Boamara: Harmoni yang Tumbuh dari Kekeringan
Oleh Bambang Supriadi*
Di ujung timur Nusantara, di wilayah yang lebih awal disentuh matahari setiap pagi, terbentang sebidang tanah yang lebih akrab dengan sengatan panas daripada hujan. Di sanalah, di Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur. Sabana tropis menghampar seperti lembaran waktu yang panjang dan sabar. Angin timur menyisir rumput kering, menerpa tebing batu, serta menggetarkan daun lontar hingga terdengar seperti bisikan, seolah para leluhur berbisik lewat desir yang nyaris tak terdengar.


Ilustrasi 1. Bentang alam menuju ke Kampung Adat Boamara. Foto koleksi pribadi.
Perjalanan menuju Boamara serupa perjalanan memasuki keheningan yang lebih dalam. Bukit-bukit batu tampak seperti penjaga waktu, sapi-sapi merumput perlahan di antara bebatuan, sementara tebing karang menjulang melindungi lembah kecil di bawahnya. Dari kejauhan, kampung itu terlihat tenang dan bersahaja, seakan menyambut siapa pun yang datang bukan sekadar untuk melihat, tetapi untuk memahami.


Ilustrasi 2. Bukit batu, rumput sabana yang kering dan sapi-sapi. Foto koleksi pribadi.
Di tengah rentang musim kering yang panjang itu berdirilah Kampung Adat Boamara. Ia tidak hadir untuk menantang alam, juga tidak untuk menaklukkannya, melainkan untuk hidup selaras dengannya. Keteguhan di sini tidak diumumkan dengan suara lantang, melainkan tumbuh dalam keyakinan serta diam yang terjaga.
Boamara terletak di Aesesa Selatan, Kabupaten Nagekeo. Kampung ini dipagari oleh Kota Boa, dinding batu yang disusun tangan-tangan leluhur tanpa semen, besi, ataupun mesin. Batu demi batu ditegakkan sebagai penanda tekad menjaga hidup bersama. Untuk memasukinya, orang harus melewati Atu, pintu berbentuk gawang yang menjadi batas simbolik antara dunia luar dan area kampung yang disucikan.


Ilustrasi 3. Dinding batu Kota Boa (kiri) dan pintu masuk Atu. Koleksi pribadi.
Di dalam lingkaran batu itu berdiri sepuluh rumah adat dengan bentuk serupa, tertata dalam kesederhanaan yang menyimpan makna. Sebagaimana manusia, rumah pun mengenal fase kehidupan. Dua rumah disebut dewasa, sementara delapan lainnya masih muda. Rumah dewasa telah menerima nama melalui ritual adat, nama yang diyakini datang lewat mimpi sebagai restu leluhur. Salah satunya bernama Jawalata. Nama itu tidak dipilih, melainkan diterima melalui ritual. Di ujung atap rumah dewasa berdiri Lado Ki, dua tiang berbalut ijuk hitam. Ia bukan sekadar penanda visual, melainkan simbol bahwa rumah itu telah melewati ujian dan dijaga hingga matang. Rumah muda belum memiliki nama dan belum memiliki Lado Ki. Mereka menunggu waktu, sebagaimana ritme kehidupan di Boamara, menunggu dengan sabar.


Ilustrasi 4. Rumah muda (kiri), rumah dewasa (kanan). Foto koleksi pribadi.

Ilustrasi 5.Lado Ki. Foto koleksi pribadi.
Namun makna rumah adat Boamara tidak berhenti pada bentuk dan penandanya. Jika atap dan tiangnya menegaskan kedewasaan serta legitimasi adat, maka ruang di dalamnya adalah ruang kehidupan yang senantiasa berada dalam lindungan roh para leluhur, ruang tempat keseharian dan spiritualitas menyatu tanpa sekat.
Di ruang Teda, ruang tanpa sekat, kehidupan bersama berlangsung. Tamu diterima, musyawarah adat digelar, keluarga berkumpul, dan laki-laki beristirahat. Pada dindingnya terpahat Anadeo, sepasang relief kayu yang melambangkan leluhur pertama yang membangun rumah. Ia bukan ornamen, melainkan penjaga sekaligus pengingat bahwa setiap aktivitas di ruang itu berlangsung dalam pengawasan dan perlindungan mereka yang lebih dahulu menanamkan kehidupan di Boamara. Ia penjaga sekaligus pengingat bahwa ruang ini adalah warisan yang tak boleh melupakan asal-usulnya.

