ALBUM FOTO KELUARGA: Kita, Tata Kelola Arsip, dan Algoritma

Oleh: Dr. Mikke Susanto, S.Sn., M.A.*

Pidato Ilmiah Dr. Mikke Susanto, M.A. pada Sidang Senat Terbuka Dies Natalis ISI YOGYAKARTA ke-42 di Concert Hall ISI Yogyakarta 3 Juni 2026.

Keluarga kami menyimpan ribuan lembar foto keluarga. Sebagian dikemas pada album foto. Foto tertua peninggalan simbah saya yang berasal dan tinggal di desa Kencong, Jember diperkirakan dicetak pada akhir dekade 1930-an.

Dalam foto itu, ibu saya, Mudrikah masih berusia sekitar empat tahun berdiri di depan mbah kakung. Sementara paklik saya, Mudrik yang masih berkepala plontos tampak dipangku mbah putri. Mbah putri Nafsiah tampil dengan kerudung penutup kepala khas perempuan Nusantara, berkebaya dan berjarik batik tulis, memperlihatkan identitas perempuan kala itu masih lekat dengan tradisi lokal, jauh sebelum hadirnya busana Muslim modern seperti sekarang. Sementara Mbah Kakung Saderani (1899-2000) mengenakan peci, jas putih, dan sarung. Penampilannya mencerminkan sintesis antara modernitas, nasionalis, dan identitas Islam pribumi pada zamannya. Bahkan secara visual, sosoknya mengingatkan pada tokoh pergerakan yang sangat dikaguminya: H.O.S. Tjokroaminoto

Foto ini sangat jelas merekam wajah asal usul keluarga saya. Seperti apa kami dahulu. Sampai pada pertanyaan, “Jangan-jangan ketika saya berdiri di depan podium di depan bapak ibu ini juga karena mendapat energi, DNA, atau warisan psikologis dari Mbah Saderani?”. Patut diketahui, kakek adalah orang yang sangat kreatif mengubah benda-benda domestik menjadi sesuatu yang menarik. Dulu ketika ia hidup belum ada istilah seni instalasi, Mbah Saderani telah membuat instalasi cahaya dari lampu sentir di ruang keluarga. Ia juga mendisplay rumahnya ibarat galeri dengan satu dua reproduksi lukisan dan poster dan tokoh partai yang dianutnya. Termasuk saya mendapatkan cerita, ternyata beliau ini adalah salah satu pengurus ranting Partai Sarikat Islam Indonesia (PSII) di Jember. Artinya, foto ini selain menghadirkan gambaran keluarga kami, juga imaji masyarakat Jawa-Muslim pada masa kolonial Belanda akhir. Dari selembar foto itulah serpihan sejarah terungkap, baik tentang mode berpakaian, aspirasi sosial, pengaruh politik, dan perubahan budaya masyarakat Indonesia pada awal abad ke-20.

Inilah studi yang mengimplementasi realitas bahwa foto keluarga sesungguhnya merupakan arsip peradaban kecil. Jauh sebelum negara membangun museum, perpustakaan, atau arsip nasional, keluarga telah lebih dahulu menyimpan jejak kehidupannya sendiri. Perlu diingat manusia selalu meninggalkan tanda tentang keberadaannya: melalui foto keluarga, surat-surat lama, buku harian, rekaman suara, video VHS, kaset, hingga hari ini percakapan di WhatsApp dan galeri gawai. Dari ruang-ruang domestik yang tampak sederhana itulah sesungguhnya sejarah kebudayaan manusia perlahan dibangun dan diwariskan. Dari sekumpulan foto di dalam album inilah kita bisa menjelajahi waktu.

