Puisi-puisi Abdul Wachid B.S.
BALADA MOH LIMO SUNAN AMPEL
malam turun di bandar Surabaya
seperti kain hitam
yang lama direndam
keringat pelaut
dan asap dapur pelabuhan
kapal-kapal asing merapat
membawa lada
membawa besi
membawa bahasa
membawa nafsu
yang berbau garam dan kulit basah
lampu minyak gemetar
di warung-warung pelabuhan
uap tuak naik dari tempayan tanah
melekat di balok kayu
di rambut orang-orang
yang terlalu lama tidak pulang
di gang-gang sempit
perempuan duduk
menunggu malam surut
mata mereka redup
seperti kaca warung
yang semalaman terkena asap
dan hujan laut
gelang kaki berbunyi lirih
dan tubuh-tubuh dipertukarkan
hingga kasih tinggal bau bedak
di bantal yang dingin
di rumah-rumah judi
dadu dilempar
ke meja kayu
bunyi kayunya retak
seperti bambu tua
dipatahkan lutut musim
lelaki-lelaki tertawa terlalu keras
tetapi suara mereka kopong
seperti kendi pecah
yang masih dipakai
menampung air hujan
arak mengalir
dari tenggorokan ke tenggorokan
mata manusia memerah
seperti bara
yang lama ditimbun sekam
seorang ayah pulang sempoyongan
keningnya bau tuak dan pelabuhan
sementara anak kecil
tidur di ambang pintu
memeluk perutnya sendiri
agar lapar tidak terlalu berisik
asap candu naik perlahan
melilit balok kayu
melilit rambut
melilit jam-jam malam
hingga bandar berjalan sempoyongan
di kepala manusia
di pasar
orang-orang mengukur untung
dengan kuku
dan tatapan mata
tangan bergerak cepat
lebih cepat daripada timbangannya
emas berpaut
beras berpindah tampah
janji berpindah mulut
dan manusia mulai mengerat hidup sesamanya
seperti pisau ikan
yang terlalu sering diasah
pelabuhan penuh suara
ombak
teriakan kuli
pecahan botol
langkah serdadu
suara perempuan menangis
dan gamelan jauh
yang terdengar
seperti retak pendapa
di dalam malam kerajaan
Majapahit menua malam itu
tembok-temboknya masih berdiri
tetapi lorong-lorongnya
mulai kehilangan arah pulang
lalu seseorang datang
dari arah laut
jubahnya disentuh angin asin
langkahnya tenang
seperti orang
yang tidak sedang mengejar dunia
ia tidak membawa pedang
tidak membawa pasukan
tidak membawa murka
hanya sepasang mata
yang masih sanggup
memandang luka manusia
tanpa jijik
Raden Rahmat
nama itu bergerak pelan
di mulut para nelayan
di antara bau ikan basah
dan ombak dermaga
seperti azan subuh pertama
yang menyentuh bandar malam
ia berjalan
melewati rumah-rumah mabuk
dan udara berubah pelan
seorang lelaki
meletakkan kendi araknya
tanpa tahu
mengapa dadanya tiba-tiba sesak
ia melewati meja judi
dadu masih berputar
tetapi tangan-tangan mulai gemetar
seperti baru sadar
bahwa hidup terlalu rapuh
untuk dilemparkan
ke lantai nasib
ia melewati gang-gang sempit
perempuan-perempuan menunduk
dan malam terasa
lebih dingin daripada biasanya
seperti ada angin laut
yang baru saja mencuci luka lama
ia masuk ke kamar candu
asap hitam masih menggantung
tetapi matanya membuat manusia
melihat tubuhnya sendiri
seperti rumah reyot
yang tiangnya mulai lapuk
ia berdiri di pasar
memandang tangan-tangan
yang terlalu sibuk menghitung untung
lalu berkata pelan
moh maling
agar manusia
tidak saling mengerat umur sesamanya
dan kata-kata itu
tidak terdengar seperti larangan
ia terdengar
seperti air sumur
yang akhirnya menemukan
jalan ke timba
moh mabok
agar dada
tidak dipenuhi kabut
yang menutup cermin batin
moh main
agar hidup
tidak habis menjadi lemparan nasib
moh madon
agar tubuh
kembali mengenal kasih
bukan sekadar persinggahan luka
moh madat
agar kesadaran
tidak dikubur hidup-hidup
di bawah asap
yang menghitamkan jiwa
