Pos

Puisi-puisi Imana Tahira

Singaparna Di bola matamu Aku melihat padang ilalang Saling melambai Di antara gersang tanah lapang Di bola matamu Aku mendengar percikan air Yang turun sangat lambat Menyentuh Galunggung yang agung Di helai rambutmu Aku seperti menyentuh bunga-bunga Di alun-alun kota, suatu sore Di helai rambutmu Aku seperti meraba kerikil yang bergelombang Menuju pantai di daerah […]

Puisi-puisi Eddy Pranata PNP

BULAN SABIT MERAH asap bercampur debu mengepul serpih-remuk ambulan di reruntuhan rumah sakit; tenaga medis berguguran— au, bulan sabit merah dinistakan nafsu-bengis zinonis membombardir tanpa nurani; roket dan rudal meluluhlantakkan marwah kemanusiaan; iran + palestina tercabikluka! air mata jatuh berderai menjelma serpih waktu retak rapuh : “kematian-kehancuran itu memupus kemerdekaan jiwa!” di langit iran + […]

Puisi-puisi D. Zawawi Imron

SEJARAH Ketika menyatakan salah belum tentu ia benar Ketika menyatakan benar belum tentu ia salah Karena di pusat kutub selatan semua arah menjadi utara Lha kok bisa? Itu pertanda Tuhan tidak bercanda Lalu kapan Tuhan bercanda? Terserah kita Yang jelas bukan ketika seorang anak bunuh diri Karena sang ibu tak mampu membelikan bolpen dan buku […]

Puisi-puisi Umi Kulsum binti Jaenudin

HAKIKAT KEINDAHAN I Banyak yang mengira, Keindahan tinggal Di pelukan senja Atau cahaya bulan Yang menempel di pipimu Pasir membelai tubuh Dan bulu matamu Menggiring desir ke jantungku Namun, sesungguhnya, Keindahan kadang bersembunyi Di rintih perempuan lapar Yang tak bernama, Yang dibungkam jalan-jalan Dan pandangan orang-orang Yang sibuk menuju diri mereka sendiri Kau hadir, Bukan […]

Sajak-sajak Laksmi Fidya Ariani

Kamadhatu Bagaimana bisa aku Melepaskan tubuh suci ini Dari tali-tali dunia yang terikat padu. Dedaunan rancak pada rahim jantungku Telah menumbuhkan goda setampan iblis Yang terasa begitu ranum Jiwaku adalah kuil-kuil murung Tempat burung-burung menyanyikan nestapa Tak berkesudahan Tentang dunia Sedang karmawibhangga yang tak berkesudahan Pada jalan ini, menjadi benggel Atas hidupku di masalalu. 2026 […]

Dalí yang Mungil di Lantai 53

Oleh: Kristian S* Seni modern sering kali adalah sebuah ilusi megah yang dikelola dengan sangat rapi melalui dinding-dinding putih museum. Ia mematri kanon di kepala kita, mendikte apa yang agung dan apa yang banal, melalui buku-buku teks sejarah yang ditulis oleh tangan-tangan Barat. Namun, ilusi itu menuntut untuk diuji secara fisik. Perjalanan saya untuk menguji […]

Ode to My Friend: Privilege itu Bernama Teman

Oleh : Abad Akbar*   Berkatalah seorang penyair tentang pertemanan: “Jika sedikit hartaku maka tidak ada yang ingin menjadi sahabatku, dan apabila hartaku bertambah maka semua orang seolah-olah menjadi sahabatku. Betapa banyak musuh menjadi teman karena kekayaanku, dan betapa banyak sahabat berubah menjadi musuh karena kemiskinanku.” Begitulah sedikit gambaran tentang mahalnya sebuah pertemanan sejati. Dalam […]

Jalan yang Membumi: Membaca Pepali Pitu sebagai Kesadaran Sosial dalam Tasawuf Jawa

Oleh Abdul Wachid B.S.*   1. Kegelisahan dan Retaknya Kebersamaan Hidup bergerak dalam kecepatan yang nyaris tak memberi jeda. Waktu menyusut menjadi deretan notifikasi. Percakapan hadir sebagai fragmen. Pertemuan berlangsung, tetapi tidak selalu menghadirkan perjumpaan. Orang saling terhubung, namun tidak selalu saling menjangkau. Kesibukan memberi kesan penuh. Hari-hari terisi. Agenda tersusun rapi. Namun di sela […]

Puisi-Puisi Tania Rahayu

Cah Ya Rahayu Rahayu Selamatkan dirimu dari pakaian duri yang kau sulam sendiri dari lentera hati yang kau tiup berhenti menerangi, dari lapar yang tak cukup kenyang oleh kecupan dan nasi, dari waktu yang kau pikir akan panjang sekali Merintihlah kepada rahim Kandung kasih cahaya Bukan kepada lelaki Yang kau pikir punya segalanya Mengemislah kepada […]

Puisi-puisi Abdul Wachid B.S.

PUISI-PUISI CINTA MAWADDAH   SETELAH AKAD, KITA BERDUA Setelah akad, kita menjadi dua nama yang bersujud dalam satu sajadah. Tak ada pesta. Tak ada arak-arakan. Hanya tanganmu yang menggenggam doa dan tangan kiriku yang gemetar menyebut nama Tuhan. Kita pulang ke rumah kecil dengan jendela mungil menghadap langit. Tak ada ranjang megah, hanya tikar dan […]