Menggosok Barang Lama: Film Kantata Takwa
Oleh: Bambang Supriadi
Film Kantata Takwa, karya Erros Djarot dan Gotot Prakosa, menempuh perjalanan panjang hampir 19 tahun sebelum akhirnya menemukan ruang rilisnya. Film ini lahir pada tahun 1991 dan baru muncul ke publik pada tahun 2010, seolah melewati satu putaran waktu yang nyaris utuh dalam diam. Sebuah rentang yang tidak lazim dalam sejarah produksi film Indonesia.

Ilustrasi 1. Spirit Burung Phoenix. Olahan: Bambang Supriadi
Mengapa ia begitu lama terpendam? Jawabannya tidak pernah berdiri pada satu sebab: bisa berupa gesekan internal yang tak reda, persoalan pendanaan yang menekan, atau bayang-bayang politik pada masa Orde Baru yang tidak sepenuhnya sirna, semuanya tetap membuka ruang tanya yang menggantung di antara arsip dan ingatan.
Namun di balik semua kemungkinan itu, yang tampak jelas adalah adanya semangat kreatif yang tetap bertahan. Dedikasi para kreator menjadi semacam obor yang terus menyala di tengah proses panjang yang tidak stabil, bahkan nyaris terputus.
Imaji pada seluloid yang rusak, lengket, dan tidak sempurna, justru menjadi bagian dari kisah film ini sendiri.
Fragmen-fragmen visual yang terpisah itu tidak hanya diperlakukan sebagai bahan teknis, tetapi sebagai “ingatan visual” yang harus disusun kembali dengan kesabaran dan ketelitian. Pada titik ini, metafora burung phoenix menjadi relevan: sesuatu yang terbakar dan hancur tidak hilang, tetapi dibangkitkan kembali dari abu.
Phoenix dalam konteks ini tidak hanya simbol kebangkitan, tetapi juga ketahanan artistik. Setiap frame yang disusun ulang membawa jejak waktu, kerja, dan keteguhan. Dengan demikian, Kantata Takwa bukan sekadar film, tetapi juga cermin dari proses panjang yang menghidupkan kembali sesuatu yang hampir lenyap.
Arsip Para Tokoh Legendaris
Film Kantata Takwa dapat dibaca sebagai sebuah kapsul waktu yang menyimpan jejak kehadiran para tokoh penting dalam sejarah seni budaya Indonesia. Di dalamnya hadir nama-nama besar yang kini telah berpulang, seperti WS Rendra, Yockie Suryoprayogo, Inisisri, Embong Rahardjo dll, yang masing-masing pernah memberi warna pada lanskap seni pada zamannya.
Selain itu, hadir pula sosok alm. Sotemo Ganda Soebrata yang berperan sebagai Director of Photography dalam film ini, salah seorang pendiri Fakultas Film dan Televisi Institut Kesenian Jakarta. Bersamanya, alm. Chalid Arifin sebagai Production Designer, serta sejumlah praktisi film lain yang namanya terhubung dengan sejarah panjang perfilman Indonesia.
Keterlibatan mereka tidak sekadar memperkaya lapisan artistik, tetapi juga menghadirkan Kantata Takwasebagai ruang pertemuan lintas disiplin, musik, sastra, teater, dan sinema saling berkelindan, membentuk satu tubuh karya yang hidup di antara ingatan dan waktu.
Secara keseluruhan, Kantata Takwa dapat dibaca sebagai simfoni visual dan musikal yang lahir dari respons para musisi Kantata terhadap situasi sosial-politik pada era Orde Baru. Melalui visi yang tajam, mereka merangkai pengalaman artistik ke dalam bentuk visual yang berlapis, yang kemudian diolah oleh Erros Djarot, Gotot Prakosa, dan tim produksi.
Film ini tidak hanya bekerja sebagai dokumentasi, tetapi sebagai karya yang hidup, yang berbicara melalui bahasa visual, musik, dan performatif secara bersamaan.
