Puisi-puisi Suminto A. Sayuti

KIAMBANG, 1

Ganggang dan lumut hanyut. Mengalir aroma yang bakung. Juga sedap kelam dan teratai. Diri duduk di tikar batu. Selimut apung kiambang dan golak sejuk air. Senandung Kinanthi Irim-irim mengalun. Mengawang terbawa angin. Sarat kehendak dan ingin. Kelit-kelindan dan gapai-menggapai. Sisanya cuma dua tepian sunyi. Tenggelam dalam pusar air kali. Hidup pun berputar. Tetap tegak berporos di sela baris puisi.

 

KIAMBANG, 2

Aku dengar suara diri. Hinggap di kaki bukit Merapi. Lalu ke lereng usia. Memudar serupa ciuman terakhir. Dan salam penyair. 

Aku lihat mata serupa langit. Danau diri tanpa kiambang dan lumut ganggang. Kering tanpa alir air.

Aku dengar nyanyi diri. Suara tanpa nada. Hinggap di lereng usia. Menghilang serupa lambai tangan. Cakrawala jauh. Tautan dua tepian. Selamanya.

 

KIAMBANG, 3

Di kecipak telaga biru tua, bulan pun kekalang. Serupa dongeng ninabobo. Sepasang mata pun cahaya. Tidak padam sepanjang malam. 

Di sepanjang hilir air kali. Diri gemetar dalam hanyut waktu. Cengkrama kiambang dan batu-batu kenang. Keliar  dalam bayang-bayang. Ladang hijau terhampar. Hampir tanpa tepian. Dan suara penyair terdengar hinggap di rimbun daun. Kicau burung malam di tepian danau. Sisanya cuma mimpi dan igau. Diri yang berkelahi dengan sunyi.

 

KIAMBANG, 4

Aku berenang di  kali Kuning. Menyela kiambang, bersama lumut dan ganggang. Menunggu kamu datang.

Aku duduk di tikar batu. Menatap Merapi. Bersama angin Utara. Terbayang laut Selatan. Tepian Minangkalbu. Luas hati ruas waktu. Serupa kebun dan sawah. Meredakan gelisah. Menanti saat buat bertemu.

Menatap Merapi. Terbayang selat hari. Engkau pun menyeberang bagi kepulangan. Seperti katamu. Dulu. Ketika usia masih angan-angan. Sebait Maskumambang . Saat-saat penantian. Diri pun tersadar. Ada cadar di balik cadar. Di teras langit ada sumur mahadalam.

 

KIAMBANG, 5

Sebuah kali membelah desa. Hulu dan hilir kata. Hidup pun bergantung pasang surut. Alinea dan wacana. Bersama ganggang dan lumut. Mengalirlah ke muara laut. Samodra tualang yang tak hendak pulang. Sekeping hati yang tak pernah susut. Tenang melampaui tepian jurang dan batuan. Juga padang-terbuka. Biarlah isyarat jaga bangkit dalam diri. Tanpa teratai tumbuh di sela kiambang. Di baliknya ada yang saling berpaut. Serupa tongkang dan sampan menemu pelabuhan. Hulu dan hilirmu adalah bentang jarak peraduanku.

 

KIAMBANG, 6

Jejak-jejakmu kini menjadi sungai. Bening mengalir. Menyela-nyela kehijauan ngarai. Menumbuhkan perdu. Membasuh batu-batu. Dari ganggang dan lumut. Dari kiambang hanyut. 

Tempat mandi dan cengkrama anak cucu. Juga handai taulan. Dan aku. Tempat ikan dan udang berseliweran. Berebut remah sisa.

Jejak-jejakmu kini adalah sungai. Hulunya Merapi. Hilirnya Samudra Tak Bertepi. Aku pun sampan senja. Menuju muara. Di Tepian itu. Kita kembali bertemu. Mengurai cinta dan rindu. Dalam kumandang doa anak cucu.

