Nasirun
Oleh: Syakieb Sungkar*
Dalam 2 hari belakangan, teman-teman di media sosial memenuhi lamannya dengan foto-foto bersama Nasirun. Seniman ini memang fotogenik, rambutnya yang keriting gimbal dengan jenggot yang dikepang, dan postur tinggi, sangat Instagramable. Rumahnya terbuka lebar bagi siapa saja, dihiasi banyak dekor yang didesign oleh dirinya sendiri, menjadi menarik untuk dikunjungi, apalagi jika berfoto dengan si pemilik rumah.
Sebagai seniman yang harga lukisannya mencapai ratusan juta rupiah, ia memang anomali: mudah disapa, ramah, inget dengan orang, baik hati, banyak senyum dan terbuka. Ia juga sangat mudah untuk diajak pameran. Pada hari kematiannya, sebenarnya Nasirun sudah janjian dengan teman saya pada pukul 9 pagi, untuk membicarakan sebuah rencana pameran di Jakarta. Namun Nasirun berangkat 3 jam lebih cepat, sehingga teman saya itu berkunjung untuk melayat jasadnya.
Karya-karya Nasirun bisa dikategorikan sebagai Ekspresionisme Mistis, dengan sapuan kuas yang kasar dan energik, warna yang emosional, terutama merah, hitam, jingga, ungu, dan biru, dimana anatominya terdistorsi. Komposisinya padat, sesak, dan penuh ketegangan. Ia tidak berusaha menggambarkan kenyataan, tetapi ledakan batin. Lukisan-lukisannya tidak mencari bentuk tetapi meleleh menjadi energi. Tubuh-tubuh digambarkan tidak lagi anatomis, tetapi menjadi ekspresi psikologis.
Dari judul-judul karyanya seperti “Setan Mbesan”, “Matinya Kumbokarno”, “Mintorogo”, “Festival Rampogan”, “Cingin Tuhon”, dan “Alas Pasetran Gondo Mayit”, menunjukkan suatu karakter surealisme di mana ruang dan waktu bercampur, figur-figur melayang, makhluk hibrida, dan tidak ada perspektif realistis. Adegan-adegannya seperti mimpi, mitologi, dan alam bawah sadar.
Namun karya Nasirun bukan surealisme ala Salvador Dalí di mana tubuh-tubuh memiuh dengan volume dan bayangan terukur, Nasirun menjalankan surealisme yang lebih intuitif dan spiritual. Lukisan-lukisannya sebenarnya bercerita. Ada kelahiran, manusia, makhluk gaib, peperangan, perempuan, kematian, api, matahari, yang mana artefak-artefak tersebut diambil dari kisah wayang. Sebagai orang Jawa ia memetik fragmen-fragmen cerita besar yang didapatnya dari pertunjukan wayang di mana ia tinggal dan tumbuh besar. Walau lukisannya terlihat kacau, namun sebenarnya ia lebih dekat dengan narasi visual, bukan sekadar abstraksi.
Ia dengan mudah dan cepat dapat menempelkan banyak unsur pada karyanya: wayang, relief kuno, lukisan gua, tokoh-tokoh mitos, dan dirinya sendiri. Dalam beberapa tahun belakangan, dirinya yang berpeci seringkali muncul dalam bentuk relief, vignette, dan bayangan gelap, sebagai latar cerita. Semua itu kemudian dicampurkan membentuk simbol-simbol transformasi (api), rahim (kehidupan), matahari (kosmos), penderitaan (manusia terbalik), roh (burung), dan naluri (hewan).
Dapat dikatakan lukisan Nasirun adalah suatu Horror Vacui (takut ruang kosong), hampir seluruh kanvas dipenuhi bentuk. Komposisi radial, pusat lukisan menjadi sumber energi, lalu figur-figur bergerak mengitarinya. Tidak ada perspektif tunggal: semua objek seolah berada pada bidang yang sama. Hierarki simbolik, ukuran figur ditentukan oleh makna, bukan jarak. Ritme organik, tidak ada garis lurus, seluruh komposisi mengalir seperti jaringan hidup.
Pada Nasirun, makna lukisan tidak berada pada objeknya, tetapi pada hubungan simbol-simbol tersebut. Ia seperti Dewa Hermes yang memberikan teka-teki agar penonton lukisannya menebak-nebak apa yang ia maksudkan pada subjek yang digambar. Nasirun dengan sadar mengangkat tradisi Indonesia menjadi suatu bentuk baru yang lebih kontemporer. Di satu sisi seringkali lukisannya terasa menyeramkan sehingga tidak cocok dengan interior modern, tetapi di sisi lain ia menjadi pujaan kolektor pemberani yang ingin mempunyai lukisan yang bukan Barat, tapi terasa Indonesia bangets yang memiliki tingkat kepadatan visual sangat ekstrem.
Jasa Nasirun bagi dunia seni kontemporer Indonesia adalah, ia membangun sebuah dunia mitologis yang padat simbol, penuh energi, dan sarat narasi spiritual maupun eksistensial. Ia menciptakan sesuatu yang baru, sebuah dunia mitologis yang berakar dari Jawa, yang menjadi suatu tawaran untuk melawan lukisan sekolahan ala Barat. Sehingga ia bisa sejajar dengan maestro yang masih hidup maupun yang sudah mati, seperti Hendra Gunawan dan Heri Dono.
Selamat jalan Nasirun, semoga di alam sana engkau menemui makhluk-makhluk yang sering kau gambarkan dalam kanvas.
*Syakieb Sungkar, Pelukis dan Kolektor Seni rupa.