 

Arsip Keluarga: dari Benda Fisik menuju Memori Digital

Sebagaimana dipahami Jacques Derrida dalam gagasannya tentang Archive Fever, arsip tidak pernah dipahami sebatas ruang simpan dokumen. Fungsinya lebih jauh dari itu, yakni sebagai wujud hasrat manusia untuk melawan kefanaan waktu. Dalam album foto keluarga, hasrat itu hadir melalui tindakan sederhana namun penuh emosi: memilih momen, menyimpan wajah orang-orang tercinta, dan mewariskan kenangan agar tetap hidup melintas generasi demi generasi. Album foto keluarga menjadi bagian dari usaha manusia mempertahankan kehadiran di tengah kecemasan akan lupa dan kematian. Sekaligus di dalamnya mengandung paradoks arsip: di satu sisi ia lahir dari kecemasan akan hilangnya memori dan kematian, tetapi di sisi lain foto juga menjadi bentuk harapan manusia untuk terus hidup melalui jejak visual yang diwariskan.

Dalam perspektif sosiologi, arsip keluarga memiliki fungsi yang jauh melampaui kenangan personal. Fotofoto ini menjadi penanda identitas yang membantu individu memahami asal-

usul, posisi sosial, dan keterhubungannya dengan komunitas maupun sejarah bangsa. Melalui foto, dan dokumen rumah tangga, arsip juga bekerja sebagai memori lintas generasi

yang memungkinkan nilai, pengalaman, dan pandangan hidup diwariskan dari satu generasi ke generasi. Pada saat yang sama, arsip keluarga berfungsi sebagai bukti sejarah sosial yang merekam perubahan gaya hidup, pendidikan, relasi gender, mobilitas sosial, hingga transformasi budaya masyarakat dari waktu ke waktu. Karena itu, arsip domestik sesungguhnya menjadi instrumen pewarisan nilai sekaligus ruang produksi nostalgia dan afeksi, tempat keluarga membangun rasa memiliki, kedekatan emosional, dan kesadaran kolektif tentang siapa mereka dalam perjalanan sejarah sosialnya.

Arsip keluarga menjadi penting karena menghadirkan apa yang disebut sebagai history from below–sejarah dari kehidupan sehari-hari yang sering kali tidak tercatat dalam arsip resmi negara atau institusi besar. Dari foto-foto yang tersimpan di rumah, sesungguhnya kita dapat membaca perubahan kelas sosial, identitas budaya, pola migrasi,

pendidikan, gaya berpakaian, hingga cara masyarakat memahami modernitas pada zamannya. Karena itu, album foto keluarga juga berfungsi sebagai medan produksi pengetahuan budaya, tempat sejarah besar suatu bangsa perlahan disusun dari serpihan-serpihan kecil kehidupan rumah kita yang tampak biasa, akan tetapi sarat makna.

Perubahan Besar:

Digitalisasi Kehidupan

 Perubahan besar dalam kehidupan manusia terjadi ketika arsip keluarga memasuki era digital. Album foto

perlahan bergeser menjadi galeri di smartphone, surat berubah menjadi chat digital, sementara kaset VHS dan Betamax digantikan oleh cloud storage yang dapat diakses kapan saja. Jika dahulu dokumentasi bersifat terbatas dan hanya dilakukan pada momenmomen penting, kini hampir seluruh pengalaman hidup direkam tanpa henti. Manusia hidup dalam apa yang dapat disebut sebagai “peradaban dokumentasi total”, zaman ketika setiap peristiwa dipotret, direkam, diunggah, disimpan, bahkan dianalisis oleh algoritma. Dalam situasi ini, arsip telah menjadi bagian dari sistem digital yang ikut membentuk cara manusia mengingat, berinteraksi, dan memahami dirinya sendiri. Digitalisasi sebagai produk

pengetahuan juga perlu penumbuhkan  kesadaran saintis.

Budaya Digital & “Post-Machine Algorithm”

Dalam era post-machine algorithm, akhirnya manusia tidak sepenuhnya mampu mengendalikan, mengingat dan menyimpan kenangan. Sebab algoritma mulai ikut menentukan

memori mana yang dimunculkan, dipilih, dan dianggap penting dalam kehidupan keluarga. Melalui fitur seperti Facebook Memories, Google Photos, pengenal wajah berbasis AI, restorasi foto lama, hingga teknologi deepfake dan voice cloning, arsip keluarga berubah dari dokumentasi menjadi sistem memori digital yang aktif dan terus diproduksi ulang oleh mesin. Teknologi kini bahkan mampu menghadirkan kembali wajah dan suara orang tua atau anggota keluarga yang telah wafat, menciptakan pengalaman emosional yang sebelumnya tidak pernah dibayangkan. Karena itu muncul pertanyaan-pertanyaan kritis: siapa sesungguhnya yang kini mengelola memori keluarga: manusia atau algoritma? Apakah manusia masih menjadi pemilik penuh atas arsip kehidupannya? Dan ketika AI dapat “menghidupkan kembali” sosok yang telah tiada, apakah arsip masih dapat dipahami sebagai dokumen sejarah, atau justru telah berubah menjadi simulasi kehidupan itu sendiri?

