Lingga-Yoni Arahmaiani

Oleh Dinda Kamila*

Dalam praktik seni kontemporer, karya sering kali dipahami sebagai ruang ekspresi visual atau kritik terhadap realitas sosial. Namun bagi Arahmaiani, seni juga merupakan bagian dari perjalanan spiritual. Praktik berkaryanya tidak hanya lahir dari pertimbangan estetika, tetapi juga dari proses refleksi batin yang dijalani dalam kehidupan sehari-hari. Dalam sebuah percakapan singkat, Arahmaiani menyinggung spiritualitas menjadi salah satu landasan penting dalam cara ia memahami dan memandang seni, kehidupan, serta hubungan manusia dengan lingkungan di sekitarnya. 

Sejak awal kariernya sebagai seniman, ia sering mengangkat berbagai isu sosial, identitas, hingga relasi manusia dengan lingkungan. Namun di balik berbagai tema tersebut, refleksi spiritual dalam kesehariannya turut membentuk cara ia berkarya. Praktik seni bukan hanya tentang menghasilkan karya, tetapi juga tentang memahami diri sendiri serta posisi manusia di dalam dunia yang terus berubah.

Arahmaiani meyakini bahwa spiritualitas tidak selalu harus dipahami semata-mata melalui kerangka agama formal. Spiritualitas baginya lebih berkaitan dengan upaya manusia untuk memahami makna hidup secara mendalam. Karenanya, spiritualitas menjadi ruang refleksi yang terbuka, tempat di mana manusia dapat melihat kembali hubungan atas dirinya dengan orang lain, alam hingga kehidupan secara keseluruhan. 

Arahmaiani juga menegaskan bahwa spiritualitas dapat membantu manusia dalam menyadari adanya potensi positif dan negatif dalam diri. Kesadaran ini penting agar manusia mampu mengendalikan emosi, mengolah pengalaman hidup, serta mengolah berbagai dorongan negatif menjadi tindakan yang lebih bermanfaat bagi diri sendiri maupun orang lain. 

Karya Lingga-Yoni

Karya Lingga-Yoni pertama kali dibuat pada tahun 1993 oleh Arahmaiani. Pertama disajikan dalam pameran tunggalnya di Studio Oncor pada tahun 1994. Karya ini kemudian hadir dalam beberapa versi lain yang dibuat pada tahun 2013 dan 2021. Kehadiran beberapa versi tersebut berkaitan dengan fakta bahwa setelah versi pertama karya ini menjadi bagian dari koleksi. 

Secara konseptual Lingga-Yoni merepresentasikan keterhubungan antara dua kekuatan yang berlawanan di alam semesta. Dalam tradisi kosmologi Hindu-Buddha, simbol ini sering dipahami sebagai representasi keseimbangan antara unsur maskulin dan feminin yang melahirkan kehidupan. Melalui simbol tersebut, Arahmaiani menghadirkan gagasan mengenai hubungan yang saling terkait antara manusia, alam dan kehidupan spiritual.

Perkembangan karya ini juga terlihat pada penggunaan warna yang berbeda pada setiap versinya, yaitu hijau, merah kecoklatan dan biru. Pilihan warna tersebut tidak hanya berfungsi sebagai unsur visual, tetapi juga mereflesikan perjalanan pemikiran Arahmaiani mengenai kesadaran terhadap alam. Warna-warna tersebut dibaca sebagai representasi unsur-unsur penting dalam kehidupan, seperti tanah, tumbuhan dan air yang menjadi bagian tak terpisahkan dari keberlanjutan hidup manusia.

Karya Lingga-Yoni, versi kedua, 2013. (Sumber: dokumentasi Arahmaiani).

Karya Lingga-Yoni, versi pertama, 1993. (Sumber: dokumentasi Arahmaiani).

