Puisi-puisi Godi Suwarna

Puisi-puisi  diterjemahkan Angin Kamajaya dari sajak-sajak Sunda Godi Suwarna

 

HAIK-KU AING

Anjing!
Musang! Sigung!
Monyet! Babi!
Kucing! Tikus! Kadal!
Biawak! Kecoak!
Tungau! Kutu busuk!
Tungau merah!

Anjing!
Kodok! Kalong!
Cecurut! Ulat! kampret!
Sigung! Berang-berang! Garangan!
Tupai! Bajing tanah! Burung hantu!
Gagak! Elang!
Cacing!

Mau gue hajar?
Sampai muntah berak?
Supaya kalian sadar?

Haik ku Aing! (Minggir, biar gue aja!)
Haik ku Aing! (Minggir, biar gue aja!)
Haik ku Aing! (Minggir, biar gue aja!)

2019
(terjemahan Angin Kamajaya)

 

JAGAT ALIT

Di hadapan layar: bayang-bayang wayang
Bayangan bergerak-gerak, bayangan digerak-gerakkan
Lenggak dan lenggok ini, langkah serta gerak ini
Hilir mudik, hilir mudik di belahan dunia hitam putih
Cerita apa yang akan digelar? Dalang Mahakuasa!
Ada raga yang terkapar usai campala mengetuk bertalu
Saat menanti fajar, o, malam yang mengajak mengembara
Napas tersengal, napas tersengal sebelum ajal berkelebat

1979
(terjemahan Angin Kamajaya)
catatan : campala – alat pemukul kayu yng digunakan dalang dalam pertunjukan wayang untuk mengetuk kotak wayang atau kecrek yang berfungsi sebagai pengatur irama dan aba-aba

 

BOBOTOH MABOK

Goblok, anying!

Tuva-lu, Tuva-lu, anying!
Sopan, sedikit, dong, anying!
Anying, lu sekolah nggak?
Tuva lu, Tuva lu, anying!
Ke gue la-lu mulu lu, anying?

Goblok, anying!

Lu yang bener, anying, ngomongnya!
Tuva-Kamu gitu kek, anying!
Atau, Tuva-Anda anying!
Lu yang halus dong ngomongnya, anying!
Ke gue tuh, “Tuva-tuan”, gitu, anying!

Goblok, anying!

2018
(terjemahan Angin Kamajaya)

 

NEGARA BELING (1)

Gue goblok, anying!
Gue habis berantem, anying, sama babeh gue!
Gue gitu loh, anying, orangnya kacau!
Uuooo…!

2018
(terjemahan Angin Kamajaya)

 

NEGARA BELING (2)

Anying? Citarum bisa diminum?
Goblok, anying! Memangnya ciu,
Anying? Tenggak saja, anying,
sama lu semua!

2018
(terjemahan Angin Kamajaya)

 

SAJAK NGELANTUR

Goblok, anjing!
Gue buru-buru mau ke GBK
Malah nyasar masuk kebon bambu!

Goblok, anjing!
Biji peler tercecer di jalan setapak
Berok gue entah di mana nyangkutnya!

Goblok, anjing!
Nyeruduk sana-sini nabrak pantat
Gue ini memang orangnya kacau balau!

Goblok, anjing!
Lu itu manusia atau kardus? 
Berani-beraninya ngalangin jalan gue!

Goblok, anjing! 
Minggir, menyingkir lu padaaaa!
Pengen gue tabrak lu semua?