Kidd dan McAvoy dalam bukunya AI

Afterlives: Digital Memory and Synthetic Pasts (2026) memperlihatkan bagaimana kecerdasan buatan telah mengubah cara manusia berhubungan dengan arsip keluarga dan pengalaman atas kehilangan

dan kematian. Melalui teknologi animasi foto lama, restorasi wajah, hingga simulasi suara orang yang telah wafat, AI kini mampu menghadirkan kembali sosok-sosok masa lalu seolah masih hidup dan dapat diajak berinteraksi. Dalam situasi ini, album foto keluarga berubah menjadi bentuk synthetic memory atau memori yang diproduksi ulang, diremediasi, dan dihidupkan kembali oleh algoritma. Akibatnya, manusia mulai hidup di antara batas yang semakin kabur antara kenyataan dan simulasi, antara ingatan personal dan rekonstruksi digital. Arsip keluarga pun menjadi ruang negosiasi baru antara manusia, data, emosi, dan mesin, tempat teknologi bukan hanya menyimpan kenangan, tetapi juga ikut membentuk cara manusia merasakan kehadiran, kehilangan, dan kehidupan itu sendiri.

Dari Arsip ke Data

Perubahan paling mendasar dalam budaya arsip hari ini adalah bergesernya fungsi arsip dari memori menjadi data. Jika dahulu arsip keluarga dipahami sebagai ruang penyimpanan kenangan, maka di era digital arsip selain dilihat oleh manusia, juga dibaca, dipetakan, dan dianalisis oleh AI. Foto keluarga, rekaman video, percakapan digital, hingga pola komunikasi kini berubah menjadi data yang dapat diprediksi, dipersonalisasi, bahkan diperdagangkan. Dalam situasi ini, arsip keluarga tidak lagi sepenuhnya bersifat privat, melainkan telah menjadi komoditas digital sekaligus bahan pelatihan AI untuk mengenali wajah, emosi, kebiasaan, dan perilaku sosial manusia. Akibatnya, memori domestik yang dahulu intim dan personal kini ikut masuk ke dalam ekosistem ekonomi data global. Tempat kehidupan sehari-hari manusia perlahan diterjemahkan menjadi informasi yang dapat dihitung, dikendalikan, dan dimonetisasi.

Dalam ekosistem digital hari ini, foto keluarga, hingga dokumen pribadi masuk ke dalam kategori unstructured data—data tidak terstruktur yang justru menjadi bahan paling kaya bagi sistem kecerdasan buatan untuk mengenali wajah, emosi, lokasi, kebiasaan, dan relasi sosial manusia. Sebagian lainnya kemudian diolah menjadi semi-structured data melalui metadata, tag lokasi, tanggal, maupun pengenal identitas digital yang memudahkan algoritma mengelompokkan dan memprediksi perilaku pengguna. Dalam konteks ini, perubahan dari arsip menjadi data (structured data) menunjukkan bahwa kenangan keluarga telah masuk ke dalam sistem komputasional global menghubungkan dan mengubah pengalaman hidup manusia menjadi informasi yang dapat digunakan untuk berbagai hal.

