Purwokerto, Kota Transisi yang Mengulang Masa Lalu Jakarta: Sebuah Refleksi Moral
Oleh: Muhammad Fathan Al kubro*
Aku adalah seorang perantau dari Jakarta yang kini kuliah di Purwokerto. Sebagai orang Jakarta, aku pernah mengalami stigma yang tidak adil. Dulu, aku dicap sebagai orang yang tidak punya adab hanya karena berasal dari Jakarta. Banyak orang di Purwokerto yang menganggap semua orang Jakarta tidak beradab, tanpa mempertimbangkan bahwa aku sebagai individu mungkin berbeda. Itu adalah generalisasi yang menyakitkan, sebuah stereotip yang menempel padaku hanya karena kota asalku.
Namun, paradoksnya terjadi ketika aku mulai mengamati Purwokerto sendiri. Sekarang, aku melihat bahwa warga Purwokerto, yang sebenarnya tinggal di kota transisi, justru mulai menunjukkan perilaku yang mirip dengan orang Jakarta yang dulu aku kenal sepuluh tahun lalu. Perilaku yang tidak teratur, kurang moral, kurang sopan, dan semrawut. Ini adalah paradoks yang menyakitkan, aku dikritik karena menjadi bagian dari kelompok yang dianggap tidak beradab, tapi sekarang aku melihat kelompok itu sebenarnya sedang diulang oleh kota yang sekarang aku tinggali.
Dari pengamatanku selama tinggal di Purwokerto, aku memberi julukan “kota transisi” untuk kota ini. Bukan karena ada sumber resmi yang mengatakan begitu, tapi karena aku sendiri yang melihat Purwokerto berada di tengah-tengah, antara desa dan kota besar, antara tradisi dan modernitas, antara nilai lokal yang masih kuat dan gaya hidup urban yang mulai masuk. Julukan ini adalah hasil observasiku pribadi sebagai seorang perantau yang membandingkan kota asal dengan kota baru tempat aku kuliah.
Tulisan ini bukan untuk menuduh atau menghakimi. Ini adalah refleksi tentang bagaimana kota-kota transisi seperti Purwokerto berisiko mengulang pola kesalahan yang pernah dialami Jakarta. Bagaimana urbanisasi massal, kurang persiapan budaya, dan pengelolaan kota yang belum optimal dapat menggerus nilai-nilai moral yang pernah menjadi identitas lokal. Dan bagaimana kita semua, sebagai individu dan masyarakat, bisa belajar dari masa lalu untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama.
Potensi dan Tantangan Purwokerto Sebagai Kota Transisi
Purwokerto adalah kota yang menarik. Kota ini berada di tengah Jawa Tengah, menjadi pintu gerbang ke wilayah Banyumas dan sekitarnya. Purwokerto adalah kota kampus, dengan beberapa perguruan tinggi yang menarik ribuan mahasiswa dari berbagai daerah. Purwokerto juga adalah kota ekonomi yang berkembang, dengan pusat perbelanjaan, kuliner, dan industri kecil yang terus bertambah.
Namun, Purwokerto juga adalah kota transisi. Purwokerto berada di tengah-tengah antara desa dan kota besar, antara tradisi dan modernitas, antara nilai lokal dan gaya hidup urban. Kota transisi seperti Purwokerto memiliki potensi besar untuk menjadi contoh bagaimana pengembangan kota yang seimbang antara ekonomi dan budaya. Tapi kota transisi juga memiliki tantangan besar. bagaimana menjaga nilai-nilai lokal sambil menerima pendatang, bagaimana mengelola pertumbuhan yang cepat tanpa mengorbankan moral publik, dan bagaimana membangun identitas yang kuat di tengah perubahan yang konstan.
Urbanisasi massal adalah salah satu tantangan terbesar Purwokerto. Setiap tahun, ribuan mahasiswa datang dari berbagai daerah untuk kuliah di Purwokerto. Mereka membawa budaya, kebiasaan, dan gaya hidup dari kota asal mereka. Beberapa dari mereka beradaptasi dengan baik, sementara yang lain membawa perilaku yang tidak sesuai dengan nilai lokal. Ditambah lagi, urbanisasi dari desa ke kota juga terjadi. Orang-orang dari desa datang ke Purwokerto untuk mencari pekerjaan, dan mereka juga membawa kebiasaan yang mungkin tidak cocok dengan lingkungan kota.
Hasilnya adalah sebuah campuran budaya yang kompleks. Di satu sisi, ini adalah kekayaan yang bisa membuat Purwokerto menjadi kota yang beragam dan menarik. Di sisi lain, ini adalah tantangan besar untuk menjaga kohesi sosial dan nilai-nilai moral yang sudah ada. Tanpa pengelolaan yang baik, campuran ini bisa menjadi semrawut, seperti yang aku lihat sekarang.
Jakarta Sepuluh Tahun Lalu: Sebuah Memori yang Masih Segar
Untuk memahami apa yang sedang terjadi di Purwokerto sekarang, kita perlu melihat kembali Jakarta sepuluh tahun lalu. Jakarta pada masa itu adalah kota yang sangat berbeda dari sekarang. Jakarta dulu adalah kota yang semrawut, dengan jalanan yang berantakan, banjir yang sering terjadi, dan transportasi umum yang tidak terintegrasi. Jakarta dulu adalah kota di mana orang tidak antri, membuang sampah sembarangan, dan berbicara dengan suara keras di tempat umum.
Aku ingat dengan jelas bagaimana Jakarta sepuluh tahun lalu. Aku ingat bagaimana trotoar sering dipakai oleh motor dan pedagang kaki lima, sehingga pejalan kaki terpaksa berjalan di jalan raya. Aku ingat bagaimana banjir sering terjadi di musim hujan, karena drainase yang buruk dan sampah yang menyumbat saluran air. Aku ingat bagaimana TransJakarta masih dalam tahap awal, dan MRT belum ada. Aku ingat bagaimana orang-orang tidak antri, berebut naik bus atau kereta, dan berbicara dengan suara keras di tempat umum.
Yang paling penting, aku ingat bagaimana orang Jakarta dulu dianggap tidak beradab oleh orang dari kota lain. Orang Jakarta dianggap kasar, tidak sopan, dan tidak menghargai orang lain. Ini adalah stereotip yang tidak adil, karena banyak orang Jakarta yang sebenarnya sangat beradab. Tapi stereotip itu menempel karena perilaku sebagian kecil orang Jakarta yang negatif.
Jakarta sepuluh tahun lalu adalah kota yang sedang Trying to grow. Jakarta sedangTrying to menjadi kota modern, tapi belum siap dengan semua konsekuensinya. Jakarta sedang Trying to mengelola populasi yang besar, tapi belum punya sistem yang baik. Jakarta sedang Trying to membangun infrastruktur, tapi belum punya perencanaan yang matang.
Purwokerto Sekarang adalah Cerminan Jakarta Dulu
Sekarang, aku melihat Purwokerto sedang berada di fase yang sama dengan Jakarta sepuluh tahun lalu. Purwokerto sedang Trying to menjadi kota modern, tapi belum siap dengan semua konsekuensinya. Purwokerto sedang Trying to mengelola populasi yang besar, tapi belum punya sistem yang baik. Purwokerto sedang Trying to membangun infrastruktur, tapi belum punya perencanaan yang matang.
Aku melihat perilaku yang mirip dengan Jakarta dulu. Orang-orang tidak antri, terutama di tempat umum seperti terminal, pasar, dan kampus. Orang-orang membuang sampah sembarangan, terutama di jalanan dan sungai. Orang-orang berbicara dengan suara keras di tempat umum, terutama di warung kopi dan transportasi umum. Orang-orang tidak menghargai trotoar, menggunakan motor di trotoar, dan memaksa pejalan kaki untuk berjalan di jalan raya.
Aku juga melihat bahwa stereotip yang dulu aku terima sekarang sedang terjadi di Purwokerto. Orang-orang dari luar Purwokerto, terutama mahasiswa pendatang, dianggap tidak beradab oleh warga lokal. Warga lokal menganggap semua pendatang sama, tanpa mempertimbangkan bahwa setiap individu berbeda. Ini adalah stereotip yang tidak adil, sama seperti yang dulu aku terima.
Yang lebih menyedihkan, aku melihat bahwa nilai-nilai lokal Purwokerto yang dulu menjadi identitas kota ini sedang tergerus. Budaya “ngobrol santai”, “musyawarah”, “hormat pada yang lebih tua”, dan “saling menghargai” sedang pudar. Digantikan oleh gaya hidup urban yang lebih individualis, cepat, dan kurang mempertimbangkan orang lain.
