. Tania tidak berhenti pada pertentangan hitam dan putih. Melalui pertanyaan tersebut, pembaca diajak bergerak lebih dalam: “Maka temukanlah / Terang lubuk hati / untuk melihat mereka lebih dalam”. Cahaya dengan demikian bukan terutama sesuatu yang berada di luar manusia. Cahaya menjadi kemampuan untuk melihat melampaui permukaan.
Pertanyaan berikutnya mempertegas pergeseran tersebut: “Hitamkah kau? / Putihkah aku?” Pertanyaan itu tidak memperoleh jawaban dalam bentuk penetapan siapa yang benar dan siapa yang salah. Sebaliknya, penyair mengatakan bahwa “Sejatinya kau aku adalah rahasia / yang hanya tampak / lewat Cahaya”. Manusia tidak dapat dipahami sepenuhnya melalui kategori lahiriah. Ada rahasia di dalam diri yang baru tersentuh ketika seseorang mampu melihat dengan kedalaman tertentu.
Di sinilah orientasi spiritual Tania memperoleh bentuk yang cukup khas. Tania tidak memulai spiritualitasnya dari istilah teologis yang abstrak, tetapi dari persoalan relasional: aku dan kau, hitam dan putih, melihat dan tidak melihat, tampak dan tersembunyi. Cahaya hadir sebagai kemampuan untuk menembus permukaan. Karena itu, ketika puisi berlanjut kepada “Terang kasih dan doa / Untuk merasakan cinta / dan rahmat yang menyelimuti segala”, bahasa religius tersebut tidak muncul tiba-tiba. Ungkapan tersebut berkembang dari persoalan sebelumnya: bagaimana manusia melihat manusia lain dengan lebih dalam.
Pada bagian akhir, Tania menulis:
“Temukanlah terang
Pada diam
Pada terang
Pada pengampunan
dan keikhlasan”
Susunan tersebut memperluas pengertian cahaya. Cahaya tidak hanya ditemukan pada sesuatu yang secara lahiriah bercahaya, tetapi juga dalam diam, pengampunan, dan keikhlasan (keadaan-keadaan yang tidak selalu tampak terang dalam pengertian fisik). Cahaya telah berubah menjadi kualitas batin, menjadi cara manusia berada di dalam kehidupan.
Dengan begitu, “Temukanlah Terang” menjadi salah satu simpul penting dalam poetika Tania. Jika “Musim Bertumbuh” memperlihatkan gerak kehidupan dari tanah menuju cahaya, puisi ini memperlihatkan apa yang terjadi ketika cahaya menjadi kesadaran: manusia belajar melihat. Kemampuan melihat tersebut kemudian berhubungan dengan kasih, doa, pengampunan, dan keikhlasan.
Orientasi semacam ini memiliki resonansi dengan tradisi puisi Indonesia yang menjadikan benda konkret sebagai jalan menuju pengalaman batin. Perbandingan secara terbatas dengan Sapardi Djoko Damono, Abdul Hadi W.M., dan Kuntowijoyo membantu memperjelas posisi estetik Tania, terutama dalam hal bagaimana benda dan pengalaman konkret dibiarkan membuka makna yang lebih dalam.
Dalam “Aku Ingin” (Hujan Bulan Juni, cetakan 2015), Sapardi Djoko Damono memperlihatkan bagaimana pengalaman cinta dapat dibangun melalui bahasa yang sangat sederhana:
“Aku ingin mencintaimu dengan sederhana,
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu.”
Kemudian cinta kembali hadir melalui hubungan antara awan dan hujan:
“Aku ingin mencintaimu dengan sederhana,
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.”
Yang penting dari puisi tersebut bukan hanya kesederhanaan diksi, tetapi cara Sapardi membiarkan hubungan antarbenda melahirkan makna. Kayu, api, awan, dan hujan tidak dijelaskan sebagai lambang. Hubungan mereka justru membuka ruang bagi pembaca untuk mengalami cinta sebagai sesuatu yang sederhana, intim, dan sekaligus tak sepenuhnya terucapkan. Makna lahir terutama dari sugesti.