malam-malam berikutnya
berubah perlahan
tidak ada petir
tidak ada langit terbelah
tetapi bandar itu
mulai belajar
bernapas lebih panjang
warung-warung tuak mulai lengang
suara dadu terdengar jauh
seperti biji saga jatuh
di lantai gudang kosong
gang-gang pelabuhan mulai sepi
azan subuh merambat
dari surau-surau kayu
melewati jemuran jala
melewati bau ikan asin
melewati pintu rumah
yang semalaman tidak terkatup rapat
para nelayan berangkat lebih pagi
anak-anak kembali berlari
di pasir basah
dan perempuan-perempuan
mulai membuka jendela
tanpa takut kepada malam
ombak tetap datang
pasar tetap ramai
kapal-kapal tetap berlabuh
tetapi manusia mulai mengerti
bahwa hidup
bukan hanya perut
yang harus diisi terus-menerus
Raden Rahmat
tidak tinggal sebagai nama
ia menjadi napas kecil
di dalam dada orang-orang
yang sedang belajar
menjinakkan gelapnya
dan ketika subuh membuka laut
langit berubah biru pucat
seperti kain panjang
yang baru diangkat
dari rendaman malam
lampu-lampu minyak padam
satu demi satu
burung-burung rendah
melintas di atas ombak
sementara bandar Surabaya
berdiri pelan di tepi air
seperti tubuh letih
yang akhirnya berhenti gemetar
2026
BALADA SULUK WUJIL SUNAN BONANG
Kota itu tidak tidur.
Ia mengunyah cahaya dari layar-layar kecil,
dan manusia berjalan seperti
bayangan yang kehilangan pemiliknya.
Jam berlari tanpa kaki,
langit disimpan di dalam saku,
dan dada manusia menjadi sumur
yang lupa cara memantulkan wajah sendiri.
“Ke mana aku pergi?”
suara itu jatuh ke jalan,
tetapi jalan hanya menjawab dengan debu
yang tidak mau menjadi nama.
Lalu datang Wujil.
Tubuh kecil di antara dua sunyi,
membawa gelisah seperti kendi retak
yang tetap ingin menampung laut.
Di hadapannya, suara itu turun
bukan dari langit, bukan dari tanah,
tetapi dari sesuatu yang lebih dekat
daripada denyut di lehernya sendiri.
“Engkau tidak berjalan ke luar,”
kata suara itu pelan,
“engkau sedang dilihat oleh langkahmu sendiri.”
Dan Wujil gemetar
seperti daun yang baru pertama kali mengenal angin
sebagai takdir.
Mekah bergerak.
Ia tidak lagi di peta,
tidak lagi di arah kompas.
Ia menjadi cahaya yang tidak punya tempat tinggal.
Batu bukan batu.
Ia mata yang menatap balik pencari.
“Yang kau cari tidak pergi,”
bisik sunyi,
“ia hanya berhenti menjadi jauh.”
Dan tiba-tiba jalan kehilangan arah,
karena arah telah masuk ke dalam dada.
Lalu dunia terbalik tanpa suara.
Langit jatuh ke telapak kaki,
bumi naik ke dahi manusia,
timur dan barat saling bertukar nama di gelap malam.
Kabah berputar tanpa tali,
dan di dalamnya orang-orang menjadi satu,
menjadi banyak,
menjadi titik yang tidak bisa dihitung angin.
Di sana doa tidak mencari arah lagi,
karena arah telah berubah
menjadi napas doa itu sendiri.
“Matilah sebelum engkau mati,”
kata suara itu, tajam, lembut,
seperti pisau yang tidak ingin melukai.
Maka Wujil melepaskan dirinya.
Nama jatuh lebih dulu.
Keinginan menyusul.
Rasa memiliki runtuh
seperti rumah yang lupa fondasinya.
Tinggal satu hal:
sunyi yang tidak tahu ia disebut siapa.
Dan dalam sunyi itu,
hidup tidak mati,
hidup hanya berhenti menjadi milik.
Di depan cermin,
Wujil berdiri tanpa pasti.
Wajah muncul, hilang, muncul lagi,
seperti air
yang tidak pernah setuju menjadi bentuk tetap.
“Siapa aku?”
Cermin tidak menjawab.
Ia hanya memperpanjang cahaya
hingga pertanyaan kehilangan tempat untuk berdiri.
Dan di sana,
aku dan bukan-aku saling mengenali
tanpa perlu memperkenalkan diri.
Di pasar kata, orang berdebat.
Kebenaran dipukul seperti logam panas.
