Transformasi tanpa Transisi. Buruh, Seni, dan Jejak Perlawanan

Oleh Abad Akbar*

 

Pameran bukan sekadar ruang estetika; ia juga arena artikulasi, menjadi tempat gagasan sosial dipertemukan dengan bahasa visual. Dalam konteks itu, pameran bertajuk Transformasi tanpa Transisi yang digelar di Survive Garage oleh kolektif Parkir Liar menjadi menarik untuk dibaca lebih jauh. Kolektif yang beranggotakan mahasiswa TKS ISI Yogyakarta (Fairuz, Nabil HP, Naza, Ayun DP, Retta, Rafi Ahmad, Rania, Safa H, dan Tanaya) ini mencoba menempatkan isu buruh kembali ke dalam lanskap seni rupa kontemporer. Dibuka pada 1 Mei 2026 yang bertepatan dengan Hari Buruh Internasional, pameran ini sejak awal sudah menegaskan posisinya yang bukan sekadar perayaan, melainkan gestur advokasi.

Foto bersama kolektif Parkir Liar bersama para dosen. (sumber: Abad Akbar)

Dikuratori oleh Nabil, pameran ini mengangkat gagasan May Day sebagai ruang refleksi atas kondisi buruh yang terus bergerak dalam pusaran perubahan tanpa jeda, tanpa transisi yang utuh. Dalam era modern yang serba cepat, buruh tidak hanya dituntut adaptif tetapi juga dipaksa bertahan dalam situasi yang terus berubah sebelum sempat dimaknai. Di sinilah pameran ini bekerja, ia tidak menawarkan solusi instan melainkan membuka ruang kesadaran bahwa “perubahan” sering kali hadir tanpa proses yang manusiawi.

Dalam sambutannya, Kaprodi Tata Kelola Seni ISI Yogyakarta Dr. Trisna Pradita memberikan dorongan yang cukup reflektif, bahwa keputusan terbaik seringkali lahir dari pengalaman, dan pengalaman tidak jarang berasal dari keputusan yang keliru. Pernyataan ini, jika dibaca dalam konteks pameran, seolah menjadi legitimasi atas proses belajar para mahasiswa mengartikan bahwa kegagalan, eksperimen, bahkan ketidaksempurnaan adalah bagian inheren dari praktik artistik dan pengelolaan pameran.

Panen di Pundak karya Pangestumu, potret perjuangan petani dalam memenuhi kebutuhan pokok rakyat. (Sumber: Abad Akbar)

Pameran ini sendiri merupakan bagian dari tugas akhir mata kuliah yang dibimbing oleh Dr. Mikke Susanto dan tim pengajar. Namun, menyederhanakannya sebagai “tugas kuliah” jelas tidak cukup menggambarkan. Mikke dalam sambutannya menekankan bahwa ini adalah awal langkah para mahasiswa. Mereka berlatih untuk memahami ekosistem seni secara menyeluruh mulai dari konsepsi, produksi, hingga manajemen pameran.

A. Arahmaiani bersama para dosen meresmikan pembukaan pameran. (Sumber: Abad Akbar)

Pameran ini dibuka oleh A. Rahmaiani, yang memberikan pembacaan kritis terhadap situasi Hari Buruh tahun ini. Ia menyoroti absennya demonstrasi besar secara nasional, yang justru bergeser menjadi pertemuan simbolik antara buruh dan penguasa. Dalam kerangka itu, pameran ini bisa dibaca sebagai antitesisnya, sebuah bentuk perlawanan yang memilih jalur artistik sebagai medium artikulasi. Dalam pandangan ini seni bukan sebuah pelarian melainkan strategi lain untuk menyampaikan kritik.

Fade Out karya Arya Pandjalu sebuah visual buruh yang menjadi pondasi kemakmuran negara (Sumber: Abad Akbar)

Rahmaiani juga mengingatkan bahwa tradisi May Day memiliki akar panjang sejak masa kolonial, dan hingga kini tetap menjadi ruang perjuangan yang dinamis. Ia mengusulkan agar praktik artistik tidak berhenti di ruang pamer, tetapi bergerak lebih jauh, bertemu langsung dengan buruh memahami realitas mereka dan membangun relasi yang tidak semata representasional.

