Pos

Puisi-puisi Suminto A. Sayuti

RAMADHAN, 1 (1) Lapar adalah kenyang yang sempurna. Karbohidrat pun terurai masuk ke saraf-urat. Perut pun kosong sarat berisi. Vitamin sukma berbait-bait puisi. Senandung diri sepanjang siang hingga sorehari. Japa-mantra tergelar hingga dinihari. Lapar pun menyempurnakan diri. Kenyang sukma dalam anyaman ketupat dan lontong doa.   RAMADHAN, 1 (2) Bayang diri terlipat di selimut kelam. […]

Puisi-puisi Samsudin Adlawi

GULA PUISI Karena tak manis, tak mau kau sebut ia gula Karena tak cantik, tak mau kau panggil ia wanita Karena tak indah, tak mau kau sebut ia puisi Ah, tak mengapa tak indah. Yang penting Puisi ini masih gula dan wanita 2025, the sunrise of java   DESEMBER GUS MUS –Membaca sajak Kalender-Kalender Tua […]

Puisi-Puisi Teguh Tri Fauzi

Revolusi Puisi : Rabindranath Tagore kaumasuki rimba puisi Tagore, ketika kata tak sampai menyebut namamu yang retak di mulut waktu di Bengal bunyi dan alunan lagu sunyi yang bernapaskan —gelanggang nyanyian kebebasan mencari muasal antara dua ketiadaan: di timur menanam cinta di barat memanen luka saat bahasa membakar makna yang menolak menjadi senjata kau berbaring […]

Mendaras Puisi Abdul Kadir Ibrahim: dari Penghayatan Personal, ke Spiritualitas, Sampai ke Kritik Sosial

Oleh Syaifuddin Gani* Puisi menjadi jalan bagi penyair, mengutarakan perasaan terdalamnya secara personal, spiritualitas, maupun kritiknya pada realitas sosial. Penyair sebagai manusia, memiliki hasrat dan harapan yang ia suarakan melalui kata-kata, bahasa. Akan tetapi, penyair tidak sekadar mengutarakannya dengan bahasa yang lugas, sebagaiamana manusia umumnya jika berkeluh-kesah. Penyair akan menggunakan kendaraan imajinasi, menuangkan kegelisahan agar […]

Puisi-puisi Selwa Kumar

I. KREMASI Raga tenggelam dalam Agni. Tinggal tulang, tinggal debu kenangan— mimpi, air mata, suka duka Atma. Samsara. Karma. Kala reinkarnasi.   II. WAHANA Kayu berbalut minyak, dupa kayu cendana. Dewi Agni hadir— kapur barus membakar puja, mengantar Atma ke Nirwana. Agni membungkus raga dalam keindahan kebebasan. Tinggal asap-asap kenangan. Tinggal duka di awal segalanya. […]

Puisi-puisi Abdul Wachid B.S.

IBUKU, RUMAH DARI SEGALA RINDU pagi belum sempat bersuara, ibu telah menghamparkan sajadah dari hela napas malam yang ditinggalkan mimpi. tangannya mengelus benang yang patah di pinggir sarungku, jarumnya masuk pelan seperti seseorang yang tak ingin melukai kain yang pernah ia jahit sejak kecil. ia tidak banyak bicara. setiap lipatan kain menyimpan cerita yang hanya […]

Dari Puisi ke Esai: Menata Napas, Menjernihkan Pikiran

 Oleh Abdul Wachid B.S.*   1. Kegelisahan sebagai Titik Berangkat  Sering muncul satu pertanyaan yang jarang diungkapkan secara jujur: mengapa seorang penyair yang piawai merangkai kata bisa terasa buntu saat menulis esai? Pertanyaan itu tampak sederhana, tetapi menyingkap lapisan batin yang lebih dalam, bagaimana seorang penulis berpikir dan merasakan. Penyair terbiasa menangkap dunia lewat satu […]

Puisi-Puisi Ulfatin Ch

Saat Aku Mencintaimu, Indonesia Saat aku mencintaimu, Indonesia bahasa baru tumbuh di rahim ibu Burung-burung bersarang di atas dahan menanam paruhnya dipintu gerbang ruang hijau Saat aku mencintaimu, Indonesia desa-desa mekar, kota-kota terbang Dan kau pulang dari perlawatan membawa beras, gula, paha ayam dan garam yang banyak tersimpan di gudang Keesokan hari aku menyaksikan tanganmu […]

Puisi-puisi Godi Suwarna

Puisi-puisi  diterjemahkan Angin Kamajaya dari sajak-sajak Sunda Godi Suwarna   HAIK-KU AING Anjing! Musang! Sigung! Monyet! Babi! Kucing! Tikus! Kadal! Biawak! Kecoak! Tungau! Kutu busuk! Tungau merah! Anjing! Kodok! Kalong! Cecurut! Ulat! kampret! Sigung! Berang-berang! Garangan! Tupai! Bajing tanah! Burung hantu! Gagak! Elang! Cacing! Mau gue hajar? Sampai muntah berak? Supaya kalian sadar? Haik ku […]

Puisi-puisi Abdul Wachid B.S.

UNTUKMU YANG MENGHAPUS SEPI TEMAN Di bangku kayu itu, kau duduk dengan secangkir kopi dan sepotong senyuman yang membatalkan seluruh kekalahanku. Kita tak butuh banyak kata sebab sunyi pun bisa kita ajak untuk berseloroh tentang luka, dan kau menjahitnya dengan tawa yang kau selundupkan di antara kepulan kenangan. Kau tak pernah bertanya mengapa mataku basah […]