Puisi-Puisi Tania Rahayu

Cah Ya Rahayu

Rahayu
Selamatkan dirimu
dari pakaian duri
yang kau sulam sendiri
dari lentera
hati yang kau tiup berhenti
menerangi, dari lapar
yang tak cukup kenyang
oleh kecupan dan nasi, dari waktu
yang kau pikir akan panjang sekali

Merintihlah kepada rahim
Kandung kasih cahaya
Bukan kepada lelaki
Yang kau pikir punya segalanya

Mengemislah kepada tanah
Lumbung padi dan buah
Bukan bersujud kepada juragan
yang kau pikir akan terus memberimu upah

Berteriaklah kepada denyut sunyi
yang kau alun berkali-kali
bukan bertasbih kepada pengembara
yang kau pikir akan menetap
selamanya

Maka Cahaya
Demi Cahaya
Akan menuntunmu
dengan kilauan yang menyorot
Kepada jalan tujuan,
bayangan yang menakutkan,
lara yang ditinggalkan
Permata jati
yang hilang dari diri

Cah ya Rahayu
Rahayu
Rahayu

Purwokerto, 23 Mei 2025

 

Cahaya Dari Tanah Perdikan

Cahaya Nun
Agung memancar anggun
Oleh kiai
Oleh adipati

Dari tanah-tanah Perdikan
Petani-petani gunung
Menanam adab nan
Peradaban

Di tanah itu
Iman ditanam di ladang, subur
Di jalanan naik-turun, bertemu
Di makam dan masjid, sembur

Doa dan mantra saling
Menguatkan seperti akar-akar
Delapan Tanah Perdikan
Cahaya Nun

Terus mulia memancar
Membagi lelaku budi
Keluhuran selalu dibangkitkan
Dari dalam jiwa yang

Hening, di balik semak
Kehijauan kalbu
Disemayamkan
Sekaligus dibangkitkan !

Bantarbarang, 3 Juni 2023

 

Di Kasihku

Di–
Kasihku tumbuh
Menjadi pohon kisah
Rimbun dan ranum,
Tegar dan tenang,
Menyambut datang
Mengantar pulang

Di–
Kasihku menjalar
bukan hanya ke rongga tanah
yang sepi dan tak pasti,
Tapi ke langit arah
Sang Maha Pemberi

Di–
Kasihku tak lagi kupupuk
mata air kisah ini
Sejak kau menjulang tinggi
dan tak menyapaku lagi

Namun aku tetap memandangmu
Sebagai pohon kenangan
yang kutanam di ladang sunyi–
Kebun rahasia
panen sejati

Purwokerto, 23 Mei 2025

 

Setangkai Daun Abadi

Setangkai daun tumbuh
dan aku jatuh hati.
Tapi waktu datang
Menguningkannya
Menyokelatkannya
Membuatnya gugur

Setangkai lainnya menyusul
dan aku jatuh cinta lagi.
Ia bersemi
Lalu menguning
Mencokelat
dan mati

Setangkai demi setangkai
Tumbuh lalu mati
Menjadi gunung daun kering
yang harus kusapu
Berkali-kali

Tapi hari ini
Setangkai tumbuh
Ia tak bertambah
Tak berkurang
Tak menguning
Tak mencokelat
Ia tak membuatku jatuh hati
Tapi entah bagaimana
Ia abadi

Purwokerto, 24 Juni 2025

 

Kupu-Kupu yang Terbang Sendiri

Terbangnya mengitari oase mimpi,
di antara singa-singa yang lapar,
ular-ular yang berbisik dalam pelukan,
matahari yang garang membakar pasir,
tapi tak tahu di mana air mengalir.

Kupu-kupu melayang ke sana kemari,
sayapnya koyak oleh angin yang beringas,
hinggap di gurun doa,
mengeja jalan menuju taman surga.
Ia jatuh, luka, terhempas,
namun tak pernah gentar.

Jika hujan tak kunjung turun,
sayapnya teduh di bawah pohon restu,
sejuk oleh embusan angin guru,
diselamatkan keajaiban-keajaiban
sejak mula ia dilahirkan.

Meski sayapnya pernah patah,
hitam, rapuh, nyaris luruh,
ia meyakinkan diri,
sayapnya akan tumbuh lagi dan lagi.
Ia akan terbang ke tempat-tempat
yang sekian lama ia nanti,
menjelajahi rumah-rumah cinta,
menemukan taman bunga-bunga
yang akan terus menjaganya.

Kupu-kupu yang terbang sendiri

tak ingin jatuh
lagi.