Pada Tania, terutama dalam “Temukanlah Terang”, kecenderungan menuju makna yang lebih eksplisit tampak lebih kuat. Simbol cahaya tidak berhenti pada sugesti, tetapi diarahkan kepada “kasih dan doa”, “cinta”, “rahmat”, “pengampunan”, dan “keikhlasan”. Jika Sapardi cenderung membiarkan makna tinggal dalam kesenyapan metafora, Tania lebih berani membawa pembaca menuju horison nilai yang jelas. Perbedaan ini menunjukkan orientasi estetik yang berbeda: Sapardi mengandalkan sugesti dan ketakterucapan, sementara Tania cenderung menghubungkan simbol dengan kesadaran nilai secara lebih terbuka.
Akan tetapi, Tania mempunyai kekuatan justru karena dia tidak sepenuhnya meninggalkan pengalaman konkret ketika memasuki wilayah spiritual. Cahaya dalam “Temukanlah Terang” masih berhubungan dengan dunia yang sebelumnya dibangunnya melalui tanah, kebun, matahari, bunga, dan pengalaman manusia sehari-hari. Spiritualitasnya tumbuh dari pengalaman konkret, bukan hadir sebagai lapisan yang ditempelkan dari luar.
Hal itu dapat dibandingkan dengan Abdul Hadi W.M., terutama melalui “Tuhan, Kita Begitu Dekat” (Cetakan, 2012). Puisi tersebut membangun pengalaman kedekatan dengan Tuhan melalui perumpamaan yang sangat konkret:
“Tuhan,
Kita begitu dekat
Sebagai api dengan panas
Aku panas dalam apimu”
Hubungan itu kemudian berpindah kepada kain dan kapas, angin dan arahnya, sebelum mencapai pengalaman cahaya:
“Dalam gelap
kini aku nyala
dalam lampu padammu.”
Di sini cahaya bukan sekadar benda yang menerangi ruang gelap. cahaya merupakan keadaan batin yang lahir dari kedekatan dengan Tuhan. Yang menarik, Abdul Hadi tidak menjelaskan panjang apa arti pengalaman tersebut. Metafora melakukan pekerjaannya sendiri. Kedekatan spiritual dirasakan melalui hubungan api dan panas, kain dan kapas, angin dan arahnya, kemudian mengendap dalam pengalaman “nyala” di dalam “lampu padammu”.
Tania memiliki kedekatan dengan kecenderungan tersebut dalam hal menjadikan cahaya sebagai bahasa pengalaman spiritual. Namun, arah geraknya berbeda. Pada Abdul Hadi, cahaya terutama mengungkap pengalaman kedekatan antara aku dan Tuhan. Pada Tania, cahaya mula-mula digunakan untuk melihat manusia dan kehidupan secara lebih dalam: “Hitamkah kau? / Putihkah aku?” Baru kemudian cahaya mengarah kepada kasih, doa, rahmat, pengampunan, dan keikhlasan. Spiritualitas Tania dengan demikian bergerak dari relasi antarmanusia menuju kesadaran religius.
Perbedaan itu memperlihatkan bahwa Tania tidak membangun spiritualitas dalam ruang yang sepenuhnya terpisah dari kehidupan sehari-hari. Persoalan manusia, keluarga, luka, cinta, dan kehilangan tetap menjadi pintu masuk. Bahkan, dalam “Kepada Nyai Rubiah Sekar”, pertanyaan tentang wali dan masa lalu akhirnya dikembalikan kepada kedalaman hati sendiri:
“Kau berkelindan tanya
Sedang kedalaman hatimu
Sering kau lupa”
Yang dicari ternyata bukan semata-mata berada di luar diri, pada tokoh masa lalu atau tempat tertentu, tetapi harus ditemukan dalam kedalaman kehidupan sendiri. Cahaya, dengan demikian, lebih dahulu hadir sebagai pengalaman kesadaran sebelum tampil sebagai simbol religius.
Dari arah yang berbeda, puisi Tania juga dapat ditempatkan secara dialogis dengan Kuntowijoyo. Dalam “Isyarat” (cetakan 1976), dunia konkret (angin, hutan, ranting, mobil, jalan, dan lampu merah) menjadi medan bagi pertanyaan eksistensial. Puisi ini berakhir dengan pertanyaan:
“Angin, mobil dan para pejalan
Pikirkanlah, ke mana engkau pergi.”
