Pengalaman Naik Kapal Induk Amerika
Oleh Agus Dermawan T.*
Syahdan kapal induk Amerika Serikat USS Abraham Lincoln ngibrit lantaran diserang empat rudal Iran, pada 1 Maret 2026 lalu. Pada 12 Maret 2026, kapal induk USS Gerald Ford terbakar di Laut Merah, sehingga harus menepi ke pesisir Yunani. Meski ngibrit dan terbakar, tetap gagah sekaligus menyeramkan si kapal induk! Beruntung saya bisa naik ke kapal induk Amerika Serikat yang lain, USS Midway, dan pura-pura jadi pilot pesawat tempur.
————
SEBELUM menuju kapal induk, mari kita menjenguk Hawaii notabene Pearl Harbor, sebagai latar belakang.
Sampai memasuki abad ke-21, Hawaii tetap diaksentuasi dua bukit perhatian, yang masing-masing punya pesona bertolak-belakang. Yang pertama adalah Pantai Waikiki dengan keindahan bak surgawi, yang sudah banyak diceritakan. Yang kedua adalah Honolulu dengan “USS Arizona Memorial”, yang jarang ditulis orang.
Honolulu yang berpenduduk sekitar 900.000 merupakan ibu kota dan pelabuhan utama Hawaii. Wilayah urban ini mencakup Pearl Harbor, pelabuhan yang pada 7 Desember 1941 dibom habis-habisan oleh Jepang dalam kemelut Perang Dunia II.
Menarik bahwa pada akhirnya sisa-sisa peperangan tersebut jadi tontonan. Dan jadi monumen kekejaman perang yang tak pernah henti direnungi. Monumen itu mereka beri nama “USS Arizona Memorial”. Yang ditampilkan sebagai museum di kedalaman air, karena yang ditonton adalah kapal perang yang terkapar tak berdaya di dasar laut.
Sebagai awal, langkah saya dibawa ke Taman Nasional yang luas, dengan rumput serta bunga-bunga mekar tanda “kemenangan”. Di banyak kelokan jalan taman itu berdiri tonggak-tonggak kecil yang memajang prasasti, dengan di dalamnya memaktubkan kalimat-kalimat kenangan dan junjungan atas para pahlawan. Dari situ saya lantas dibawa ke gedung bioskop yang memutar film dokumenter berdurasi 30 menit. Isinya: ihwal penyerangan brutal pasukan udara Jepang atas Pearl Harbor. Sekeluar dari situ dengan kapal fery saya menjauhi pantai, menuju “museum bangkai kapal dasar samudera.”
Zona memorial ini ditandai oleh sebuah bangunan putih panjang yang menyerupai sehelai kain menutup peti jenasah. Pada kedua sisi bangunan menjuntai tersebut terdapat lobang-lobang jendela. Dari jendela inilah saya bisa melihat bangkai kapal perang Arizona sunyi sendiri nun di bawah sana. Kapal perang ini panjangnya 608 feet (sekitar 186 meter), bertinggi 97 feet, dan berbobot 31.400 ton.
Lalu, dari getaran air laut yang disapa angin, bayang-bayang bangkai kapal serta-merta membuka kembali peristiwa tak terlupakan itu.

Ketika Pearl Harbor, Hawaii diluluh lantakkan pasukan udara Kerajaan Jepang, 7 Desember 1941. (Sumber: Dokumen).