Pendekatan film ini bersifat eksperimental dengan kebebasan artistik yang luas. Ia mengeksplorasi kemungkinan visual yang melampaui struktur naratif konvensional. Dalam beberapa bagian, pendekatan ini bahkan bersifat satiris dan fragmentaris, di mana cerita tidak bergerak secara linear, melainkan melalui potongan-potongan ekspresi yang dirangkai berdasarkan intensitas visual dan emosional.
Meskipun demikian, benang merah antar segmen tetap terjaga. Penonton tetap diarahkan melalui alur makna yang tidak selalu kronologis, tetapi tetap memiliki keterhubungan internal.
Puisi sebagai Benang Merah

Ilustrasi 2. WS Rendra & Clara Shinta. Sumber: Film Kantata Takwa
Aku mendengar suara jerit makhluk yang terluka.
Ada orang memanah rembulan
Ada anak burung terjatuh dari sangkarnya.
Orang-orang harus dibangunkan
Kesaksian harus diberikan agar kehidupan bisa terjaga.
Kesadaran adalah matahari
Kesabaran adalah bumi
Keberanian adalah cakrawala
Perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata.
Benang merah yang mengikat fragmen-fragmen dalam film ini adalah puisi WS Rendra. Pada awal film, ia ditampilkan dalam kondisi terbangun dari mimpi buruk dan mendengar jerit makhluk yang terluka. Dari titik inilah puisi bekerja sebagai pengikat emosional sekaligus struktural dalam keseluruhan film.
Melalui puisi tersebut, WS Rendra bersama para musisi Kantata dan para penggarap film memberikan respons terhadap situasi sosial-politik yang ada. Pilihan ini pada masa itu tentu tidak bebas risiko, namun tetap diwujudkan sebagai bentuk sikap artistik yang tegas.
Formalisme – Eksplorasi Visual
Film Kantata Takwa menghadirkan berbagai segmen visual yang tidak sekadar berfungsi sebagai ilustrasi dari musik, tetapi juga sebagai ruang artikulasi makna yang lebih kompleks. Di dalamnya, gambar tidak berdiri sebagai pelengkap, melainkan sebagai bahasa utama yang bekerja untuk menafsirkan ulang gagasan tentang musik, takwa, dan relasi manusia dengan kekuasaan. Setiap segmen visual membangun atmosfer tersendiri, sekaligus membentuk karakter dan figur yang tidak selalu hadir dalam bentuk narasi linear, tetapi dalam bentuk simbol, gestur, dan komposisi gambar.
Dalam pendekatan ini, visual bergerak sebagai sistem tanda yang otonom. Musik tidak hanya “diiringi” oleh gambar, tetapi justru dipertemukan dalam hubungan yang saling menegangkan dan saling menguatkan. Hasilnya adalah pengalaman sinematik yang tidak semata-mata naratif, melainkan juga struktural dan sensorial.
Salah satu bentuk eksplorasi visual yang menonjol terlihat pada penggunaan figur-figur simbolik seperti pasukan berkuda dan pria-pria bermasker. Kedua elemen ini tidak hadir sebagai representasi realistis, melainkan sebagai konstruksi visual tentang kekuasaan. Pasukan berkuda, dengan formasi dan geraknya yang teratur, menghadirkan kesan otoritas yang masif dan tak terjangkau, sementara pria-pria bermasker menambahkan lapisan anonimitas yang justru memperkuat kesan represif dan tak berwajah.



“Represifitas kekuasaan.” Sumber: film Kantata Takwa.
Dalam konteks ini, kekuasaan tidak divisualisasikan sebagai individu, tetapi sebagai sistem yang bekerja melalui tubuh-tubuh yang distandarisasi dan disamarkan. Ia hadir sebagai struktur yang dingin, terorganisir, dan sulit diidentifikasi secara personal.
