Melihat kehidupan ‘anak-anak lain’ dalam ‘PALN’ dan ‘Gongka’

Oleh Rezza Maulana*

 

Meskipun Perkumpulan Anak Luar Nikah (PALN) masuk kategori fiksi dan Gongka termasuk kategori nonfiksi, namun keduanya mempunyai satu kesamaan tujuan yaitu menceritakan kehidupan sehari-hari, warga biasa, duka maupun suka orang-orang Tionghoa Indonesia pada masa Orde Baru dan setelahnya. 

PALN (cetakan 1, Juni 2023) adalah novel bergenre fiksi historis karya Grace Tioso yang diterbitkan Noura Books dan merupakan satu dari 10 pemenang jebolan Mizan Writing Bootcamp pertama tahun 2022 yang bertema “A Closer Look”. Dari ribuan peserta yang ikut program ini, PALN mampu melewati seleksi 50 besar hingga 20 besar untuk mengikuti master class dari penulis berpengalaman nasional seperti, Eka Kurniawan, Boy Candra, Chandra Bientang dan Theoresia Rumthe. 

Lebih jauh lagi adalah Perkumpulan Anak Luar Nikah terpilih sebagai pemenang pertama dalam Hadiah Sastra Ayu Utami untuk Pemula “Rasa” tahun 2024. Bahkan tahun 2025, PALN yang diterjemahan ke Bahasa Inggris oleh Tiffany Tsao dengan judul ‘The Born Out of Wedlock Club’ menjadi satu dari enam pemenang dalam Pen Presents x International Booker Prize kategori buku terjemahan. 

Sedangkan Gongka (cetakan 1, Mei 2024) yang ditulis oleh Frisca Saputra dan diterbitkan oleh baNANA Publisher, menurut saya lebih mendekati sebuah buku autobiografi yang menceritakan satu periode hidupnya di masa kanak-kanak. Dalam profil penulis disebutkan bahwa Gongka mulai ditulis setelah Frisca Saputra mengikuti pelatihan yang diampu oleh Reda Gaudiamo. Hal ini yang menurut saya ada kedekatan gaya penulisan Gongka dengan serial Na Willa. Gaya penulisan yang lugu, riang dan hangat menjadi daya tarik sendiri bagi pembaca generasi muda. Sehingga dalam kurun waktu kurang lebih tujuh bulan sudah memasuki cetakan ketiga (Desember 2024). 

Seperti menulis sejarah dari bawah dan unit terkecil

PALN bertumpu pada jalinan cerita dua tokoh utama, suami istri, Ronny Tannadi dan Martha Gunawan, yang merupakan orang Tionghoa Indonesia yang kuliah, bekerja dan akhirnya tinggal di Singapura. Kehidupan sebagai keluarga kecil dengan dua anaknya tiba-tiba bergejolak dan berubah ketika masa lalunya Martha menjadi viral di media online karena tersandung kasus pemalsuan akta kelahiran ketika memperoleh beasiswa studi lanjut dari pemerintah Singapura. Pemalsuan akta kelahiran yang dimaksud bermula ketika Martha muda (SMA) mengganti keterangan ‘Anak Luar Nikah’ dengan nama orangtuanya yang saat itu Papanya belum selesai mengurus Surat Bukti Kewarganegaraan Republik Indonesia (SBKRI). Seperti yang diketahui bahwa pada masa rezim Orde Baru orang Tionghoa harus mengurus SBKRI sebagai bukti diri menjadi warga negara Indonesia (WNI) bukan warga negara asing (Tiongkok).  

Selain fokus pada cerita keluarga dengan simpul kekerabatan, pertemanan dan aktifitas sehari-hari, PALN juga menyinggung konteks sosial historis minoritas Tionghoa Indonesia. Penulis menyisipkan kompleksitas sejarah komunitas Tionghoa, love hate relations, mulai dari masa Hindia Belanda, masa revolusi kemerdekaan, masa Orde Baru, Reformasi 1998 dan pasca Orde Baru.     

Menurut sejarahwan Italia, Carlo Ginzburg dan Carlo Poni (1991) menjelaskan bahwa microhistory adalah salah satu pendekatan sejarah yang menelisik lebih intensif pada objek kecil, seringkali pada peristiwa tunggal, komunitas terbatas, sebuah keluarga atau bahkan seorang individu.   

