Borobudur, Ketahanan Pangan, dan Kita yang Kerap Lupa

Oleh : Purnawan Andra*

Di banyak tempat, candi diperlakukan seperti benda masa lalu yang harus dijaga dari lumut, debu dan turis. Tapi candi Borobudur tidak sesederhana itu. Ia bukan hanya monumen agama, tetapi juga semacam buku batu yang menyimpan cara hidup.

Di tubuh candinya terdapat sekitar 2.672 relief, dengan 1.460 panel naratif yang menutupi kurang lebih 2.500 meter persegi permukaan candi. Seperti lorong ingatan panjang, selain menampilkan kisah Buddha, relief-relief itu juga menyajikan kehidupan sehari-hari Jawa Kuna. Seperti hewan, tumbuhan, rumah, pasar, dan bentuk-bentuk aktivitas manusia yang sangat dekat dengan urusan makan, menanam, menyimpan, dan mengolah pangan. Borobudur menyajikan cara sebuah masyarakat memahami hubungan antara pangan, alam, dan keberlanjutan hidup.

Pembacaan ini penting karena ketika kita bicara ketahanan pangan hari ini sering dipersempit menjadi urusan angka. Orang menghitung angka produksi, cadangan beras, impor, distribusi, atau proyek besar yang terdengar global tetapi kerap tidak sesuai dengan kenyataan di lapangan. Semua itu perlu, tetapi belum cukup.

Borobudur mengingatkan bahwa pangan tidak lahir dari statistik, tapi dari ekologi. Relief-reliefnya memperlihatkan dunia yang tidak memisahkan yang sakral dan yang praktis. Dalam satu bingkai, kehidupan rohani dan kehidupan sehari-hari berjalan berdampingan. Ia mengingatkan bahwa pangan bukan cuma isi piring. ketahanan pangan yang sesungguhnya tidak lahir dari slogan, tapi hasil dari relasi panjang antara manusia, ekologi (tanah, air, hewan, tumbuhan) dan kerja sosiokultural yang terus-menerus.

 

Pengetahuan tentang Waktu

Lapisan paling bawah Borobudur, yang dikenal sebagai Karmavibhangga, memuat 160 panel. Lapisan ini dulu tertutup dan baru kemudian disingkap lagi, hingga kini sebagian reliefnya dipelajari melalui dokumentasi dan koleksi museum di kawasan Borobudur. Karmavibhangga tidak hanya memuat ajaran sebab-akibat dalam Buddhisme, tetapi juga potret kehidupan sosial yang sangat konkret. Ada kerja, ada kepemilikan, ada rumah tangga, ada tindakan baik dan buruk, ada dunia manusia yang penuh konsekuensi.

Dalam konteks ketahanan pangan, lapisan ini penting karena memperlihatkan bahwa hidup yang aman tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu butuh aturan, kerja, dan tata kelola. Makanan, dalam dunia relief itu, bukan hasil yang jatuh dari langit. Ia buah dari tatanan hidup yang dijaga dan dijalani.

Sejumlah pembacaan terhadap relief Karmavibhanga Borobudur menafsirkan adanya representasi bangunan penyimpanan hasil panen yang memiliki kemiripan bentuk dengan tradisi lumbung padi vernakular di Nusantara, termasuk leuit Sunda. Kemungkinan

kesinambungan budaya agraris yang masih bersifat interpretatif dan komparatif ini perlu didalami untuk menjadi konsensus definitif dalam kajian arkeologi Borobudur.

Pemahaman ini penting, sebab ketahanan pangan bukan sekadar kemampuan menanam, tetapi kemampuan menyimpan hasil panen agar hidup tetap berjalan saat musim berganti. Lumbung adalah pengetahuan tentang waktu. Ia menjembatani hari panen dan hari paceklik, masa cukup dan masa genting. Borobudur, lewat relief semacam ini, menyiratkan bahwa masyarakat lama sudah memahami arti cadangan.

Ketika orang hari ini membahas ketahanan pangan, mereka sering mengira teknologi berarti mesin besar dan proyek besar. Borobudur memberi pelajaran bahwa ketahanan pangan, dengan demikian, bukan cuma urusan produksi, tetapi urusan menjaga jaringan itu agar tidak putus.

 

Kehidupan yang Berlapis dan Beragam

Di titik ini, Borobudur menjadi sangat modern, justru karena ia sangat tua. Dunia sekarang hidup dalam ilusi efisiensi. Kita kerap menyederhanakan pertanian menjadi satu atau dua komoditas besar. Kita memuja hasil cepat, tetapi sering lupa bahwa keragaman adalah benteng paling tua yang dimiliki manusia. Relief Borobudur tidak memamerkan keseragaman. Ia justru memperlihatkan kehidupan yang berlapis dan beragam.