Dalil menjadi senjata,
huruf menjadi pagar.
Tetapi sesuatu telah diam-diam pergi
dari antara suara yang terlalu yakin.
Makna berjalan tanpa kaki
ke tempat yang tidak bisa dipagari kata.
Dan yang tersisa hanya gema
yang tidak lagi ingat siapa yang memanggilnya.
“Laa…”
suara itu pecah dari dalam dada.
“tidak ada yang berdiri sendiri.”
“Illa…”
sunyi menjawabnya.
“kecuali satu yang tidak bisa dipisah dari segalanya.”
Dan kata-kata runtuh seperti buah yang matang
di tangan malam yang tidak menunggu.
Ayam bukan ayam.
Ia jam yang berkokok di dalam waktu.
Bambu bukan bambu.
Ia tangga angin
menuju sesuatu yang tidak bernama.
Kuda bukan kuda.
Ia langkah
yang belum selesai menjadi tiba.
Segala benda membuka dirinya seperti pintu,
dan pintu tidak lagi menuju ruang,
tapi menuju getar
yang tidak bisa diberi nama.
Tidak ada lagi debat.
Tidak ada lagi suara yang ingin menang.
Yang tersisa hanya napas
yang duduk di tengah dada sendiri,
mendengar sesuatu yang tidak berbicara.
Keheningan tidak menunjuk jalan.
Ia menjadi jalan itu sendiri.
Dan Wujil berjalan tanpa kaki,
menuju sesuatu yang tidak bergerak.
Mekah tidak di luar.
Ia tidak di peta, tidak di arah, tidak di jauh.
Ia hanya satu titik yang tidak berpindah:
kesadaran yang berhenti mencari dirinya.
Dan Wujil tidak sampai.
Karena sejak awal
tidak ada yang benar-benar berangkat.
2026
BALADA PEPALI PITU SUNAN DRAJAT
di pesisir yang digarami angin purba
ombak memukul karang
seperti dada manusia
yang terlalu lama menyimpan tangis
jaring-jaring nelayan
naik dari laut bersama bau lapar
ikan-ikan menggelepar
seperti nasib
yang belum sempat memilih hidupnya sendiri
anak-anak memandang langit
yang menggantung redup
di atas rumah-rumah reyot
yang menua tanpa sempat merasa teduh
dan tanah itu
tanah yang dibasahi air asin dan keringat
menyimpan luka
yang tidak pandai menangis
di antara debu jalan
seorang lelaki lewat
langkahnya pelan
tetapi bumi mengenalnya
ia tidak datang membawa kuasa
tidak membawa sorak pasar
tidak membawa bendera
ia hadir
seperti hujan tipis
yang jatuh tanpa meminta langit dipercaya
Raden Qasim
nama itu terdengar
seperti desir daun tua
di makam para leluhur
sunyi
tetapi membuat udara berubah arah
matanya memandang manusia
bukan sebagai jumlah
bukan sebagai kerumunan
tetapi luka
yang berjalan dengan tubuh masing-masing
angin berhenti memilih kiblat
laut menahan ombaknya sendiri
dan waktu
seperti lupa bergerak
ia berjalan di tengah orang-orang
yang saling bersenggolan
tanpa pernah benar-benar bertemu
wajah-wajah lewat
seperti pintu tertutup
mulut berbicara
tetapi tidak ada hati
yang tinggal di dalam kata
lalu seorang lelaki roboh
di pinggir jalan
tubuhnya jatuh
seperti pohon tua
yang kelelahan menahan musim
tetapi dunia terus berjalan
langkah-langkah tetap berbunyi
mata-mata lewat
seperti batu
yang belajar menjadi manusia
sesuatu pecah di dada Raden Qasim
bukan marah
bukan sedih
tetapi suara purba
yang selama ini terkubur
di bawah kesibukan dunia
memangun resep tyasing sasama
kalimat itu
tidak turun dari langit
ia lahir
dari luka manusia
yang terlalu lama dibiarkan sendiri
dan sejak saat itu
hatinya tidak lagi bisa tinggal diam
ia berjalan kembali
tetapi bumi telah berubah bentuk
di bawah telapak kakinya
ia bertemu kegembiraan
yang sering membuat manusia
lupa bahwa hidup bisa runtuh sewaktu-waktu
ia tidak mengusirnya
tidak pula mabuk di dalamnya
jroning suka kudu eling lan waspada
dan sukacita berubah
menjadi cermin tipis
