Pos

Puisi-puisi Bayu Suta Wardianto

Melipat Kampung Masa Kecil : Nawang Sistiani di gang kecil dekat jalan raya, aku pernah menjemur masa kecil bersama layang-layang yang putus dan angin sore yang berbau lumpur sawah perairan sawah menjadi tempat ikan-ikan kecil berkilau di sela kaki kami menangkupnya dengan tangan telanjang, lalu pulang membawa basah di celana dan tawa yang belum mengenal […]

Membaca Kekerasan Seksual di Pesantren: Membela Korban, Membenahi Sistem, Menjaga Marwah

Oleh: Eko Yuds* Tulisan ini tidak sedang meminta publik menutup mata terhadap kekerasan seksual di lingkungan pesantren. Tulisan ini justru berdiri di atas sikap yang lebih jernih: korban harus dibela, pelaku harus dihukum, sistem harus dibenahi, tetapi pesantren sebagai warisan pendidikan, dakwah, dan peradaban tidak boleh dihukum secara kolektif oleh badai infodemi. Sikap ini penting […]

Losarium: Licentia Poetica untuk Menciptakan Jejak Terbuka

Oleh: Indro Suprobo* Write, form a rhizome, increase your territory by deterritorialization, extend the line of flights to the point where it become an abstract machine covering the entire plane of consistency Gilles Deleuze & Felix Guattari Kutipan pernyataan Gilles Deeuze dan Guattari ini merupakan ajakan dan tantangan bagi setiap orang untuk senantiasa menjalani proses […]

Membersihkan Noda Noda: Tubuh Perempuan, Keterdesakan dalam The Cleaning Lady

Oleh: Bambang Supriadi * The Cleaning Lady, sumber IMP Awards Serial The Cleaning Lady merupakan serial drama kriminal yang pertama kali tayang pada tahun 2022, dikembangkan oleh Miranda Kwok sebagai adaptasi dari serial Argentina–Kamboja La Chica Que Limpia. Produksi serial ini Warner Bros. Television dan Fox Entertainment ini penayangan perdana di jaringan FOX serta distribusi […]

Wayang Kulit Gedog di Malam Suro Keraton Yogyakarta, Sebuah Amatan

Oleh: Abimanyu Putra Pratama* Selasa malam (16/6/2026), tepat pukul 19.25 WIB, suasana lorong di sebelah timur Sasana Hinggil Dwi Abad menuju Kagungan Dalem Kamandungan Kidul, Karaton Yogyakarta, tampak lengang. Hembusan angin malam yang membawa aroma harum melati dan dupa menghantar langkah para pengunjung memasuki regol menuju ruang lapang dengan bangunan joglo di tengahnya. Tepat pada […]

Puisi-puisi Abdul Wachid B.S.

BALADA SULUK ABDUL JALIL pasar hampir selesai siang matahari tergantung di atas pohon asam debu jalan masih menempel pada kaki orang-orang yang pulang membawa garam cabai dan beras seekor anjing tidur di bawah gerobak kosong lalat berputar di kulit nangka yang terbelah tidak ada yang aneh semua berjalan seperti biasanya namun di tengah hiruk itu […]

Tong Tong Nostalgia

Oleh: Agus Dermawan T. Jakarta Fair Kemayoran dibuka pada tengah Juni ini. Kita pun boleh terkenang Pasar Malam Besar Tong Tong di Den Haag, Belanda, yang puluhan tahun diselenggarakan pada bulan Juni pula. Tong Tong adalah pasar malam untuk nostalgia ratusan ribu orang Belanda yang pernah tinggal di Hindia Belanda-Indonesia, sebelum 1950. ——- INI cerita […]

Napas Jiwa Nagekeo: Eternitas Jejak Budaya

Oleh: Bambang Supriadi  Dalam semesta spiritual masyarakat adat Nagekeo di Flores, Nusa Tenggara Timur, masa lalu tidak pernah benar-benar terkubur. Ia tidak pernah menjelma menjadi sekadar artefak mati atau narasi usang yang semata hanya ditulis dalam buku atau jurnal serta dipajang di etalase museum. Masa lalu yang konon diwakili oleh kehadiran roh para leluhur tetap […]

Hollywoodisme: Kekuatan Narasi dan Estetika yang Melumpuhkan

Oleh: Bambang Supriadi Di tengah lanskap geopolitik yang terus berubah, peperangan modern tidak lagi hanya berfokus pada kekuatan kinetik di medan laga, melainkan telah bergeser menjadi perjuangan untuk memenangkan imajinasi dan loyalitas publik. Dalam konteks Iran, fenomena ini dimanifestasikan melalui diskursus yang dikenal sebagai ‘Hollywoodisme’. Istilah ini bukan sekadar kritik narasi dan estetika terhadap industri […]

Tubuh adalah Tanah yang Tertunda

Oleh : Suroto M.Sn. Catatan Dramaturg atas “Mantau: Hutan yang Tidak Memberi Izin Bagaimana cara membalik panggung semen yang beku, lalu menumbuhkan hutan di atasnya? Pertanyaan ini bukan sekadar urusan teknis tata panggung (scenography), melainkan sebuah gugatan ontologis yang mendasar. Dalam karya koreografi “MANTAU: Hutan yang tidak Memberi Izin” karya Raflesia Meirina, yang dipresentasikan dalam […]