Kuntowijoyo tidak memberikan jawaban atas pertanyaan tersebut. Benda-benda sehari-hari dibiarkan menjadi isyarat yang mengembalikan manusia kepada pertanyaan tentang arah hidupnya sendiri. Dunia tidak diterangkan; dunia mengajak pembaca berpikir.
Kecenderungan tersebut menjadi lebih religius dalam “Kota” karya Kuntowijoyo. Di tengah kota yang padam, angin, lorong, jelaga, dan kekosongan, muncul permohonan:
“Tuhan
nyalakanlah neon-neon itu”
Di sini cahaya hadir sebagai sesuatu yang dimohonkan ketika dunia mengalami kekosongan. Cahaya menjadi kebutuhan eksistensial sekaligus spiritual.
Tania memiliki kedekatan dengan Kuntowijoyo dalam cara menghubungkan benda sehari-hari dengan pertanyaan tentang arah hidup. Namun, jika Kuntowijoyo sering meninggalkan pembaca dalam ruang kontemplasi dan isyarat, Tania lebih sering bergerak menuju afirmasi. Pada Kuntowijoyo, pertanyaan “ke mana engkau pergi” dibiarkan terbuka sebagai kegelisahan. Pada Tania, pencarian perlahan diarahkan menuju cahaya, doa, pengampunan, keikhlasan, dan syukur.
Perbandingan dengan ketiga penyair tersebut memperlihatkan posisi Tania secara lebih jelas. Kepenyairan Tania berada dalam tradisi puisi yang menjadikan pengalaman konkret sebagai pintu menuju pengalaman batin, tetapi mengembangkan kecenderungan yang relatif lebih afirmatif. Sapardi menguatkan sugesti dan ruang tak terucapkan; Abdul Hadi memperdalam metafora kedekatan spiritual; Kuntowijoyo menjadikan benda dan peristiwa sebagai isyarat kontemplatif. Tania cenderung membawa simbol menuju kesadaran nilai yang lebih terang. Cahaya dalam puisinya tidak sekadar menyiratkan makna; cahaya perlahan menjadi arah perjalanan.
Namun, kecenderungan tersebut sekaligus menghadirkan tantangan estetik yang penting. Ketika simbol terlalu cepat diarahkan kepada kesimpulan spiritual, ruang ambiguitas puisi dapat menyempit. Puisi menjadi lebih mudah dipahami, tetapi kemungkinan pengalaman pembaca terhadap misteri simbol dapat berkurang. Karena itu, kekuatan Tania ke depan bukan terutama pada semakin banyaknya pesan spiritual yang dapat dinyatakan, melainkan pada kemampuannya membuat pengalaman spiritual semakin terasa melalui benda, suasana, tindakan, dan peristiwa.
Hal tersebut kembali tampak dalam “Cah Ya Rahayu”. Cahaya hadir setelah serangkaian pengalaman yang sangat konkret dan personal: “pakaian duri / yang kau sulam sendiri”, “lentera / hati yang kau tiup berhenti / menerangi”, “lapar / yang tak cukup kenyang / oleh kecupan dan nasi”, serta “waktu / yang kau pikir akan panjang sekali”. Baru setelah pengalaman-pengalaman itu dilalui, cahaya hadir sebagai penuntun:
“Maka Cahaya
Demi Cahaya
Akan menuntunmu
dengan kilauan yang menyorot
Kepada jalan tujuan,
bayangan yang menakutkan,
lara yang ditinggalkan
Permata jati
yang hilang dari diri”
Cahaya tidak menyelesaikan perjalanan dengan menghapus masa lalu. Cahaya menerangi jalan agar seseorang mampu melihat kembali sesuatu yang hilang di dalam dirinya. Dengan begitu, cahaya bukan jalan pintas keluar dari pengalaman, tetapi kemampuan untuk membaca kembali pengalaman tersebut.