2018
(terjemahan Angin Kamajaya)

 

SAJAK SELAYANG PANDANG

Selamat pagi, Trijata!
Hari ini senyummu lebih meresap ketimbang angin
Yang membelai pelan dahan kemboja di gerbang pura
Saat gendér berangkat lagi mengiringi gerak sukma
Melayang menemani semerbak dupa
Hendak memucuk naik ke langit yang lapang
Hanya sekadar untuk bertatap muka
Tapi ternyata beribu kalimat menyala
Bergumam di jantung, lebur bersama senandung mantra
Yang lirih dibawa angin ke segara yang berseri
Menggetarkan layar beribu perahu
Berangkatlah! berlayar ke angkasa!
Matahari sudah memancar tegak
Berangkatlah! meniti angin yang mulai bergemuruh
Dari rumpun awan merah muda, menerpa umbul-umbul janur
Melambungkan sepasang sayap kasih sayang ke ketinggian langitnya
Angan-angan melayang sepanjang jalan dari halaman ke atap rumah
Yang semarak terpancar pijar kalbu
Yang sedalam perasaan hatimu, Trijata!
Yang tak henti menyenandungkan lirik lagu remaja
Merapal sajak; memaparkan kalimat sakti ke undakan persawahan
Mengusik-usik para dewa yang membisu di bukit-bukit kecemasan
Sajak yang memendam kekhawatiran pada tanah kelahiran
Setelah raga tersesat di karangbanjar
Ketika siang menyengat terik
Berjalan terus menuju pesisir suci, disambut alunan gending
Beriringan menemani arak-arakan agung mencari kesejatian bening
Memburu pura yang berkilau di puncak tanjung karang
Trijata, tetiba gemuruh gema sajakmu terdengar
Mengabadikan gejolak ombak dalam dada!

(Sanur – Tanah Lot, 06)
(terjemahan Angin Kamajaya)

 

SAJAK GERBANG MALAM

Trijata, mari kita pertemukan tatapan
Ke arah gerbang malam yang tampak mengkerut kelam
Setelah memetik goresan-goresan lembar senja penghabisan
Hendak menuntaskan gerak, lalu menyusuri kilatan cahaya
Yang terlihat memancar bagai suar penunjuk arah

Trijata, mari pergi menghitung gunung
Sebab ternyata langkah waktu terus memburu raga
Dari kota mendesak ke kampung, menghitung semak terhitung cemas
Yang tersisa hanya tinggal mempererat kasih, menyingkirkan seribu keresahan
Bersenandung menyambut gelap di sepanjang liku malam

Trijata, mari kita terabas kabut
Yang berdiri bak dinding menutupi jurang terjal
Memetik kilau kunang-kunang di tengah desir waktu yang menusuk pekat
Semoga bulan terhampiri, bercahaya di punggung kesunyian
Membara menerangi jalan panjang menuju samudra

(Pameungpeuk, 07)

(terjemahan Angin Kamajaya)

 

SAJAK DARI JALAN ENTAH KE MANA

Pucuk-pucuk the menghijau
Warnai lembah dan lereng yang sedang berkilau
Sepanjang jalan merambat panas memburu pijar benderang siang
Sayup-sayup, kecemasan diteriakkan nyanyian hutan
Saat menyisir bukit yang berdiri tegak dan ketakutan menantang raga
Perlahan angin lirih membelai langkah yang gelisah
Beliuk-liuk menghitung tikungan
Malah keliru akibat menatap warna hati dan langitnya
Berhitung antara cemas jika menempuh jurang yang menganga
Dan melambai dari arah punggung gunung terakhir
Batin berdebat saat awan terlihat makin pekat
Samar-samar memendam hujan dan guruh
Semakin jauh melacak waktu
Semakin tersesat di tengah keinginan yang berseliweran
Antara bergegas turun, ke tepi telaga bening
Atau terus menyusul sayap rangkong yang melayang meninggalkan sarang
Mengeluh dari tanah lapang ke tanah lapang yang ternyata tak memuaskan
Malah lebur dengan lebam kepul kabut

Terkulai lemas di sela bukit
Menimang resah jantung yang gemuruh bersahutan
Setelah lama menjelajah masa, menerobos padang ilusi
Semakin mengerti bahwa punggung gunung terakhir bersemayam dalam sanubari
Hanya tinggal meraba diri yang sering melaju liar
Hanya tinggal menakar tekad sebelum kehabisan napas

