Sapardi dan Ikhtiar Menjadi Manusia 

Oleh: Purnawan Andra*

Ada pertanyaan menarik yang mungkin jarang kita ajukan. Mengapa puisi-puisi Sapardi Djoko Damono terus menemukan pembacanya di tengah Indonesia yang berubah begitu cepat? Padahal, dunia yang dihadapi generasi sekarang sangat berbeda dengan dunia ketika puisi-puisi itu lahir.

Media sosial mengubah cara manusia berkomunikasi. Teknologi digital mengubah cara manusia bekerja. Politik dan ekonomi bergerak dalam ritme yang semakin cepat. Namun, di tengah perubahan itu, orang masih mengutip “Hujan Bulan Juni”, masih membaca “Aku Ingin”, dan masih menemukan dirinya dalam bait-bait sederhana yang ditulis Sapardi.

Barangkali jawabannya bukan karena Sapardi adalah penyair cinta. Barangkali, Sapardi terus hidup karena ia sedang menjaga sesuatu yang semakin langka dalam kehidupan sosial kita.

Percepatan Sosial

Sosiolog Jerman, Hartmut Rosa, pernah berbicara tentang percepatan sosial. Menurutnya, modernitas membuat manusia hidup dalam ritme yang semakin cepat. Teknologi berkembang cepat, informasi bergerak cepat, keputusan harus diambil cepat, bahkan hubungan antarmanusia pun sering kali berjalan dalam logika kecepatan. Ironisnya, semakin cepat dunia bergerak, semakin banyak orang merasa kehilangan kedekatan dengan hidupnya sendiri.

Indonesia tidak berada di luar pengalaman itu. Kita hidup di tengah budaya yang semakin mengutamakan respons cepat. Berita harus segera dibagikan. Opini harus segera dibentuk. Prestasi harus segera ditunjukkan. Pembangunan harus segera terlihat hasilnya. Bahkan kebahagiaan pun sering kali dituntut untuk segera dipamerkan.

Di tengah ritme seperti itu, puisi Sapardi seperti menghadirkan dunia yang lain. Ia tidak tergesa-gesa, tidak berteriak dan tidak sibuk meyakinkan pembaca bahwa dirinya penting. Sapardi seolah mengajak kita percaya bahwa ada nilai-nilai yang tidak perlu dipercepat.

Dalam perspektif antropologi, hal semacam itu sesungguhnya tidak asing bagi masyarakat Indonesia. Berbagai tradisi Nusantara dibangun di atas penghormatan terhadap proses. Petani mengenal musim tanam dan panen. Nelayan mengenal musim laut. Masyarakat adat memiliki berbagai ritual yang tidak dapat dipercepat hanya karena kebutuhan ekonomi. Kesenian tradisional pun lahir dari latihan panjang dan pengulangan yang sabar. Kebudayaan, pada dasarnya, adalah seni hidup bersama waktu.

Masalahnya, modernitas sering kali mengubah waktu menjadi komoditas. Waktu dipandang sebagai sesuatu yang harus dimanfaatkan seefisien mungkin. Yang lambat dianggap tertinggal. Yang diam dianggap tidak produktif. Yang tidak terlihat dianggap tidak penting.

Sapardi justru menawarkan logika yang berbeda. Dalam “Hujan Bulan Juni”, misalnya, tidak ada ledakan emosi. Yang ada justru kemampuan merawat sesuatu tanpa harus menguasainya. Dalam “Aku Ingin”, cinta tidak diwujudkan melalui janji besar, tetapi melalui kayu kepada api yang menjadikannya abu atau awan kepada hujan yang menjadikannya tiada. Ada kesediaan memberi tanpa menjadikan pemberian itu sebagai alat untuk memiliki.

Barangkali di situlah letak kekuatan Sapardi. Ia mempertahankan nilai-nilai yang mulai mengalami kelangkaan sosial. Kesabaran, kelembutan, kesederhanaan, kemampuan mendengar, kemampuan memberi dan kemampuan mencintai tanpa harus menguasai. Nilai-nilai itu mungkin terdengar sederhana, tetapi kehidupan sosial justru membutuhkannya lebih dari sebelumnya.

