Argentina, Lionel Messi, Hidup dan Mati
Oleh: Agus Dermawan T.*
Cerita sepakbola Lionel Messi dan kisah rindu di Caminito sama serunya. Keramaian kehidupan dan kesunyian kematian begitu dekatnya. Argentina! Sepotong catatan perjalanan di negeri El Fütbol.
————-
DI KALA Piala Dunia 2026 membahana, menyebut Argentina sama dengan meneriakkan “Messi”. Namun, mungkin ada yang tidak tahu, bahwa masyarakat Argentina sesungguhnya kurang senang dengan panggilan “Messi” itu. Mengapa? Ini ceritanya.
Lionel Messi, kelahiran 27 Juni 1987, bernama panjang Lionel Andrés “Leo” Messi Cuccitini. Ibu Lionel Messi bernama Celia Maria Cuccitini, sedangkan ayahnya adalah Jorge Horacio, dengan imbuhan nama marga: Messi. Maka Cuccitini dalam namanya adalah nama ibundanya. Sedangkan sebutan Messi adalah nama marga ayahnya. Dengan begitu panggilan yang benar untuk Sang Messiah ini adalah “Lionel”.
“Memang seharusnya Lionel. Emangnya yang menang bola itu marga Messi!? ‘Kan bukan,” gugat Gabriela dari marga Löpez, cemburu.

Lionel Messi baru saja menciptakan gol di gawang lawan. (Foto : Dokumen)
Argentina dan olahraga
Beberapa waktu lalu saya dan seorang turis dari Jakarta, Iliana (yang ternyata isteri saya), berkunjung ke Argentina. Tentu banyak tempat yang menarik dikunjungi di negeri Bro Lionel ini. Di antaranya adalah distrik La Boca di Buenos Aires. La Boca adalah markas Boca Juniors tempat bintang sepak bola Diego Maradona dulu bergabung. Dan tempat Lionel Messi beberapa kali berkunjung dan bertanding di stadionnya yang terkenal, La Bombonera.
La Bombonera! Saya membayangkan bahwa stadion ini besar dan megah. Eh, bayangan itu keliru! La Bombonera ternyata stadion kecil, yang idealnya hanya menampung 49 ribu penonton. Dibanding Gelora Senayan yang berkapasitas 100 ribu orang, La Bombonera tidak ada apa-apanya.
Ketika saya ke sana, kondisi stadion ini cenderung lusuh. Lukisan dinding yang menceritakan dunia sepakbola banyak yang ngelontok catnya. Meski pun sekali waktu La Bombonera kinclong lantaran dicat ulang.
Setelah melihat kelusuhan tersebut saya meneliti: apakah tempat Lionel Messi berlatih di Casa de Ezeiza – Buenos Aires, juga begitu? Jawabannya melegakan: tidak. Bahkan setelah diberi nama “Predio Deportivo Lionel Andrés Messi”, pusat latihan itu dibikin bening dan rapi jali.

Lionel Messi di depan papan nama pusat latihan sepak bola, yang mengabadikan dirinya di Casa de Ezeiza – Buenos Aires. (Foto: Dokumen)
Sepakbola adalah “jalan hidup” atau bahkan “agama” bagi masyarakat Argentina. Kesukaan atas sepakbola ini ternyata berakar dari tradisi mereka yang selalu mengaitkan segala sesuatu dengan olahraga.
Olahraga awal yang paling disukai adalah permainan berkuda. Bahkan bangsa Argentina tempo doeloemenganggap olahraga berkuda sebagai gaya hidup yang harus. Sejarah boleh mengingat, permainan horseback riding (bertahan duduk di atas pelana kuda yang berjingkrak-jingkrak), yang di Argentina disebutdoma, adalah olahraga khas mereka.
Begitu lekatnya mereka dengan olahraga kuda, sampai-sampai pekerjaan pun dikaitkan dengan kuda. Syahdan sebelum abad ke-19 orang-orang Argentina “tidak sudi” bekerja yang dalam praktiknya tidak memakai kuda. Dengan begitu, jadi petani mereka tak mau. Padahal Argentina adalah negeri pertanian gandum, yang dari tanah sampai hasil panennya harus diolah dengan tangan, tanpa perlu bantuan kuda. Lantaran pekerjaan pertanian dianggap hina, selama dua abad tanah Argentina tidak terolah. Meski orang-orang koloni Spanyol sudah menyadarkan dengan susah-payah, rakyat Argentina tetap saja ogah.