Setiap foto memiliki keterhubungan dengan identitas, ingatan, ruang sosial, teknologi, dan sejarah zamannya. Dalam era budaya digital, arsip berubah menjadi jejaring data yang saling terhubung, dianalisis, dan dipetakan oleh algoritma. Dari sebuah foto keluarga Mbah Saderani, sistem dapat membaca hubungan antaranggota keluarga,

lokasi geografis, waktu, pola sosial, bahkan preferensi budaya seseorang. Sampai ada aplikasi “familySearchAPI”. Karena itu, arsip hari ini dipahami sebagai “peta kosmologis” kehidupan manusia di masa depan. “Peta kosmologis” ini memperlihatkan bahwa arsip sesungguhnya tidak pernah berdiri sendiri, tetapi membentuk jaringan

relasi yang kompleks layaknya gugusan bintang di alam semesta.

Digitalized Family

Dalam         perspektif    sosiologi     keluarga,     arsip-arsip   ini     juga memperlihatkan bagaimana bentuk dan struktur keluarga terus berkembang mengikuti perubahan zaman–dari keluarga tradisional yang kolektif menuju keluarga modern yang lebih individual, urban,

dan “terdigitalisasi”. Perubahan cara berpakaian, pola pengasuhan anak, tata kelola ruang domestik, hingga gaya berinteraksi antaranggota keluarga dapat dibaca melalui arsip visual lintas generasi. Karena itu, arsip keluarga menghadirkan sejarah alternatif-sejarah dari ruang-ruang kecil kehidupan manusia yang diam-diam membentuk wajah sosial masyarakat kita hari ini.

Keluarga modern kini perlahan membangun identitasnya selain melalui hubungan biologis atau emosional, juga melalui akumulasi data visual dan perilaku digital. Setiap foto yang diunggah, wajah yang dikenali AI, atau lokasi yang terekam metadata sesungguhnya sedang membentuk profil sosial keluarga di mata platform digital.

Dalam perspektif Solove dalam The Digital Person (2004), manusia sering merasa aman karena hanya membagikan “hal-hal kecil” tentang kehidupan sehari-hari, padahal justru kumpulan fragmen data itulah yang memungkinkan sistem membangun peta perilaku, preferensi, relasi sosial, bahkan prediksi psikologis seseorang. Dengan kata lain, arsip keluarga kini telah masuk ke dalam sistem surveillance capitalism, tempat memori domestik berubah menjadi sumber ekonomi data global.

Konsep yang paling dekat dan sering dijadikan rujukan adalah teori networked family dan networked individualism yang dikembangkan oleh Barry Wellman bersama Lee Rainie membentuk apa yang saya maksud sebagai digitalized family yakni keluarga yang kehidupan, komunikasi, ingatan, dan relasi emosionalnya dimediasi oleh teknologi digital dan sistem algoritmik. Dalam buku Networked: The New Social Operating System (2012), mereka menjelaskan bahwa teknologi digital telah mengubah cara keluarga berinteraksi: keluarga tidak lagi hanya bergantung pada kedekatan fisik dalam satu rumah, tetapi terhubung melalui jaringan komunikasi digital yang terus aktif. Inilah model keluarga kita hari ini.

Kehadiran digital memperpanjang relasi lintas jarak, sekaligus mengubah pengalaman kebersamaan menjadi konsumsi visual yang terus dipertontonkan. Karena itu, keluarga masa depan tidak lagi hanya menghadapi persoalan biologis dan sosiologis, tetapi juga persoalan data, privasi, algoritma, dan otoritas atas memori kolektifnya sendiri. Dalam konteks inilah, digitalized family dipahami sebagai bentuk model keluarga baru dalam peradaban pasca-mesin: keluarga yang hidup di antara ruang domestik, jaringan digital, dan bahkan warisan budayanya berkelindan dengan ekosistem kecerdasan buatan.

 

Tantangan Digitalized Family

Dalam konteks digitalized family, tantangan terbesar di era AI justru terletak bagaimana mempertahankan keaslian memori dan pengalaman manusiawi di tengah dominasi sistem algoritmik. Kehadiran teknologi seperti deepfake, manipulasi gambar, rekayasa suara, hingga AI-generated memory membuat batas antara kenangan dan simulasi menjadi semakin kabur. AI telah menghadirkan perubahan ontologis terhadap cara manusia memahami kehilangan, kematian, kelahiran dan kehadiran. Di satu sisi, teknologi ini memberi kenyamanan emosional, tetapi di sisi lain juga menciptakan pertanyaan mendasar: apakah manusia masih mengingat secara manusiawi, atau justru mulai menyerahkan proses mengingat kepada mesin? Dalam keluarga terdigitalisasi, memori tidak lagi sepenuhnya lahir dari pengalaman emosional langsung, tetapi kian diproduksi, dikurasi, dan diremediasi oleh algoritma.

