Seni Maskot Hari Raya Idul Fitri
Oleh Muh Nur Khusen*

Maskot figuratif berbentuk karakter manusia bergaya LEGO (character mascot) yang merepresentasikan tokoh seorang “Tentara”. Sumber: Dokumentasi MMWK 2
Perlu kita ketahui, bahwa kebahagiaan seseorang tidak selalu tercipta ketika kita mendapat hadiah, surprice, maupun fasilitas yang serba ada. Sering kali, kebahagiaan justru lahir dari kedamaian batin, rasa syukur, dan hubungan yang hangat dengan sesama. Kedamaian batin dan rasa syukur dapat juga hadir ketika kita berjumpa dengan hari yang dianggap istimewa sebagai umat Islam, yakni Hari Raya Idul Fitri. Hari raya ini merupakan salah satu momentum paling berharga dalam kehidupan umat Islam. Perayaan ini menjadi simbol kemenangan spiritual dan rasa syukur setelah melalui proses pengendalian diri, refleksi, dan peningkatan ketakwaan kepada Tuhan. Perayaan Idul Fitri tidak semata hanya diwujudkan melalui kegiatan keagamaan, berbagai ekspresi mereka lakukan dengan kegiatan yang mencerminkan kegembiraan bersama masyarakat. Bentuk ekspresi kegembiraan tersebut salah satunya dengan melakukan tradisi pembuatan ‘maskot’ dan arak-arakan menyambut hari raya. Kegiatan ini memadukan unsur seni, kreativitas, dan semangat kebersamaan masyarakat.
Maskot merupakan replika atau tiruan dari berbagai bentuk objek yang dibuat secara artistik untuk memeriahkan perayaan. Bentuk maskot tersebut sangat beragam, mulai dari miniatur arsitektur masjid, figur manusia, tokoh-tokoh tertentu, hingga representasi binatang atau simbol-simbol religious seperti bentuk bulan dan bintang, kaligrafi danlain sebagainya. Maskot-maskot tersebut biasanya dibuat dalam ukuran besar dan dirancang sedemikian rupa agar menarik perhatian ketika diarak bersama dalam suatu pawai atau karnaval di sepanjang jalan. Keberadaan maskot tersebut dapat menjadi simbol kegembiraan masyarakat dalam menyambut hari kemenangan setelah menjalani ibadah puasa selama satu bulan penuh. Dalam ‘teori karnaval’, menurut Mikhail Bakhtin (Rabelais and his world, 1984), konsep karnaval merupakan ruang di mana masyarakat merayakan kehidupan melalui simbol-simbol visual yang meriah, berskala besar, dan bersifat kolektif. Penggunaan maskot berukuran besar dalam pawai merupakan bentuk nyata dari ‘estetika karnaval’ yang bertujuan untuk menyemarakkan dan menciptakan suasana kemenangan bersama di ruang publik.
Di Indonesia, seperti di Yogyakarta, kegiatan arak-arakan maskot hari raya telah berkembang menjadi tradisi tahunan yang dinanti oleh masyarakat. Tradisi ini dilaksanakan pada malam takbiran menjelang hari raya Idul Fitri dan Idul Adha. Pada saat itu, masyarakat secara komunitas turut berpartisipasi dalam membuat maskot yang akan diarak dalam sebuah perayaan bersama. Pawai tersebut biasanya diiringi dengan lantunan takbir, tabuhan musik tradisional, atraksi-atraksi dan formasi baris-berbaris yang teratur serta sorak-sorai masyarakat secara tertib yang memadati sepanjang jalan.
Maskot Idul Fitri di Wonokromo
Di Yogyakarta, salah satu daerah yang masih mempertahankan tradisi maskot dan arak-arakan ini adalah wilayah Wonokromo 2 di Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Di wilayah ini, pembuatan maskot hari raya telah menjadi kegiatan rutin yang dilakukan setiap tahun menjelang Idul Fitri. Masyarakat secara gotong royong berkumpul untuk merancang, membuat, dan menghias maskot yang akan ditampilkan dalam arak-arakan. Proses pembuatan maskot biasanya dilakukan beberapa minggu sebelum hari perayaan, sehingga kegiatan ini sekaligus menjadi ruang interaksi sosial yang mempererat hubungan antarwarga.