Jika ditarik lebih panjang, relasi antara gerakan buruh dan seni di Indonesia memang memiliki sejarah yang kompleks. Pada masa kolonial, berbagai perlawanan rakyat mulai dari pemberontakan petani Banten (1888), mogok pekerja kereta api (1923), hingga protes buruh pabrik gula (1920) menjadi penanda awal kesadaran kolektif atas ketidakadilan struktural. Seniman pada masa itu, seperti S. Sudjojono merekam realitas tersebut melalui pendekatan realisme sosial, menghadirkan kehidupan rakyat sebagai subjek utama.

Memasuki era Soekarno, gerakan buruh memperoleh posisi strategis dalam konfigurasi politik negara. Narasi anti-imperialisme dan anti-kapitalisme yang diusung pemerintah beririsan dengan perjuangan buruh. Seni kerakyatan berkembang pesat, dengan tema-tema perjuangan, nasionalisme, dan solidaritas menjadi arus utama. Namun dinamika ekonomi-politik yang kompleks tetap memunculkan ketegangan, termasuk kritik dari kelompok buruh itu sendiri.

Figure 2. SIUUU !!! karya Loka yang menggambarkan bagaimana sebuah setiap gerakan dan suara kritis dipukul oleh aparat keamanan. (Sumber; Abad Akbar)

Situasi berubah drastis pada masa Orde Baru. Gerakan buruh direpresi secara sistematis segala bentuk perlawanan kerap dilabeli subversif atau komunis. Ruang ekspresi menyempit dan suara buruh nyaris menghilang dari ruang publik. Namun seperti yang sering terjadi dalam sejarah represi tidak pernah benar-benar mematikan gerakan. Sejak 1980-an, aktivitas bawah tanah mulai tumbuh, membangun fondasi perlawanan yang lebih terorganisir.

Kasus Marsinah pada 1993 menjadi titik balik yang signifikan. Sebagai buruh perempuan yang memperjuangkan hak rekan-rekannya, Marsinah tidak hanya menjadi korban kekerasan negara tetapi juga simbol perlawanan. Pembunuhannya membuka lapisan gelap relasi antara negara, aparat, dan kepentingan industri. Gelombang solidaritas yang muncul di berbagai lapisan masyarakat menunjukkan bahwa isu buruh tidak bisa lagi disembunyikan.

Peristiwa ini juga menggerakkan seniman untuk terlibat lebih aktif. Nama-nama seperti Semsar Siahaan, Moelyono, Tisna Sanjaya, A. Rahmaiani, Halim HD, Dede Ari S., hingga Dadang Christanto menghadirkan karya-karya yang tidak hanya estetis tetapi juga politis. Sebagai medium advokasi dan pendidikan publik. Seni dalam konteks ini berfungsi sebagai alat kritik sekaligus arsip alternatif atas sejarah yang kerap dihapus.

Pasca runtuhnya Orde Baru ruang ekspresi kembali terbuka tetapi persoalan buruh tidak serta-merta selesai. Justru dalam lanskap neoliberal hari ini, tantangan menjadi lebih kompleks fleksibilitas kerja, ketidakpastian upah, hingga hilangnya jaminan sosial. Dalam situasi seperti ini praktik seni yang berpihak menjadi semakin relevan.

Panen di Pundak karya Pangestumu, potret perjuangan petani dalam memenuhi kebutuhan pokok rakyat. (Sumber: Abad Akbar)

Pameran Transformasi tanpa Transisi bisa dibaca sebagai bagian dari kesinambungan sejarah tersebut. Ia mungkin lahir dari ruang kelas, tetapi resonansinya melampaui itu. Ada upaya untuk menghubungkan praktik artistik dengan realitas sosial untuk tidak menjadikan seni sebagai menara gading yang steril dari konflik.

Pada akhirnya, pameran ini mengingatkan satu hal sederhana namun sering dilupakan bahwa seni tidak pernah benar-benar netral. Ia selalu berada dalam relasi dan persimpangan antara kekuasaan dengan masyarakat, dan dengan fakta sejarah. Dan dalam relasi itu, memilih untuk berpihak adalah keputusan yang tidak bisa dihindari.

Selamat Hari Buruh! Semoga kerja tetap manusiawi, dan perjuangan tidak kehilangan suara, baik di jalanan maupun di ruang pamer.

—-

*Abad Akbar – Peneliti Seni Budaya