Mengapa Ini Terjadi?
Ada beberapa faktor yang menyebabkan Purwokerto sekarang mengulang pola Jakarta dulu. Pertama, urbanisasi massal tanpa persiapan budaya. Purwokerto Receive ribuan pendatang setiap tahun, tapi tidak ada program yang memadai untuk membantu mereka beradaptasi dengan budaya lokal. Akibatnya, pendatang membawa kebiasaan dari kota asal mereka, dan kadang kebiasaan itu tidak cocok dengan nilai lokal.
Kedua, pengaruh media sosial dan gaya hidup Jakarta. Media sosial sekarang mendominasi kehidupan anak muda, termasuk di Purwokerto. Gaya hidup Jakarta, yang sering ditampilkan di media sosial, menjadi contoh bagi anak muda Purwokerto. Mereka meniru gaya hidup Jakarta, termasuk perilaku yang tidak sesuai dengan nilai lokal.
Ketiga, kurangnya edukasi moral di sekolah dan kampus. Sekolah dan kampus di Purwokerto lebih fokus pada akademik daripada pendidikan moral. Anak-anak diajar untuk pintar, tapi tidak diajar untuk beradab. Hasilnya, banyak anak muda yang pintar secara akademik, tapi kurang moral secara sosial.
Keempat, pemerintah kota belum optimal dalam mengelola perubahan. Purwokertosedang berkembang cepat, tapi pemerintah kota belum punya sistem yang baik untuk mengelola pertumbuhan ini. Aturan tentang perilaku di ruang publik tidak ditegakkan dengan baik. Penertiban pedagang ilegal, sampah, dan lalu lintas tidak maksimal.
Kelima, erosi nilai lokal. Nilai-nilai lokal Purwokerto yang dulu kuat sedang tergerus oleh modernitas. Orang lebih tertarik pada gaya hidup urban daripada menjaga nilai lokal. Ini adalah masalah yang serius, karena nilai lokal adalah identitas kota ini.
Siapa yang Rugi?
Dampak dari perubahan ini terasa pada semua pihak. Pada pendatang, terutama mahasiswa, mereka merasa tidak diterima oleh warga lokal. Mereka dikritik, dikucilkan, dan dihakimi hanya karena berasal dari kota lain. Ini membuat mereka merasa tidak nyaman, dan kadang mereka memutuskan untuk meninggalkan Purwokerto. Atau, mereka ikut tergerus oleh lingkungan, dan mulai mengadopsi perilaku yang tidak beradab.
Pada warga lokal, mereka kehilangan identitas budaya. Mereka melihat nilai-nilai yang dulu mereka jaga sekarang pudar. Mereka merasa sedih, kecewa, dan marah. Kadang, mereka menyalahkan pendatang, yang sebenarnya tidak adil. Konflik antar generasi juga terjadi, karena generasi tua tidak setuju dengan gaya hidup generasi muda.
Pada kota sendiri, dampak ini terasa pada citra Purwokerto. Purwokerto yang dulu dikenal sebagai kota yang tenang, beradab, dan ramah, sekarang mulai kehilangan citra itu. Turis atau investor mungkin ragu untuk datang, karena mereka melihat Purwokerto sebagai kota yang semrawut dan tidak teratur. Ini adalah masalah ekonomi yang serius.
Pengalaman Seorang Perantau
Sebagai seorang perantau dari Jakarta, aku punya pengalaman unik tentang isu ini. Dulu, aku dicap sebagai orang yang tidak beradab hanya karena aku berasal dari Jakarta. Aku dihakimi tanpa kenal, tanpa dicoba untuk mengerti aku sebagai individu. Itu adalah pengalaman yang menyakitkan, dan aku ingat dengan jelas bagaimana aku merasa marah, sedih, dan tidak adil.
Tapi sekarang, aku melihat Purwokerto justru mulai seperti Jakarta dulu. Aku melihat warga lokal yang menunjukkan perilaku yang sama dengan stereotip yang dulu aku terima. Ini adalah paradoks yang menyakitkan, aku dikritik karena menjadi bagian dari kelompok yang dianggap tidak beradab, tapi sekarang aku melihat kelompok itu sebenarnya sedang diulang oleh kota yang sekarang aku tinggali.