Bayang-bayang bangkai kapal perang USS Arizona di dasar laut, di Pearl Harbor. (Sumber: Agus Dermawan T).
Penyerbuan Minggu pagi
Alkisah Perang Dunia II dimulai tahun 1939. Perang yang menggerakkan 70 juta tentara di puluhan negara ini diawali ketika Jerman pimpinan Hitler tiba-tiba menyerang Polandia pada 1 September. Sementara di kawasan Pasifik Jepang juga merajalela. Jepang dengan restu Kaisar Hirohito, keturunan langsung Amaterasu Omikami (Dewa Matahari), berambisi jadi penguasa Asia Timur Raya.
Untuk membagi kekuasaan, Jepang bersama Itali dan Jerman membentuk Pakta Axis, atau Pakta Poros, sehingga muncul “Poros Berlin-Roma-Tokyo”. Dalam Pakta Poros ini tersurat bahwa Jerman dan Itali berhak atas negara-negara Barat. Jepang berhak atas negara-negara Timur atau Selatan, termasuk yang di kawasan Pasifik.
Dari situ Jepang melihat ada Amerika Serikat yang memiliki pangkalan perang di Pearl Harbor, Hawaii, yang terletak di kawasan Pasifik. Jepang merasa itu adalah haknya. Padahal Amerika berada di Hawaii sejak 1887, berkenaan dengan perjanjian perdagangan gula. Dan Amerika sama sekali tidak bermusuhan dengan Jepang.
Pada hari Minggu yang damai, 7 Desember 1941, ketika penduduk dan para perajurit bersiap ke gereja, pasukan udara Jepang tiba-tiba menyerbu. Gelombang pertama penyerbuan dilakukan oleh 183 pesawat. Gelombang kedua oleh 170 pesawat. Kita tahu, 353 pesawat terbang garang itu membawa ratusan ton bom. Pearl Harbor pun dihabisi tanpa ampun. Pengeboman pada pukul 8 sampai 10 pagi itu membunuh 2.390 orang, yang sebagian besar perajurit angkatan laut dan penerbang. Sementara 164 pesawat yang sedang diparkir di situ jadi puing.
Dalam perang tanpa perlawanan itu infrastruktur Pearl Harbor dan kapal-kapal perang canggih Amerika remuk redam. Yang pertama dibom adalah Ford Island Naval Air Station dan Hickam Field. Menyusul kapal-kapal perang yang sedang nongkrong di situ: USS Curtiss, USS Monaghan, USS Nevada, USS Raleigh, USS California, USS West Virginia, USS Tennesse, USS Oklahoma, USS Oglala, USS Shaw, USS Phoenix, USS Detroit, USS Nevada, USS Maryland, USS Utah, USS Arizona. Menariknya, USS Solace yang merupakan hospital ship, atau rumah sakit terapung, tidak dibom.
Yang paling tragis adalah USS Arizona. Kapal bikinan 1919 ini tenggelam bersama 1.177 tentara dan awak kapalnya. USS Utah remuk dan mematikan 76 marinirnya, sementara 461 selamat meski dalam keadaan kritis.
Atas penyerangan ini panglima perang Jepang Laksamana Isoroku Yamamoto merasa sangat bersalah dan ngeri. Ia mengatakan: “Saya takut peristiwa ini membangkitkan raksasa tidur. Dan raksasa itu, Amerika, akan segera memerangi kita.” Apa yang dikatakan Yamamoto – yang tewas karena pesawatnya ditembak Amerika pada April 1943 – benar. Sejak itu Amerika terus memburu serta menghabisi seluruh tentara Jepang yang ada di Kepulauan Pasifik.
Puncaknya pada 6 Agustus kota Hiroshima dibom atom oleh Amerika. Menyusul Nagasaki pada 9 Agustus. Jepang pun minta ampun.
Horor penyerbuan Pearl Harbor pada 1957 diabadikan oleh Amerika Serikat. Dan semua berfokus pada kapal Arizona, sehingga disebut “USS Arizona Memorial.” Kala penggalangan dana terlibat penyanyi Elvis Presley lewat show berjuluk “This is Your Life.”
Di seputar “USS Arizona Memorial” ada tonggak-tonggak besar berwarna putih untuk menandai tempat tenggelamnya beberapa kapal yang lain. Sementara di sisi agak jauh tampak kapal USS Missouri, yang tidak sempat kelelep. Setelah diperbaiki, kapal itu dibiarkan berada di tempatnya, dan dijadikan tontonan. Di bagian lain ada dinding kenangan yang mengukir nama 1.177 perajurit Arizona.

Veteran perang Pearl Harbor yang berusia di atas 90 tahun, Everett Hyland, Allen Bodenlos, dan Alfred Rodrigues. Dengan pakaian Hawaii ketiga super opa itu menyapa publik dan disambut publik pada tahun 2011. (Sumber: Agus Dermawan T).
Tentu menggembirakan, ketika saya berkunjung ke sana, sejarahwan Allan Seidan sedang meluncurkan buku “Pearl Harbor – From Fishponds to Warships”. Banyak yang membeli buku itu, minta tanda tangan, dan potret-potretan. Termasuk Iliana Lie, isteri saya sangat suka membaca.
Lahirnya kapal induk
Tragedi Pearl Harbor sekonyong-konyong mengubah sifat Amerika jadi negara yang waswas dan selalu curiga. Sifat ini berketerusan, sehingga menjadikan Amerika sebagai negara yang defensif sekaligus agresif. Dari sikap paranoid ini dunia lantas selalu mendapat kabar bahwa Amerika tak henti membuat kapal-kapal perang yang serba canggih, dan serba besar. Sejak Perang Dunia II, ribuan kapal perang besar diproduksi Amerika. Dan puluhan di antaranya dianggap sebagai kapal perang paling berjaya di dunia, dan paling berjasa kepada Amerika Serikat. Salah satu dari kapal itu ialah kapal induk USS Midway seri CVB-41.
Perjumpaan dengan jasad kapal perang Arizona mendorong saya untuk sekalian menemui USS Midway, yang kini sandar permanen di pantai San Diego, California, Amerika Serikat. Kapal induk ini sejak 1991 tidak digunakan untuk perang lagi, dan dilabuhkan agar bisa ditonton publik (yang membayar tiket). Bahkan tahun 2003 diresmikan sebagai museum, setelah dilengkapi belasan pesawat terbang pengebom yang parkir di atasnya. Di San Diego Aircraft Carrier Museum ini saya memasuki sebagian pesawat tempur. Maka saya pun menyelinap ke kokpit dan sambil pura-pura jadi pilot! Tentu dengan semangat khusus: tidak menyerang wilayah lain atau negeri lain.