Sumampir, 4 Mei 2024

 

Daster Ibu Robek Sana-Sini

Robekan satu oleh putra sulung rantau
yang enggan bersua kabar
Robekan lainnya oleh putra
yang tak bernyali melepas buaian asi
Robekan berikutnya oleh putri
yang dungu soal harga diri

Ibu menjahit satu-satu dengan benang cahaya
Malam yang mahal sekali harganya
Di sana setiap jahitan bernada jeritan
dan tiap hari bertambahlah jumlah sobekan
Ibu tak pernah punya mimpi

Tak ada baju baru untuk ibu
Tidak pula hari-harinya menggerutu
Luka-luka yang tampak di balik robekan baju
menganga, menusuk, menghujam
Habis tak berkesudahan
“Sayang, Jangan kau kedinginan,
untukmu sungguh semua akan kuberi”
Lirihnya dalam hati
Di balik hatinya yang nyala matahari
Segala duka seperti senyap bersembunyi

Ibu tak pernah punya mimpi
Karena ia tak pernah nyenyak
baju dasternya robek sana-sini
Ia terjaga menimang putra-putrinya
Supaya tidak satupun dari mereka
turut robek juga

Bantarbarang, 25 Mei 2024

 

Musim Bertumbuh

Musim bertumbuh tidak datang tiba-tiba
Ia datang
didahului hujan
yang dingin mengguyur dada,
Diiringi matahari
yang membakar tanpa iba

Tanah raga tumbuh dibajak hancur
Ilalang penghibur dibabat hingga sulur
Benih jiwa pecah
dari rahim tanah
yang sunyi dan basah
Akar menjalar
Menelusur tanah, menembus batu
Demi air menghentikan kematian pilu

Tunas tak lahir begitu saja
Ia menjumpa hama dan gulma
Mengejar cahaya
Mengharap pupuk petani tiba
Mengais dan berdoa

Purwokerto, 7 Mei 2025

 

Kebun Pertama Ibu

Ibu mulai menjadi ibu
saat usianya kurang dari usiaku.
ia menerima kebun pertamanya
sebagai hutan yang rimbun oleh rahasia.

kebun pertamanya itu
bukanlah ladang tamasya
yang berisi buah dan sayur,
yang siap untuk dinikmati saat itu juga.

kebun pertama itu
tidak lain adalah tempat asing
yang tak pernah ibu kenali.
rumput ilalang,
menutupi jalan yang harusnya ia pijaki.
reranting, dedaunan,
menjuntai menutupi apa yang harus ia pandangi.

Belum sampai pada bagaimana
ia menanam benih dan merawatnya,
ia mencoba percaya
tak peduli apa yang ia tau
dan apa yang tidak ia tau
tangan,
kaki,
telinga, dan
jiwanya
tak berhenti bergerak menembus waktu.

Ia ranggas kebun pertamanya
dari gelap dan sesak itu
dengan segenap tenaga
dengan sepenuh jiwa.
Mengubah panggung dan buku, cita-citanya
dari masa lalu,
menjadi anugerah musim panen
yang kini selalu ia tunggu

Purwokerto, 6 Mei 2025

 

Alamku

Alamku bersajak pelan
Saat gedung menjulang
Menginjak akar rimba
yang ia rawat diam-diam

Ia meringis sabar
Saat api melompat
Membakar padang sukarela
yang dulu hijau
Oleh cinta yang tak bersuara.

Kadang ia tertawa getir
Saat gunung, laut, dan lembah
Diberi warisan luka:
Sekantong plastik
dan botol bekas
dari tangan-tangan tamu
yang lupa cara bersyukur

Tawa itu terdengar lirih:
“Sudahlah–
Cinta memang sering
tak dihargai sejak mula.
Tapi waktu akan ajarkan mereka:
Akulah rumah
yang paling setia”

Purwokerto, 24 Mei 2025

 

Duri, Aku, dan Ibu

Suatu hari kakiku menginjak duri,
tajam menusuk, perih menyelinap,
kulitku merintih tanpa suara,
tapi kubiarkan ia diam di sana.

Kupikir, biarlah ia bersembunyi,
jangan sampai ibu mengerti,
sebab ngeri, mungkin ia pun akan menangis,
atau marah, atau cemas tanpa henti.

Hari demi hari duri itu menjalar,
sakitnya merayap ke seluruh sendi,
langkahku terhuyung, tertahan nyeri,
namun bibirku tetap terkatup sunyi.

Akhirnya, ibu melihat luka,
dengan tangan lembutnya ia mencabut duri itu,
aku menggigit bibir, menangis tersedu,
sementara ibu memelukku, membisikkan sesuatu:

“Jika kau biarkan duri bersarang,
ia akan menanam luka lebih dalam.
Tapi jika kau berani menanggung perih sesaat,
kau akan sembuh, dan melangkah tanpa beban.”

Purbalingga, 2024

—-

*Tania Rahayu adalah seorang penyair, cerpenis, dan peneliti pada Lembaga Kajian Nusantara Raya (LK Nura) UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto.