Dari Buih Konsumerisme ke Etika Cukup: Kebudayaan Rendah Karbon dalam Bayang-Bayang Kapitalisme
Oleh: Mochammad Sulton Sahara

Mochammad Sulton Sahara
Bumi tidak meminta kita menjadi sempurna; ia hanya memohon agar kita belajar cukup.
| Objek Resensi | Fokus |
| Judul Buku | The Political Economy of Low Carbon Transformation: Breaking the Habits of Capitalism |
| Penulis | Harold Wilhite |
| Penerbit | Routledge / earthscan from Routledge |
| Tahun Terbit | 2016 |
| Tempat Terbit | New York dan London |
| Jumlah Halaman | 129 halaman |
| ISBN | 978-1-138-81717-3 (hardback), 978-1-315-74578-7 (ebook) |
| Bahasa | Inggris |
| Seri Buku | Routledge Studies in Low Carbon Development |
| Bidang Kajian | Ekonomi politik, perubahan iklim, konsumsi energi, pembangunan rendah karbon |
| Fokus Utama Buku | Hubungan kapitalisme, kebiasaan konsumsi energi tinggi, dan transformasi rendah karbon |
| Isu Pokok | Pertumbuhan ekonomi, komodifikasi, individualisasi, rumah tangga, transportasi, pangan, dan kebijakan transisi rendah karbon |
| Sasaran Pembaca | Akademisi, peneliti, pembuat kebijakan, dan peminat kajian lingkungan serta ekonomi politik |
| Kelebihan Buku | Kuat secara teoritis, tajam dalam kritik ekonomi politik, dan relevan untuk diskusi transisi energi serta perubahan kebiasaan sosial |
| Kekurangan Buku | Cenderung konseptual dan padat, sehingga memerlukan pembaca dengan minat akademik yang cukup kuat |
| Relevansi bagi Indonesia | Sangat relevan untuk kebijakan bangunan gedung dan infrastruktur, konsumsi energi, tata ruang, dan transformasi budaya rendah karbon. |
Esai ini membaca The Political Economy of Low Carbon Transformation: Breaking the Habits of Capitalism karya Harold Wilhite dari perspektif kebudayaan. Pokok gagasan Wilhite, bahwa penurunan emisi karbon tidak akan tercapai tanpa membongkar kebiasaan konsumsi tinggi yang dibentuk kapitalisme, dipahami sebagai kritik atas habitus modern yang menormalisasi boros energi, individualisme, dan definisi kemajuan berbasis pertumbuhan tanpa batas. Melalui pembacaan budaya, esai ini menyoroti bahwa krisis iklim adalah juga krisis imajinasi peradaban: bagaimana manusia memaknai kenyamanan, ruang, tubuh, dan kesejahteraan. Dengan menempatkan Indonesia sebagai konteks refleksi, esai ini mengajukan bahwa transisi rendah karbon harus ditempatkan sebagai proyek kebudayaan, bukan hanya kebijakan teknis, yang menghidupkan kembali nilai kecukupan, solidaritas, dan kesahajaan dalam kehidupan bersama.
Kata kunci: kebudayaan; kapitalisme; kebiasaan; rendah karbon; iklim; Indonesia
Prologia: Di tengah dunia yang semakin cepat, bising, dan penuh dorongan untuk terus bertambah, buku Harold Wilhite hadir sebagai ajakan untuk berhenti sejenak dan mendengarkan denyut yang lebih dalam dari krisis iklim. The Political Economy of Low Carbon Transformation: Breaking the Habits of Capitalism tidak sekadar menyoal emisi, teknologi, atau efisiensi energi. Ia justru menyingkap sesuatu yang lebih sunyi namun lebih menentukan: kebiasaan hidup yang diwariskan oleh modernitas kapitalistik, kebiasaan yang membuat konsumsi tinggi tampak wajar, bahkan luhur. Dalam pengertian itu, buku ini bukan hanya teks ekonomi politik, melainkan juga teks kebudayaan, sebuah cermin bagi cara manusia modern membangun makna tentang hidup baik. Di antara asap modernitas dan bising pertumbuhan, kebudayaan yang paling arif adalah yang masih tahu cara bernafas pelan
Wilhite berangkat dari satu tesis yang keras tetapi jernih: pengurangan emisi besar-besaran tidak mungkin terjadi selama ekonomi politik masih digerakkan oleh imperatif pertumbuhan, komodifikasi, dan individualisasi. Di sini pertumbuhan bukan sekadar angka, melainkan ideologi; komodifikasi bukan sekadar mekanisme pasar, melainkan cara hidup; individualisasi bukan sekadar pilihan personal, melainkan tata nilai yang memindahkan beban krisis kepada individu. Dalam bahasa kebudayaan, ketiganya bekerja sebagai norma yang membentuk rasa, selera, dan perilaku sehari-hari. Kita lalu hidup di dalam dunia yang menganggap mobilitas tinggi sebagai kemajuan, pendinginan ruang sebagai kebutuhan alamiah, dan konsumsi barang sebagai tanda keberhasilan sosial.