Kapal Induk USS Midway di tengah samudera. (Sumber: Dokumen).
Di kapal raksasa itu, pada jam-jam tertentu, saya menyaksikan upacara harian para awak kapal induk. Dengan seragam gagah mereka berdiri berbaris dan menghormat bendera Amerika. Musik hidup angkatan laut berbunyi menyemangati.
Saya juga masuk kamar tidur kolosal dan ruang rekreasi para awak kapal, yang semuanya lelaki. Di sejumlah sisi tertempel foto para perempuan. Dari isteri sendiri, isteri orang lain, sampai bintang-bintang film seksi seperti Claudia Cardinale, Catherine Deneuve, Edwige Fenech, Brook Shields. Dan tentu Marilyn Monroe!
Teramati pula panil bertulis daftar 47 pesawat yang hilang, jatuh dan tertembak, setelah meluncur dari dek kapal induk USS Midway. Lengkap dengan hari, jam berangkat dan nama pilotnya. Misalnya: Letnan Richard L. Pierson hilang pada 12 November 1973, dengan pesawat VA-93.
Kapal induk USS Midway memiliki panjang 968 feet (sekitar 295 meter). Beratnya 60.100 ton. Dengan dek yang amat lebar, USS Midway bisa menampung 39 pesawat terbang tempur. Kapal sak hohah ini terdiri dari empat lantai. Satu lantai untuk kamar-kamar ribuan perajurit. Lantai lain untuk supermarket, kafe, dapur, ruang dansa, ruang makan, ruang musik, olahraga dan perpustakaan. Kini lantai tersebut ditambah fungsinya, sebagai museum yang mempertontonkan teknologi perang laut dan udara.

Jajaran kursi pilot yang remuk akibat pesawat tempurnya tertembak dan jatuh. (Sumber: Agus Dermawan T.)

Agus Dermawan T. dan Iliana Lie, diatas dek kapal induk USS Midway seri CVB-41, San Diego, California, Amerika Serikat. (Sumber: Agus Dermawan T).
Kapal ini dibangun semasa Presiden Franklin D.Roosevelt, dan diluncurkan pada 20 Maret 1945. Sejak tahun itu USS Midway telah mengarungi tujuh samudera, dengan dipimpin oleh 47 kapten yang berganti tiap periode. Si raksasa laut dengan telaten mengantar ribuan tentara Amerika untuk terlibat dalam agresi perang Vietnam, Korea Utara, Kuba, Iran, Irak, Kuwait, Kamboja dan sebagainya. Selama itu USS Midway jadi “dewa laut” di laut kawasan Eropa Barat, Karibia, Giblartar, Meditarinia, Laut Cina Selatan, sampai Australia.
Lewat USS Midway, Amerika Serikat tampak menyombongkan kehebatan angkatan perangnya. Tentu sambil menakut-nakuti negara-negara lain yang sedang dimusuhinya. Meskipun tidak jarang kalah dalam pertempuran.
Kedigdayaan raksasa samudera ini membangkitkan Amerika Serikat untuk membuat kapal induk yang lebih besar. Seperti Nimitz dan USS Gerard Ford yang sangat terkenal. Termasuk USS Abraham Lincoln seri CVN-72 itu, yang panjangnya 1.092 feet (sekitar 333 meter), berlebar dek 78 meter, dan bisa menampung 90 pesawat serta 5.000 kru. Walau akhirnya si Abraham ngibrit lantaran (konon) diserang rudal oleh Iran. ***
*Agus Dermawan T. Kritikus seni. Penulis buku “Perjalanan Turis Siluman: 51 Cerita dari 61 Tempat di 41 Negara”.





