AI Sebagai Sarana atau Ancaman?
Oleh Bambang Supriadi*

“Sampah Teknologi”, olahan Bambang Supriadi
Dzaki, seorang mahasiswa yang sedang menempuh ujian tengah semester, menatap layar laptopnya sambil mencoba menyusun jawaban ujiannya berupa tugas esai. Di sebelah dokumen tulisannya, terbuka jendela aplikasi Artificial Intelligence. Dengan bantuan chatbot berbasis AI, Dzaki merapikan logika tulisannya, menemukan beberapa referensi baru yang relevan, dan memperbaiki struktur akademis tulisannya agar lebih mudah dipahami. Namun seorang dosen saat memeriksa hasil tugas tersebut bertanya-tanya: apakah tulisan itu benar hasil pemikiran Dzaki atau kerja mesin?
Fenomena seperti ini kini menjadi percakapan yang tak pernah selesai di perguruan tinggi. AI hadir bukan sebagai wacana futuristik, melainkan sebagai alat sehari-hari yang digunakan mahasiswa dan dosen dalam kegiatan akademik. Pertanyaannya: apakah AI mengancam kualitas pendidikan tinggi, atau justru membuka jalan menuju era pembelajaran yang lebih maju?
Penggunaan AI dalam dunia akademik sering dipandang dengan dua perspektif yang berseberangan. Di satu sisi, AI menjadi alat bantu yang sangat efektif dalam kegiatan riset, mulai dari menemukan sumber literatur, memeriksa tata bahasa, meringkas teks panjang, hingga membantu menyusun ide penelitian. Banyak mahasiswa yang sebelumnya kesulitan memulai tulisan akademik kini terbantu menemukan struktur berpikir yang lebih sistematis. (Crawford 45; Fry 78).
Namun di sisi lain, ada kekhawatiran bahwa AI dapat membuat mahasiswa terlalu bergantung pada teknologi. Jika mahasiswa hanya menyalin, menempel, dan menyerahkan hasil dari aplikasi AI tanpa refleksi dan pemikiran kritis, maka proses belajar tidak terjadi. Dalam konteks ini, AI bukan lagi alat bantu, tetapi jalan pintas.
Tantangan Penyesuaian
Selain mahasiswa, para dosen pun menghadapi pertanyaan serupa: bagaimana sebaiknya AI diposisikan dalam metode pembelajaran? Apakah harus dilarang? Atau justru diajarkan cara menggunakannya dengan benar?
Beberapa kampus memilih menggunakan software pendeteksi AI-generated content, sementara yang lain mulai merancang tugas yang tidak bisa sepenuhnya dikerjakan AI. Misalnya tugas berbasis refleksi pribadi, studi kasus lokal, atau presentasi proses berpikir. Kurikulum pun kini perlu menyesuaikan diri, bukan sekadar berfokus pada pengetahuan teoretis, tetapi juga pada kemampuan analisis, interpretasi data, dan pemecahan masalah—kompetensi yang tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh mesin (Purba 23).
Pemanfaatan AI membutuhkan etika baru dalam pendidikan tinggi. Transparansi, akuntabilitas, dan kemampuan menyaring informasi menjadi bagian penting dalam budaya akademik. Mahasiswa perlu memahami bahwa menggunakan AI bukanlah tindakan ilegal, selama ia memahami batasannya: AI sebagai asisten, bukan pengganti pikirannya.
Institusi pendidikan juga perlu menyediakan pedoman penggunaan AI yang jelas: kapan diperbolehkan, dalam konteks apa, dan bagaimana mencantumkan kontribusinya secara akademik. Dengan demikian, AI justru dapat meningkatkan kualitas akademik, bukan mengaburkannya. (Crawford 45; Fry 78).
Sejak awal sejarah manusia, teknologi selalu hadir untuk mempermudah hidup. Sejak kapak pertama kali diciptakan sebagai perpanjangan tangan manusia, teknologi selalu hadir sebagai alat untuk meringankan pekerjaan, namun juga mengandung risiko jika digunakan tanpa pengetahuan dan kesadaran; kapak yang seharusnya membantu justru bisa melukai, atom yang ditemukan Einstein memungkinkan listrik dan kemajuan industri sekaligus memberi senjata pemusnah massal.
Tidak berbeda dengan AI hari ini mempercepat pekerjaan sekaligus berpotensi menipu, memanipulasi informasi, dan memperbodoh penggunanya jika tidak digunakan secara kritis; dari kapak hingga atom dan kecerdasan buatan, satu hal jelas: teknologi itu netral, yang menentukan baik atau buruknya adalah cara manusia memilih dan menggunakannya. Apakah untuk memberdayakan, atau malah menghancurkan?
Ketika kalkulator diperkenalkan di sekolah, sebagian orang menganggapnya sebagai ancaman bagi kemampuan berhitung manual. Saat komputer dan internet muncul, banyak yang khawatir dunia pendidikan akan kehilangan kemampuan membaca buku dan menulis tangan. Namun kenyataannya, semua teknologi tersebut kini menjadi bagian tak terpisahkan dari kegiatan belajar mengajar.
Begitu pula dengan smartphone, alat yang awalnya hanya dianggap sebagai perangkat komunikasi, kini menjadi pusat akses informasi, ruang kerja digital, bahkan ruang belajar. Teknologi berubah, dan manusia yang patut menyesuaikan diri.
Maka, pertanyaan mengenai AI bukan lagi soal perlukah digunakan, tetapi bagaimana kita menggunakannya secara bertanggung jawab. Karena pada akhirnya, nilai pendidikan bukan terletak pada alat yang digunakan, melainkan pada proses memahami, berpikir, dan mengembangkan kapasitas diri. AI hanya mengikuti instruksi, tetapi manusialah yang menentukan arah, tujuan, dan makna penggunaannya. (Christian 112; Purba 23). “Kuasai, Manfaatkan, Ekploitasi Teknologi, Sebelum Menjadi Sampah. Karena Teknologi Terus Berkembang”
—-
Daftar Referensi (MLA 9th Edition)
- Crawford, Kate. Atlas of AI: Power, Politics, and the Planetary Costs of Artificial Intelligence. Yale University Press, 2021.
- Christian, Brian. The Alignment Problem: Machine Learning and Human Values. W. W. Norton & Company, 2020.
- Purba, Ramen A., dkk. Perkembangan Etika dan Profesi Teknologi Informasi. Kitamenulis, 2024.
—-
*Bambang Supriadi, Indonesian Cinematographer Society (ICS).





