Mina dan Juragan Belanda: Medium Ideologi Kolonial

Oleh Bambang Supriadi*

 

Pada tahun 1915, kawasan Harmoni di Jakarta menjadi saksi pembuatan film bisu pendek berjudul Mina dan Juragan Belanda (Het Dienstmeisje Gaat Inkoopen Doen), disutradarai oleh L. Heuveldorp (1915). Film berdurasi kurang dari sepuluh menit ini sering disebut sebagai salah satu film pertama yang diproduksi di Indonesia, meskipun klaim ini masih memerlukan kajian lebih lanjut.

Narasi Mina dan Juragan Belanda tampak sederhana karena penonton diajak mengikuti aktivitas sehari-hari Mina, seorang asisten rumah tangga. Dalam bahasa Belanda “bediende” , kata yang sering diucapkan oleh lidah pribumi menjadi bedinde”, istilah yang sangat lekat dengan sejarah kolonial di Indonesia.

Dalam perjalanan ke pasar, Mina berinteraksi dengan beberapa karakter lain di jalan, hingga adegan godaan ringan. Kesahajaan visual ini membuat penonton merasa dekat dengan karakter Mina sambil menyoroti rutinitasnya. Namun, di balik kesederhanaan tersebut tersembunyi lapisan makna ideologis yang kompleks karena film ini, walaupun merupakan fiksi, mengonstruksi pandangan tertentu terhadap pribumi dan meneguhkan struktur kolonial melalui representasi visual yang selektif.

Sejalan dengan itu, Edward Said (Said, 1978) menggarisbawahi bahwa seni dan budaya kerap berfungsi sebagai alat legitimasi kekuasaan kolonial. Dalam konteks ini, eksotisme yang dilekatkan pada sosok Mina dan relasinya dengan majikan justru memperkuat wacana kolonial: bahwa masyarakat pribumi, meskipun tampak memikat dalam kekhasannya, tetap ditempatkan sebagai pihak yang membutuhkan arahan untuk mencapai standar yang dianggap lebih tinggi. Relasi kuasa tersebut tidak hanya bekerja dalam narasi, tetapi juga direproduksi secara halus melalui medium visual, sehingga hierarki sosial kolonial terus dipertahankan dalam imajinasi penonton.

Di sinilah propaganda bekerja secara subliminal. Lewat karakter Mina, film ini sengaja membangun stereotip bahwa masyarakat pribumi adalah sosok yang tidak disiplin dan mudah terbuai rayuan. Jika Robert J.C. Young dalam kajian pascakolonialnya menyebut bahwa penjajah butuh stereotip untuk melegitimasi kekuasaan, maka sosok Mina adalah “prototipe” yang mereka ciptakan untuk menunjukkan bahwa masyarakat pribumi membutuhkan pengawasan serta bimbingan dari otoritas kolonial.

Pendekatan representasi kolonial dalam film semacam ini terkonfirmasi dalam penelitian kontemporer yang menganalisis bagaimana film The East (2020) merepresentasikan kolonialisme sebagai sistem kekuasaan yang tidak hanya mengontrol wilayah tetapi juga memengaruhi identitas individual dan komunitas secara sosial dan budaya, mengindikasikan 

bahwa representasi visual dalam film dapat berfungsi untuk memperkuat struktur ideologis tertentu (Wulandari, Hidayatullah, & Putra, 2025).

Jason Hellerman, seorang penulis dan pembuat film profesional dengan latar belakang akademis yang kredibel, yaitu ia meraih Master of Fine Arts (MFA) dalam Screenwriting dan Film Theory dari Boston University, menulis artikelnya di No Film School, portal terkemuka bagi pembuat film independen. Dalam artikelnya When Does a Documentary Become Propaganda? (Hellerman, 2026), Jason Hellerman menjelaskan bahwa propaganda dalam film bukan hanya monopoli dokumenter; bahkan karya fiksi pun bisa berfungsi sebagai alat untuk menegaskan sudut pandang tertentu atau membentuk persepsi penonton. 

