Bebaskan Yayak Kencrit

Berulang seperti zaman Kedung Ombo. Warga yang menolak areal tanahnya digusur untuk dijadikan bendungan ditangkap oleh polisi. Itulah yang terjadi pada warga Desa Wadas, Kecamatan Bener,Purworejo, Jawa Tengah. Senin, 8 Februari lalu lalu mereka menolak lahannya diukur oleh Badan Pertanahan Nasional (BPN) Purworejo. Sebesar 124 hektar lahan milik warga Wadas direncanakan akan dibebaskan negara.

250 Pasukan gabungan polisi, tentara dan satpol saat itu mendampingi 70 petugas BPN yang melakukan pengukuran. Mereka berjaga-jaga. Media melaporkan mereka bersenjata lengkap, membawa  tameng dan gas air mata. Warga yang menolak pengukuran tanah kemudian mengggelar doa bersama di masjid . Situasi memanas. Dan puluhan warga yang protes kemudian diangkut aparat ke kantor polisian.

Salah satu yang ikut dibawa adalah  kartunis Yayak Yatmaka atau dikenal sebagai Yayak Kencrit. Yayak dikenal sebagai kartunis yang sejak zaman Orde Baru lantang menyuarakan hak-hak agraria masyarakat. Yayak selalu mengamati konflik-konflik agraria yang terjadi antara negara dan masyarakat. Yayak sedari masuk mahasiswa ITB pada tahun 1977 tampak senantiasa anti militerisme dalam bentuk apapun. Yayak kritis terhadap manipulasi-manipulasi pemerintah atas nama pembangunan.

Salah satu keberanian luar biasa Yayak adalah di saat zaman Orde Baru tepatnya tahun 1991 ia membuat kalender -berformat poster berjudul: Tanah Untuk Rakyat. Bisa disebut kalendernya itu merupakan salah satu tonggak munculnya estetika kritis di zaman Orde Baru. Dalam poster itu Yayak merekam 14 kasus kesewenangan-kesewenangan Orde Baru yang seenaknya memaksa rakyat meninggalkan lahannya. Dari mulai pembangunan peternakan dan kandang kuda di Gunung Salak, pembangunan lapangan golf di Cimacan, Jawa Barat hingga kasus Talang Sari di Lampung. Kalender /Poster itu oleh Yayak dibubuhi sajak Wiji Thukul berjudul: Tentang Sebuah Gerakan.

Gambar di kalender Yayak riuh dan padat. Seluruh kekerasan yang dilakukan aparat disajikan tumpek bleg. Cara menggambarnya pun satir yang gamblang. Ia tidak memakai metafor-metafor halus. Gambarnya blak blakan, mudah dicerna serta sarkas. Cukong-cukong berdasi dengan jas mewah dan membawa pundi harta menginjak puluhan rakyat kecil, tentara berwajah monyet, babi dan serigala berpakaian membunuhi anak-anak dan menembaki warga. Tidak ada satupun kartunis saat Orde Baru berani menggambar seperti Yayak.

Dalam kalender Tanah untuk Rakyat bahkan kita bisa melihat sosok berwajah  Soeharto. Lelaki seperti Soeharto itu digambarkan Yayak memangku perempuan seksi dan menduduki kaum jelata yang kurus menderita. Di depan sosok Soeharto, Yayak menggambar sosok perempuan mirip Ibu Tien hanya mengenakan bikini tengah bermain golf. Sungguh bisa dibilang Yayak demikian kuat nyalinya. Pada zaman Orde Lama, menggambarkan tokoh-tokoh politik mirip wajah binatang mungkin masih bisa diterima. Kartunis asal Batak Augustin Sibarani, yang dikenal kartunis harian Bintang Timur dari tahun 1957-1965 suka menggambar pejabat-pejabat dengan model seperti itu. Tapi gaya demikian mati saat Orde Baru. Yayak seolah menghidupkannya lagi dengan lebih garang, tanpa tedeng aling-aling.

Poster Tanah untuk Rakyat saat itu dicetak 25 ribu lembar dan segera disebar Yayak ke pusat-pusat pergerakan. Pada  Maret tahun 1991 Kejaksan Agung menyatakan poster itu subversif dan dilarang.  Yayak diburu aparat. Ia lari ke Jerman. Ia lalu  tinggal di Jerman. Di Jerman pun Yayak juga tak tinggal diam. Dia terlibat aktif dalam demo-demo yang mengritisi Orde Baru. Pada tahun 1993 di Paris misalnya  ia ikut demo memprotes pertemuan Consultative Group On Indonesia (CGI). CGI adalah kelompok negara pemberi hutang untuk Indonesia.