Pembacaan seperti ini penting karena krisis iklim kerap dibahas seolah-olah ia lahir semata dari persoalan teknis. Padahal, Wilhite memperlihatkan bahwa sumber persoalan justru berakar pada kebiasaan yang telah mengeras menjadi budaya. Manusia tidak hanya menggunakan energi; ia dididik oleh energi. Rumah, jalan, kantor, pusat perbelanjaan, jaringan logistik, dan sistem kerja modern semuanya menjadi perangkat yang membentuk habitus baru: tubuh yang terbiasa dingin, bergerak jauh, membeli cepat, dan hidup dalam ritme yang terus dipercepat. Maka, yang perlu dipersoalkan bukan hanya sumber energinya, melainkan tata budaya yang membuat energi tinggi tampak sebagai syarat hidup normal. Kita tidak sedang kekurangan energi; kita kekurangan kebijaksanaan untuk hidup dalam batas yang memberi kehidupan.
Dari sini, transisi rendah karbon tampak sebagai proyek kebudayaan yang jauh lebih rumit daripada yang sering dibayangkan. Ia menuntut perubahan pada cara kita memaknai kenyamanan, pada cara kita merancang ruang, dan pada cara kita membayangkan kemajuan. Bila selama ini kemajuan identik dengan pertambahan, pertambahan luas bangunan, pertambahan jumlah kendaraan, pertambahan konsumsi, pertambahan kecepatan, maka Wilhite mengajak kita mempertanyakan dasar simbolik dari semua itu. Apakah hidup yang lebih baik harus selalu berarti hidup yang lebih boros? Apakah modernitas harus selalu dibayar dengan jarak yang makin jauh dari tubuh kita sendiri, dari tetangga, dari tanah, dan dari alam? Kenyamanan yang tak pernah bertanya pada bumi, pada akhirnya akan menjadi luka yang diwariskan kepada anak cucu.
Pertanyaan-pertanyaan ini menjadi sangat relevan ketika dibaca dari konteks Indonesia. Dalam banyak kota di Indonesia, modernisasi urban telah berjalan bersamaan dengan penguatan budaya energi tinggi. Kawasan hunian yang menyebar, transportasi yang bergantung pada kendaraan pribadi, bangunan yang kurang responsif terhadap iklim tropis, dan standar kenyamanan yang diselesaikan dengan mesin pendingin adalah gejala yang tak terpisahkan dari budaya konsumsi kontemporer. Di sini, kota tidak hanya menjadi ruang fisik, tetapi juga mesin kebiasaan. Ia mengajari manusia bagaimana bergerak, bagaimana tinggal, dan bagaimana memaknai kenyamanan.
Karena itu, kritik Wilhite terhadap kapitalisme sesungguhnya juga kritik terhadap cara kita mengorganisasi kehidupan sehari-hari. Ia menunjukkan bahwa energi tidak pernah netral; energi selalu berada dalam relasi sosial tertentu. Ketika bangunan gedung dan bangunan infrastruktur (prasarana) dibangun untuk memfasilitasi kenyamanan individual yang tinggi, maka kebiasaan boros energi menjadi bagian dari moralitas baru. Kita lalu menganggap tindakan hemat sebagai pengorbanan, bukan sebagai kebajikan; menganggap kesederhanaan sebagai kemunduran, bukan sebagai kematangan; menganggap cukup sebagai kekurangan, bukan sebagai kebijaksanaan.
Justru di titik ini, pembacaan kebudayaan menemukan relevansinya yang paling tajam. Kebudayaan bukan hanya seni, tradisi, atau warisan simbolik. Kebudayaan juga adalah cara hidup yang diulang, dinormalisasi, dan diwariskan. Buku Wilhite memperlihatkan bahwa masalah iklim adalah masalah budaya karena ia terkait dengan apa yang dianggap pantas, nyaman, dan diinginkan. Dalam pengertian itu, dekarbonisasi tidak cukup ditempuh melalui larangan atau insentif. Ia memerlukan perubahan imajinasi kolektif: dari budaya memiliki ke budaya menjaga, dari budaya menimbun ke budaya berbagi, dari budaya konsumsi ke budaya perawatan.
