Offside: Dunia dari Luar Stadion
Oleh: Purnawan Andra*
Ada banyak film yang menggunakan sepak bola sebagai latar cerita. Sebagian berbicara tentang kemenangan, sebagian tentang kekalahan, sebagian lagi tentang ambisi dan ketenaran. Namun Offside (2006) karya sutradara Iran, Jafar Panahi, memilih jalan yang berbeda.
Film yang mendapatkan pujian dari para kritikus dan memenangkan penghargaan prestisius Silver Bear di Festival Film Internasional Berlin ini tidak bercerita tentang pertandingan. Ia bahkan tidak benar-benar bercerita tentang pemain sepak bola. Ia justru bercerita tentang orang-orang yang tidak diizinkan menonton pertandingan.

Sumber: https://www.filmaffinity.com/
Sekelompok perempuan muda berusaha masuk ke stadion untuk menyaksikan laga kualifikasi Piala Dunia antara Iran versus Bahrain. Mereka menyamar sebagai laki-laki, tertangkap, lalu ditempatkan di area penjagaan di luar tribun. Dari tempat itu mereka dapat mendengar sorak-sorai penonton, mendengar komentar pertandingan, bahkan merasakan ketegangan yang sedang berlangsung. Tetapi mereka tidak dapat melihat pertandingan itu sendiri.
Di Iran, perempuan secara hukum dilarang menghadiri pertandingan sepak bola pria karena alasan kekhawatiran akan kekerasan atau pelecehan verbal. Jafar Panahi menggunakan premis yang sederhana namun kuat untuk menyoroti absurditas aturan tersebut.
Alih-alih menjadikannya film yang kelam atau terlalu didaktik, ia menyajikannya dengan sentuhan komedi yang ringan dan mengalir. Para karakter perempuan muda ini tidak ditampilkan sebagai aktivis radikal, melainkan sekadar penggemar yang menginginkan hak normal untuk merayakan kegembiraan bersama.
Namun jika berhenti di sana, kita justru kehilangan lapisan paling menarik dari film ini. Yang diperlihatkan Panahi bukan sekadar larangan masuk stadion. Yang diperlihatkannya adalah pengalaman berada sangat dekat dengan sebuah peristiwa besar, tetapi tidak diizinkan menjadi bagian penuh dari pengalaman tersebut. Di situlah kekuatan film ini berada.
Gaya penyutradaraannya cenderung realis dengan sentuhan dokumenter. Hebatnya, film ini direkam langsung di tengah-tengah kualifikasi Piala Dunia yang sebenarnya. Karena syuting dilakukan tanpa izin resmi, Panahi harus menggunakan skrip yang diadaptasi secara langsung mengikuti jalannya pertandingan. Hal ini memberikan ketegangan dan keautentikan emosi yang luar biasa.
Keterbatasan tempat tersebut membuat Panahi harus memaksimalkan dialog dan interaksi mereka dengan para tentara yang menjaga mereka. Percakapan yang terjadi kerap kali membuka diskusi mengenai kesetaraan gender dan ketidak-masuk-akalan sistem yang berlaku. Penonton jadi diajak merasakan ironi di mana para wanita di Iran seolah berada di posisi “offside” di negara mereka sendiri—terpinggirkan dari hak-hak publik.

Sumber: http://imdb.com
Makna Kebudayaan
Menariknya, Panahi memilih sepak bola sebagai panggung cerita. Pilihan ini tidak kebetulan. Sepak bola, terutama Piala Dunia, bukan hanya olahraga. Ia adalah salah satu sedikit peristiwa global yang masih mampu menciptakan pengalaman bersama dalam skala yang sangat besar.
Ketika sebuah negara bertanding, jutaan orang mengikuti pertandingan yang sama, membicarakan momen yang sama, dan merasakan emosi yang sama. Mereka mungkin berbeda latar belakang sosial, pendidikan, pekerjaan, bahkan pandangan politik, tetapi untuk sementara waktu mereka berada dalam satu pengalaman yang sama.
Dalam pengertian inilah sepak bola memiliki makna kebudayaan yang jauh melampaui olahraga. Ia menciptakan apa yang bisa disebut sebagai pengalaman kolektif.
Manusia membutuhkan pengalaman semacam itu. Bukan karena pertandingan sepak bola akan mengubah hidup mereka, tapi karena pengalaman bersama membuat seseorang merasa menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar daripada dirinya sendiri.
Ketika sebuah bangsa bersorak bersama, yang sedang dirayakan bukan hanya gol. Yang sedang dirayakan adalah perasaan menjadi bagian dari sebuah “kita”.
Karena itulah perempuan-perempuan dalam Offside tidak sedang memperjuangkan hak untuk menonton pertandingan semata. Mereka sedang memperjuangkan hak untuk ikut mengalami.