Simbolisasi tersebut semakin dipertegas dalam adegan pengadilan WS Rendra, di mana penggunaan topeng dengan ekspresi yang berbeda-beda menciptakan lapisan makna yang berlapis. Topeng-topeng itu tidak hanya menandai peran formal dalam ruang pengadilan, tetapi juga memperlihatkan ketidakpastian moral di balik institusi yang tampak legal dan tertib. Ekspresi yang beragam namun tertutup oleh topeng menghadirkan paradoks: kehadiran wajah yang sekaligus menyembunyikan identitas.
Melalui pendekatan visual semacam ini, Kantata Takwa memperlihatkan bagaimana formalisme sinematik bekerja bukan hanya pada level bentuk, tetapi juga pada level ide. Gambar, musik, dan performativitas saling bertemu dalam struktur yang tidak selalu stabil, tetapi justru di situlah kekuatannya—dalam ketegangan antara simbol, emosi, dan tafsir.
Dalam kerangka ini, pendekatan formalistik Sergei Eisenstein dalam Film Form: Essays in Film Theorymenjadi relevan. Eisenstein menyatakan bahwa struktur film tidak hanya terletak pada narasi linear, tetapi pada interaksi elemen visual yang membentuk sintesis makna yang lebih besar.
Setiap segmen dalam film dapat dipahami sebagai bagian dari keseluruhan konstruksi estetika, di mana visual dan simbol bekerja bersama membangun makna yang lebih dalam. Pendekatan ini sejalan dengan Kantata Takwa, yang mengandalkan hubungan antar fragmen visual untuk menghasilkan efek emosional dan konseptual.
Sebagai pelopor formalism, Eisenstein menekankan bahwa film adalah medium artistik yang bekerja melalui konflik dan komposisi visual, bukan sekadar alur cerita. Dalam Kantata Takwa, pendekatan ini tampak dalam cara gambar, musik, dan performa disusun sebagai lapisan-lapisan ekspresi.
Pendekatan formalistik ini juga terlihat dalam struktur film yang tidak linear. Gagasan-gagasan visual sering muncul dari proses diskusi antara sutradara dan para musisi, lalu direspons secara spontan dalam proses produksi. Akibatnya, struktur film menjadi lebih bebas dan eksperimental.
Visual tidak selalu berhubungan langsung dengan narasi, tetapi lebih pada ekspresi simbolik dan emosional. Keberagaman pengalaman para musisi pada era Orde Baru menjadi inspirasi dalam membentuk segmentasi film ini.
Musisi seperti Setiawan Djody, Yockie S, Iwan Fals dan Sawung Jabo ditampilkan dalam situasi dramatis yang merepresentasikan tekanan kekuasaan terhadap kreativitas. Dalam film ini, kekuasaan tidak hanya hadir sebagai konteks, tetapi sebagai kekuatan yang aktif menekan dan menghapus.
Representasi Represivitas Kekuasaan
Represivitas dalam Kantata Takwa tidak hadir dalam bentuk narasi yang bersifat realistis semata, melainkan dibangun melalui rangkaian adegan simbolik yang bersifat fragmentaris dan penuh tekanan visual. Kekuasaan divisualisasikan sebagai entitas yang bekerja secara tersembunyi, anonim, namun memiliki daya hancur yang sistematis terhadap tubuh-tubuh yang dianggap mengganggu tatanan yang mapan.
Hal ini tampak jelas dalam beberapa adegan yang menampilkan pria-pria bermasker sebagai agen kekerasan. Mereka membunuh Setiawan Djody di kamar tidurnya, sebuah ruang yang secara konvensional seharusnya merepresentasikan privasi dan ketenangan. Pergeseran ruang domestik menjadi ruang eksekusi ini memperkuat kesan bahwa tidak ada lagi ruang aman ketika kekuasaan telah bekerja secara total.