Dalam kesempatan itu Yayak membuat baliho besar berukuran 4×6 M. Baliho itu digambari oleh Yayak gambar rakyat yang sengsara di zaman pembangunan Soeharto. Baliho itu oleh Yayak diberi judul tulisan besar: CGI Your Aid is Our Aids! Bantuan asing untuk Indonesia tak ubahnya penyakit menular HIV atau Aid. Di Jerman Yayak  juga pernah membuat poster bergambar seorang petani Indonesia berjalan sembari memanggul tank. Poster itu bertuliskan: Stop Waffen Export Nach Indonesien (Stop ekspor senjata Jerman ke Indonesia).

Selama bermukim di Jerman Yayak juga tidak tinggal di lingkungan yang mewah. Kritikus seni rupa Majalah Tempo Bambang Bujono pada tahun 1995, setahun setelah Tempo dibredel pernah menyambangi Yayak di Jerman. Pada waktu itu Bambang Bujono tengah berkesempatan melihat pameran mesin cetak di Jerman, tapi kemudian ia berkeinginan mencari Yayak di Koln. Menurut Bambang Bujono, Yayak di Koln tinggal di lingkungan perumahan orang-orang yang tidak mampu, yang tempat tinggalnya disubsidi negara. Menurut Bambang Bujono, Yayak di situ bertetangga dengan seorang bekas eks Lekra.   

Di Jerman, Yayak mempelajari berbagai gaya seni poster propaganda Jerman saat Perang Dunia  1 dan Perang Dunia 2. Pada saat PD 2, pemerintah Jerman menyebarkan poster-poster propaganda untuk menarik rakyat mendukung negara. Slogan pemerintah Jerman saat itu adalah: Bilder als Walfe (gambar sebagai senjata). Yayak meriset karakter-karakter poster di Jerman. Salah satu kelompok pencipta poster yang sering menjadi rujukan Yayak adalah kelompok seniman dalam majalah satire Simplicissimus yang terbit selama 1896-1967. Kelompok Simplicissimus menganggap kerumitan gambar dan gagasan dalam poster harus disingkirkan dan diganti dengan yang lebih sederhana.

Tatkala Orde baru runtuh, Yayak baru kembali ke Indonesia. Dan saat kembali- ditengah euphoria reformasi ia tidak menempatkan diri sebagai mantan perupa “eksil” yang karya-karyanya laku di pasar dan mengikuti selera galeri. Ia tetap menempatkan diri sebagai aktifis. Karya seni rupanya   tidak menjadi kenes. Lulusan ITB ini seolah tidak mau beristirahat. Ia lempeng, tidak mau mengendurkan sedikitpun advokasi-advokasi. Ia tetap marginal.

Sesekali ia pameran di Taman Ismail Marzuki. Dalam pameran ia tetap mengusung ideologi bahwa gambar-gambarnya adalah sebuah senjata Pembebasan. Gambar-gambarnya adalah  alat penyadaran. Ia tetap menggambar babi gendut sebagai metafor pejabat rakus. Petani membawa celurit. Buruh memegang palu besar. Ia tetap sinis. Garang. Dia tidak perduli bila gambar-gambarnya dicap vulgar. Bagi dia vulgaritas adalah sebentuk propaganda. Baginya kapitalisme begitu banyak menanamkan propaganda. Maka propaganda harus dilawan propaganda. Jelas dengan sikap demikian, karyanya bukan jenis karya yang sering dipromosikan galeri-galeri ke kolektor.

Gambar poster yang menyerukan pembebasan Yayak Kencrit

Dan saat perlawanan masyarakat  Wadas terjadi, ia langsung ke lokasi. Ia tinggal bersama warga Wagas. Bagi Yayak terlihat, seni harus  terlibat. Seni harus menjadi bagian utama advokasi. Pembangunan harus menekankan humanisme. Pembangunan bukan satu arah. Jarang sekali ada perupa yang begitu. Seni rupa sekarang cenderung menghindar dari persoalan-persoalan kongkrit apalagi persoalan agrarian yang merugikan kaum jelata. Dan Yayak komitmen berada dalam jalur ini. Sikap konsisten Yayak ini agaknya yang membuat tatkala dia ditangkap kemarin segera beredar di grup-grup WA poster yang menyerukan pembebasannya.

----BWCF2022----