Hal ini memperlihatkan bahwa simbol cahaya dalam puisi Tania mempunyai hubungan erat dengan jaringan simbol yang telah dibangunnya. Benih mencari cahaya. Tunas mengejar cahaya. Tanaman membutuhkan matahari. Manusia mencari jalan keluar dari luka. Bahkan, dalam “Daster Ibu Robek Sana-Sini”, ibu menjahit robekan dengan “benang cahaya”, sementara hatinya “nyala matahari”. Cahaya bukan simbol yang berdiri sendiri. Cahaya merupakan salah satu simpul yang menghubungkan pengalaman pertumbuhan dengan pengalaman kesadaran.
Hubungan antara pertumbuhan dan cahaya semakin jelas. Pertumbuhan bukan hanya gerak dari benih menuju tunas, tetapi juga gerak kesadaran dari ketidaktahuan menuju kemampuan melihat. Manusia bertumbuh ketika mampu membaca luka, menerima kehilangan, memahami keterbatasan, dan menemukan arah. Cahaya menjadi nama puitik bagi kemampuan tersebut.
Hubungan antara pertumbuhan, sunyi, dan syukur kemudian memperjelas dasar puitik judul esai “Bertumbuh dalam Sunyi, Pulang dalam Syukur”. Sunyi bukan kekosongan; di dalam sunyi berlangsung pencarian. Syukur bukan sekadar ucapan setelah segala persoalan selesai, tetapi kemungkinan untuk menerima kehidupan sebagai proses yang belum selesai. Cahaya berada di antara sunyi dan syukur sebagai orientasi yang membuat perjalanan batin tetap memiliki arah.
Namun, justru karena orientasi spiritual Tania semakin jelas, satu hal perlu dijaga dalam perkembangan kepenyairannya: cahaya jangan selalu datang terlalu cepat sebagai jawaban. Puisi memperoleh kekuatan ketika pembaca sempat tinggal di dalam gelap, merasakan kegelisahan, dan ikut mengalami pencarian sebelum sampai pada terang. Jika makna spiritual segera dinyatakan, tegangan puitik dapat berkurang. Sebaliknya, jika cahaya dibiarkan hadir perlahan melalui benda, peristiwa, dan pengalaman, cahaya akan terasa lebih sebagai penemuan daripada nasihat.
Pada tahap ini, Tania memiliki ruang perkembangan estetik yang terbuka. Kepenyairan Tania telah memiliki jaringan simbol yang cukup konsisten: tanah, kebun, benih, musim, matahari, cahaya, bunga, rumah, dan kepulangan. Tantangan berikutnya adalah memperdalam hubungan antarsimbol tersebut sehingga pembaca tidak hanya memahami apa yang hendak dikatakan penyair, tetapi juga mengalami perjalanan menuju makna itu sendiri.
Cahaya, akhirnya, tidak harus menjadi titik terakhir dalam perpuisian Tania. Cahaya lebih tepat menjadi horison yang membuat perjalanan terus berlangsung. Dari rumah menuju alam, dari luka menuju pertumbuhan, dari pertumbuhan menuju cahaya, Tania membangun jalan puitik yang berangkat dari pengalaman konkret menuju kesadaran yang semakin dalam. Pada tahap berikutnya, yang penting bukan lagi sekadar melihat bagaimana simbol-simbol tersebut menghasilkan makna, melainkan menilai sejauh mana jaringan simbol dan pengalaman itu telah membentuk watak kepenyairan Tania Rahayu serta kemungkinan estetik yang masih terbuka di hadapannya.
- Bertumbuh dalam Sunyi, Pulang dalam Syukur
Pada akhirnya, yang menarik dari perpuisian Tania Rahayu bukan karena dia telah menemukan seluruh jawaban tentang kehidupan, melainkan karena Tania mulai menemukan caranya sendiri untuk mengajukan pertanyaan. Puisinya berangkat dari hal-hal yang dekat: rumah, ibu, keluarga, kebun, tubuh, luka, cinta, musim, bunga, dan kesunyian. Dari kedekatan itu, pengalaman bergerak menuju persoalan yang lebih luas: pertumbuhan, kehilangan, kepulangan, cahaya, dan Tuhan. Benda-benda sehari-hari tidak berhenti sebagai benda, tetapi menjadi jalan bagi pengalaman batin untuk mencari makna.