Dalam konteks pembahasan, ketahanan pangan adalah soal tidak menggantungkan hidup pada satu pintu saja. Jika satu rusak, yang lain masih bisa bekerja. Jika satu panen gagal, yang lain masih bisa menopang. Borobudur menjadi pengingat bahwa keberlanjutan selalu lahir dari keragaman, bukan dari penyempitan.

Ada lagi satu lapisan yang memperluas pembacaan ini, yakni pengetahuan tentang perjalanan, pertukaran, dan jaringan yang lebih luas dari sekadar sawah. Relief kapal Borobudur menjadi dasar rekonstruksi kapal layar bercadik yang kemudian dipamerkan di Museum Samudra Raksa. Kapal itu menunjukkan bahwa masyarakat Jawa Kuna hidup dalam dunia yang terhubung, tidak hanya lewat iman, tetapi juga lewat perdagangan dan pertukaran barang.

Dalam konteks ketahanan pangan, hal ini penting karena pangan tidak pernah benar-benar lokal dalam arti sempit. Ia selalu terkait dengan jalur distribusi, pertukaran bibit, rempah, bahan pangan, dan pengetahuan. Borobudur mengingatkan kita bahwa daya tahan pangan juga bergantung pada kemampuan membangun jaringan yang luas dan berkelanjutan.

Di sisi lain, relief Borobudur juga menunjukkan adegan orang menggiling bahan, penjual minuman, dan praktik penyembuhan tradisional. Ini membuka pemahaman bahwa sistem pangan lama tidak berhenti pada bahan mentah. Ada pengolahan, ada perawatan tubuh, ada pengetahuan herbal. Ini membuat ketahanan pangan bukan hanya urusan perut kenyang, tapi sebagai cara menjaga tubuh tetap hidup dan masyarakat tetap kuat.

 

Lebih Dari Tafsir Kebudayaan

Di titik ini, pembacaan Borobudur menjadi lebih dari sekadar tafsir kebudayaan. Ia bisa bergerak menjadi cara berpikir untuk merespons masalah hari ini dengan langkah yang lebih dasar: membaca ulang apa yang sebenarnya sedang rusak. Ketika lahan sawah terus menyempit, ketika air makin sulit dipastikan, ketika petani makin jauh dari kendali atas benih dan tanahnya sendiri, yang perlu dibenahi bukan hanya hasil akhirnya, tetapi seluruh rantai yang membuat hasil itu mungkin.

Borobudur memberi petunjuk bahwa ketahanan pangan tidak bisa dibangun dari puncak kebijakan saja. Ia harus dimulai dari pengakuan bahwa tanah adalah sumber hidup, air adalah syarat hidup, dan pengetahuan lokal adalah alat hidup. Tanpa itu semua, istilah ketahanan pangan hanya akan menjadi nama lain dari kegaduhan administratif.

Dari sini, pembacaan relief Borobudur juga bisa diarahkan menjadi sikap yang lebih aplikatif dalam cara kita merancang masa depan. Bukan dengan menyalin masa lalu, tapi dengan mengambil logika dasarnya yaitu keberagaman harus dipelihara, cadangan harus disiapkan, dan hubungan manusia dengan ekologi harus dijaga sebagai fondasi, bukan aksesori.

Artinya, kebijakan pangan tidak cukup hanya memikirkan produksi besar, tetapi perlu memberi ruang bagi pertanian kecil, benih lokal, lumbung komunitas, tata air yang sehat, dan pengetahuan yang diwariskan lintas generasi. Dalam bahasa yang lebih sederhana, kita tidak bisa terus memaksa bumi bekerja seperti mesin, lalu berharap hasilnya tetap stabil. Borobudur justru mengingatkan bahwa yang membuat hidup bertahan lama adalah kemampuan merawat keseimbangan, bukan memerasnya sampai habis.

Maka, relief Borobudur dapat dibaca sebagai semacam cermin yang memantulkan ketidaksabaran kita sendiri. Kita cenderung ingin hasil cepat, solusi cepat, dan angka cepat. Padahal problem pangan hari ini lahir dari proses panjang yang diabaikan yaitu tanah yang lelah, air yang tercemar, desa yang kehilangan fungsi, dan pengetahuan yang putus di tengah jalan.

Dalam konteks ini, Borobudur mengajak kita melihat bahwa ketahanan pangan bukan hanya soal makan hari ini, tapi soal memastikan bahwa generasi berikutnya masih punya tanah untuk ditanami, air untuk dialirkan, dan pengetahuan untuk diteruskan. Dengan cara itulah pembacaan relief menjadi relevan, bukan sebagai nostalgia, tetapi sebagai koreksi yang sangat diperlukan terhadap zaman yang terlalu sering lupa pada syarat-syarat paling dasar bagi kehidupan.

 

*Purnawan Andra , Pamong Budaya Kementerian Kebudayaan, penerima fellowship Humanities & Social Science  di Universiti Sains Malaysia.