Lingkar Malam: Perjalanan Zine dari Eksplorasi Menuju Ruang Kolaborasi

Oleh Vikri Aji*

Gambar 1. Lingkar Malam Zine

Jika berbicara tentang kerja-kerja kreatif secara mandiri, zine adalah salah satunya. Merupakan lembaran yang disusun menjadi buku sebagai kumpulan ekspresi diri yang lebih jujur, bebas, dan personal. Selain itu proses pembuatannya memiliki etos DIY (Do It Yourself). Pemaknaan ini awal mulanya merupakan medium alternatif dari Magazine (majalah konvensional), namun memiliki hal yang beda jika ditelisik dari semangat produksi dan penyebarannya yang dilakukan secara underground. Hal tersebut didapat dari serapan pergerakan kawan-kawan Punk. 

Menurut pendapat Virliya sebagai Zine Maker asal kota Bandung, medium ini menjadi salah satu alternatif untuk membagikan gagasan dengan cara yang kreatif. Tidak musti kaku, semisal pakai daftar pustaka seperti halnya buku, zine bisa sesederhana membagikan gagasan personal tanpa harus di “validasi” teori. Walaupun beberapa tetap ada yang menggunakan perspektif dari pemikir terdahulu, ia tidak melulu perihal tulisan berat dan bernilai publik untuk dicetak secara masif, tapi tentang merawat gagasan lewat bukti fisik, sehingga bisa dijangkau banyak orang. Dikarenakan pendekatan zine lebih condong pada Artbook ketimbang majalah konvensional, pendapat diatas mempertegas kebebasan berekspresi serta bagaimana zine dapat diterima secara lebih luwes oleh publik.

Milihat hiruk-pikuk ekosistem zine yang kian tumbuh di Yogyakarta, salah satu nama yang patut diperbincangkan adalah Lingkar Malam. Mulai bergerak sejak tahun 2025, unit cetak independen ini mengawali perjalanannya secara mandiri. Lewat studio gambar, tulis, cetak yang ia rintis, proses R&D dikerjakan dengan eskplorasi ide, material, maupun eksekusi. Kemudahan akses informasi lewat sosial media serta keterbukaan jejaring sesama pelaku zine, membuatnya terus memperdalam praktik berkarya. Beberapa kegagalan dalam proses R&D terhitung dari satu tahun sebelum rilisan awal, membuahkan hasil dengan corak yang khas sejak rilisan pertamanya. 

Guratan dan Tulisan, Bersuara dalam Diam

Gambar 2. Visual dan Teks pada Lingkar Malam

Sejak awal kemunculannya, Lingkar Malam menghadirkan kombinasi narasi dan visual dengan porsi kreatif yang seimbang. Tulisan disajikan melalui fragmen-fragmen kutipan yang terasa puitis dan reflektif, namun akan menimbulkan kebingungan untuk pembaca awal dengan ambiguitas makna yang ada. Pesan yang tidak lugas sengaja diterapkan untuk memberi kebebasan pembaca untuk memaknai tulisan yang ada secara lebih personal. Selain teks dengan permainan kata, zine ini juga menghadirkan ilustrasi dengan guratan gambar di hampir seluruh halaman melalui pendekatan semiotika visual (penandaan) yang terasa kuat. Peran disiplin komunikasi visual sangat terasa setiap kali menatap ilustrasi yang ada. Gambar dibuat dengan kesederhanaan bentuk, terkadang menghadirkan hal yang terasa ganjil, namun di sisi lain juga menjadi jembatan untuk penghubung visual dan teks yang ada. Selain itu, tata letak yang dinamis memberi kesan melalui teks maupun visual mampu membisikan pesan yang utuh sebagai satu kesatuan untuk disimak secara beriringan.

Sejauh ini, Lingkar Malam telah menelurkan buah pikir dalam bentuk tiga edisi zine dan satu kalender yang kerap dibarengi dengan merchandise (t-shirt, poster, sticker), menawarkan pengalaman yang bervariasi pada setiap rilisan. Diawali dengan perjalanan secara mandiri, lantas tidak menutup kemungkinan Lingkar Malam untuk melakukan kerja kolaborasi. Karena seperti yang diketahui bahwa berjalan sendiri mungkin akan membawa langkah lebih cepat, namun berjalan bersama akan membawa nafas langkah tersebut lebih jauh. Hal tersebut dapat dilihat dari keterlibatan beberapa tokoh lain yang diikutsertakannya dalam mengolah zine yang diterbitkannya, dari disiplin yang masih beriringan hingga pribadi yang punya kecenderungan pada konsentrasi lain.

Edisi pertama Lingkar Malam “Yang lebih indah dari menjalani hidup, ialah memaknainya”, pengerjaan ilustrasi maupun narasi teks dilakukan seluruhnya oleh kreatornya. Dikerjakan dalam kurun satu tahun, kutipan kata-kata didapat dari hasil menangkap hal-hal keseharian yang berkelindan di kepala, sedangkan ilustrasi adalah pemaknaan personal untuk memperkuat narasi tersebut. Pada zine yang kedua, ia tidak berjalan sendiri, bersama Wisnu Nugroho seorang jurnalis senior yang kerap disapa Beginu, dilibatkannya dalam kerja kolaboratif ini. Zine yang bertajuk “Panjang Umur Upaya-Upaya Baik”, dikerjakan bersama dengan pembagian peran untuk menciptakan satu kesatuan yang utuh. Beginu menghantarkan pesan-pesan lewat rangkaian teks yang memantik rasa personal, sedangkan Lingkar Malam mengambil peran dengan memperkuat makna pesan dalam bentuk ilustrasi. 