yang bisa pecah kapan saja
ia bertemu hasrat
yang berlari liar
di dalam darah manusia
keinginan yang membuka mulut
tanpa dasar
api yang ingin memakan dirinya sendiri
meper hardaning pancadriya
maka tubuhnya menjadi sungai tenang
arus lewat
tetapi tidak menyeretnya pergi
ia bertemu dunia
pasar yang berteriak
siang yang menggigit
malam yang menjual mimpi
segala sesuatu meminta lebih
lebih cepat
lebih tinggi
lebih banyak
laksitaning subrata
tan nyipta marang pringga bayaning lampah
dan langkahnya menjadi ringan
seperti orang
yang tidak lagi berjalan
untuk mengejar bayangannya sendiri
malam turun
tetapi tidak gelap
langit membuka sumur sunyi
di atas kepalanya
ia duduk
dan duduk itu
bukan istirahat
tetapi gerbang
antara diri
dan sesuatu
yang tidak lagi ingin disebut “aku”
heneng
hening
henung
angin kehilangan bunyi
air berhenti memantulkan wajah
dan pikirannya luruh
sedikit demi sedikit
seperti kabut
yang pulang ke tubuh pagi
waktu pecah
detik-detik berjatuhan
seperti biji tasbih putus
dan setiap saat
menjadi panggilan
yang tidak bisa diabaikan
mulyo guna panca waktu
lalu tubuh manusia jatuh lagi
kali ini lebih dekat
lebih nyata
lebih telanjang
dan sebelum pikiran sempat memilih
tangannya bergerak
teken
pangan
sandang
payung
gerak itu lahir
lebih cepat daripada bahasa
lebih tua daripada niat
seperti mata air
yang tiba-tiba menemukan jalannya sendiri
dan sesuatu runtuh sepenuhnya
bukan dunia
tetapi cara memandang dunia
tidak ada lagi ajaran
tidak ada lagi petuah
yang tersisa hanya denyut hidup
yang mengenali denyut hidup lain
orang-orang tidak tahu
kapan perubahan itu bermula
tidak ada petir
tidak ada wahyu
yang membelah langit
tetapi tangan mulai ringan membantu
mata mulai sulit menyimpan benci
langkah mulai pelan
agar tidak melukai
memangun resep tyasing sasama
menjadi napas
jroning suka kudu eling lan waspada
menjadi mata yang terjaga
meper hardaning pancadriya
menjadi tubuh yang tidak rakus
laksitaning subrata
menjadi jalan tanpa kesombongan
heneng
hening
henung
menjadi sumur sunyi
di dalam dada manusia
mulyo guna panca waktu
menjadi detak hari
yang selalu memanggil pulang
dan ketika seseorang roboh lagi
di jalan yang sama
tak ada lagi jarak
tak ada “aku”
tak ada “dia”
tangan bergerak
seperti angin
yang tidak pernah bertanya
siapa yang pantas diselamatkan
Sunan Drajat tidak berdiri sebagai nama
tidak tinggal sebagai sejarah
ia berubah menjadi cara manusia
menjaga manusia lain
agar tidak tenggelam
di dalam dunia
yang terlalu sibuk pada dirinya sendiri
dan balada ini tidak selesai
karena laut belum berhenti bergelombang
karena manusia masih belajar
menjadi manusia
di tengah manusia lain
yang terus berjalan
membawa luka
dan harapan
di dalam tubuhnya masing-masing
2026
—
*Abdul Wachid B.S., lahir 7 Oktober 1966 di Bluluk, Lamongan, Jawa Timur. Buku terbarunya : Kumpulan Sajak Nun (2018), Bunga Rampai Esai Sastra Pencerahan (2019), Dimensi Profetik dalam Puisi Gus Mus: Keindahan Islam dan Keindonesiaan (2020), Kumpulan Sajak Biyanglala (2020), Kumpulan Sajak Jalan Malam (2021), Kumpulan SajakPenyair Cinta (2022), Kumpulan Sajak Wasilah Sejoli (2022), Kumpulan Sajak Kubah Hijau (2023), Sekumpulan Esai Sastra Hikmah (2024), Buku Puisi Balada Kisah untuk Anak Cucu (2025).
Melalui buku Sastra Pencerahan, Abdul Wachid B.S. menerima penghargaan Majelis Sastrawan Asia Tenggara (Mastera) sebagai karya tulis terbaik kategori pemikiran sastra, pada 7 Oktober 2021 (tepat di ulang tahunnya yang ke-55).***