Dari keseluruhan korpus yang dibaca, pertumbuhan tampak bukan sekadar salah satu tema dalam puisi Tania, melainkan mulai menjadi cara puisinya memandang kehidupan. Yang penting bukan hanya kemunculan tanah, kebun, rumah, musim, bunga, atau cahaya secara berulang, tetapi hubungan antarelemen tersebut. Satu simbol kembali dalam konteks berbeda dan memperoleh tekanan baru. Kebun menjadi pengalaman seorang ibu sekaligus ruang proses menjadi; lotus membawa persoalan pertumbuhan kepada keterasingan dan kehilangan rumah; cahaya bergerak dari unsur alam menuju kemampuan melihat, lalu menuju kesadaran spiritual. Dari hubungan yang terus berkembang itu mulai terbentuk sebuah dunia puitik yang memiliki arah dan ingatan.
Konsistensi tersebut merupakan salah satu kekuatan penting Tania. Banyak penyair muda memiliki citraan atau metafora yang menarik pada masing-masing puisi, tetapi belum tentu memiliki hubungan yang cukup panjang antara satu puisi dan puisi lainnya. Pada Tania, sejumlah simbol justru saling menerangkan dan memperluas. Puisinya mulai bergerak dari karya-karya yang berdiri sendiri menuju sebuah ekologi puitik: jaringan pengalaman dan simbol yang perlahan membentuk cara tertentu dalam memandang kehidupan.
Sumber kekuatan itu terutama berasal dari kedekatannya dengan pengalaman konkret. Tania banyak mengambil bahan dari wilayah domestik: ibu hadir melalui tubuh, kerja, dan pengorbanan; bapak melalui gubug, perlindungan, dan kesadaran akan waktu; anak melalui luka yang disembunyikan; rumah melalui kerinduan dan kemungkinan kehilangan. Pengalaman personal tersebut tidak berhenti sebagai pengakuan biografis karena diolah menjadi simbol yang dapat berbicara lebih luas. Di situlah pengalaman seorang ibu dapat menjadi pengalaman tentang ketahanan, sebuah duri menjadi pengalaman tentang keberanian menghadapi luka, dan sebuah rumah berkembang menjadi pertanyaan tentang kepulangan.
Namun, kedekatan dengan pengalaman sekaligus menghadirkan tantangan estetik. Pada beberapa puisi, setelah metafora membawa pengalaman cukup jauh, Tania masih cenderung memberikan jawaban atau hikmah secara langsung. Ketika hal itu terjadi, pembaca tidak lagi sepenuhnya diajak menemukan makna, tetapi diarahkan menuju kesimpulan yang telah disediakan. Kecenderungan ini terutama tampak pada beberapa puisi yang membawa simbol alam dan cahaya menuju pernyataan spiritual yang eksplisit.
Padahal, Tania sendiri telah menunjukkan kemampuan menyampaikan pengalaman secara lebih subtil. “Bunga Lotus”, misalnya, memperoleh kekuatannya ketika lotus berpindah dari rawa ke ruang tamu, dari ruang tamu ke rumah kaca, lalu kembali mencari rumah yang ternyata telah berubah. Persoalan identitas, keterasingan, dan kepulangan sudah terasa sebelum memperoleh penjelasan. Demikian pula “Musim Bertumbuh”: tanah yang dibajak, benih yang pecah, akar yang menembus batu, hama, gulma, dan tunas yang mengejar cahaya telah cukup untuk membuat pembaca mengalami betapa mahalnya pertumbuhan.
Di sinilah salah satu ruang pertumbuhan estetik Tania berada: memberi kesempatan kepada pengalaman dan simbol dalam puisi untuk membawa pembaca menuju makna sebelum kesimpulan diberikan.
Tidak setiap luka harus segera memperoleh hikmah. Perjalanan tidak selalu harus segera sampai pada jawaban. Cahaya pun tidak harus langsung diterjemahkan menjadi pengampunan, keikhlasan, atau syukur. Ada saat ketika puisi justru menjadi lebih kuat jika pembaca dibiarkan tinggal sejenak dalam ketidakpastian. Makna yang ditemukan sendiri biasanya memiliki daya tinggal lebih panjang daripada makna yang langsung diberikan sebagai kesimpulan.