Prinsip ini relevan untuk mengkaji Mina dan Juragan Belanda, meski film tersebut adalah fiksi singkat, karena setiap adegannya dirancang untuk menekankan hierarki sosial kolonial dan stereotip tertentu yang menguntungkan ideologi penguasa. Menurut Hellerman, film eksploratif yaitu film yang umumnya berupa dokumenter, adalah karya yang bertujuan meneliti, mengeksplorasi, dan memahami realitas, sehingga membuka ruang interpretasi bagi penonton.

  • Film eksploratif atau dokumenter yang bertanya, meneliti, dan mengeksplorasi realitas membuka ruang interpretasi penonton.
  • Propaganda sudah memiliki jawaban yang ingin ditegaskan dan mencari cara untuk membuktikan jawaban tersebut melalui gambar dan narasi.

Dalam konteks Mina dan Juragan Belanda, meski film ini fiksi, prinsip Hellerman tetap relevan. Adegan-adegan dipilih untuk menekankan stereotip tertentu, menyoroti hierarki sosial, dan menegaskan dominasi kolonial. Dengan kata lain, niat naratifnya sudah mengarah pada pembentukan persepsi tertentu, bukan eksplorasi netral terhadap karakter atau masyarakat pribumi.

Adegan-Adegan Kunci dan Analisis Simbolik

Adegan pertama menunjukkan Mina menata bunga dalam vas di rumah majikannya. Ketika juragan menilai hasilnya tidak sesuai selera Eropa, ia mengambil alih penataan. Adegan sederhana ini menegaskan pesan simbolik, estetika pribumi dianggap inferior dan harus “dibetulkan” oleh Barat. Hal ini sejalan dengan konsep Edward Said tentang orientalisme, yang memandang budaya Timur sebagai eksotis namun terbelakang (Said, 1978). 

Adegan Juragan Belanda memberi uang belanja kepada Mina.
Sumber: Film Mina.

Selanjutnya, adegan Mina menuju pasar untuk membeli kebutuhan rumah tangga menjadi ruang penting bagi pembentukan makna. Narasi visual menyoroti keteraturan aktivitasnya, menghadirkan kesan rutinitas yang wajar dan dekat dengan pengalaman penonton. Namun, di dalam alur yang tampak sederhana itu, disisipkan detail kecil yang signifikan: Mina membeli kain untuk dirinya sendiri menggunakan kelebihan uang belanja yang ia minta dari majikannya.

Detail ini tidak berdiri sebagai kesalahan personal semata, melainkan sebagai konstruksi makna yang lebih luas. Perilaku tersebut dipotret untuk memperkuat stereotip bahwa pribumi tidak mampu mengatur diri secara bijak dan karenanya membutuhkan pengawasan. Dalam kerangka representasi kolonial, kesalahan kecil semacam ini justru diperbesar fungsinya, bukan untuk memahami karakter, tetapi untuk meneguhkan asumsi tentang kelemahan moral dan ketidakmampuan struktural masyarakat pribumi.

AdeganMina membeli kain. Sumber: Film Mina.

Representasi perilaku pribumi lain yang ditampilkan, saat Mina meminta kuli panggul yang membawakan belanjaannya, sementara perhatian kamera lebih berfokus pada kegembiraan Mina ketika bertemu pria pujaannya di taman. Kontras ini menegaskan stereotip bahwa pribumi lebih peduli pada urusan pribadi dan kesenangan sesaat daripada tanggung jawab sosial. Adegan ini menekankan hierarki moral kolonial yang ingin ditanamkan melalui narasi fiksi: kata, “ketidakmampuan” pribumi untuk bertindak rasional tanpa pengawasan majikan.


Tukang panggul belanjaan, Mina dan Pria idamannya. Sumber: Film Mina.

Dalam film, lokasi di kawasan Harmoni ditata melalui komposisi visual yang menonjolkan kepadatan ruang, susunan toko yang tidak sepenuhnya teratur, serta dinamika pasar yang tampak ramai namun kurang terkendali. Keramaian ini tidak sekadar berfungsi sebagai latar, melainkan sebagai konstruksi visual yang menghadirkan kesan hidup sekaligus “liar”, penuh energi tetapi tanpa sistem yang jelas.

Pilihan penataan semacam ini memperkuat oposisi biner antara keteraturan dan kekacauan. Dunia pribumi digambarkan menarik, bahkan eksotis dalam keramaiannya, namun pada saat yang sama disiratkan sebagai ruang yang membutuhkan pengaturan dari luar. Dalam konteks ini, visual pasar bukan hanya representasi realitas, melainkan perangkat ideologis yang membingkai cara pandang penonton.