Ilustrasi 6.Sepasang relief Anadeo terpajang di dinding. Foto koleksi pribadi.
Sementara ruang Tolo bersifat lebih sunyi dan privat. Di sanalah perempuan tidur, memasak, dan menyimpan peralatan ritual. Di dekat tungku dapur berdiri Pu’u Duke, tiang tempat sesaji makanan dan minuman diletakkan. Pada tiang itu pula seseorang dapat tidur sambil memohon petunjuk nama rumah dalam mimpi. Spiritualitas di Boamara tidak dipisahkan dari keseharian, melainkan hidup bersama asap dapur dan kayu bakar.




Ilustrasi 8. Tiang Pu’u Duke dan peralatan ritual. Foto koleksi pribadi.
Hidup Harmonis : Bersama Alam dan Leluhur.
Masyarakat Boamara hidup dalam keheningan sabana kering. Namun, dari keheningan itu tumbuh kedekatan mereka dengan alam. Bagi mereka, tanah, batu, dan kayu bukan sekadar benda mati. Tebing batu menjadi penjaga kampung, tanah menjadi alas hidup, dan pepohonan kering tetap dihormati karena menandai arah dan musim.
Mereka memanfaatkan alam secukupnya. Kayu ditebang untuk menjadi tiang rumah adat, batu diangkat untuk menyusun Kota Boa, dan ternak dipelihara untuk kebutuhan hidup serta persembahan ritual. Tidak ada yang diambil dengan tergesa, apalagi dengan rakus. Setiap yang disentuh selalu disertai kesadaran bahwa alam bukan benda mati, melainkan bagian dari kehidupan itu sendiri.
Namun mereka tak pernah merasa berhak menguasainya. Alam bukan sesuatu yang ditaklukkan, melainkan dirawat. Segala yang diambil dikembalikan dalam bentuk penghormatan, doa, dan upacara adat. Ada jeda antara mengambil dan memiliki, dan di dalam jeda itu tersimpan rasa hormat.
Bagi mereka, alam adalah ibu yang memberi hidup sekaligus mengajarkan batas. Ia menyediakan kayu dan batu, tetapi juga menuntut keseimbangan. Karena itu, menjaga alam bukan sekadar kewajiban, melainkan cara menjaga diri mereka sendiri, agar kehidupan tetap berlanjut dalam harmoni yang diwariskan turun-temurun.
Dalam setiap tarikan napas, mereka hidup bersama bayangan leluhur yang hadir di sudut kampung. Pu’u Duke, tiang dekat tungku dapur, menjadi tempat sesaji diletakkan. Di situlah leluhur disapa dan diminta petunjuk berbagai keputusan hidup yang penting. Menjaga kelestarian rumah adat dan alam bagi mereka bukan sekadar kewajiban, tapi ibadah dan hormat kepada leluhur yang menanamkan cara hidup itu berabad lalu.
Di antara rumah adat terbentang benteng batu, memisahkan tempat tinggal dengan area ritual. Di tengah kampung berdiri Nabe, susunan batu sakral tempat upacara adat berlangsung. Di samping rumah, rahang babi dan tanduk kerbau sisa persembahan ritual – disimpan di Sale, tempat khusus yang menyimpan jejak doa, harapan, dan rasa syukur.


Ilustrasi 9. Nabe (kiri) dan Sale (kanan). Foto koleksi pribadi.
Boamara bukan sekadar kampung adat. Ia adalah ruang hidup yang menegaskan hubungan manusia dengan leluhur, tanah, batu, dan langit. Di tanah kering Flores Timur, Boamara berdiri sebagai saksi sejarah sekaligus penopang identitas. Kampung ini mengajarkan kepada siapa saja yang singgah bahwa kekeringan bukanlah akhir kehidupan, melainkan tanda bahwa alam sedang menciptakan keheningan yang menumbuhkan makna.

Ilustrasi 10. Harmoni Alam dan Warisan Leluhur. Foto koleksi pribadi.
—
*Bambang Supriadi, Indonesian Cinematographer Society (ICS).




