Pos

Puisi-puisi Abdul Wachid B.S.

TUBUHKU MASIH MEMBUKA KITAB Tubuhku kini adalah kitab yang kubuka dengan napas.   Halaman pertama tidak bertuliskan apa-apa.   Hanya dada yang bergerak, seperti pintu yang masih mengenali tangan yang mengetuknya.   Sesuatu datang, lalu pergi, tanpa pernah mengucapkan namanya.   Darah berjalan di bawah kulit. Ke mana? Ia tidak tahu.   Atau mungkin akulah […]

Puisi-puisi Abdul Wachid B.S.

AURORA Pada usia lima tahun,   seorang anak belum tahu rumah dapat kehilangan bentuk tanpa satu pun dinding runtuh.   Dunia masih dikenalnya dari hal-hal kecil:   suara mama yang dipanggilnya,   kedatangan papa yang ditunggunya,   pagi yang membuka pintu, malam yang memejamkan mata.   Lalu mama dan papa berpisah.   Orang-orang dewasa mempunyai […]

Puisi-puisi Seno Joko Suyono

Dua arca Yang Lelah di Museum Terlalu banyak menerima umat Yang meminta berkah dan permohonan-permohonan selama ratusan tahun Kulihat mata kedua arca itu lelah Meski terpejam seolah meditasi Kulihat ada sedikit embun di pelupuknya “Bagaima Anda tahu. Anda dari mana?” Aku merasa arca itu gusar bertanya kepadaku Aku merasa bersalah dan akan berusaha hati-hati Agar […]

Puisi-puisi Seno Joko Suyono

Sajak Sajak Korea   67 Cheonho-daero 45-gil Angin musim gugur mendinginkan ginsengku Kutahu jalan di depan sepi dini hari ini Entah yang kudengar deram kereta atau Suara-suara dari lorong yang terbantun luruh menjelang subuh Jarak dari stasiun Cheongyangni tak begitu jauh Bunyi sepatu tergesa-gesa turun naik tangga terbawa sampai kamar kecilku Tapi kemudian menghilang ketika […]

Dari Meme ke Mim: Ketika Teks yang Kita Ambil Mulai Mengambil Kita

Oleh: Abdul Wachid B.S.*  Ada buku yang sejak awal disusun sebagai buku. Ada pula buku yang menemukan bentuknya setelah tulisan-tulisan yang semula berjalan sendiri-sendiri dipertemukan. Kleptoteks: Budaya Kritis ala Meme karya Nizar Machyuzaar (2026) termasuk jenis yang kedua. Tulisan-tulisan yang terkumpul di dalamnya pada mulanya hadir sebagai esai-esai lepas, lahir dari persoalan dan kegelisahan yang […]

Dari Abstraksi Ide ke Sensasi Citra

Oleh: Nizar Machyuzaar* Pembuka | Saya mengenal nama penulis sekira akhir tahun 1990-an. Waktu itu saya baru masuk pada Jurusan (sekarang berganti menjadi program studi) Sastra Indonesia, Unpad. Nama Faruk H.T. tertera dalam satu buku berjudul Sosiologi Sastra yang saya beli untuk melengkapi pengetahuan kesastraan. Hampir tiga puluh tahun kemudian, saya baru dapat mengakses penulis […]

Ular dan Kabut Ajip

Oleh: Nizar Machyuzaar* Autobiografi Pelintas: Romantisme versus Modernisme Pembuka Pada tahun 1973 buku antologi puisi Ular dan Kabut diterbitkan Pustaka Jaya. Ada 55 puisi yang ditulis Ajip Rosidi dalam rentang proses kreatif penulisan dari tahun 1970—1972. Pada saat buku ini terbit, usia Ajip menjelang 35 tahun. Karenanya, buku ini dapat dijadikan salah satu bahan kita […]

Bertumbuh dalam Sunyi, Pulang dalam Syukur: Membaca Perpuisian Tania Rahayu

Oleh: Abdul Wachid B.S.* Lahirnya Sebuah Dunia Kepenyairan Ada penyair yang mula-mula menemukan puisinya dari kata-kata besar: sejarah, politik, filsafat, atau kegelisahan zaman. Ada pula yang menemukan jalan kepenyairannya dari hal-hal yang dekat dengan tubuh dan kehidupan sehari-hari: rumah, ibu, bapak, kebun, tanah, musim, luka, dan penantian. Tania Rahayu tampaknya termasuk yang kedua. Dalam sejumlah […]

Ekologi Sastra di Banyumas

Oleh: Abdul Wachid B.S.* Ruang yang Dibuka oleh Sebuah Narasi Kampus. Esai Bayu Suta Wardianto berjudul “Mencari Celah Tumbuh dan Berkembangnya Sastra di Kampus Banyumas”, yang dimuat di  borobudurwriters.id pada 14 Mei 2026, menarik perhatian pada satu ruang yang dalam beberapa dekade terakhir menonjol dalam perkembangan sastra Banyumas: kampus. Pilihan itu memiliki dasar historis. Sejak […]

Puisi-puisi Abdul Wachid B.S.

PUISI-PUISI CINTA INSANIAH   LELAKI TUA PENJUAL KORAN DI PAGI BUTA Masih gelap. Lelaki tua itu berjalan dengan setumpuk koran di atas bahunya. Pagi belum lahir, tetapi berita sudah mencari rumahnya. Setiap koran sebuah pintu. Setiap pintu sebuah dunia yang belum tahu siapa mengetuknya. Ia berhenti. Selembar koran diletakkan di beranda. Tangan itu sebentar menyentuh […]