Bagi Indonesia, gagasan ini membuka kemungkinan yang penting. Kita memiliki khazanah nilai yang sebenarnya dekat dengan etika rendah karbon: gotong royong, kesahajaan, musyawarah, dan hormat pada alam. Nilai-nilai ini memang sering dipuji sebagai identitas, tetapi jarang ditata menjadi basis kebijakan. Padahal, jika transisi rendah karbon ingin berakar, ia harus berbicara dalam bahasa yang akrab bagi masyarakat. Ia tidak boleh datang sebagai perintah asing dari luar, melainkan sebagai pembaruan atas kebijaksanaan yang sudah lama ada namun sering tertutup oleh kilau konsumsi modern. Rendah karbon bukan sekadar cara hidup; ia adalah cara kembali mendengarkan dunia yang telah terlalu lama kita pacu.
Dalam kerangka itu, pemerintah Indonesia perlu dipahami bukan hanya sebagai pengatur teknis, melainkan juga sebagai aktor kebudayaan. Kebijakan iklim yang efektif harus dibarengi dengan pembentukan narasi baru tentang kemajuan. Kemajuan tidak lagi semata-mata diukur dari besarnya konsumsi energi atau gemerlapnya bangunan infrastruktur, dan bangunan gedung melainkan dari kemampuan masyarakat hidup layak, teduh, dan bermartabat dengan jejak ekologis yang lebih kecil. Dengan kata lain, negara perlu membantu masyarakat membangun imajinasi baru tentang hidup baik: hidup yang tidak dibebani pertumbuhan tanpa batas, tetapi ditopang oleh kecukupan dan solidaritas. Di titik ketika konsumsi berhenti menjadi prestasi, di situlah peradaban mulai belajar menjadi manusia kembali.
Di sinilah pentingnya pembenahan pada tata ruang, arsitektur, transportasi, dan pendidikan publik. Kota yang kompak, teduh, dan ramah pejalan kaki bukan hanya desain teknis; ia adalah ekspresi kebudayaan yang mengembalikan manusia pada skala hidup yang lebih dekat dan lebih hemat energi. Bangunan yang memanfaatkan ventilasi alami, peneduhan, dan adaptasi tropis bukan hanya efisien; ia juga mengajarkan etika baru tentang kenyamanan. Transportasi publik yang andal bukan sekadar layanan; ia membangun solidaritas ruang, mempertemukan tubuh-tubuh yang selama ini dipisahkan oleh logika mobil pribadi.
Akhirnya, buku Wilhite mengingatkan bahwa dekarbonisasi adalah soal peradaban. Ia bukan proyek jangka pendek yang bisa diselesaikan dengan satu teknologi atau satu regulasi, melainkan kerja panjang untuk menata ulang hubungan manusia dengan konsumsi, ruang, dan batas ekologis. Dari perspektif kebudayaan, hal yang paling mendesak bukan hanya mengurangi emisi, tetapi membangun etika hidup baru: etika yang berani mengatakan bahwa cukup itu mulia, bahwa sederhana itu tidak kalah modern, dan bahwa hidup yang baik adalah hidup yang tidak memaksa bumi menanggung lebih dari yang sanggup ia beri. Peradaban tidak runtuh karena ia berjalan lambat; ia runtuh ketika lupa bahwa batas juga merupakan rahmat.
Epilogia: Esai ini menempatkan buku Wilhite sebagai alarm peradaban. Ia mengingatkan bahwa krisis iklim tidak akan selesai bila kita masih memuja kebiasaan lama dengan wajah baru. Karena itu, tugas kebudayaan hari ini bukan sekadar merayakan perubahan, melainkan memulihkan ukuran-ukuran hidup yang lebih arif: lebih cukup, lebih teduh, lebih bersama. Di situlah barangkali letak masa depan rendah karbon yang sungguh-sungguh berakar pada jiwa Indonesia. Bila modernitas menjanjikan kecepatan, kebudayaan mengajarkan kedalaman; dan dari kedalaman itulah bumi mungkin diselamatkan. Wuwdiiiih….
Bandung, 12 Juli 2026
—
Mochammad Sulton Sahara Mahasiswa Program Doktoral Ilmu Teknik Universitas Sriwijaya, Palembang