Aku kecewa, tapi aku juga sadar bahwa ini bukan Cuma masalah individu. Ini adalah masalah sistemik, yang melibatkan urbanisasi, budaya, pendidikan, dan tata kelola kota. Aku tidak bisa menyalahkan satu pihak saja. Aku tidak bisa menyalahkan pendatang, karena mereka juga korban dari sistem yang tidak baik. Aku tidak bisa menyalahkan warga lokal, karena mereka juga korban dari perubahan yang cepat. Aku tidak bisa menyalahkan pemerintah, karena mereka juga sedang Trying to belajar.
Yang bisa aku lakukan adalah merefleksikan, menulis, dan mengajak orang lain untuk berpikir. Julukan “kota transisi” yang aku berikan untuk Purwokerto bukan sekadar kata-kata. Itu adalah pengakuan bahwa kota ini sedang berada di persimpangan, antara menjaga nilai lama atau mengadopsi cara baru, antara menjadi kota yang beradab atau mengulang kesalahan kota besar. Aku menulis ini bukan untuk menuduh, tapi untuk membuka mata. Aku menulis ini bukan untuk memecah belah, tapi untuk menyatukan. Aku menulis ini karena aku peduli pada Purwokerto, kota yang sekarang aku tinggali dan cintai.
Apa yang Bisa Kita Lakukan?
Ada beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk mencegah Purwokerto mengulang kesalahan Jakarta dulu. Untuk warga lokal, menjaga nilai-nilai baik Purwokerto. Jangan biarkan nilai-nilai lokal tergerus oleh urbanisasi. Ajarkan anak-anak kita tentang adab, sopan santun, dan menghargai orang lain. Jadilah contoh bagi pendatang.
Untuk pendatang, adaptasi dengan budaya lokal. Jangan bawa stigma buruk dari kota asal. Coba untuk mengerti dan menghargai budaya Purwokerto. Jadilah bagian dari solusi, bukan masalah.
Untuk kampus, adakan diskusi, workshop, dan program tentang moralitas, budaya, dan toleransi. Kampus bukan hanya tempat untuk belajar akademik, tapi juga tempat untuk belajar menjadi manusia yang beradab. Ajak mahasiswa untuk diskusi tentang isu-isu sosial, termasuk urbanisasi dan nilai-nilai lokal.
Untuk pemerintah kota, perbaiki tata kelola. Buat aturan yang jelas tentang perilaku di ruang publik, dan tegas dalam menegakkannya. Edukasi publik tentang pentingnya adab dan moral. Perbaiki infrastruktur, seperti trotoar, drainase, dan transportasi umum, untuk mendukung perilaku yang lebih baik.
Untuk kita semua, mulai dari diri sendiri. Jangan menunggu orang lain untuk berubah. Mulai dari diri sendiri, keluarga, dan teman-teman. Jadilah contoh bagi orang lain. Ingatkan orang lain dengan cara yang baik, bukan dengan marah atau menghakimi.
Purwokerto Masih Punya Kesempatan
Purwokerto masih punya kesempatan untuk tidak mengulang masa lalu Jakarta. Jakarta sudah belajar dari kesalahan, dan sekarang Jakarta lebih baik dari sepuluh tahun lalu. Purwokerto juga bisa belajar dari Jakarta, dan tidak mengulangi kesalahan yang sama.
Kita semua bisa mulai dari diri sendiri. Kita semua bisa menjaga nilai-nilai baik Purwokerto. Kita semua bisa menjadi contoh bagi orang lain. Kita semua bisa membuat Purwokerto menjadi kota yang lebih beradab, lebih moral, dan lebih baik.
Mari jaga adab. Mari jangan biarkan kota ini kehilangan jati dirinya. Mari belajar dari masa lalu, untuk masa depan yang lebih baik. Purwokerto masih punya kesempatan. Mari jangan sia-siakan.
*Muhammad Fathan Al Kubro, Fathan lahir di Purworejo, tumbuh besar di jakarta. Dia mulai menguasai kedalaman ilmunya saat di bangku sekolah menengah pertama sampai akhirnya bisa lulus dan tamat dari sekolah menengah atas yaitu di Boarding SchoolDaaruttaqwa, Cibinong, Bogor pada tahun 2020. Ia melanjutkan jenjang sekolahnya ke perguruan tinggi negeri di daerah Purwokerto, salah satu yang terbaik di karesidenanBanyumas Raya yaitu UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto.





