Pos

Puisi-puisi Abdul Wachid B.S.

PUISI-PUISI RUKUN ISLAM   SYAHADAT AKU BERSAKSI Aku bersaksi Bukan karena aku pandai membaca dalil, tapi karena pada malam yang paling sunyi Kupanggil nama-Mu, dan Engkau menjawab dengan isyarat yang tak bisa dibantah. Aku bersaksi Bahwa tidak ada kekasih yang setia selain Engkau yang tak pernah pergi, bahwa Muhammad bukan hanya nabi, tetapi cahaya jalan […]

Menyusuri Marka: Jejak Historis, Ritualitas, dan Spiritualitas dalam Puisi Seno Joko Suyono

Oleh Abdul Wachid B.S.*   I. Peristiwa, Penghargaan, dan Jejak Kebudayaan Hari Pers Nasional bukan sekadar peringatan rutin; bagi Seno Joko Suyono, momen ini menjadi tanda perjalanan hidup yang berpadu antara jurnalistik, kesadaran budaya, dan seni puisi. Pada peringatan 2026, Seno menerima Anugerah Kebudayaan PWI, penghargaan yang merekam jejak aktivitasnya: dari jurnalistik investigatif, pengajaran akademik, […]

Puasa, Lapar, dan Jalan Pulang Manusia: Suluk Kesadaran melalui Suara Puisi

 Oleh Abdul Wachid B.S.* 1. Puasa sebagai Pintu Kesadaran Batin Puasa sering muncul dalam kesadaran keagamaan sebagai sesuatu yang sudah “terjelaskan”. Hukum dan waktu ditetapkan, tata cara diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam kerangka yang rapi ini, manusia cenderung menunaikan ritualnya seolah makna telah tersedia sepenuhnya; tanpa ruang untuk pengalaman pribadi. Kepastian yang tampak jelas […]

Puisi-puisi D. Zawawi Imron

JEJAK Jejak kaki itu masih mengenang langkah yang perginya sangat tergesa Yang berharga ialah ucapan selamat tinggal Bahwa perpisahan itu untuk selamanya Ketika langkah yang lain lewat dan bertanya arti keabadian Jejak itu menjawab “Di luar waktu Semua bisa berakhir” Cuma bisikku akan tetap mengalir 2025 KATA Kata itu tak seharusnya diucapkan Kalau orang yang […]

Puisi-puisi Sihar Ramses Simatupang

CALIGULA: SEBUAH SITUS “bulan, aku inginkan bulan” Kau dengarkah suara itu, yang bersatu dengan gending dan gong ekstase malam. Nafsu-nafsu telah menari di atas pentas kita dan sinis tawa Caligula akan siap merambat pada pintu dan rumah-rumah Memasuki sejarah Caligula, awas, rohnya akan bergegas memasuki tubuhmu, membuncah nafsumu, dengan pekik kemenangan, siap menyuapkan bau tirani […]

Puisi-puisi Abdul Wachid B.S.

 BALADA CERMIN RETAK DI LEMARI JATI Di sudut kamar tua sebuah cermin retak terkunci dalam lemari jati yang tak pernah dibuka sejak kematian Ibu. Pantulan wajah di dalamnya selalu berbeda kadang lelaki bersorban kadang bocah menangis kadang wajah sendiri tapi setengah tak kukenali. Aku bertanya pada retaknya, “Siapa aku dalam matamu?” Ia menjawab dengan senyap […]

Puisi-puisi Suminto A. Sayuti

Inilah Saatnya serupa bunyi genta di mulut goa. kumandangnya menyela ke mana-mana. juga rongga telinga kita. ini saatnya, bisikmu dalam isyarat rahasia. lalu kita pun berbagi dalam sunyi. dalam desir angin sepoi. ketika badai gurun pun reda. inilah saatnya berbagi cerita. juga cinta. bersama hasrat-hasrat rahasia. ketika daun-daun pun gugur. tapi harapan masa depan tetap […]

Puisi-puisi Eddy Pranata PNP

DI DEKAT JEMBATAN KALI CIREBAH kau tahu, suasana kampung kecil di dekat jembatan kali cirebah? hingga saat ini tetap merindukanmu, perempuan embun au, kita menenun gugusan kabut menjadi puisi sederhana kita masak daun singkong, jamur, pare, ikan asin, sayur bening dan sambel terasi untuk menyambung hidup apa adanya, tentu dengan harapan semuanya alami– juga kecantikan […]

Berpuisi Sebagai Liturgi

Sebuah Simfoni Kosmik Eksistensi Oleh: Gus Nas Jogja* Puisi bukanlah sekadar deretan kata yang dipaksa berima, melainkan sebuah tindakan sakramental. Ia adalah jembatan antara yang fana dan yang baka, sebuah ruang di mana bahasa menanggalkan jubah fungsionalnya dan mengenakan jubah cahaya. Menulis dan membaca puisi adalah sebuah liturgi—sebuah perayaan atas keberadaan yang melibatkan seluruh dimensi […]

Puisi sebagai Ayat Sosial: Membaca Puisi-Puisi Abang Patdeli Abang Muhi

 Oleh Abdul Wachid B.S.*   I. Puisi dan Perintah Membaca Membaca puisi, bagi saya, tidak pernah berhenti pada urusan keindahan bahasa atau kecakapan metafora. Ia lebih sering hadir sebagai pengalaman batin: pelan, kadang mengganggu, dan tidak jarang memaksa kita berhenti sejenak untuk menimbang ulang cara kita memandang dunia. Ada puisi yang selesai ketika larik terakhir […]