Sejalan dengan itu, Steven Heller menegaskan bahwa propaganda bekerja melalui pengulangan citra dan penataan visual yang secara halus menanamkan nilai tertentu tanpa harus dinyatakan secara eksplisit (Heller, 2008). Dalam film ini, keramaian yang tampak “tidak terkontrol” menjadi strategi visual untuk menegaskan asumsi kolonial bahwa keteraturan hanya dapat hadir melalui intervensi kekuasaan.

Menurut Gayatri Chakravorty Spivak, suara subaltern yaitu mereka yang terjajah sering kali dibungkam dan digantikan oleh narasi dominan (Spivak, 1981/2010). Dalam film ini, Mina tidak pernah berbicara dari perspektifnya sendiri. Penonton hanya menyaksikan interpretasi tindakan dan reaksi Mina dari sudut pandang kolonial. Dengan kata lain, film ini secara visual membisukan subjek pribumi sekaligus meneguhkan dominasi naratif penjajah. Dengan demikian, fiksi singkat ini menjalankan fungsi propaganda, yaitu menanamkan ideologi kolonial melalui seleksi adegan, fokus visual, dan penekanan stereotip.

Mina dan Juragan Belanda membuktikan bahwa fiksi tidak pernah benar-benar polos. Sebagaimana Triumph of the Will (1935) mendewakan Hitler, propaganda Soviet memuja komunisme, hingga narasi sejarah dalam Pengkhianatan G30S/PKI (1984), film ini bekerja dengan cara yang sama: memanipulasi rasa melalui lensa. Lewat pemilihan adegan yang menekankan inferioritas pribumi dan kontrol visual yang ketat, penonton digiring untuk menerima sebuah narasi tanpa ruang refleksi.

Melalui karakter Mina, film ini sengaja menciptakan “potret buruk” tentang mentalitas kaum terjajah—sebagai sosok yang tidak disiplin, mudah terbuai, dan korup. Pencitraan negatif ini bukanlah kebetulan, melainkan sebuah kebutuhan strategis kolonial untuk melegitimasi kekuasaan mereka. Pesan yang ingin ditanamkan sangat jelas: bahwa masyarakat pribumi adalah entitas yang “cacat” secara moral dan manajerial, sehingga kehadiran penjajah menjadi sebuah prasyarat mutlak bagi peradaban.

Fenomena ini tidak berhenti pada film jadul. Hollywood hingga drama Korea masa kini pun tetap menanamkan nilai ideologi tertentu melalui estetika yang mumpuni. Pada akhirnya, kisah Mina menjadi pelajaran berharga bagi kita hari ini. Ia mengingatkan bahwa film bukan sekadar hiburan, melainkan medium aktif yang mampu membisukan suara kaum subordinat dan menegaskan dominasi penguasa. Menonton film berarti bersiap untuk membedah bagaimana representasi visual digunakan untuk mengendalikan narasi sejarah dan persepsi sosial kita.

*Bambang Supriadi, Indonesian Cinematographers Society.

Daftar Pustaka

Heuveldorp, L. (1915). Het dienstmeisje gaat inkoopen doen [Film bisu]. Hindia Belanda.

Heller, S. (2008). Iron fists: Branding the 20th-century totalitarian state. Thames & Hudson.

Hellerman, J. (2026). When does a documentary become propaganda?No Film School. https://nofilmschool.com

Riefenstahl, L. (Director). (1935). Triumph of the will [Film]. Reichsparteitag-Film.

Spivak, G. C. (1988/2010). Can the subaltern speak? In R. C. Morris (Ed.), Can the subaltern speak? Reflections on the history of an idea. (Reprint edition).

Suharto, A. C. N. (Director). (1984). Pengkhianatan G30S/PKI [Film]. PPFN.

Wulandari, A., Hidayatullah, R., & Putra, D. (2025). Representasi kolonialisme dalam film The East (2020): Kajian ideologi visual. [Nama jurnal tidak disebutkan].

Young, R. J. C. (2003). Postcolonialism: A very short introduction. Oxford University Press.

***