Pada saat yang sama, digitalized family juga menghadapi paradoks kelimpahan arsip dan hilangnya materialitas memori. Akibatnya muncul apa yang dapat disebut sebagai digital memory fatigue-kelelahan memori digital akibat banjir dokumentasi visual yang terus berlangsung tanpa henti. Album foto fisik yang dahulu dibuka bersama di ruang keluarga, disentuh, dan infonya diwariskan lintas generasi, kini bergeser menjadi file cloud yang bergantung pada

server, password, platform, dan umur teknologi. Generasi mendatang mungkin akan mewarisi jutaan data visual keluarganya, tetapi kehilangan pengalaman emosional menyentuh foto lama atau mendengarkan cerita langsung dari orang tua dan leluhurnya. Dalam situasi inilah, digitalized family menghadapi tantangan besar: bagaimana menjaga kedalaman relasi, kehangatan ingatan, dan nilai kemanusiaan di tengah budaya arsip digital yang semakin dikendalikan mesin dan algoritma?

Peran Seni, Pendidikan, dan Perguruan Tinggi

Dalam konteks digitalized family, seni memiliki peran penting sebagai media aktivasi arsip dan penghubung antara memori personal dengan refleksi budaya yang lebih luas. Arsip keluarga yang semula tersimpan pasif dalam album, hard disk, atau cloud digital dapat dihidupkan kembali melalui praktik artistik yang kritis dan reflektif. Para seniman diharapkan menafsirkan ulang kenangan, kehilangan, identitas, dan perubahan sosial yang tersimpan di dalamnya.

Foto keluarga, hingga data digital dapat diolah menjadi karya karya berbasis AI yang mendekonstruksi batas antara ingatan dan simulasi.

Dalam proses ini, arsip keluarga berubah menjadi medium untuk membaca perubahan struktur keluarga, budaya visual, dan pengalaman manusia di era algoritma. Di sisi lain, kurator dapat berperan mengaktivasi arsip melalui pameran berbasis memori dan budaya digital. Sementara peneliti dapat menjadikan arsip domestik sebagai sumber penting untuk memahami sejarah sosial, budaya visual, dan transformasi keluarga kontemporer.

Karena itu, perguruan tinggi seni seperti Institut Seni Indonesia Yogyakarta memiliki posisi strategis dalam menghadapi perubahan budaya arsip di era AI. Jika perlu ISI Yogyakarta  membuka prodi atau pusat preservasi arsip visual dan laboratorium budaya digital. Pada era digitalized family, perguruan tinggi seni memiliki tanggung jawab penting sebagai penghubung budaya, dengan empat pilar: estetika, etika, kearifan lokal dan algoritma. Melalui 4 pilar tersebut, pendidikan seni, riset arsip, kurasi, dan praktik budaya visual, dapat membantu masyarakat memahami satu hal bahwa arsip keluarga adalah bagian dari warisan budaya dan pengalaman emosional manusia yang harus terus dirawat, ditafsirkan, dan dimaknai lintas generasi.

Menuju Etika Arsip Masa Depan

Ketika foto, video, rekaman suara, dan percakapan keluarga berubah menjadi data yang tersimpan dalam sistem digital global, muncul pertanyaan penting tentang siapa yang memiliki dan berhak mengelola memori tersebut. Isu mengenai hak keluarga atas data visual, privasi lintas generasi, etika penggunaan AI terhadap arsip orang yang telah meninggal, hingga kepemilikan memori digital menjadi semakin mendesak untuk dipikirkan. Dalam konteks inilah, kurasi arsip keluarga juga menjadi tindakan budaya yang penting: memilih bukan hanya apa yang ingin disimpan, tetapi juga bagaimana sebuah generasi ingin dikenang di masa depan hingga menentukan siapa pemilik sesungguhnya foto dalam album tersebut.