Hal ini tidak berarti bahwa kecenderungan spiritual Tania perlu dikurangi. Sebaliknya, spiritualitas justru merupakan salah satu arah paling potensial dalam perkembangan puisinya. Yang perlu diperdalam adalah cara mengungkapkannya. Pengalaman religius dapat menjadi lebih puitik ketika hadir melalui benda, tindakan, suasana, ingatan, dan perubahan kecil dalam kehidupan, sebelum kemudian dibaca sebagai pengalaman batin. Cahaya dapat tetap menjadi cahaya sebelum menjadi lambang; tanah dapat tetap menjadi tanah sebelum berbicara tentang jiwa. Dari pengalaman konkret itulah simbol memperoleh kedalaman.
Ruang perkembangan berikutnya terletak pada kompleksitas metafora. Dunia simbol Tania sudah cukup jelas, tetapi beberapa simbol masih cenderung bergerak menuju makna yang relatif tunggal. Ke depan, simbol-simbol tersebut dapat diberi ambivalensi yang lebih besar. Tanah dapat menjadi tempat tumbuh sekaligus tempat terkubur; rumah dapat melindungi sekaligus mengasingkan; cahaya dapat menuntun sekaligus menyilaukan; bunga dapat menghadirkan keindahan sekaligus kefanaan. Kompleksitas semacam itu tidak akan mengurangi spiritualitas puisinya. Justru kehidupan spiritual akan terasa lebih manusiawi karena pengalaman manusia sendiri hampir selalu berada dalam ketegangan.
Di sinilah puisi dapat mempertahankan perbedaannya dari nasihat. Nasihat cenderung menunjukkan jalan yang harus ditempuh; puisi memperlihatkan kerumitan perjalanan. Semakin Tania mampu mempertahankan ketegangan tersebut, semakin besar kemungkinan puisinya meninggalkan pengalaman yang lebih dalam pada pembaca.
Tania juga memiliki modal penting berupa keberanian mengolah pengalaman perempuan dan keluarga tanpa menjadikannya sekadar catatan biografis. “Daster Ibu Robek Sana-Sini” mengubah pakaian sehari-hari menjadi gambaran tentang pengorbanan seorang ibu; “Kebun Pertama Ibu” mengubah pengalaman hidup ibu menjadi metafora kerja dan pertumbuhan. Ketika pengalaman personal berhasil bergerak menjadi pengalaman simbolik, puisi memperoleh kemungkinan untuk melampaui biografi penyairnya sendiri.
Kemungkinan itu tampak pula ketika puisinya mulai membuka diri kepada wilayah sosial, ekologis, dan kebudayaan. “Alamku” memperluas kepedulian dari rumah menuju alam sebagai rumah bersama. “Cahaya Dari Tanah Perdikan” mempertemukan tanah, petani, tradisi, iman, makam, masjid, dan ingatan kebudayaan. “Kepada Nyai Rubiah Sekar” menghubungkan lanskap alam dengan sejarah, tradisi, dan ingatan spiritual. Perluasan semacam ini menunjukkan bahwa dunia puitik Tania tidak harus berhenti pada pengalaman personal. Dunia puitik Tania memiliki kemungkinan berkembang menuju pengalaman yang lebih luas tanpa kehilangan akar awalnya.
Syaratnya, perluasan itu tetap berpijak pada pengalaman konkret. Ketika Tania berbicara tentang tanah, kebun, ibu, gubug, duri, bunga, atau daun, puisinya memiliki tubuh: sesuatu yang dapat disentuh, dilihat, dan dibayangkan. Dari tubuh itulah perenungan memperoleh tenaga. Semakin luas dunia yang hendak dibicarakan, semakin penting menemukan benda, peristiwa, atau pengalaman konkret yang sanggup menanggung gagasan tersebut.
Dengan demikian, perjalanan kepenyairan Tania dapat dibaca sebagai gerak yang belum selesai. Berangkat dari pengalaman dekat, perpuisian Tania masuk ke luka dan pertumbuhan, membuka diri kepada alam dan kebudayaan, lalu bergerak menuju cahaya dan kemungkinan kepulangan. Namun, perjalanan tersebut tidak perlu dipahami sebagai garis lurus. Ada rumah yang hilang, kepulangan yang tidak menemukan tempat semula, musim yang tidak dapat dipastikan, dan bunga yang kehilangan rawa. Justru ketidaksempurnaan itulah yang memberi ruang bagi poetika pertumbuhan untuk terus hidup.