Stadion La Bombonera yang dicat biru kuning. Warna Biru merujuk warna jubah Perawan Maria. Warna kuning merujuk kepada Sol de Mayo atau “Mataharti Mei” yang bersinar di tengah bendera Argentina. (Foto : Dokumen)
Namun perubahan datang juga. Pada 1807 Prancis menduduki Spanyol, sehingga kekuasaan Spanyol di Argentina melemah. Pada saat itulah seorang jenderal asal Argentina, Jose San Martin, berhasil melakukan revolusi. Pada masa kekuasaannya mitos kuda mulai diluluhkan. Dan rakyat Argentina diajak “secara paksa” bekerja di sektor pertanian. Dalam olahraga, mereka diperkenalkan dengan sepak bola. Sampai akhirnya sepakbola jadi bagian yang tak terpisahkan dari mereka.
Tanggo di Caminito
Di distrik La Boca, wilayah tempat Maradona berkarir tadi, ada yang dinamakan Caminito, jalur pedestrian yang panjangnya tak lebih dari 400 meter. Pedestrian terbuat dari tatanan batu-batu besar, dan ditandai sebuah bangunan berlantai dua yang menjulur panjang. Bangunan ini dipakai sebagai toko-toko suvenir, restoran, kedai kopi, tempat pertunjukan, museum benda-benda seni. Aksennya adalah La Boca Fine Art Museum, yang pendiriannya didanai pelukis besar Argentina, Benito Quinquela Martin.
Argentina sangat membanggakan tempat molek yang cuma sekluthek ini, sehingga di halaman paling depan terpampang papan bertulis : Conventillo Historico de 1881 – Centro Cultural de Los Artistas. Rumah Petak Bersejarah sejak 1881 – Pusat Budaya bagi Para Seniman.
Syahdan pada seratus tahun silam distrik ini adalah tempat berkumpulnya bumiputra Argentina. Namun wabah penyakit mendesak warga bumi putera meninggalkannya. Karena mereka tak kunjung kembali, para imigran Eropa ramai-ramai menempati La Boca, sampai sekarang. Menariknya, imigran Eropa ini tidak menghapus sisa-sisa kebudayaan yang ditinggalkan oleh warga bumiputra.
Tempat sederhana ini memang memikat hati, sehingga turis dari seluruh dunia selalu ingin mampir ke sini. Daya pikat pertama adalah warna-warni dinding toko, kafe atau tempat pertunjukan yang satu sama lain disengaja dihadirkan berbeda. Warna-warna itu dibiarkan tidak berjajar bebas, sehingga menampilkan efek optik eklektik. Dalam bahasa kita: norak.
Di ujung pedestrian terdapat halaman agak luas, dengan plaza yang dihias patung relief yang menggambarkan perjuangan masyarakat La Boca pada masa lalu. Di plaza ini sejumlah pelukis berpraktik bikin karikatur wajah secara on the spot di atas kertas. Sementara di sisi lain beberapa orang bermain gitar atau main akordeon. Di depannya terdapat kaleng berhias yang sekali waktu dicemplungi recehan. Salah satu lagu yang dimain berulang adalah Caminito. Menurut hikayat, lagu Caminito yang dipopulerkan Carlos Gardel pada 1926 ini ikut menjulangkan tempat tersebut jadi wilayah wisata pilihan.

Bangunan ikonik di pedestrian Caminito, wilayah wisata di distrik La Boca, Buenos Aires. (Foto: Agus Dermawan T.)