Di luar etik kepemilikan, ada satu hal lagi yang menarik untuk dipikirkan. Di tengah dunia yang mampu menyimpan hampir segala hal secara otomatis, tantangan terbesar manusia bukan lagi keterbatasan teknologi penyimpanan, melainkan kemampuan menjaga makna, empati, dan kebijaksanaan dalam mengingat. Karena itu, keluarga masa depan tidak hanya membutuhkan serverdan cloud storage, tetapi juga “kebijaksanaan untuk mengingat” agar memori tetap menjadi bagian dari pengalaman manusiawi, bukan sekadar data yang dikelola mesin. Sejarah yang “sah” tentang keluarga adalah perkara yang tak pernah selesai untuk diperdebatkan.

Penutup

Pada akhirnya, album foto simbah kami Saderani beserta ribuan arsip domestik lain yang kita miliki perlu dipahami sebagai fondasi kemanusiaan yang akan menjaga hubungan dan keintiman kita sebagai manusia, baik sesama anggota keluarga maupun anggota masyarakat dunia. Di tengah ledakan data dan perkembangan kecerdasan buatan dan algoritma, tantangan terbesar manusia justru terletak pada upaya menjaga kritisisme dan makna atas ingatan itu sendiri. Karena jika kini mesin sudah mampu mengingat lebih baik daripada manusia, maka tugas keluarga, seni dan pendidikan (kebudayaan) adalah memastikan bahwa hanya manusialah yang tetap mampu memberi makna, emosi, dan kemanusiaan pada setiap jejak kehidupan yang diwariskan, seperti yang diungkapkan Tjokroaminoto di awal. Di sinilah mahalnya kebersamaan lahir batin.

Daftar Pustaka

Barthes, R. (1981) Camera Lucida: Reflections on Photography. New York: Hill and Wang.

Bauman, Z. (2000) Liquid Modernity. Cambridge: Polity Press.

Benjamin, W. (1968) ‘The Work of Art in the Age of Mechanical Reproduction’, in Arendt, H. (ed.) Illuminations. New York: Schocken Books, pp. 217–251.

Damono, S.D. (2015) Hujan Bulan Juni. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Derrida, J. (1996) Archive Fever: A Freudian Impression. Chicago: The University of Chicago Press.

Flusser, V. (2000) Towards a Philosophy of Photography. London: Reaktion Books.

Foucault, M. (1972) The Archaeology of Knowledge. Translated by A.M. Sheridan Smith. New York: Pantheon Books.

Giaccardi, E. and Redström, J. (2023) AI Afterlives: Digital Memory and Synthetic Pasts. Cambridge, MA: MIT Press.

Hirsch, M. (1997) Family Frames: Photography, Narrative and Postmemory. Cambridge, MA: Harvard University Press.

Rainie, L. and Wellman, B. (2012) Networked: The New Social Operating System. Cambridge, MA: MIT Press.

Solove, D.J. (2004) The Digital Person: Technology and Privacy in the Information Age. New York: New York University Press.

Sontag, S. (1977) On Photography. New York: Farrar, Straus and Giroux.

Tulisan diatas adalah teks pidato ilmiahDr Mikke pada sidang senat terbuka Dies Natalis ISI Yogya ke 42 di Concert Hall ISI 3 Juni 2026

*Dr. Mikke Susanto, S.Sn., M.A. adalah akademisi, kurator, penulis, dan pengelola seni yang menekuni tata kelola pameran, arsip seni, museum, galeri, serta kurasi arsip. Ia mengajar di Jurusan Tata Kelola Seni, Fakultas Seni Rupa dan Desain, ISI Yogyakarta. Pengalamannya mencakup pengajaran museologi dan manajemen seni, penyusunan program koleksi nasional, kurasi hibah permuseuman, hingga pengembangan museum virtual dan diorama arsip. Selain aktif dalam organisasi kebudayaan, ia juga terlibat dalam riset, publikasi ilmiah, penilaian aset seni, serta proyek kuratorial yang mempertemukan praktik seni, sejarah, dokumentasi, dan pengelolaan pengetahuan budaya.