Tegal Metropolitan: Antara Cahaya Lampu, Panggung Seni, dan Selawé Rubuh
Oleh Lanang Setiawan* MALAM di Alun-alun Tegal pada rentang tahun 1950 hingga 1980-an selalu datang dengan cara yang sama—perlahan, namun penuh nyawa. Menjelang senja, ketika matahari luruh di ufuk barat dan langit menguning tembaga, ruang kota itu berubah menjadi panggung besar milik rakyat. Sejak dahulu, agaknya Kota Tegal memang dirancang bukan sekadar kota pelabuhan, melainkan […]