 

KIAMBANG, 7

Bayang diri hanyut di alir kali. Bersama kiambang meniti tepian. Cengkrama ganggang dan lumut batu-batuan. Menyibak akar teratai merah padam. Cengkrama ikan dan udang. Berebut remah berebut sisa waktu. Semesta menyaksikan, semesta mengaminkan.

 

KIAMBANG, 8

Kerna angin, kita maju ke depan tapi juga mundur ke belakang. Kiambang terapung di alir sungai. Daun-daun hari yang tengadah sama dengan daun-daun yang telungkup. Semua bagi tepian usia. Diri pun turun ke atas. Diri juga naik ke bawah. Masuk tapi keluar. Keluar tapi masuk. 

Adalah tali-tali pengikat. Tangan dan kaki. Tapi hati selalu membuka dan melepasnya. Nol pun bergantung pada angka lain penyertanya. Juga tanda bacanya. Titik ataukah koma. Tak terhingga pun demikian adanya.

 

KIAMBANG, 9

Di tengah alun senandung Panjang Ilang, kiambang hanyut. Tersangkut akar teratai merah padam. Merajut gumam ganggang dan lumut. Sehabis hujan rinai. Matahari dan cakrawala jauh. Bayang diri memanjang di telaga. Gurat-gurat wajah di kelopak air. Tak lagi hijau muda. Telah menjadi biru tosca. Bersama angin utara. Bersama angin Utara.

 

KIAMBANG, 10

Di atas tikar batuan. Aroma bakung menghilir. Bersama ganggang dan lumut hanyut. Selimut kiambang dan percik dingin air. Senandung Kinanthi Irim-irim. Mengalun dan mengawang terbawa angin. Sarat kehendak dan ingin. Kelit-kelindan dan gapai-menggapai. Sisanya cuma tepian sunyi. Tenggelam dalam pusar air kali. Hidup pun berputar. Tetap tegak berporos di sela baris dan bait puisi.

 

KIAMBANG, 11

Kuncup teratai merah di atas telaga. Adalah jiwa dahaga  sang kelana. Ketika kering lumut dan layu ganggang. Kiambang pun mengembang. Rindu hijau kangkung dan sri gading. Adalah cahaya tubuh yang berlabuh. Bagi bunga karang sungsang. Angin pun landai dan jernih air telaga dibingkai empat tepian. Apung kiambang bagi bunga karang sungsang.

 

—-

Suminto A. Sayuti lahir di Purbalingga, Jawa Tengah, 26 Oktober 1956. Pada dekade 1970-an saat tergabung komunitas Persada Studi Klub Yogyakarta, namanya tidak pernah absen dalam berbagai forum diskusi sastra, pementasan puisi dan teater. Kala itu, di kalangan seniman Yogya, Suminto dikenal sebagai pemuda yang tidak pernah puas dengan ilmu yang didapat. Proses kreatifnya dimulai dari kegemarannya membaca dan menulis sejak kecil. Semakin tersihir oleh dunia sastra sejak ia masuk Yogya pada tahun 1974. Sejak bergabung dengan komunitas Malioboro, ia eksis di dunia sastra. 

Suminto yang Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) ini, juga menggeluti seni karawitan, dan menggagas serta pengurus Masyarakat Karawitan Jawa. Ratusan karya lahir darinya, baik berupa makalah, diktat, buku, kumpulan puisi, cerpen, esai sastra, dan sebagainya.

Di antara karya Suminto A. Sayuti :

  • Kumpulan Sajak Malam Tamansari
  • Resepsi Sastra
  • Intertekstualitas: Pemandu Pengkajian Sastra
  • Ensiklopedia Sastra Indonesia
  • Evaluasi Teks Sastra (2000, terjemahan The Evaluation of Literary Texts karya Rien T. Segers)
  • Semerbak Sajak (2000)
  • Berkenalan dengan Prosa Fiksi (2000)
  • Berkenalan dengan Puisi (Gama Media, 2002)

Penghargaan :

  • Kedaulatan Rakyat Award, Bidang Kebudayaan (2005)
  • Anugerah Sastra Yayasan Sastra Yogyakarta (2014)