Menari di Antara Knalpot dan Hitungan Lampu Merah
Oleh Farhana Izza Zakiatus S.*

Siang hari di persimpangan dekat Jogokariyan, terik matahari membuat muka terasa hangat. Bau aspal yang tersengat panas matahari memenuhi jalanan bersama debu dan asap knalpot kendaraan. Tepat di lampu merah, orang-orang berhenti dengan ekspresi dan perilaku yang cukup beragam. Ada yang pandangannya tertuju pada lampu lalu lintas seakan takut lampunya kabur, ada yang mengeluarkan gawai, atau bahkan mengobrol dengan teman boncengannya. Beragam pemandangan yang sangat lumrah ditemui dan cukup umum.
Namun, di tengah hiruk-pikuk yang terkesan biasa itu, ada suatu fenomena yang menarik perhatian. Lampu merah yang biasanya menjadi persinggahan dan terkadang membosankan, seakan menjadi panggung jalanan tiba-tiba. Tampak berdiri di ujung lampu merah, seorang laki-laki paruh baya yang mengenakan kostum. Ia mempersiapkan diri untuk melakukan pertunjukan. Beliau sering saya jumpai saat melewati persimpangan atau sekedar nongkrong di Warmindo samping pintu masuk SPBU Jogokariyan.
Ketika datang, laki-laki tersebut hanya mengenakan kaos dan celana sehari-hari. Perhatian saya mulai tertuju saat ia mengenakan kostum bernuansa coklat hitam yang mencolok, gaya kostumnya semacam kostum festival yang terbilang cukup tidak biasa untuk situasi dan kondisi persimpangan yang penuh dengan asap dan terik matahari siang hari. Tidak hanya kostum, ia juga membawa tas berwarna cream bekas McDonald’s yang berisi speaker portable setinggi tas. Ia menyalakan speaker tersebut, kemudian terdengar musik remix etnik Nusantara dengan nyanyian Jangger Bali dan ia pun mulai menari mengikuti irama lagu.
Sebagai seseorang yang juga meminati dunia gerak tubuh seperti tari, saya awalnya tanpa sadar refleks mencermati beberapa gerakan yang dilakukannya. Ada saat ketika ia menoleh ke kanan dan kiri, tangannya terangkat menekuk ke dalam dengan jemari membentuk angka empat yang umumnya diketahui dengan salah satu gerakan dari tari Pendet yang “khas Bali”. Jika diperhatikan secara mendalam pada beberapa siklus lampu merah, gerakan tersebut merupakan suatu “kolase” budaya yang tidak pakem.
Penari laki-laki itu juga melakukan gerakan ngukel jemari tangan dengan gerak halus khas tari tradisi Jawa, namun tiba-tiba berubah menjadi hentakan kaki mantap yang menyerupai gerakan dari tari daerah timur atau Papua. Tak luput juga, ia memunculkan gerakan sandhukan khas Madura. Beliau tidak hanya membawakan suatu tarian yang pakem, namun dari beberapa percampuran itulah tercipta hibriditas yang muncul di jalanan. Bisa dibilang, ini merupakan keindahan dari keberagaman yang muncul tiba-tiba tanpa perlu penilaian dari kurator. Perhatian dari pengendara yang menunggu lampu merah lah yang menjadi tumpuannya.
Kalau mau meresapi lebih jauh, ini adalah panggung yang paling jujur yang pernah saya temui. Tidak ada lampu sorot yang tersusun sedemikian rupa, tanpa adanya atap gedung pertunjukan, dan tanpa perlu mengajukan proposal terstruktur untuk mendapatkan persetujuan tampil di atas panggung. Hanya ada lampu merah, speaker, di dukung kostum yang dikenakannya dan durasi lampu merah yang terbatas. Durasi pertunjukkannya sepenuhnya tergantung pada sistem lalu lintas yang sudah terancang, ia hanya memiliki waktu sekitar enam puluh detik untuk membuat pertunjukannya.