Adegan lain memperlihatkan pembunuhan Yockie S di ruang kerjanya. Ruang yang biasanya menjadi tempat penciptaan dan produksi gagasan justru berubah menjadi ruang kematian secara paksa. Sementara itu, Sawung Jabo digambarkan dalam situasi pengejaran yang berakhir dengan penembakan, menghadirkan kesan bahwa kreativitas dan suara kritis tidak hanya ditekan, tetapi juga dihapus secara fisik dalam logika visual film.
Rangkaian adegan tersebut dapat dibaca sebagai interpretasi visual mengenai bagaimana kekuasaan bekerja dalam mengeliminasi individu yang dianggap mengganggu atau berada di luar batas “status quo”. Namun eliminasi ini tidak selalu ditampilkan secara langsung dalam bentuk dokumenter, melainkan dimediasi melalui simbol, gestur, dan konstruksi sinematik yang bersifat alegoris.
Dalam konteks ini, figur Iwan Fals menempati posisi yang berbeda. Ia tidak digambarkan mengalami kematian fisik, tetapi mengalami bentuk tekanan yang bersifat simbolik dan psikologis. Penting dicatat bahwa dalam representasi ini, Iwan Fals sendiri tidak memandang hegemoni Orde Baru sebagai sesuatu yang sepenuhnya mematikan kreativitasnya, melainkan lebih sebagai kekuatan yang sangat menghambat dan menekan ruang ekspresi yang ia miliki.
Salah satu adegan yang paling kuat memperlihatkan bagaimana ia dicabut giginya oleh pria-pria bermasker di ruang kumuh. Tindakan ini tidak dapat dibaca secara literal, melainkan sebagai metafora dari proses pelumpuhan ekspresi.
Gigi dalam konteks ini dapat dipahami sebagai simbol artikulasi, suara, dan kemampuan untuk “mengucapkan”. Ketika gigi dicabut, yang terjadi bukan hanya luka fisik, tetapi juga hilangnya kemampuan untuk menyuarakan sesuatu secara utuh. Dengan demikian, adegan tersebut menjadi representasi visual dari pembungkaman, di mana ekspresi kreatif tidak harus dihapus melalui kematian, tetapi dapat dilumpuhkan melalui tindakan simbolik yang merusak sumber artikulasi itu sendiri.



Adegan Iwan Fals dicabut giginya (atas). Clara Shinta menyaksikan represivitas tanpa kata (bawah). Sumber: Film Kantata Takwa.
Melalui rangkaian beragam adegan, Kantata Takwa membangun sebuah bahasa visual yang memperlihatkan bahwa kekuasaan tidak selalu bekerja dalam bentuk yang tampak langsung atau mudah diidentifikasi. Ia tidak hanya hadir sebagai tindakan yang eksplisit, tetapi juga sebagai sistem yang beroperasi melalui tanda, simbol, dan atmosfer yang menyelimuti seluruh ruang representasi.
Dalam film ini, kekuasaan justru terasa lebih kuat ketika tidak ditampilkan secara frontal, melainkan dimediasi melalui imaji-imaji yang bersifat fragmentaris, simbolik, dan sering kali tidak sepenuhnya realistis, tetapi memiliki daya sugesti yang tinggi secara emosional maupun politis.
Pendekatan ini menjadikan kekuasaan sebagai sesuatu yang bekerja di antara ruang nyata dan ruang imajinatif. Ia tidak hanya “terjadi” dalam adegan, tetapi juga “dirasakan” melalui komposisi visual, gestur tubuh, penggunaan ruang, serta ketegangan yang dibangun antar gambar. Dengan demikian, film ini tidak sekadar menampilkan kekuasaan sebagai objek naratif, tetapi sebagai pengalaman visual yang menyusup ke dalam persepsi penonton.