(Pangalengan, 07)
(terjemahan Angin Kamajaya)

 

SAJAK DI TENGAH LANGKAH

Angin bersenandung merambat panas
Ke arah lembah, menerpa napas hamparan pucuk teh
Berhembus ke telaga yang terlihat dipulas biru langit bersih
Di sana kulit air berkilauan memeriakkan waktu
Tetiba tercium semerbak wangi kesunyian
Hantaran tanah kasih sayang
Mewangi dari lereng bening yang tampak berkilap
Ada kalbu yang lebih lapang ketimbang gaung gunung
Lebih bercahaya daripada telaga yang sedang berkilau
Perlahan melambungkan lamunan ke awang-awang
Simpang siur jalan kenangan
Menorekan hijaunya ladang yang berujung di kaki gunung
Kepul asap rambu-rambu dari hutan pinus bukanlah tanda bahaya
Namun sekadar pijar kerinduan melambai pada awan kesumba
Yang melayang ke luar langit ungu
Terdengar tembang kecemasan
Mungkinkah senandung gadis desa yang sedang gandrung pada tanah kelahiran
Menimang-nimang lereng resah yang dijilat lidah matahari
Telaga semakin bening di dalam kegelapan hati
Sebelum pergi memburu kampung tempat menyepi

(Cileunca, 07)
(terjemahan Angin Kamajaya)

 

DI SEPANJANG JALAN SAJAK

Cijapati terpatri di hati, bersemayam di pusaran waktu
Setelah meninggalkan kepul asap kota yang dibakar matahari
Tiba di keteduhan langit, di lembah tanah yang menghijau
Sehamparan gambaran kerinduan tergelar sejauh mata memandang
Di sepanjang jalan angin berhembus menepis tebing
Samar-samar, kampung di Lembah tampak semarak
Terlihat sedang tenang mengendapkan sunyi
Setelah gemuruh kota dibendung tanggul gunung
Hanya suara seruling yang terdengar mengiringi kalbu yang bersenandung
Di sepanjang jalan awan berarak memburu senja
Namun kau tak ada di lorong jalan
Tak terlihat berkelebat menjemput rindu di tanjakan
Hanya lambaian pucuk kabut dari kampung di ujung turunan
Yang seolah mengajak istirahat di tengah perjalanan
Di sepanjang jalan sore memburu kesunyian malam

Mungkin kau sudah pulang ke kampung Bungur
kemudian menyala di bawah tedunya handeuleum di hutan kenangan
Tapi langkakah ini malah menempuh hembusan gema masa
Hanya bisa menoleh ke belakang, ke lereng yang telah terlewati
Di sepanjang jalan lembayung memburu pijar bulan merah muda

(Cijapati, 07)
(terjemahan Angin Kamajaya)

 

SERAT KAWALIAN 1 (MENCARI LUMAR)

Gema suara gending di tengah perjalan mengiringi jejak langkah
indah bercahaya pada batu tulis, aksaranya yang semarak
menyalakan bulan tumanggal merangkai-rangkai cahaya
pada kepala yang putus asa, pada pandangan yang gelap mata
yang tak henti perhitungan dengan bayang-bayang

Padahal angin sudah lama berbisik
menceritakan wujud batu yang berkilauan di mata air
sebelum menjadi sungai yang membara di muara

Sementara, telinga terapung dalam buih gigi
yang berbusa di mana-mana
diam-diam, napas hutan meretas jalan untuk ditempuh
sembari melekatkan detak jantung pada akar dan tanaman rambat

dari riak-riak lumut senyum manis yang menghanyutkan membayang
tatapan sayang, bening kasih, rajutan cinta, dan senandung
yang perlahan melukis sunyi menjadi kota tempat menetapnya jiwaku
menggemakan nyanyian
fajar yang terang benderang ke padang gembala tempat pembakaran matahari

