Puisi-puisi Imana Tahira

Singaparna

Di bola matamu
Aku melihat padang ilalang
Saling melambai
Di antara gersang tanah lapang

Di bola matamu
Aku mendengar percikan air
Yang turun sangat lambat
Menyentuh Galunggung yang agung

Di helai rambutmu
Aku seperti menyentuh bunga-bunga
Di alun-alun kota, suatu sore

Di helai rambutmu
Aku seperti meraba kerikil yang bergelombang
Menuju pantai di daerah selatan

Aku berhimpitan di dalam angkutan kota
Melewati taman makam pahlawan
Yang katamu ada pesantren di sekitarnya

Di seluruh tubuhmu
Mungkin ada Singaparna kedua
Yang kunantikan.

Di seluruh tubuhmu
Aku menemukan sebuah rumah
Sebuah nyaman
Di lelahnya sebuah resah

Tasikmalaya, 14 Desember 2017

 

Tentang Januari dan Hati
yang Sempat Lupa

Barangkali Januari menggambarkan
Segala pembaharuan
Tapi tidak dengan cintaku.

Kubiarkan dia berkarat dan membiru
Agar hanya ada namamu saja.

Barangkali Januari memang tentang pembaharuan
Tapi biarkan cintaku tetap dengan kamu.

Yogyakarta, 2 Januari 2014

 

Menjadi Waktu

Jika waktu berlimpahkan makanan
Maka aku memilih berpuasa
Jika waktu seperti jerit penderitaan
Maka aku memilih membisu
Bahkan jika waktu serupa dadu kenangan
Maka aku memilih melemparkannya.

Waktu selalu menjelma apa saja
Seperti rindu atau kenangan
Kadang menjelma Tuhan
Dan kadang seperti gerimis.

Tapi, aku tak pernah seperti waktu
Karena aku selalu gelisah dan penuh ragu
Dan waktu tak seperti aku
Yang melulu menitipkan namamu
Di setiap bayang mimpiku
Dan melangitkan namamu
Pada setiap sela doa-doaku.

Jika aku menjadi waktu
Aku akan terus berputar di dalam hatimu
Dan menjelma detak jantungmu
Jika aku menjadi waktu
Aku akan berhenti ketika tengah bersamamu.

Yogyakarta, 2 Maret 2014

 

Kau Terdiam Ragu, Menutup Mata,
Menghela Nafas dan Membusung Dada

Pada suatu malam
Seekor anjing lumpuh berjalan pelan
Menuju dirimu.

Kau terdiam ragu
Menutup mata
Menghela napas
Dan membusung dada.

Ada tai cicak
Pada sisa keringatmu
Ada upil anak lelaki
Di jari-jarimu.

Kau terdiam ragu
Menutup mata
Menghela napas
Dan membusung dada.

Pada pagi hari
Kucing berbulu domba itu merengek keras
Tepat di bawah kakimu.

Kau terdiam ragu
Menutup mata
Menghela napas
Dan membusung dada.

Ada kotoran manusia
Di kulit kepalamu.

Kau terdiam ragu
Menutup mata
Menghela napas
Dan membusung dada.

Ya!

Kau terdiam ragu
Menutup mata
Menghela napas
Dan membusung dada!

Sisanya, kau tertidur dengan mimpi yang sama.

Yogyakarta, 6 November 2016

—-

*Imana Tahira lahir di Tasikmalaya pada tahun 1995. Menempuh pendidikan dasar dan menengah di Pondok Pesantren Cipasung dan menyelesaikan pendidikan tingginya di Jurusan Ilmu Komunikasi UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Puisi-puisinya pernah termuat dalam sejumlah antologi, antara lain “Seratus Perempuan dalam Puisi” (2014), “Yogya Halaman Indonesia Jilid II” (2017) dan antologi puisi muslimah penyair “Berbagi Zikir” (2017). Di kampusnya ia bergabung dengan teater ESKA dan menemukan keseriusan dalam bersastra.

Selepas kuliah pernah menjadi reporter dan tim kreatif di Trans TV, kemudian menjadi Host Podcast di kanal YouTube INANEWS TV dan Kuatbaca.com.  Selain bekerja, di Jakarta ia bergabung dengan Komunitas Lentera Kata dan terlibat sebagai pemain dalam garapan teater “Obrok Owok-owok Ebreg Ewek-ewek” karya Danarto yang dipentaskan di Taman Ismail Marzuki. Aktif menjadi pemandu acara dan moderator dalam sejumlah diskusi budaya maupun bedah buku.