Foto: Suasana periapan arak-arakan maskot Muda-mudi Wonokromo 2 Yogyakarta dalam menyambut Hari Raya Idul Fitri Sumber: Dokumentsi MMWK 2
Dari sudut pandang seni, pembuatan maskot hari raya merupakan perwujudan dari aktivitas estetik yang berakar pada pengalaman hidup masyarakat sehari-hari. Pandangan John Dewey, seni bukan sekadar objek statis, melainkan sebuah ‘pengalaman’ (Art as Experience) yang terintegrasi dengan lingkungan sosial dan material. Transformasi material lokal seperti bambu, kayu, dan barang daur ulang menjadi artefak visual yang diarak bukan hanya menunjukkan keterampilan teknis, melainkan bentuk ekspresi kreatif kolektif yang menghidupkan nilai-nilai sosial di ruang publik.(Dewey,1934)
Pembuatan maskot hari raya menjadi sarana bagi masyarakat untuk mengekspresikan kemampuan artistik mereka, jiwa berkesenian tertuang dalam kegiatan ini. Anak-anak, remaja, pemuda, hingga orang tua terlibat secara aktif dalam proses tersebut. Anak-anak biasanya membantu dalam proses pewarnaan atau dekorasi sederhana, sementara para pemuda bertanggung jawab pada perancangan struktur dan konstruksi maskot. Orang tua dan tokoh masyarakat juga turut memberikan arahan serta dukungan moral agar kegiatan tersebut dapat berjalan dengan baik. Kolaborasi lintas generasi ini menunjukkan bahwa tradisi maskot hari raya sebagai sarana hiburan juga memiliki nilai sosial yang kuat.
Proses pembuatan maskot secara gotong royong di ruang publik merupakan manifestasi dari konsep ‘estetika relasional’. Sejalan dengan konsep Nicolas Bourriaud (Relational Aesthetics), nilai estetis dalam praktik ini tidak terletak pada objek maskot itu sendiri, melainkan pada ‘ruang sosial’ yang diciptakan melalui interaksi dan kolaborasi antarwarga. Kegiatan kreatif ini berfungsi sebagai sarana mempererat hubungan sosial dan solidaritas dikonstruksi kembali melalui partisipasi aktif dalam proses penciptaan karya seni bersama. (Bourriaud, 1998).
Performatif Arak-arakan
Tradisi arak-arakan maskot hari raya memiliki dimensi performatif yang kuat, di mana maskot tidak lagi dipandang sebagai objek statis, melainkan sebagai bagian dari sebuah ‘tradisi yang turun temurun’ dalam ruang publik. Dalam teori Richard Schechner (2003), bapak studi performansi, arak-arakan ini merupakan sebuah pertunjukan budaya yang melampaui batasan seni rupa murni. Gerak arak-arakan, sorak-sorai masyarakat, tabuhan musik, serta cahaya lampu yang menghiasi maskot menciptakan suasana yang meriah dan penuh energi. Momen tersebut menjadi ruang perayaan kolektif di mana masyarakat merayakan kegembiraan secara bersama-sama.
Dalam perspektif antropologi budaya, tradisi performatif arak-arakan ini merupakan bentuk perpaduan yang mempertemukan ‘Tradisi Besar’ keagamaan dengan ‘Tradisi Kecil’ lokal. Koentjaraningrat (2009) dalam teorinya (Pengantar Ilmu Antropologi) menyebutkan, fenomena ini menunjukkan bagaimana nilai religius yang sakral diserap ke dalam sistem kesenian dan organisasi sosial masyarakat. Nilai religius tercermin dari momentum Idul fitri sebagai inti perayaan, sementara unsur seni hadir melalui kreativitas estetis dalam penciptaan maskot. Perpaduan ini menghasilkan sebuah tradisi dengan nilai budaya lokal yang tinggi, yakni identitas baru yang harmonis antara iman dan ekspresi artistik,
Maskot hari raya dapat dijadikan sebagai representasi visual dari identitas komunitas. Dalam teori Representasi Stuart Hall (1997), di mana bahasa visual dan simbol digunakan oleh suatu kelompok untuk memproduksi makna serta menegaskan posisi sosial mereka. Setiap kelompok biasanya memiliki konsep dan tema tersendiri dalam merancang maskotnya sebagai bentuk ‘identitas’ komunitasnya. Ada yang mengangkat simbol-simbol keislaman seperti miniatur masjid atau bulan sabit, sementara yang lain menampilkan tokoh figuratif sebagai simbol nilai tertentu. Melalui pilihan bentuk dan tema tersebut, masyarakat melakukan apa yang disebut sebagai ‘pencitraan’, mereka secara sengaja menyampaikan pesan, nilai, dan identitas kolektif yang ingin mereka tampilkan di hadapan publik.
Seni Berbasis Komunitas
Fenomena arak-arakan malam hari raya menunjukkan bahwa tradisi maskot bukan sekadar kemeriahan sesaat, melainkan memiliki potensi besar sebagai objek kajian seni dan budaya masyarakat secara mendalam. Dalam perspektif seni rupa dan kriya kontemporer, maskot tersebut dapat dikategorikan sebagai karya seni berbasis komunitas (community-based art) yang lahir dari sebuah proses partisipatif yang panjang. Dalam konsep ‘Seni Dialogis’ (dialogical art) yang digagas oleh Grant Kester (2004), Kester menekankan bahwa nilai estetika dalam proyek seni komunitas tidak hanya terletak pada hasil akhirnya, tetapi pada kualitas interaksi, percakapan, dan kerja sama yang terjadi selama proses penciptaan. Maskot menjadi media di mana warga saling bertukar ide, bernegosiasi mengenai desain, dan bekerja bahu-membahu.