Sementara, waktu semakin bergemuruh
tabuhannya menumbuk gelanggang kenangan, menyambar kerongkongan hutan
batu tulis memercik api menjadi beribu kunang-kunang yang terbang membawa aksara pada pucuk-pucuk gelap, pada gemuruh pusaran buana larangan
berseliweran di pusat masa lalu yang tersembunyi

meraba-raba dari lumar ke lumar mencari serpihan bulan
kita yang tersesat di mana-mana saling berjumpa,
tersentak dan berhamburan setelah akar-akar terburai
dari setiap ibu jari kaki, sudut kalbu, dan pelipis

perjalanan sekadar melepaskan bayangan dalam perapian zaman
atau melapangkan pikiran dengan perkataan
jejak jari semakin jauh menyelusup sembunyikan jejak
membawa tatapan dan senyumnya, membawa kasih, rangkaian cinta dan senandung
menyembunyikan beningnya kewibawaan negara yang sedang gulita
mendirikan negara yang agung di tengah pijar hutan.

Astana Gedé, 1998
(terjemahan Angin Kamajaya)

—-

*Godi Suwarna merupakan salah seorang  sastrawan multitalenta Jawa Barat. Ia menghabiskan masa kanak-kanaknya di kampung Cirikip, Tasikmalaya. Kuliahnya itu ia tuntaskan pada tahun 1979 di IKIP Bandung. Ia juga  mahir menulis puisi, drama, novel, cerpen, dan fiksi mini. Selain piawai dalam menulis karya sastra beragam genre, Godi Suwarna juga dikenal sebagai aktor andal. Kemampuan dalam berakting di panggung teater diperoleh Godi selama bergabung dengan Studiklub Teater Bandung (STB) yang dipimpin oleh Suyatna Anirun. Salah satu drama yang dibintanginya adalah drama berjudul King Lear, Sang Naga, dan Impian di Tengah Musim. Selain bertindak sebagai aktor, Godi juga piawai sebagai sutradara. Salah satu pentas yang disutradarainya adalah pergelaran puisi Konglomerat Kéré Lauk di Universitas WollongongAustralia, pada tahun 1997. Godi Suwarna memiliki karakter yang unik dalam berekspresi di dunia sastra dan seni serta dalam penampilan di atas panggung.

Penerjemah

*Angin Kamajaya adalah penulis, dosen, dan seniman. Ia dilahirkan di Jamuresi, Rajadesa, Ciamis, 1986. Tulisannya pernah dibukukan bersama dengan para penulis komunitas Siklusitu dalam buku SIKLUSITU 1 (kumpulan Sajak; 2005) dan SIKLUSITU 2 (kumpulan Sajak dan Esai; 2009), juga menerbitkan sebuah novel berujudul Catatan Kencana (2006). Kini novelnya bisa dibaca di aplikasi LenteraAPP (2024). Tahun 2017, ia menerbitkan kumpulan puisi dengan judul Senja Merah Muda, kumpulan puisi 2004-2017. Tahun 2024, ia menerbitkan buku Jejak dan Karya 13 Sastrawan Dunia.

Angin Kamajaya pernah bersekolah di Pesantren Cipasung dan UIN Jakarta. Aktifitas Angin Kamajaya selain menulis adalah sebagai pelatih dan pembimbing organisasi seni Lingkar Sastra Tarbiyah sejak 2015, Pelatih di Institut teater Cinangka sejak 2016, Dosen di Prodi Sastra Indonesia Universitas Pamulang sejak 2016, Pengawas Yayasan Sarwa Adhinaarya Indonesia sejak 2018, Pembimbing Festival Teater DRAWATA sejak 2019, Pembina Teater Patri sejak 2022, mendirikan Komunitas Enam Sembilan Agustus 2023, dan aktif di Semaan Puisi bersama Mahwi Air Tawar, Beni Satria, Andi Lesmana, Eka Gilang W.S, Alfian, Elis S, Khairul Anam, Sinta Debeturu, Amin, Ubay, dan Srenge Aryo.