Bertahan di tengah panggung yang sama sekali bukan untuk seni, mengharuskan penari memiliki strategi yang dapat membantunya tetap menciptakan pertunjukan dalam situasi yang tidak bisa di tebak. Ia akan menoleh sesekali kebelakang sembari melakukan geraknya untuk melihat arah kendaraan yang melaju, dari situ ia dapat menghitung ritme pergantian lampu merah. Saat kendaraan di arah berlawanan mulai melaju, mengisyaratkan bahwa panggungnya hanya memiliki sedikit waktu sebelum akhirnya harus bubar. Pada arah samping tepat sebelum giliran lampu merah penari berada, ia mulai menghampiri pengendara satu-persatu sambil menyodorkan kotak hijau yang selalu dibawanya di tangan kiri selama pertunjukan berlangsung sampai selesai. Sembari mengharapkan apresiasi yang berupa recehan, sebelum persimpangan lampu merah itu kembali menjadi tempat kendaraan sibuk berlalu-lalang.
Jika dilihat, gerakannya memang cukup terbatas dan akan diulang pada setiap siklus lampu merah. Namun, kalau dilihat dari sudut pandang lain, bukankah banyak pekerjaan di dunia ini yang juga repetitif? Ibaratkanlah seperti orang yang bekerja di kantor, ia mengulang rutinitasnya setiap hari. Pekerja toko yang melakukan aktivitas berulang dari pagi sampai sore, bahkan malam hari. Bahkan dari sisi yang paling dekat adalah kita ketika menjadi pengendara, melakukan hal yang nyaris sama ketika berada di lampu merah, menarik rem, memandangi lampu merah, lalu kembali jalan. Bedanya, laki-laki ini melakukan aktivitasnya dengan sebuah pertunjukan menari.
Lampu lalu-lintas, secara tidak langsung menjadi sutradara. Menentukan kapan pertunjukan dimulai dan kapan harus berakhir. Pada titik ini, seni seperti sedang berusaha bernegosiasi dengan kenyataan hidup dan ruang yang sebenarnya tercipta bukan untuk seni melainkan ruang lalu lintas. Pada akhirnya, pertunjukan yang dilakukan penari tidak hanya sekedar seni dan ekspresi artistik. Namun, di dalamnya terdapat strategi bertahan hidup di tengah tuntutan ekonomi yang makin lama makin menyudutkan. Setiap gerak, setiap tarian yang dilakukannya berujung pada pertanyaan akankah ada yang memberi uang?
Lampu merah beralih fungsi, tidak lagi sekedar menjadi pemberhentian singkat supaya lalu lintas teratur. Namun disana terdapat ruang harapan ekonomi yang bekerta pada setiap siklus lampu merah. Tidak semua akan menganggap ini seni, mungkin bagi sebagian pengendara ia hanya seorang pengamen dengan kostum yang lebih niat. Tapi jika dilihat lagi, berapa banyak pertunjukan seni di gedung yang mungkin lebih mewah dan nyeni sebenarnya juga menggantungkan harapan pada penonton yang mau membayar “tiket”.
Panggung laki-laki ini penuh asap kendaraan, didukung cuaca terik atau hujan. Suara bising mesin, klakson, obrolan orang-orang, dan ketidaksabaran pengendara untuk segera meninggalkan lampu merah. Sebagai seseorang yang sering melihat atau bahkan menampilkan pertunjukan di panggung yang rapi, penonton yang duduk tenang menyimak dengan satu fokus. Fenomena yang ada di lampu merah sebelah SPBU Jogokariyan ini menjadi tamparan dan refeksi. Di tempat itu, tidak ada jaminan bahwa aka nada orang yang benar-benar menjadi penonton dan memperhatikan pertunjukannya.
Kesederhanaan itulah letak menariknya, dimana seni ternyata bisa muncul dimana pun dan kapan pun. Seni tidak harus selalu berada di tempat yang sudah dirancang sedemikian rupa, terkadang seni bisa muncul secara tak terduga, jauh dari gemerlap kemewahan. Di tengah panas dan polusi laki-laki itu tetap menari, bukan karena partisipasi acara, festival, bahkan undangan. Namun, sesederhana karena lampu merah memberinya panggung dan kesempatan untuk dapat tampil, meski hanya enam puluh detik.
——
*Farhana Izza Zakiatus S., Mahasiswa Program Pascasarjana ISI Yogyakarta.




