Pos

Sastra Santri dan Sastra Pesantren dalam Konstelasi 

Kesusastraan Indonesia Modern: Jalan Baru Kebudayaan Islam Oleh Abdul Wachid B.S.*    I. Konteks dan Urgensi Di tengah dinamika kebudayaan Indonesia yang kian kompleks, cair, dan plural, sastra santri dan sastra pesantren tampil sebagai gejala literasi yang tidak bisa lagi dipandang pinggiran. Pesantren yang selama berabad-abad dikenal sebagai pusat transmisi ilmu-ilmu keislaman seperti fiqh, tasawuf, […]

Menyusuri Dunia Puisi Aslan Abidin: Dimensi dan Posisi dalam Perpuisian Indonesia

Oleh Abdul Wachid B.S.*   I. Pendahuluan Membaca puisi-puisi Aslan Abidin sering kali terasa seperti memasuki sebuah kota pada jam-jam yang tidak dicatat dalam peta wisata. Ada senja yang basah, lorong-lorong sosial yang pengap, percakapan batin yang berlangsung setengah berbisik, setengah memberontak. Makassar hadir, tetapi tidak sebagai latar geografis semata. Ia menjelma pengalaman. Dari sanalah […]

Menggali Makna Serat Nitisruti: Arsitektur Jiwa dan Estetika Ketentraman

Oleh: Gus Nas Jogja* Menyelami samudera pemikiran Pangeran Karanggayam dalam Serat Nitisruti bukan sekadar membaca naskah kuno dari tahun 1612, melainkan sebuah ziarah batin menuju hulu peradaban Jawa yang adiluhung. Pangeran Karanggayam, sang pujangga dari Pajang yang juga leluhur Raden Ngabehi Ronggowarsito, menyusun untaian kata ini bukan sebagai doktrin kekuasaan yang kaku, melainkan sebagai komposisi […]

“Surat Wasiat” dan Etika Ingatan: Membaca Agus R. Sarjono dari Puisi yang Mengikat Puisi-Puisinya

Oleh Abdul Wachid B.S.*   I. Masuk Melalui Pertanyaan Estetik Ada satu pertanyaan yang selalu terasa mengganjal setiap kali kita berhadapan dengan penyair yang puisinya banyak, beragam, dan (yang terpenting) saling berbicara satu sama lain: bagaimana mungkin kita memilih satu puisi terbaik tanpa mengkhianati puisi-puisi yang lain? Pertanyaan ini bukan perkara selera, apalagi soal peringkat. […]

Puisi-puisi Eddy Pranata PNP

DI DEKAT JEMBATAN KALI CIREBAH kau tahu, suasana kampung kecil di dekat jembatan kali cirebah? hingga saat ini tetap merindukanmu, perempuan embun au, kita menenun gugusan kabut menjadi puisi sederhana kita masak daun singkong, jamur, pare, ikan asin, sayur bening dan sambel terasi untuk menyambung hidup apa adanya, tentu dengan harapan semuanya alami– juga kecantikan […]

Melawan dengan Dapur: Etika Hidup Sunyi dalam Puisi Fajrul Alam

 Oleh Abdul Wachid B.S.*   1. Kesederhanaan sebagai Pilihan Estetik dan Etika Esai ini berangkat dari satu keyakinan yang sengaja saya letakkan di awal: kesederhanaan dalam puisi-puisi Fajrul Alam (Resep Bahagia, Kumpulan Puisi, Yogyakarta: Jejak Pustaka, 2025) bukanlah akibat dari keterbatasan estetik, melainkan hasil dari pilihan sadar: pilihan ideologis sekaligus etis. Di tengah iklim perpuisian […]

Estetika Perpuisian Warih Wisatsana: Ziarah Kesadaran, Etika Diam, dan Orisinalitas yang Mengendap

Oleh Abdul Wachid B.S.*   Pendahuluan Di tengah lanskap perpuisian Indonesia kontemporer yang semakin plural, eksperimental, dan terkadang fragmentaris, puisi-puisi Warih Wisatsana hadir sebagai oase kesabaran dan ketenangan. Larik-lariknya panjang, ritmenya melambat, dan gerak puisinya menyerupai perjalanan kesadaran, bukan ledakan emosional yang memusat pada “aku”. Warih tidak terburu-buru menutup makna; pertanyaan kerap dibiarkan menggantung, seakan […]

Menghidupkan Kembali Bahasa Ibu: Urgensi Kultural untuk Generasi NU Milenial

Oleh Abdul Wachid B.S.* Di tengah gempuran budaya global dan arus digital yang tak terbendung, bahasa ibu (seperti Jawa, Sunda, Madura, Banjar, Sasak, Bugis, hingga bahasa Osing) mengalami peluruhan yang nyata di tengah keluarga-keluarga Nahdliyin. Banyak anak-anak muda NU kini lebih fasih berbicara dalam bahasa Indonesia baku atau bahkan dalam logat media sosial ketimbang dalam […]

Puisi sebagai Ayat Sosial: Membaca Puisi-Puisi Abang Patdeli Abang Muhi

 Oleh Abdul Wachid B.S.*   I. Puisi dan Perintah Membaca Membaca puisi, bagi saya, tidak pernah berhenti pada urusan keindahan bahasa atau kecakapan metafora. Ia lebih sering hadir sebagai pengalaman batin: pelan, kadang mengganggu, dan tidak jarang memaksa kita berhenti sejenak untuk menimbang ulang cara kita memandang dunia. Ada puisi yang selesai ketika larik terakhir […]

Beni Satria di Tengah Manusia Algoritma

 Oleh Mahwi Air Tawar* Ada masa ketika seorang penyair memilih diam. Bukan karena kehabisan kata, melainkan karena kata-kata belum menemukan ruang yang tepat untuk pulang. Dalam rentang waktu yang cukup panjang (2015-2023), Beni Satria berada pada fase itu: menulis, tetapi tidak tergesa mempublikasikan; membaca zaman, tetapi belum sepenuhnya ingin bicara. Diamnya bukan kevakuman, melainkan semacam […]