Pertemuan Tradisi Budaya

Dalam karya tersebut, Arahmaiani juga memadukan simbol tersebut dengan tulisan Arab gundul yang merujuk pada tradisi penggunaan aksara Arab untuk menuliskan berbagai bahasa-bahasa lokal di sejumlah wilayah Nusantara. Pertemuan dua unsur ini menghadirkan dialog antara simbol-simbol budaya yang berasal dari latar sejarah yang berbeda. Melalui pendekatan ini, Arahmaiani tidak hanya merujuk pada jejak budaya masa lalu, tetapi juga mengingatkan bahwa identitas budaya Indonesia terbentuk dari berbagai pertemuan dan proses pertukaran tradisi. 

Melalui cara pandang tersebut, karya Lingga-Yoni tidak hanya hadir sebagai simbol visual semata. Karya ini juga menjadi pengingat bahwa keberagaman budaya dan proses akulturasi telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Nusantara. Di tengah situasi saat ini, pesan tersebut terasa semakin relevan ketika identitas budaya sering kali dipersempit.

Kontroversi Lingga-Yoni

Namun, pertemuan berbagai simbol-simbol dalam karya Lingga-Yoni tersebut sempat memicu kontorversi ketika karya ini akan dipamerkan. Dalam pameran tunggalnya di Studio Oncor pada tahun 1994, karya tersebut mendapat penolakan dan kritik dari sejumlah kelompok Muslim garis keras. Mereka menilai penggunaan simbol Lingga-Yoni bersama tulisan Arab merupakan suatu hal yang tidak pantas. Kritik yang muncul tidak hanya berupa perdebatan, tetapi juga berkembang menjadi tekanan yang cukup serius terhadap Arahmaiani. 

Situasi yang memanas membuat karya tersebut harus ditarik dari ruang pameran. Dalam beberapa kesempatan, Arahmaiani juga mengungkapkan bahwa ia menerima ancaman yang dianggap cukup membahayakan keselamatannya. Kondisi tersebut membuatnya memilih untuk meninggalkan Indonesia untuk sementara waktu. 

Padahal, melalui karya tersebut, Arahmaiani justru berusaha mengingatkan kembali pada sejarah panjang dari akulturasi budaya di Nusantara. Penggunaan huruf Arab gundul, misalnya, merujuk pada tradisi penulisan yang berkembang ketika aksara Arab diadaptasi untuk menuliskan bahasa-bahasa lokal. Melalui pendekatan ini, karya Lingga-Yoni sebenarnya mengajak masyarakat untuk melihat kembali bagaimana berbagai tradisi pernah saling berinteraksi dan membentuk identitas budaya yang lebih beragam.

Sikap Kritis Arahmaiani

Sikap kritis yang tampak dalam karya-karya Arahmaiani tidak muncul begitu saja. Ia menceritakan bahwa sejak kecil telah terbiasa bertanya dan berpikir secara terbuka. Lingkungan keluarga yang memberi ruang untuk diskusi membuatnya terbiasa mempertanyakan berbagai hal di sekitarnya, termasuk persoalan sosial, budaya hingga agama. 

Kebebasan berpikir ini secara tidak langsung membentuk cara pandangnya dalam mengamati berbagai persoalan sosial dan budaya di sekitarnya. Kebiasaan untuk terus mempertanyaakan sesuatu inilah yang kemudian berkembang menjadi sikap reflektif. Terus ia bawa hingga saat ini. 

Menariknya, latar belakang keluarganya justru memperlihatkan pertemuan berbagai tradisi yang berbeda. Ayahnya dikenal sebagai seorang kiai. Sementara ibunya memiliki kedekatan dengan tradisi budaya Hindu-Buddha. Situasi ini tidak membatasi ruang berpikirnya. Hal ini justru membuka kemungkinan baginya untuk melihat berbagai pandangan secara lebih luas. Pertanyaan dan pencarian makna menjadi bagian dari proses memahami kehidupan dan perjalanan spiritualnya.