Keberadaan maskot ini mencerminkan dinamika sosial dan kreativitas bersama masyarakat yang sangat dinamis. Jika ditarik ke dalam teori ‘Estetika Relasional’ dari Nicolas Bourriaud (1998), pembuatan maskot berfungsi sebagai penyedia “ruang pertemuan” (intersubjectivity). Di sini, seni menjadi pembentuk hubungan sosial yang lebih erat. Proses pembuatan yang dilakukan di pos ronda atau balai warga menciptakan momen-momen kebersamaan yang mampu meredam konflik sosial dan membangun solidaritas antarwarga. Maskot di sini adalah artefak visual yang merekam jejak gotong royong masyarakat Indonesia yang masih eksis di tengah arus individualisme modern.
Maskot sebagai Warisan Budaya
Di tengah perkembangan zaman yang semakin modern, keberadaan tradisi ini menjadi penting untuk dipertahankan. Dalam kajian George McKay (1998) mengenai ‘DiY (Do-it-Yourself) Culture’, tradisi maskot merupakan bentuk kreativitas kultural yang mampu melawan dominasi budaya massa yang serba instan. Masyarakat tidak lagi menjadi penonton pasif dari hiburan di televisi atau gawai, melainkan menjadi aktor aktif yang menciptakan hiburannya sendiri. Hal ini menunjukkan bahwa tradisi maskot hari raya merupakan warisan budaya hidup (living heritage) yang mencerminkan cara masyarakat merayakan kebahagiaan secara bersama-sama. Melalui tradisi ini, nilai-nilai kebersamaan, gotong royong, dan kreativitas dapat terus diwariskan kepada generasi muda.
Kegiatan ini memiliki potensi besar untuk dikembangkan secara strategis sebagai bagian dari warisan budaya lokal yang dinamis. Jika dikelola dengan manajemen kebudayaan yang baik, arak-arakan maskot hari raya tidak hanya berhenti sebagai perayaan tahunan, tetapi bertransformasi menjadi daya tarik wisata budaya (cultural tourism) yang memperkuat identitas daerah. Dalam pengembangan ini pariwisata seharusnya tidak lagi hanya menjual pemandangan, tetapi “pengalaman” dan keterlibatan dengan tradisi hidup masyarakat lokal (Greg Richards, 1996).
Kota Yogyakarta, sebagai episentrum budaya, Kota Budaya, memiliki peluang besar untuk mengangkat tradisi ini sebagai ekspresi seni rakyat yang unik. Potensi ini dapat dipahami melalui konsep “Ekonomi Kreatif Berbasis Budaya”. Menurut Justin O’Connor (2010), seni rakyat yang dikelola secara partisipatif dapat menciptakan nilai tambah ekonomi tanpa menghilangkan nilai sakralnya. Di Yogyakarta, arak-arakan ini berpotensi menjadi “festival jalanan” (street festival) yang setara dengan festival internasional, di mana nilai-nilai kearifan lokal seperti guyub rukun dipamerkan sebagai daya tarik utama bagi wisatawan mancanegara maupun domestik.
Agar tradisi ini dikenal masyarakat yang lebih luas, diperlukan integrasi antara kreativitas warga dengan kebijakan pemerintah kota dalam bentuk dokumentasi dan promosi yang sistematis. Pengembangan ini penting agar maskot hari raya tidak hanya dipandang sebagai objek sesaatl (sementara), melainkan sebagai aset budaya yang mencerminkan wajah Yogyakarta yang modern namun tetap berpijak pada akar tradisinya, sehingga tradisi ini akan terus hidup, berevolusi, dan menjadi kebanggaan kolektif yang berkelanjutan.
Keberlangsungan tradisi arak-arakan maskot pada malam hari raya akan terpelihara jika mendapat dukungan dari berbagai pihak, baik dari masyarakat, pemerintah daerah, maupun lembaga budaya. Dukungan tersebut dapat berupa fasilitasi kegiatan, penyediaan ruang publik untuk pelaksanaan arak-arakan, serta dokumentasi dan pengarsipan kegiatan sebagai bagian dari warisan budaya daerah. Dengan adanya dukungan tersebut, tradisi maskot hari raya dapat terus berkembang tanpa kehilangan nilai-nilai tradisinya.
Sebagai kesimpulan, tradisi maskot hari raya Idul Fitri menunjukkan bahwa perayaan keagamaan dapat diwujudkan melalui ekspresi seni dan budaya. Maskot hari raya Idul Fitri dapat dipahami sebagai pertemuan ‘antara seni dan tradisi’. Ia lahir dari semangat religius masyarakat dalam menyambut hari kemenangan, sekaligus menjadi wadah ekspresi kreatif yang memperkaya kehidupan budaya lokal. Tradisi ini mengajarkan bahwa kebahagiaan tidak hanya dirasakan secara individu, tetapi juga dirayakan secara bersama melalui karya, kreativitas, dan kebersamaan. Dalam konteks tersebut, maskot hari raya dapat menjadi simbol hidup dari kegembiraan masyarakat yang merayakan kemenangan spiritual setelah perjalanan panjang selama bulan Ramadhan.
—-
*Muh Nur Khusen, Mahasiswa Program Pascasarjana ISI Yogyakarta.





