Sajak-sajak Laksmi Fidya Ariani
Kamadhatu
Bagaimana bisa aku
Melepaskan tubuh suci ini
Dari tali-tali dunia yang terikat padu.
Dedaunan rancak pada rahim jantungku
Telah menumbuhkan goda setampan iblis
Yang terasa begitu ranum
Jiwaku adalah kuil-kuil murung
Tempat burung-burung menyanyikan nestapa
Tak berkesudahan
Tentang dunia
Sedang karmawibhangga yang tak berkesudahan
Pada jalan ini, menjadi benggel
Atas hidupku di masalalu.
2026
Rupadhatu
Seperti kisah Gandawyuha yang tak terbantahkan
Perjalanan ini hampir sampai
Pada palung di dasar jantung.
Dharma mengalir bagai air
Ke berbagai sudut benak semesta
O, Sudhana
Sudahkah kau temukan kebijaksanaan
Yang menyala di balik tulang dadamu itu
Ataukah masih terjebak,
Dalam wujud yang abu-abu.
2026
Arupadhatu
Akhirnya aku terbebas
Dari belenggu karmawibhangga
Aku melewati ning paling sadar
Saujana menghadirkan kekosongan akan aku
Dunia telah terlewat begitu jauh
Tak ada lagi kehendak dan segalanya
terasa denyar
Urat-urat di leher, selembut jaring laba-laba
Tak lagi menangkap keinginan
Yang serupa batu.
2026
Kundalini
Seekor ular tertidur
di dasar tulang belakangmu
Ia telah hidup sejak kau dilahirkan,
Sebagai jalanmu
mencapai pembebasan.
lepaskan rasa lukamu
yang tak pernah kering,
Dan bakar nestapamu
lewat napas sepanas api
Untuk membangunkan dia
dari tidur panjangnya, katamu.
Aku pun menyalakan api dari balik perutku,
Dengan gegas memompa napas,
Untuk membuka pintu-pintu dalam diriku
Yang telah lama tertutup.
Seekor ular merayap dari tulang ekorku,
Lalu kutemukan diriku dalam wujud yang lain.
2026
Rahasia
Ia menjatuhkanku ke galaksi ini,
Sebagai benda-benda juga binatang-binatang
Yang meramal jalan angkasa.
300+300+300+99 lembar namaku,
menetes ke dasar cawan kitab-kitab purba,
dan kitab-kitab purba itu meresap ke jalan batinku.
Sementara aku berjalan dari planet ke planet,
Menutupi kesedihannya—
Rasa cemas dan rindu yang mungkin menjadi api.
Wahai kesedihan yang dirahasiakan,
Kesedihan yang menyeret planet agar tak luput
Menziarahi bulan dan matahari. Kesedihan yang
Menumbuhkan pohon-pohon, dan kesedihan sunyi
Yang tak pernah pecah oleh gaung doa dari mikrofon;
Di mana kau sembunyikan wujud rahasia itu, maka aku telah
Menemukan diriku.
2026
Malam
malam adalah surga terpanjang bagi setiap ruh
yang lelap di balik tubuh.
biarkan doa-doa yang kupetik
memanggili suara
yang diembuskan dari mimpi
demi mengiring konser di atas panggung
yang sepi.
meski tanpa berkat penghulu
aku ingin membuat nada, dari getar bibirmu
yang selalu menggiring jiwaku menari.
dari sana,
kau akan melihat betapa panjang malam kita
untuk menganggit buah-buah bahagia.
biar tanpa desir laut dan gemuruh ombak
atau pun bunga-bunga yang mekar bersama
setiap kisahnya.
tapi jangan pernah risau
untuk konser malam ini
agar tak ada tetangga,
bangun terlalu pagi.
Februari, 2026
Bagaimana
bagaimana kau mengirim hujan padaku,
sementara jarak adalah jalan waktu, sempatkah angin
menyusur laut dan menembus asin garam hingga
ke pesisirmu?
seperti orang-orang menaiki bukit golgota
aku mengutus doa-doa purbani agar sampai
sebagai resapan udara yang masuk ke dalam tubuhmu,
dan mereka akan menjelma suara ketukan
pada tiap pintu di dalam daging, untuk menyampaikan
tabik rindu yang paling rahasia.
batin telah lama piatu,
tapi pesan itu, menjelma bisik yang menggaung
dan melelehkan gumpalan batu di dalam tubuh,
mungkin sebagai ibu.
atau biarkan aku menanam benih di sini
yang suatu ketika, akan rekah
tanpa sua, tanpa airmata.
Bulansiji, 2026
Kisah Tak Selesai Tentang Penyair yang Kau Sampaikan
-Untuk Irfan Nugraha
Ada seorang penyair yang menenun cahaya,
dari bola-bola mimpi, katamu.
Ia bisa mengubah
batu bata menjadi zamrud
dan mencairkannya di dalam sebaris puisi.
Ia memetik jagad,
melalui kisah-kisah masa kecil
dengan jari-jarinya yang hijau
seperti setangkai seledri.
Ia mempu menyihir nestapa
Menjadi ranum senyum seorang gadis manja
Yang menggigit buah semangka.
Aku tak tahu kemana ia berjalan setelah hari itu,
Sebab bibirmu lebih dulu melepas dengkur.
Bahu
Kuusap dirimu tiap gigil mulai menawarkan birahi
dan ekstase tinggi, sebelumkantuk runtuh di pelupuk
malam.
2026
*Laksmi Fidya Ariani, lahir dan besar di Cilacap. Alumni Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Pengagum puisi-puisi Abdul Wachid BS. Bergiat di Komintas Baca Bendungan Serayu. Saat ini mengajar di SD Negeri Karangtalun 05 Cilacap.