Tidak hanya zine, Lingkar malam juga menghadirkan karya dalam bentuk kalender untuk edisi tahun 2026. Bentuk kalender yang pada umumnya berukuran A3-A2 kemudian digantung di dinding, dibuatnya dengan ukuran lebih compact, dibubuhi ilustrasi dengan corak yang khas, dan dilengkapi penjepit berlubang untuk menandai halaman maupun memasangnya di dinding. Untuk edisi zine yang ketiga, Lingkar Malam menggandeng Enka Komariah selaku Visual Artist kelahiran Klaten. Pada zine terbarunya yang berjudul “Monumen Kekalahan”, narasi kerjasama mereka ini diangkat dari sejarah kelam perjalanan bangsa. Zine ini berupaya memindahkan pameran tunggal Enka Komariah dengan judul serupa ke dalam sebuah zine yang dapat digenggam secara fisik. Beberapa karya yang sebelumnya terpajang di ruang galeri Cemeti Institute for Art and Society, dipresentasikan ulang di setiap lembar fisik halaman yang turut diperkuat narasi serta tambahan ilustrasi, sehingga baik audiens Enka maupun Lingkar Malam dapat berjumpa dan timbul rasa memiliki dengan karya mereka secara lebih personal. 

Dibalik Sunyi yang Berulang 

Gambar 3. Iqbal Asaputro, Sosok Dibalik Lingkar Malam

Berbicara mengenai Lingkar Malam, kurang lengkap jika melewatkan sosok dibaliknya. Iqbal Asaputro yang lekat dengan sapaan Balsden, adalah visual artist yang berasal dari kota Klaten, namun kurun beberapa tahun terakhir ini bergeliat seni dan tumbuh di Yogyakarta. Sejak kecil dirinya akrab dengan pena gambar maupun material lain yang dipergunakannya untuk mengekspresikan pikiran dalam dirinya melalui visual. Seiring berjalannya waktu, pada periode SMK Balsden sempat terlibat dalam kolektif graffiti di kotanya, juga sempat menjadi ilustrator freelance.

Menempuh pendidikan di salah satu perguruan tinggi negeri di kota gudeg, ia mengambil disiplin Seni Rupa serta konsentrasi pada komunikasi visual, membawanya pada titik yang lebih serius. Terhitung dari tahun 2011, Balsden akrab dengan project kreatif yang memerlukan karya visualnya untuk mengeksekusi berbagai lini kreatif mulai dari: streetwear, merchandise, maupun visual musik.  Perjalanan panjang dengan menjaga api renjana dalam diri membuatnya tidak berhenti untuk terus melakukan eksplorasi dalam berbagai medium. Ketertarikannya mengolah teks, menyimak lirik, berjejaring, hingga mengolah visual membuatnya memutuskan untuk membuat satu unit cetak zine independen bernama Lingkar Malam di tahun 2025. 

Sembari bekerja sebagai desainer di salah satu kantor media, Balsden memperlebar eskplorasinya lewat seni cetak-mencetak. Lahirnya Lingkar Malam diawali dari nama yang dimaknai dari pengalaman pribadi. Lingkar merupakan garis yang tidak terputus, bagai siklus kehidupan yang akan terus berputar. Sedangkan malam merupakan situasi ketika ide yang berkelindan di kepala mampu dituangkan dalam bentuk ekspresi visual maupun tekstual. Dari nama menjelma doa, membuat nafasnya terus berjalan. Melalui medium ini, dirinya berupaya untuk menciptakan wadah berekspresi yang bebas untuk dirinya utarakan secara pribadi maupun kolektif. 

Merawat Nafas, Menjaga Jejak

Gambar 4. Proses Produksi Zine

Proses tumbuh yang terjadi pada Lingkar Malam sejauh ini berjalan secara organik. Walau terhitung sebagai nama baru yang terlibat dalam ekosistem zine, penikmat karyanya tidak hanya berhenti pada audiens lokal, namun beberapa kali telah menjangkau peminat zine asal negeri Jiran, Malaysia. Keterbatasan alat yang tidak bisa menghasilkan kuantitas masif, ruang produksi sederhana, maupun riuhnya pembagian waktu di sela pekerjaan utamanya, tidak menghentikan langkahnya untuk Lingkar Malam. 

Aktivitas yang dilakukannya dapat dijumpai lewat platform media sosial instagram (@lingkarmalam) maupun pertemuan langsung dari keikutsertanya dalam beberapa event kreatif seperti, Diskomfest (@diskomfest) dan Bandung Zine Fest (@bandungzinefest), juga di toko buku seperti Buku Akik (@bukuakik) dan TOS! (@toskecil). Melalui suara yang dirangkai lewat kata dan rupa, Lingkar Malam mencoba menggugah kembali hal-hal yang tertidur dalam diri untuk dijelajah dan dihidupi agar lebih bermakna.

—-

*Vikri Aji, Mahasiswa Program Pascasarjana ISI Yogyakarta.