Filsuf Korea Selatan, Byung-Chul Han, menyebut masyarakat modern sebagai masyarakat yang kelelahan. Manusia terus didorong untuk berprestasi, bersaing, dan menunjukkan dirinya kepada orang lain. Akibatnya, ruang untuk merenung dan mengalami kehidupan secara utuh semakin menyempit.

Mungkin karena itulah puisi Sapardi terasa menenangkan. Ia tidak menawarkan jalan keluar dari berbagai persoalan bangsa. Ia tidak sedang menyusun manifesto politik atau teori pembangunan. Namun, ia mengingatkan bahwa manusia tetap membutuhkan ruang untuk menjadi manusia.

Politik Kebudayaan

Hal ini menarik jika dikaitkan dengan politik kebudayaan Indonesia. Selama ini, kebudayaan sering dipahami sebagai sesuatu yang dapat dilihat dalam bentuk festival, pertunjukan, atau perayaan besar. Semua itu tentu penting. Tapi, kebudayaan juga memiliki dimensi yang lebih sunyi. Ia hidup dalam bahasa, ingatan, kebiasaan, dan cara manusia memandang sesamanya.

Sastra menjadi bagian penting dari proses itu. Sastra tidak membangun jalan raya atau pelabuhan. Sastra tidak menaikkan angka pertumbuhan ekonomi. Tapi, sastra membantu masyarakat merawat kepekaan sosialnya. Ia mengajarkan empati, kerendahan hati, dan kemampuan melihat dunia dari sudut pandang orang lain. Tanpa kemampuan-kemampuan itu, pembangunan justru kehilangan arah kemanusiaannya.

Di tengah berbagai tantangan Indonesia hari ini, mulai dari polarisasi sosial, percepatan teknologi, hingga krisis ekologis, mungkin yang kita perlukan bukan hanya inovasi dan efisiensi. Kita juga memerlukan ruang-ruang kebudayaan yang menjaga kualitas hubungan antarmanusia.

Sapardi mengingatkan bahwa kehidupan tidak selalu harus dijalani sebagai perlombaan. Ada saat untuk berhenti. Ada saat untuk mendengar. Ada saat untuk menghargai hal-hal kecil yang sering luput dari perhatian.

Mungkin itulah sebabnya puisi-puisi Sapardi terus bertahan. Bukan karena ia sedang meramalkan masa depan Indonesia, melainkan karena ia sedang menjaga nilai-nilai yang membuat sebuah masyarakat tetap layak disebut beradab.

Kita mungkin hidup di zaman yang semakin cepat, tetapi manusia tetap membutuhkan kelembutan. Kita mungkin hidup di tengah persaingan yang semakin ketat, tetapi manusia tetap membutuhkan kasih sayang. Kita mungkin membangun kota-kota yang semakin modern, tetapi manusia tetap membutuhkan bahasa untuk memahami dirinya sendiri.

Barangkali, itulah yang diam-diam sedang dilakukan Sapardi selama ini. Ia tidak sedang mengajarkan kita cara menjadi bangsa yang hebat. Ia hanya mengingatkan bahwa sebuah bangsa tidak akan bertahan hanya karena kekuatan ekonomi atau kecanggihan teknologinya. Sebuah bangsa juga bertahan karena kemampuannya merawat nilai-nilai yang paling sederhana dalam kehidupan bersama.

Dan mungkin, di tengah Indonesia yang semakin gaduh dan tergesa-gesa, kelangkaan sosial terbesar yang sedang dijaga Sapardi bukanlah cinta atau kerinduan. Melainkan kemampuan kita untuk tetap menjadi manusia.

*Purnawan Andra, alumnus Jurusan Tari ISI Surakarta, ASN pada Ditjen Pengembangan, Pemanfaatan & Pembinaan Kebudayaan Kementerian Kebudayaan, penerima fellowship Humanities & Social Science di Universiti Sains Malaysia.