Wajah penyanyi Carlos Gardel di dinding bangunan berwarna-warni, di Buenos Aires. (Foto: Agus Dermawan T)
Lagu menceritakan keterpesonaan seorang lelaki asing kepada gadis cantik bernama Caminito di pedestrian itu. Angin hangat mendorong si lelaki untuk segera berkenalan. Namun si cantik segera berbelok dan hilang dari penglihatan. Si lelaki lalu memeriksa setiap pintu, dan setiap loteng di gedung penuh warna bertingkat dua di kawasan itu. Si gadis tak kelihatan juga. Alhasil, yang tertinggal adalah rasa rindu dan cinta di sepanjang jalan kecil…. Oh Caminito…
Bagi Buenos Aires, nama Carlos Gardel adalah ikon kebudayaan pop tiada duanya. Sehingga legendanya diabadikan lewat pendirian mal yang mengambil nama sinonimnya, Abasto. Tak jauh dari mal, di dekat Jalan Zelaya, bahkan ada deretan gedung yang dicat berwarna-warna, meniru corak di Caminito. Wajah Carlos Gardel yang tersenyum nampak terpampang besar di situ.
Menyeruput cortado (kopi susu khas Argentina) dan mengunyah empanadas (sejenis pastel ala Argentina) di kafe-kafe yang berjajar di seputar Caminito, tentu jadi kenangan asyik masyuk. Dari situ saya bisa menyaksikan beberapa lelaki ganteng dan perempuan cantik sedang memperagakan tarian tango dengan iringan musik rekaman. Saya pikir mereka sekadar mengatraksikan tango bagi pengunjung pedestrian. Ternyata, eh, mereka mengamen!
Para penari itu mengajak para turis untuk bertango-ria. Turis yang berminat lantas diajak berpose tari tango, bertablo, untuk kemudian dipotret. Petango lelaki mencari turis perempuan. Petango perempuan mengincar turis laki-laki. Khusus untuk turis lelaki, si street dancer meminjami jas hitam, topi, serta syal berwarna putih atau perak. Warna perak ini melambangkan negeri Argentina, yang disebut sebagai “Sierre del Plata”, atau “Gunung Perak” oleh Juan Diaz de Solis, petualang Spanyol yang tersesat di situ, tahun 1516.
(Tango! Tentu saya ingin mencoba bertanggo. Namun keinginan itu terbatalkan, setelah saya dibayangi ketakutan “salah urat”. Hehehe.)
Teman seperjalanan, Sanoto Utomo, CEO Johny Jaya Makmur, mencoba untuk ikutan. Setelah dilatih dua menit ia pun beraksi. Pada satu momentum petango perempuan jelita itu nangkring di paha Sanoto. Kamera pun merekam: crik, crik, crik. Sudah. Sanoto pun membuka dompetnya, membayar sesuai tarif resmi, 5 dolar. Ya pakai dolar.
“Adegan ini hanya bisa ditemui di Caminito, di La Boca, di Buenos Aires, di Argentina! Meskipun punggung saya rasanya linu juga,” katanya bergembira.
Yang ramai dan yang sunyi
Ada yang hidup ramai seperti Lionel Messi, ada yang hidup dalam sunyi seperti peti mati. Masyarakat Argentina menegaskan itu lewat Taman Makam Recoleta, yang dibangun tahun 1760. Letak komplek kuburan ini di tengah kota, sehingga kemana pun kendaraan menyasar, ketemunya “rumah masa depan” itu pula. Bentangan dinding tinggi membatasi pemandangan taman pemakanan. Tetapi puncak-puncak atap dari musoleum yang menjulang tinggi, masih bisa menyapa siapa saja.

Iliana Lie, turis dari Jakarta, di depan salah satu bangunan makam bangsawan di Taman Makam Recoleta, Buenos Aires. (Foto: Agus Dermawan T.)
Taman pemakanan ini dihuni oleh peti jenazah para aristokrat, dengan kriteria berangkai: hebat dan harum sebagai tokoh masyarakat, berdarah biru, dan kaya raya. Maka di taman tampak makam tokoh-tokoh besar Argentina lintas abad, seperti Juan Miguel de Rosas, Facundo Quiroga sampai Guillermo Brown. Dan tentu Ibu Negara Evita Peron, yang pintu makamnya selalu dihiasi aneka bunga oleh para pengunjung.
Ratusan makam itu berbentuk bangunan-bangunan marmer dengan pahatan patung dan ornamentasi klasik dan berkelas tinggi. Indah, mewah dan megah! Luas setiap makam rata-rata 3 x 4 meter. Tingginya ada yang hampir lima meter. Sebagian berbentuk masif, sebagian lain memakai pintu, sehingga menyerupai rumah. Pintu itu sengaja dibuat agar peti mati yang baru bisa masuk. Lubang di sini dibuat sangat dalam, agar peti bisa diletakkan secara bersusun-susun.
Ada beberapa makam di situ yang pintunya setengah terbuka. Saya melongok, ada yang berisi tujuh peti di sana!
Di bagian depan Taman Makam Recoleto ada gerbang putih yang disebut Pilar Basilica. Di atas gerbang itu tergantung lonceng genta, yang akan berdentang kencang apabila ada upacara pemakanam penghuni baru “rumah masa depan”. Lonceng itu bagai mengingatkan warga seluruh kota, bahwa hidup itu begitu fana. Sehingga, ayo, selalu berbaiklah kepada siapa-siapa, dan ucapkan “Gracias” kepada Kehidupan.
Atas pemandangan itu kalimat filosofis pun berkata: sehebat-hebatnya Presiden Domingo Faustino Sarmiento, secermat-cermatnya sejarawan Bartolomé Mitre, sekaya-kayanya Lionel Messi (yang bisa mengantongi trilyun rupiah per tahun), ujung-ujungnya berada di situ juga.
Itulah hidup dan mati Argentina, seperti hidup-mati Lionel Messi di lapangan bola. Menang dan kalah, ramai dan sunyi, adalah hal yang sangat niscaya dan biasa. *
*Agus Dermawan T. Kritikus seni dan pelancong. Penulis buku “Perjalanan Turis Siluman: 61 Cerita dari 51 Tempat di 41 Negara.”