Dalam pengertian ini, “Bertumbuh dalam Sunyi, Pulang dalam Syukur” bukan sekadar judul bagi perjalanan pembacaan ini. Judul tersebut merupakan rumusan sementara bagi sebuah kepenyairan yang masih bergerak. “Bertumbuh” menunjuk pada proses yang belum selesai; “sunyi” menjadi ruang tempat pengalaman itu diolah; “pulang” menyimpan kerinduan kepada asal yang tidak selalu dapat ditemukan kembali dalam bentuk semula; sedangkan “syukur” bukan tanda bahwa seluruh persoalan telah selesai, melainkan kemungkinan untuk menerima perjalanan tanpa harus meniadakan luka dan kehilangan yang menyertainya.
Tania belum merupakan penyair yang selesai. Justru di situlah arti penting kepenyairannya sekarang. Tania telah memiliki pengalaman yang dekat dengan kehidupan, jaringan simbol yang mulai konsisten, kecenderungan spiritual yang semakin jelas, serta keberanian mengubah pengalaman domestik menjadi pengalaman estetik. Yang sedang dibangun Tania bukan sekadar puisi tentang ibu, alam, cinta, atau Tuhan, tetapi sebuah cara memandang kehidupan: manusia tumbuh melalui pengalaman, belajar melalui kehilangan, mencari arah dalam kesunyian, dan perlahan memahami bahwa kepulangan tidak selalu berarti kembali ke tempat semula.
Yang masih terbuka bagi Tania adalah memperpanjang tegangan puitik, memperkaya ambivalensi simbol, memperdalam kompleksitas metafora, dan semakin mempercayakan makna kepada pengalaman yang telah diciptakannya sendiri. Jika langkah tersebut dilakukan, spiritualitas dalam puisi Tania tidak perlu banyak dinyatakan; spiritualitas justru dapat lebih dalam dirasakan.
Fondasinya telah ada. Dunia puitiknya mulai terbentuk. Kepenyairan Tania masih memiliki ruang untuk menemukan bentuk-bentuk baru.
Pada akhirnya, pulang bukanlah kembali ke tempat yang pernah ditinggalkan, melainkan menemukan bahwa setelah perjalanan yang panjang, sunyi pun dapat menjadi tanah tempat syukur bersemi. ***
Daftar Pustaka
Bachelard, Gaston. 1964. The Poetics of Space. Translated by Maria Jolas. New York: Orion Press.
Bachelard, Gaston. 2011. Earth and Reveries of Repose: An Essay on Images of Interiority. Translated by Mary McAllester Jones. Dallas: Dallas Institute Publications.
Damono, Sapardi Djoko. 2015. Hujan Bulan Juni. Cet. VI. Jakarta: Gramedia.
Glotfelty, Cheryll. 1996. “Introduction: Literary Studies in an Age of Environmental Crisis.” Dalam Cheryll Glotfelty dan Harold Fromm (eds.), The Ecocriticism Reader: Landmarks in Literary Ecology. Athens: University of Georgia Press.
Hadi W.M., Abdul. 2012. Tuhan, Kita Begitu Dekat. Jakarta: Komodo Books.
Kuntowijoyo. 1976. Isyarat. Jakarta: Pustaka Jaya.
Rahayu, Tania. 2026. “Puisi-Puisi Tania Rahayu.” Borobudur Writers & Cultural Festival, 7 Mei 2026 dan 8 Juli 2026:
https://borobudurwriters.id/sajak-sajak/puisi-puisi-oleh-tania-rahayu/
https://borobudurwriters.id/sajak-sajak/puisi-puisi-tania-rahayu/
Ricoeur, Paul. 1977. The Rule of Metaphor: Multi-disciplinary Studies of the Creation of Meaning in Language. Translated by Robert Czerny with Kathleen McLaughlin and John Costello, SJ. Toronto: University of Toronto Press.
*Abdul Wachid B.S. adalah penyair, Guru Besar Pendidikan Bahasa & Sastra Indonesia, dan Ketua Lembaga Kajian Nusantara Raya (LK Nura) di UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto.




