Motayok: Tradisi Pengobatan Tradisional Bolaang Mongondow
Oleh: Hari Suroto*
Motayok merupakan tradisi pengobatan yang dilakukan secara turun-temurun oleh masyarakat Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara. Motayok berupa ritual tarian untuk mengobati orang sakit dengan bantuan roh leluhur melalui bolian. Saat melakukan ritual motayok, bolian menari diiringi musik gimbal (gendang) dan golantong (gong), bolian didampingi oleh seorang yang disebut mokokapoi untuk memanggil roh, dan monenden yang bertugas menjawab tenden atau syair yang dilantunkan bolian selama ritual berlangsung.

Terdapat tiga jenis penyakit yang dapat diobati yaitu takit kon bonu baloy (penyakit yang didapat dalam rumah), takit kon dalan (penyakit yang didapat diperjalanan), takit kon kayuon (penyakit yang didapat dalam hutan).
Pelaksanaan ritual ini, sebelumnya didahului dengan penyiapan bahan-bahan makanan untuk sesajen serta bahan-bahan lainnya. Sesajen, diantaranya makanan berupa ayam kampung utuh yang dimasak dengan rempah-rempah, telur ayam, beras ketan yang dibungkus daun woka dan beras yang dibungkus daun nasi (keduanya dimasak dalam bambu). Semua bahan-bahan sesajen tersebut dibungkus dalam empat daun woka berukuran besar. Bahan-bahan lainnya yaitu buah pinang dan rempah-rempah daun yang ditaruh dalam wadah anyaman.

Setelah semua bahan sesajen siap, dilanjutkan dengan alat musik gimbal dan golantong dibunyikan oleh pemain musik, kemenyan dibakar, mokokapoi mulai memanggil roh leluhur, bolian mulai menari, mantera-mantera penyembuhan dinyanyikan oleh bolian dan dua orang monenden.

Dahulu, ritual motayok dimainkan selama tiga hari tiga malam dan hari terakhirnya disebut tabangan atau penutup, roh leluhur keluar dari bolian kembali ke alam asal. Saat ini, tradisi pengobatan tradisional motayok ini sudah sangat jarang diketahui oleh generasi muda, karena sistem pengobatan modern yang makin maju membuat masyarakat menganggap tradisi ini hanyalah takhayul dan mitos. Di Bolaang Mongondow, motayok masih dapat dijumpai di Desa Tudu Aog.
Gimbal
Alat musik gimbal adalah instrumen musik perkusi tradisional yang digunakan dalam ritual motayok. Alat musik ini dimainkan untuk mengiringi ritual sakral seperti memanggil roh leluhur dan penyembuhan. Alat musik gimbal dalam prosesi motayok, berfungsi sebagai pengatur ritme/ketukan selama prosesi ritual berlangsung, mengiringi tarian dan lantunan mantra.

Sepintas, gimbal bentuknya mirip gendang, cara memainkannya yaitu dengan dipukul menggunakan alat khusus terbuat dari kayu. Suara yang dihasilkan tidak hanya menambah keindahan acara, tetapi juga mempertegas suasana yang lebih hidup dan penuh semangat.
Proses pembuatannya, kayu batang pohon dipotong sesuai ukuran yang diinginkan. Bagian tengah kayu dilubangi dengan dipahat hingga membentuk tabung berongga. Bagian luar dan dalam tabung kayu dihaluskan menggunakan alat pahat atau amplas. Selanjutnya kulit kerbau atau sapi yang sudah dibersihkan dari bulu dan dikeringkan, dipotong melingkar. Kulit ini direntangkan di kedua ujung tabung kayu. Tali rotan digunakan sebagai cincin pengikat serta pasak kayu untuk meregangkan dan mengencangkan kulit pada tabung kayu. Tali pengikat rotan ini disetel untuk menghasilkan resonansi suara sesuai standar.
*Hari Suroto, Balai Pelestarian Kebudayaan Sulawesi Utara