Begitu juga dengan narasi yang ada dalam Gongka, yang mana tokoh Gongka itu sendiri adalah Frisca sang penulis yang sedang menceritakan masa kecilnya di pecinan Jakarta. Gongka menuturkan asal usul orang tuanya, pekerjaan mereka sehari-hari di dapur dan pasar, ragam makanan yang dijual dan dimakan serumah serta teman-teman bermain di sekitar rumah. Menariknya adalah penulis mengendapkan pengalaman sosial politik keluarga Gongka dengan cara menggunakan sudut pandang anak-anak yang lugu dan belum tahu dengan kenyataan sebenarnya saat itu. 

Penulis seperti menggunakan mikroskop dalam memerinci objek cerita, seperti menjelaskan bentuk, penggunaan dan letak perkakas dapur. Bahkan dalam menceritakan masakan buatan papa Gongka, penulis menyebutkan bahan bahan resep makanan, menjelaskan cara memasaknya dan bagaimana menikmati hidangan tersebut. 

Mengenalkan keragaman internal budaya Tionghoa

Kedua penulis yang mempunyai latar belakang keluarga dan pengalaman yang mendalam mengenai tradisi Tionghoa Indonesia menjadikan tulisannya kaya dengan pengetahuan etnografis. Penyebutan nama atau istilah yang tidak sama akibat perbedaan kampung halaman leluhur di Tiongkok atau dialek adalah salah satu contohnya. Termasuk penyebutan nama panggilan dalam sistem kekerabatan keluarga Tionghoa seperti apek, acek, ama atau bobo.

Bahkan dalam PALN, penulis menambah kedalaman cerita dengan wawancara sejumlah narasumber terkait seperti kerabat, jurnalis surat kabar Tionghoa, serta dosen dan pengacara di Singapura. Selain itu, penulis juga merujuk referensi akademis seperti buku “Migration in Time of Revolution” karya Associate Prof. Zhou Taomo. 

Dari segi gaya tulisan, keduanya juga menunjukkan kecenderungan tulisan yang mengalir, detil dan seperti apa adanya (emik). Saya terkesan dengan deskripsi yang detil dan realis dalam Gongka mengenai gang-gang, rumah-rumah, pasar dan dapur. Seperti cerita dalam bab berjudul ‘Pengukiran Lima’, ‘Gloria dan Keriangan Tiada Dua’ dan ‘Dapur Kami yang Rumit’. Bahkan hampir di setiap bab dibubuhi ilustrasi (ilustrator: Lina Kusuma Dewi) bentuk skestsa yang fungsinya mirip foto lapangan yang membantu pembaca menangkap visual dari cerita. Hal ini mengingatkan saya pada buku “Tokoh-Tokoh Antropologi” tulisan Koentjaraningrat yang mana disetiap pembahasan satu tokoh diikuti dengan sketsa wajah tokoh tersebut karya Pak Koen sendiri. 

Sedangkan dalam PALN, gaya tuturan tokoh-tokohnya terasa natural dan intens. Bahasa lisan dan pilihan kata tiap karakter menyesuaikan generasinya. Ada yang bercampur menggunakan Bahasa Belanda dan Bahasa Melayu Tionghoa untuk tokoh generasi tua berpendidikan HCS (Hollandsch-Chineesche School). Pada generasi mudanya, tokoh utama dan sahabatnya misalnya, banyak menggunakan Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris dan bahasa prokem Jakarta, seperti lu dan gue.  

Pendek kata, kedua buku ini saling melengkapi dan layak untuk menjadi salah dua bahan literatur popular kontemporer dalam kelas etnografi atau kelas sejarah Tionghoa Indonesia di perguruan tinggi. Kemudian mahasiswa dapat memperdalam pengetahuan dengan bacaan lain yang lebih mendalam atau spesifik tematik. Misalnya tentang Tionghoa di periode Batavia bisa membaca bukunya Mona Lohanda dan Bondan Kanumoyoso. Sedangkan yang terkait dengan periode kemerdekaan hingga masa Orde Baru, bisa membaca tulisan dari Donald E. Willmott, Charles A. Coppel, Leo Suryadinata, Mely G. Tan dan Onghokham.

Bagi pembaca umum seperti saya, kedua buku ini memberikan keluasan cakrawala dan pemahaman lebih mendalam tentang orang Tionghoa di Indonesia yang juga multikultur dan beragam. Lebih jauh dari itu adalah dua cerita ini membantu mengikis stereotyping dan prasangka yang berlebihan dan tidak berdasar pada kehidupan orang-orang Tionghoa di Indonesia.

*Rezza Maulana, peneliti lepas dan penggemar kopi, menetap di Yogyakarta.