Dalam konteks tersebut, Clara Shinta yang berperan sebagai wanita berhijab hadir sebagai aksi yang tidak banyak berbicara, tetapi justru melalui keheningannya ia mewakili lapisan makna yang sedang dibangun. Ia menyimak berbagai bentuk represivitas yang terjadi di hadapannya dalam diam, seolah menjadi titik observasi yang stabil di tengah dunia visual yang penuh kekerasan simbolik.
Kehadirannya sekaligus mewakili posisi penonton. Clara tidak hanya berfungsi sebagai karakter dalam film, tetapi juga sebagai cermin yang mengarahkan tructura melihat peristiwa. Dalam keheningannya, ia menegaskan posisi penonton sebagai pengamat yang berada di ambang: menyaksikan, memahami, tetapi tidak selalu mampu atau diberi ruang untuk merespons secara langsung.
Film sebagai Cermin Waktu
Meskipun diproduksi pada tahun 1991, Kantata Takwa dapat dipahami sebagai karya yang bersifat “timeless”. Ia hadir dari era Orde Baru, namun menawarkan pend katan visual dan estetika yang tetap relevan dalam konteks sinema kontemporer.
Film ini tidak hanya berbeda dari film-film pada zamannya, tetapi juga tetap memiliki resonansi dalam membaca situasi sosial-politik hari ini. Pantulan dari film ini terus bergerak melintasi waktu. Ia menjadi “barang lama” yang justru tetap hidup dalam pembacaan baru. Dalam pengertian ini, Kantata Takwa dapat dilihat sebagai ruang refleksi yang membuka perbandingan antara masa lalu dan masa kini.
Jika ditarik ke konteks sosial yang lebih luas, film ini juga memunculkan kesadaran bahwa banyak persoalan tructural—kemacetan, korupsi, pelanggaran HAM, erosi hukum, dan berbagai bentuk degradasi sosial—masih menunjukkan kesinambungan yang problematis hingga hari ini.




Ilustrasi 5. Pertunjukan panggung Kantata Takwa di Gelora Bung Karno (1991). Sumber: Film Kantata Takwa.
Dalam pembacaan itulah, Kantata Takwa dapat dipahami sebagai sebuah cermin yang tidak hanya memantulkan permukaan waktu, tetapi juga menyingkap lapisan-lapisan sejarah sosial, politik, dan budaya Indonesia. Di dalam pantulan itu, kita tidak hanya melihat perubahan yang telah terjadi, tetapi juga jejak-jejak stagnasi yang terus bertahan, seolah waktu tidak sepenuhnya bergerak ke depan, melainkan berulang dalam wajah yang berbeda.
Film ini memperlihatkan bahwa dinamika sosial tidak selalu mengarah pada transformasi yang utuh. Ada ruang-ruang yang mengalami perubahan, tetapi ada pula struktur yang tetap bertahan, bahkan menjelma dalam bentuk-bentuk baru. Karena itu, Kantata Takwa tidak menawarkan jawaban yang final, melainkan membuka ruang tafsir yang terus berkembang seiring perubahan zaman.
Lebih dari sekadar karya seni, film ini menjadi medan refleksi yang terus bekerja. Ia tidak berhenti pada momen ketika diproduksi pada 1991 ataupun saat dirilis pada 2010, tetapi terus melahirkan makna setiap kali dipertemukan dengan realitas masa kini. Setiap penayangan dan setiap pembacaan ulang menghadirkan lapisan interpretasi baru, mempertemukan ingatan sejarah dengan pengalaman kontemporer.
Dengan demikian, Kantata Takwa tidak sekadar merekam sebuah zaman, tetapi mengajak kita berdialog dengannya. Film ini menunjukkan bahwa sinema dapat menjadi medium yang menjaga ingatan kolektif tetap hidup, sekaligus menguji kembali bagaimana kita memaknai kekuasaan, kebebasan berekspresi, dan perjalanan bangsa dari waktu ke waktu.
***
*Bambang Supriadi, Indonesian Cinematographers Society.