Pengalaman tersebut kemudian turut memengaruhi cara Arahmaiani memandang seni. Baginya, seni bukan sekedar media ekspresi visual, tetapi juga ruang untuk merefleksikan pengalaman hidup, mempertanyakan berbagai nilai yang dianggap mapan, serta membuka dialog mengenai hubungan manusia dengan budaya, spiritualitas dan lingkungan yang ada di sekitarnya.

Dalam konteks ini, sikap kritis yang muncul dalam karya-karyanya dapat dipahami sebagai bagian dari proses refleksi yang panjang. Ia tidak hanya merespons realitas sosial yang sedang terjadi, tetapi juga berusaha menggali makna yang lebih dalam dari berbagai pengalaman tersebut. Melalui seni, Arahmaiani mencoba menghadirkan ruang dialog yang memungkinkan publik untuk melihat kembali berbagai persoalan yang sering kali dianggap biasa, tetapi sebenarnya menyimpan pertanyaan yang lebih mendasar tentang kehidupan manusia. 

Dialog Seni & Sosial

Dalam perjalanan kariernya, Arahmaiani dikenal sebagai seniman yang sering menghadirkan karya-karya yang bersentuhan langsung dengan berbagai persoalan sosial. Baginya, seni tidak hanya berfungsi sebagai medium ekspresi personal, tetapi juga sebagai ruang dialog yang memungkinkan berbagai gagasan dipertemukan.

Melalui karya-karyanya, Arahmaiani kerap mengangkat isu-isu yang berkaitan dengan identitas, lingkungan, hingga hubungan antara agama dan kehidupan sosial. Isu-isu tersebut sering kali muncul dari pengamatannya terhadap berbagai fenomena yang terjadi di masyarakat. Dengan demikian, praktik seni yang ia jalani tidak terlepas dari realitas sosial yang terus berubah.

Melalui pendekatan tersebut, Arahmaiani memperlihatkan bahwa praktik seni memiliki potensi untuk menghadirkan kesadaran baru mengenai berbagai persoalan yang sering kali dianggap biasa. Dengan menghadirkan isu-isu yang sensitif sekalipun —seperti Lingga Yoni—, karya seni dapat menjadi cara indah untuk mengajak publik melihat kembali berbagai realitas sosial dari sudut pandang yang berbeda.

Refleksi Seni, Spiritualitas, dan Kehidupan

Arahmaiani juga memperlihatkan bahwa praktik seni tidak hanya berkaitan dengan penciptaan bentuk visual. Di luar itu juga sebagai refleksi mengenai kehidupan. Seni telah merasuk dalam berbagai pengalaman manusia, termasuk relasi antara individu, masyarakat, budaya dan alam.

Karya Lingga-Yoni sekali lagi menjadi salah satu contoh bahasa visual yang sarat simbol. Dengan mempertemukan simbol Lingga-Yoni dan tulisan Arab gundul, Arahmaiani mengajak publik untuk melihat kembali sejarah panjang pertemuan budaya yang pernah terjadi di Nusantara, keberagaman tradisi dan identitas budaya yang terus terbentuk melalui proses interaksi yang dinamis.

Dalam konteks yang lebih luas, karya ini juga memperlihatkan bagaimana seni dapat menghadirkan pertanyaan-pertanyaan penting mengenai kehidupan bersama. Ketika simbol budaya dan agama dipertemukan, reaksi yang muncul dari masyarakat sering kali mencerminkan cara pandang yang beragam terhadap identitas dan keberagaman. Melalui situasi tersebut, seni justru berjasa sebagai ruang dialog berbagai perspektif.

Kesimpulannya, praktik seni yang dijalani Arahmaiani perlu dipahami sebagai upaya untuk terus merefleksikan hubungan antara seni, spiritualitas, dan kehidupan manusia. Publik diajak untuk melihat kembali berbagai titik yang semula tak terukur, tak tersambung atau tak termaknai. Realitas sosial dan budaya dari sudut pandang Arahmaiani inilah, kini kian lebih terbuka dan berdaya guna.

Penulis bersama Arahmaiani.

—-

*Dinda Kamila, Mahasiswa Program Pascasarjana ISI Yogyakarta.