Sumber: https://www.filmaffinity.com/
Di sinilah film ini terasa relevan ketika dunia sedang merayakan Piala Dunia 2026 di Kanada, Amerika Serikat, dan Meksiko saat ini. Piala Dunia selalu dipromosikan sebagai perayaan global. Turnamen ini menghadirkan puluhan negara, miliaran penonton, dan berbagai identitas budaya dalam satu panggung bersama.
Selama sebulan, dunia seolah memiliki cerita yang sama untuk dibicarakan. Tapi pada saat yang sama, dunia yang mengelilinginya justru tampak bergerak nstrum yang berbeda.
Konflik geopolitik meningkat di berbagai nstrum. Mobilitas manusia semakin dipengaruhi oleh identitas kewarganegaraan. Perbatasan yang dulu dianggap semakin terbuka justru kembali menjadi nstrument politik yang penting. Dunia semakin terhubung secara teknologi, tetapi tidak selalu semakin dekat secara sosial maupun politik.
Ironi inilah yang membuat Offside terasa sangat kontemporer. Film tersebut mengingatkan bahwa persoalan terbesar sering kali bukan soal apakah sebuah perayaan bersama ada atau tidak ada. Persoalannya adalah siapa yang benar-benar dapat menjadi bagian dari perayaan itu?
Pengalaman Bersama
Akan tetapi, kekuatan Offside sesungguhnya tidak terletak pada kritik politiknya. Banyak film lain melakukan hal yang sama. Yang membuat film ini bertahan hingga hari ini adalah kemampuannya menangkap sesuatu yang lebih mendasar dalam kehidupan manusia. Yakni kebutuhan untuk diakui sebagai bagian dari pengalaman bersama.
Dalam film ini, para perempuan tidak menuntut menjadi pemain. Mereka tidak meminta menjadi pusat perhatian. Mereka hanya ingin hadir. Hanya ingin menyaksikan. Hanya ingin ikut berada dalam momen yang dirasakan oleh jutaan warga negaranya.

Sumber: imdb.com
Tuntutan yang tampak sederhana itu justru membuka pertanyaan kebudayaan yang lebih besar. Apa yang membuat seseorang merasa menjadi bagian dari sebuah masyarakat? Apakah cukup dengan tinggal di wilayah yang sama? Apakah cukup dengan memiliki kewarganegaraan yang sama? Ataukah rasa memiliki itu lahir ketika seseorang merasa ikut terlibat dalam pengalaman yang dirasakan bersama?
Panahi tampaknya memilih kemungkinan yang terakhir. Karena dalam Offside, persoalan utamanya bukan keberadaan pagar stadion. Persoalan utamanya adalah keterpisahan dari pengalaman kolektif yang sedang berlangsung di balik pagar itu.
Mungkin karena itulah film ini terasa dekat dengan berbagai masyarakat modern, termasuk Indonesia. Hari ini kita sering berbicara tentang pembangunan, kemajuan teknologi, pertumbuhan ekonomi, atau transformasi sosial. Semua itu penting. Tapi ada pertanyaan yang jarang diajukan.
Apakah masyarakat masih merasa sedang menjalani cerita yang sama? Ataukah semakin banyak orang yang hanya mendengar sorak-sorai dari kejauhan tanpa sungguh merasa menjadi bagian dari apa yang sedang dirayakan?
Pertanyaan ini tidak harus dijawab dalam konteks politik. Ia dapat ditemukan dalam banyak aspek kehidupan sehari-hari. Dalam pendidikan, kebudayaan, pembangunan kota, bahkan dalam percakapan publik.
Karena pada akhirnya, manusia tidak hanya membutuhkan akses terhadap berbagai fasilitas kehidupan. Manusia juga membutuhkan rasa memiliki terhadap dunia yang sedang dibangun di sekitarnya. Dan rasa memiliki itu lahir dari pengalaman bersama.
Di penghujung film, pertandingan berakhir. Euforia kemenangan memenuhi jalan-jalan Teheran. Orang-orang turun ke jalan untuk merayakannya. Para perempuan yang sebelumnya ditahan ikut terbawa dalam arus kegembiraan itu.
Adegan tersebut terasa sederhana, tetapi menyimpan makna yang dalam. Pada akhirnya, mereka tidak hanya ingin melihat pertandingan. Mereka ingin menjadi bagian dari cerita yang sedang ditulis bersama.
Di situlah, dua puluh tahun setelah dirilis, Offside tetap terasa relevan. Ia melampaui kisah tentang stadion, sepak bola, atau bahkan Iran. Film ini berbicara tentang kebutuhan yang sangat manusiawi, yaitu kebutuhan untuk ikut mengalami dunia bersama orang lain.
Purnawan Andra, alumnus Jurusan Tari ISI Surakarta, suporter klub sepakbola Liverpool, Pamong Budaya Kementerian Kebudayaan





